I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#27



“Malvin, aku tak menyangka kita akan bekerja sama,” ujar Alena takjub ketika mereka bertemu di kantor Alena untuk membahas perjanjian kerjasama. Malvin merasa suasana kali ini agak lain karena ini pertama kalinya mereka bertemu untuk urusan pekerjaan. Oleh sebab itu Malvin mencoba senormal mungkin berbicara dengan gadis yang masih dicintainya itu.


"Ya. Ayah memberikan kebebasan untukku mencari partner bisnis. Sejak dulu aku memang berpikir akan menjadi peluang bagus bila kita melakukan kerja sama,” jelasnya sambil menyesap teh.


“Apa sebelumnya perusahaan kita belum melakukan kerja sama?” Malvin menarik nafas berat,


“Yah..kau tahu Ayahku tidak menyukai perusahaan ini. Itulah yang membuat kami sedikit kesulitan memasarkan produk. Padahal sudah sering kukatakan bahwa perusahaan ini adalah perusahaan penyalur produk yang bagus tapi Ayah tetap menolaknya entah apa alasannya.” Mendengar itu membuat Alena penasaran akan satu hal,


“Apa alasan yang membuat Ayah kita saling membenci?” tanyanya, lebih pada diri sendiri. Malvin mengangguk karena itu pun pertanyaan yang ingin sekali ia tahu jawabannya.


“Aku sempat bertanya pada Ayah mengenai hal ini. Namun dia justru memarahiku habis-habisan dan berkata akan mengirimku ke luar negeri jika aku berani bertanya sekali lagi.” kenang Malvin dengan wajah muram. Ia ingat sekali betapa mengerikannya ekspresi Ayahnya saat itu. Padahal Malvin berniat baik. Ingin membantu memajukan perusahaan Ayahnya. Tapi sebagai anak kedua, Malvin tak memiliki hak banyak karena perusahaan itu akan diwariskan pada kakak laki-lakinya.


“Aku juga pernah menanyakannya. Tapi,,” Alena terdiam karena kenangan ini membuat hatinya sakit.


“Ayah langsung jatuh sakit dan aku tidak pernah berani bertanya lagi setelahnya.” Malvin terdiam, begitu pun Alena. Mereka sibuk tenggelam dalam pikiran masing-masing.


“Oh, kudengar hari ini Fernandez Group mengadakan pesta,” Malvin mengalihkan topik pembicaraan tiba-tiba. Ia tak mau terus terlarut dalam bahasan yang tak akan ada akhirnya. Karena itu ia mencari topik yang bisa membuat Alena senang saja.


“Ya. Apa kau diundang?” Alena tersenyum cerah.


"Iya,” Malvin menjawabnya dengan suara jauh. Tiba juga saatnya ia melihat raut senang Alena. Berbeda sekali dengan wajah sedih yang dilihatnya beberapa hari lalu. Alena yang ceria dan gembira seperti ini memang menjadi doanya. Tetapi, bersamaan dengan itu hatinya begitu sedih.


•••


“Kudengar Malvin datang ke kantormu siang tadi,” Alena menoleh mendengar Davian berkata dengan nada cemburu. Davian memang sedang sibuk menyetir dan pandangannya lurus ke arah jalanan di depan, namun Alena bisa melihat raut tidak senangnya dari samping.


“Hanya membahas proyek kerja sama,” jawab Alena enteng. Memang tidak ada yang terjadi selain itu.


“Kau tidak berniat kembali padanya bukan?” Alena dikejutkan kembali dengan lontaran pertanyaan aneh seorang Davian. Sungguh, itu adalah gelagat aneh dari sosok pria yang dikenalnya begitu angkuh, dingin, dan tak peduli apapun itu.


“Apa yang perlu dicemburui oleh seorang Davian Fernandez yang tampan sempurna dan kaya raya? Istrinya hanya berbincang dengan pria lain dan itu menjadi sumber perdebatan kecil saat kita kembali bertemu?” debat Alena sambil menahan senyum. Davian menoleh dengan wajah jengkel. Tak terima dengan ucapan Alena yang terdengar meremehkannya.


“Aku tidak cemburu. Aku hanya bertanya.”


“Alena, jangan mendebatku.”


“Aku tidak sedang berdebat, aku hanya mengajakmu berdiskusi.”


“Ini bukan diskusi. Kau jelas mengajakku bertengkar karena Mr. Malvin itu!”


“Kalau begitu kau tidak perlu membentakku!”


“Aku tidak membentakmu!”


“Tuan Fernandez!”


“Ya, Alena!”


Mereka terengah lalu diam saling menatap dengan mata menajam. Beberapa detik kemudian mereka terkekeh bersamaan. Menertawai hal aneh yang membuat mereka berdebat tanpa sebab. Davian sampai menepikan sejenak mobilnya hingga tawa mereka mereda.


“Ya ampun, Alena... kau membuatku gila,” Davian mengusap pelipisnya pelan. Dia merasa aneh namun senang. Sudah lama ia tidak merasa sebebas ini. Davian merasa mulai menjadi sosok yang bebas jika bersama Alena. Gadis ini memberikan warna yang berbeda dalam hidupnya. Sekarang ia paham alasan orang tuanya begitu ingin dirinya menikah dengan Alena. Gadis ini, mampu membuatnya bahagia.


Alena berusaha menghentikan tawanya setelah sadar Davian menatapnya lembut. Ia berdehem.


“Sudah berhenti tertawa. Kita bisa terlambat menghadiri pesta jika tidak bergegas,” Alena merapikan jas dan dasi Davian lalu merapikan penampilannya sendiri. Davian tersenyum simpul. Pandangannya lurus menatap mata Alena yang baru disadarinya begitu jernih. Kemudian perlahan turun pada bibirnya yang kini berwarna kemerahan karena dipoles lipstik. Davian tergoda untuk mengecupnya lagi. Davian menepiskan pikirannya yang mendadak melayang pada malam indah yang mereka lewati.


“Davian, kita sudah terlambat ke pesta,” lirih Alena gugup menyadari Davian mendekatkan wajah padanya.


“Biarkan saja. Bukankah kita Tuan Pestanya?” Davian tak mempedulikannya. Ia memiringkan wajahnya dan ketika Alena merasakan bibir Davian kembali menyentuh bibirnya, matanya tertutup otomatis. Mereka sibuk melumat satu sama lain, tak pedulikan waktu yang terus berjalan detik demi detiknya.


________


XOXO