
Sekujur tubuh Malvin bergetar. Alena menutup mulutnya tak percaya, hari ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sosok ibu Malvin sebenarnya. Jadi seperti ini, garis wajahnya, sorot matanya, sampai caranya tersenyum dalam foto sungguh cerminan dari Malvin.
“Bagaimana beliau bisa menjalin cinta dengan Ayahku? Tepatnya, kapan? Jika mereka menjalin hubungan ketika Ayah sudah menikah dengan Ibu, itu artinya mereka berselingkuh?” tanya Alena tak sabar.
Hatinya bergemuruh hebat jika mengingat bahwa Ayahnya sendiri melakukan tindakan sekeji itu pada Ibunya. Ia tidak mau percaya jika seandainya Tuan Radhian berkata ‘iya’ karena itu artinya, selama ini ia sudah mengagung-agungkan seorang pria yang berkhianat pada istrinya sendiri?
Tuan Radhian menatap Alena dengan emosi yang tak stabil karena ia akan menceritakan kisah yang sudah disimpannya selama bertahun-tahun.
“Sarah dan Ayahmu mulai menjalin hubungan ketika mereka masih duduk di bangku kuliah,” ujarnya mengawali.
“Mereka saling mencintai dan sudah tidak bisa dipisahkan lagi. Ayahmu berjanji pada keluarga kami akan menikahi Sarah begitu dia berhasil memenangkan tender untuk perusahaan yang dirintisnya. Aku jelas tidak bisa menentang karena tidak bisa melihat Sarah sedih sehingga kami membiarkan mereka menjalin hubungan..”
Malvin dan Alena mendengarkan cerita itu dengan perasaan campur aduk. Sesekali mereka saling memandang untuk mengetahui ekspresi masing-masing.
“Namun pria itu, Ayahmu..!!” tiba-tiba Tuan Radhian menggeram sambil menatap Alena.
“Dia mengkhianati Sarah. Dia yang sudah berjanji akan menikahi Sarah justru menikahi wanita lain dan menghancurkan hubungan mereka yang sudah terjalin lama. Sarah yang syok mengurung dirinya selama berhari-hari. Di hari pernikahan ayah ibumu, Sarah menangis tersedu-sedu sambil menatapi foto Ayahmu. Dia bahkan tidak mengatakan bahwa dia hamil. Dua bulan setelah pernikahan Ayahmu, kami dibuat terkejut saat mengetahui Sarah kami sedang mengandung dalam kondisi yang sangat lemah. Aku tidak perlu memaksanya untuk memberitahu siapa yang membuatnya hamil karena aku tahu ayahmulah pelakunya!” Tuan Radhian menunjuk Alena dengan pandangan tajam.
“Ayah, sudah..” Nyonya Radhian berusaha menenangkan suaminya.
Alena tidak bisa menahan bendungan airmatanya lagi. Ia jatuh terduduk di lantai saat mengetahui cerita pahit di balik kenyataan dirinya dan Malvin bersaudara. Hatinya sangat perih. Ia menepuk-nepuk dadanya sendiri berharap rasa nyeri itu bisa menghilang namun upayanya percuma. Sementara Malvin hanya terdiam di tempatnya. Pandangannya menerawang kosong. Jadi, Ayah kandungku sudah mencampakkan ibu kandungku? Batinnya pedih.
"Malvin lahir beberapa bulan kemudian. Awalnya kondisi Sarah sudah membaik. Sambil menimang-nimang bayinya Sarah selalu bergumam bahwa suatu hari mungkin Ayahmu akan bercerai dengan Ibumu dan pergi menikahinya tapi bulan berganti bulan, Ayahmu tidak kunjung datang dan kenyataan itu membuat kondisi kejiwaan Sarah menurun drastis. Apalagi ketika dia mengetahui kabar bahwa Ayahmu akan memiliki anak dari ibumu, yaitu kau!!” semakin lama nada bicara Tuan Radhian semakin tinggi.
Pada akhirnya justru terdengar seperti menyalahkan Alena. Ya, menurutnya Alena adalah kesalahan terbesar yang menyebabkan Sarah terpuruk. Jika Alena tidak ada mungkin Sarah..mungkin Sarah masih bisa bertahan hidup.
“Lalu, apa yang terjadi?” terdengar Malvin berkata dengan suara lirih. Dia memang tidak terisak, namun dari kedua sudut matanya mengalir lelehan bening.
“Suatu pagi di musim semi, kami menemukan Sarah tewas karena keracunan obat penenang yang sering dikonsumsinya. Hasil otopsi mengatakan bahwa Sarah bukan meninggal secara tidak sengaja, tetapi dia memang sengaja mengkonsumsi obat penenang dalam jumlah banyak. Ini semua karena ulah bejat ayahmu! Dia benar-benar pria brengsek yang tidak bertanggung jawab, hanya berani mengumbar janji-janji palsu dan pada akhirnya membuat hati rapuh Sarah kami hancur. Itulah dasar yang membuatnya memilih mengakhiri hidup..” Tuan Radhian jatuh terduduk di sofa dengan lelehan airmata di pipinya.
“Aku sangat menyesal karena tidak bisa memberinya dorongan dan membiarkannya terpuruk seorang diri.” Tuan Radhian masih merasa kematian Sarah adalah kesalahannya juga.
“Sarah, dia adalah adik perempuanku satu-satunya..” lirihnya berat.
Malvin memandang Tuan Radhian dengan tatapan nanar, sama dengan reaksi Alena. Mulutnya bergetar, jadi, sebenarnya ia memiliki hubungan darah dengan Tuan Radhian. Dia, dia tidak benar-benar sendiri di dunia ini.
________
XOXO