I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#32



•••


Alena berlarian di lorong rumah sakit di tengah malam. Davian ikut berlari di samping Alena dengan perasaan yang campur aduk. Setelah menerima telepon dari pihak rumah sakit, tanpa pikir panjang Alena segera pergi ke rumah sakit. Bahkan tidak mempedulikan Davian yang terus bertanya sepanjang perjalanan.


Setibanya di depan ruang IGD, Alena memelankan langkahnya karena di tempat itu sudah ada keluarga Malvin. Ibu, Ayah, dan kakak laki-lakinya.


“Alena, kau di sini?” ucap Morgan, kakak Malvin. Hanya dia satu-satunya di keluarga Radhian yang menerima Alena dengan tangan terbuka. Sementara Ibu dan Ayah Malvin, seperti biasa langsung memalingkan wajah. Alena merasakan tubuhnya menciut. Kecemasannya sejak tadi seperti tersedot habis oleh perlakuan dingin orang tua Makvin.


“Apa Malvin baik-baik saja?” tanya Davian menggantikan istrinya yang mendadak menundukkan kepala.


“Dia sedang ditangani dokter ahli di dalam. Kami harap dia baik-baik saja,” kembali Morgan yang menjawabnya. Davian mengajak istrinya duduk sejenak di bangku panjang yang tersedia di depan ruang itu. Dia merangkul pundak Alena berharap mampu mengurangi perasaan cemasnya.


Sambil menunggu mereka mendengar latar belakang kecelakaan Malvin. Kabarnya setelah pulang dari pesta, Malvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kepalanya begitu penuh oleh masalah sampai tidak menyadari bahwa mobil yang dikemudikannya mengarah ke lajur lain hingga pada akhirnya menabrak mobil lain yang melaju dari arah sebaliknya. Mobil yang dikemudikan Malvin terguling dan menabrak trotoar jalan.


Alena menutup mulutnya. Ia tak kuasa menahan tangis membayangkan kondisi Malvin akibat kecelakaan itu. Detik berikutnya pintu IGD terbuka, muncul seorang suster menghampiri mereka dengan wajah panik.


“Apa ada di antara kalian yang bergolongan darah O? Pasien kehilangan banyak darah sehingga membutuhkan donor.”


Ayah dan ibu Malvin berpandangan bingung begitupun Morgan. Tidak ada satupun di antara mereka yang berdolongan darah O.


“Aku.” Tiba-tiba Alena berkata. Semua orang menoleh padanya dengan wajah terkejut.


“Golongan darahku O. Aku akan menyumbangkan darahku untuknya,” Davian tercengang dengan keputusan tiba-tiba Alena,


"Alena.,” lirihnya.


Alena tak peduli. Yang dipikirkannya hanyalah menolong Malvin. Suster segera membawa Alena ke ruangan terpisah untuk diambil darahnya.


Berkat donor darah dari Alena. Malvin akhirnya bisa terselamatkan. Alena mendesah lega dan Davian mendekapnya erat karena kini, istrinya itu mulai merasakan efek pusing dan limbung karena darahnya berkurang.


“Minum ini,” Davian memberikan minuman penambah darah yang didapatkannya dari suster. Alena meminumnya sambil sesekali mendesah lega. Malvin selamat. Itu yang penting.


“Ah, kau ini benar-benar. Mengapa kau melakukan banyak hal pada mantan pacarmu sendiri?” gumam Davian sambil terus mendekapnya.


“Malvin pria yang benar-benar baik. Mungkin itu alasanku,”


“Huh, lagi-lagi.” Davian merasa dirinya kalah baik dari Malvin.


“Mungkinkah Malvin anak tiri mereka?” lanjutnya. Alena tidak menjawab karena dalam otaknya berkelebat berbagai macam pertanyaan. Memang suatu fakta yang aneh jika seorang anak memiliki golongan darah yang berbeda dengan kedua orang tuanya. Seingatnya Malvin tidak pernah melakukan operasi pencangkokkan sumsum tulang belakang karena hanya itulah satu-satunya kemungkinan yang membuat golongan darah seseorang berubah.


“Mungkin kak Morgan tahu jawabannya.” Alena bangkit meninggalkan Davian yang meneriaki namanya. Ia harus mencari seseorang yang bisa menjawab rasa penasarannya


Langkah Alena terhenti ketika ia melihat ayah dan ibu Malvin duduk bersama di depan ruang rawat. Mereka tampak gelisah. Ayah Malvin sampai mengusap wajahnya berkali-kali.


“Sudahlah Ayah, Ibu yakin rahasia ini tidak mungkin terbongkar.” Ibu Malvin mengusap pundak suaminya.


“Tapi bagaimana pun, kita tidak mungkin menyembunyikan fakta ini selamanya. Suatu hari mungkin akan terbongkar kenyataan bahwa Malvin bukan anak kandung kita.”


Deg.


Tubuh Alena menegang. Rupanya benar, Malvin bukan anak kandung keluarga Radhian. Dengan badan gemetaran Alena tetap menguping pembicaraan mereka.


“Dan bagaimana bisa kita membiarkan anak itu mendonorkan darahnya?” seru Ayah Malvin membuat Alen mengerutkan kening. Rasa benci pria itu belum berkurang dan Alena penasaran apa alasannya.


“Harus bagaimana lagi, hanya gadis itu yang bergolongan darah sama dengan Malvin. Bagaimanapun, mereka berasal dari ayah yang sama.”


Alenamenutup mulutnya ketika ia hampir saja memekik kaget setelah mendengar ucapannya barusan. Apa telinganya tidak salah dengar? Kenyataan Malvin adalah bukan anak kandung keluarga Radhian cukup membuatnya terkejut. Lalu kenyataan apa lagi ini? Tuan Radhian baru saja berkata bahwa Malvin dan dirinya memiliki ayah yang sama? AYAH YANG SAMA!!!


Alena merasa kakinya sudah tidak mampu menopang berat tubuhnya lagi. Perlahan ia jatuh terduduk di atas lantai rumah sakit yang dingin dan airmata mengalir deras dari pipinya. Alena menutup mulutnya dengan kedua tangan agar isakan itu tidak terdengar. Pikirannya mengelana pada kenangan-kenangan pahit di masa lalu.


Sekarang, ia tahu alasan mengapa Ayahnya menolak hubungannya dengan Malvin.


Sekarang, ia tahu alasan mengapa Ayahnya jatuh sakit ketika ia bertanya perihal Malvin.


.


Sekarang, ia tahu alasan mengapa Ayah Malvin begitu membencinya.


Alasannya karena mereka BERSAUDARA?!


________


XOXO