
Perhatian semua orang tertoleh ketika mendengar suara pintu terbuka lebar. Alena menegang, karena kini ia melihat Jeane masuk dengan wajah cemas.
“Aku, khawatir dengan keadaan Davian,” ucapnya gugup. Entah kenapa Alena melihat raut takut dalam gerak-gerik gadis itu.
“Kau masih berani juga datang kemari!”
Baik Alena maupun Jeane terkejut mendengar suara lantang yang keluar dari mulut Ayah. Alena menoleh ke arah pria paruh baya yang kini bersedekap dengan ekspresi tak suka. Arah matanya lurus menatap Jeane tajam.
“Setelah kau mempengaruhi anakku, kau masih juga berani menunjukkan wajah di hadapan kami? Gadis macam apa kau ini?” Jeane bergetar. Dirinya seperti baru saja dihunus oleh sebilah pisau. Rasanya begitu sakit dan perih.
Ternyata, keadaanya belum berubah bahkan sejak terakhir kali ia bertemu dengan kedua orang tua Davian. Mereka tidak menyukainya, itu jelas. Hingga kini Jeane tidak tahu alasannya mengapa. Seingatnya, ia tidak pernah berbuat kurang ajar di hadapan mereka.
Alena bisa merasakan sakit hati yang kini di rasakan Jeane. Wajah Jeane yang biasanya terhiasi senyum kini tegang, pucat, dan terhina. Alena tahu bagaimana sakit yang melanda Jeane saat ini. Rasa sakit yang serupa seperti saat dirinya ditolak oleh keluarga Malvin. Mendadak, Alena merasa simpati terhadap Jeane.
“Kenapa kau masih di sini?! Silakan pergi sebelum aku mengusirmu!”
“Ayah, tenanglah,” Ibu buru-buru meminta suaminya agar tenang. Ia tidak tega harus berlama-lama melihat Jeane berwajah pucat begitu.
“Nak, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan putra kami. Tapi sebaiknya kau pulang saja karena sekarang sudah ada istrinya yang menjaga Davian.”
Wajah Jeane semakin menegang saja. Tubuhnya mulai bergetar dan hatinya sakit. Ia berusaha menahan airmata yang hampir terurai jatuh. Dengan bibir yang bergetar, gadis itu membungkukkan badannya sebentar.
“Saya permisi,” ucapnya lalu berbalik pergi tanpa menatap kedua orang tua Davian lagi. Alena tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia menatap sendu sosok Jeane yang perlahan menghilang di balik pintu
•••
Alena POV
Ekspresinya sama seperti ketika aku ditolak mentah-mentah oleh keluarga Malvin. Suasana di ruangan ini menjadi lebih berat karena Ayah masih tetap menunjukkan raut yang sama.
Aku penasaran, apa yang membuat Ayah begitu membenci Jeane. Menurutku gadis itu tidak terlalu buruk. Pandanganku beralih menatap wajah pucat suamiku. Mungkin hanya dia satu-satunya yang mengetahui jawaban atas rasa penasaranku. Aku tidak mungkin bertanya pada Ibu, Ayah, apalagi pada Jeane.
“Davian, cepatlah sembuh,” aku menggenggam erat tangan Davian yang hangat lalu menempelkan punggung tangannya ke pipiku. Mataku terpejam merasakan kehangatannya. Syukurlah, setidaknya Davian masih bernafas. Kenapa kau ini hobi sekali membuat hatiku kacau balau?
“Enghhhh…” Tubuhku tersentak kaget mendengar suara rintihan kecil dari mulut Davian. Wajah suamiku yang tampan sempurna itu tampak berkeringat. Dan keningnya berkerut seperti orang yang dilanda kegelisahan tinggi.
“Davian, kau kenapa?” cecarku panik. Aku segera mengambil handuk kering untuk mengusap titik-titik keringat yang muncul di sepanjang pelipisnya. Apa yang dilihatnya dalam mimpi hingga tidurnya segelisah ini? Apa mungkin ada yang sakit?
Ponselku berdering di saat aku kelimpungan mengurusi Davian. Aku segera mengangkatnya. Suara Bunda yang serak menerjang telingaku.
“Ada apa Bunda? kenapa suara Bunda begitu?”
“Nak..Ayahmu..datanglah kemari, Ayahmu sekarat.,” tubuhku melemas seketika setelah mendengar kalimat terakhir dari Bunda. Ponsel yang kugenggam pun jatuh begitu saja ke lantai. Pikiranku seketika kacau balau dan airmataku menyeruak tanpa izin. Ayah, tidak mungkin!!!
“Ayah.. Tidak mungkin!!!”
Aku harus menemui Ayah. Aku tidak ingin menyesal karena tidak bisa bertemu dengannya untuk terakhir kali. Aku hendak meletakkan handuk yang kupegang ketika suara rintihan Davian terdengar kembali.
"Ja-ngan per-gi, ja-ngan ting-galkan a-ku,”
______
Happy Reading....
XOXO