
ALENA POV
Aku masih mencoba menyesuaikan penglihatanku yang terganggu oleh cahaya putih menyilaukan yang membuat mataku pedih. Untuk sesaat aku bertanya-tanya tempatku berada saat ini. Tetapi ketika melihat selang infus tertempel di tanganku, aku sadar kini aku berada di rumah sakit.
“Sayang...”
Aku menoleh ke samping dan langsung bertemu pandang dengan seraut wajah tampan milik suamiku. Tanpa kusadari bibir ini tertarik membentuk senyuman samar. Wajah itu, aku mengucapkan seribu syukur dalam hati karena masih bisa melihatnya.
Ingatanku melayang kembali pada detik-detik ketika sebilah pisau mendadak bersarang di lenganku dan darah merembes keluar di sela rekahan luka yang terasa menyakitkan. Saat itu aku takut sekali, takut ajal akan datang menjemput dan aku tidak akan bisa bertemu dengan Davian kembali. Namun sekarang semua itu tinggal kenangan karena kenyataannya aku masih bernapas dan suamiku nyata ada di depanku, tersenyum dengan raut yang membuatku merasa dicintai.
“Da-Davian..” Aku mengeryitkan kening karena suara yang keluar dari tenggorokanku begitu kecil dan serak. Astaga, sudah berapa lama aku berbaring di sini sehingga berbicara saja aku kesulitan?
“Jangan banyak bicara dulu, sayang. Aku akan memanggilkan dokter.” Davian menekan tombol merah di samping ranjang. Ia terlihat gembira dan lapang. Mataku mulai mengabur saat Davian menatapku lekat. Ia membalas senyumku lalu membungkukkan badan untuk mengecup keningku penuh kasih sayang.
“Kau tidak tahu betapa aku ketakutan melihatmu terus tertidur seperti bayi, sayang. Aku takut kau akan pergi bersama bayi kita. Demi apapun, jangan pernah melakukan hal ini padaku lagi..” Davian memohon padanya dengan suara bergetar. Kata-kata itu membuat mataku memanas dan setitik airmata haru menetes di sudut mata. Davian mencintaiku, dia tidak mau kehilanganku dan betapa aku ingin berkata bahwa aku mencintainya tetapi tersendat karena Davian mengecup bibirku.
Kehangatan menjalar di setiap urat nadiku, termasuk syaraf-syaraf tanganku yang mati rasa karena luka.
“Bayi..” Aku terkesiap. Dengan panik aku memalingkan pandangan pada perutku yang masih membuncit. Kedua tanganku memeluknya posesif, ingin memastikan tidak ada yang terjadi pada anakku.
“Dia baik-baik saja,” kalimat itu langsung membuatku mendesah lega. Syukurlah, karena jika terjadi sesuatu entah apa yang bisa kulakukan untuk melukai diriku sendiri. Davian menyadari ketakutan di wajahku,
“Semua ini salahku. Seandainya aku menjagamu..” ucapnya lalu menempelkan punggung tanganku ke pipinya. Matanya menatapmu dengan sorot penuh permintaan maaf. Aku terenyuh sekaligus tidak tega melihatnya.
“Aku tidak menyalahkanmu,” kuharap kata-kataku bisa melenyapkan raut sedih itu. Tak ada setitikpun keinginanku menyalahkannya. Aku menganggap kejadian ini sebagai cobaan untukku.
Detik berikutnya Davian merengkuhku, meski tidak menyakitiku namun dekapannya terasa erat dan nyaman. Aku mendesah lega, rasanya sudah lama aku tidak merasakan pelukan hangat seperti ini. Sebelah tanganku terangkat merengkuh kepalanya yang ia sandarkan di bahuku. Aku menoleh agar bisa mendekatkan bibirku dengan telinganya untuk membisikkan perasaanku saat ini.
“I Love You.”
Meskipun aku tidak bisa melihatnya, tetapi bisa kurasakan Davian tersenyum.
“I Love You Too” satu kecupan indah kurasakan menyapa tengkukku.
***
“Bagaimana kabar Jeane?” aku mendongakkan kepalaku ke arah suamiku yang berdiri di belakang kursi roda, tempatku duduk saat ini. Kami berada di taman rumah sakit. Aku membutuhkan udara segar, bosan dengan bau obat dan alkohol yang terus kuhirup sejak aku siuman.
“Kau tak perlu mencemaskan hal itu,” Davian mengecup puncak kepalaku.
“Malvin sudah mengurusnya untuk kita.”
“Apa dia akan dihukum?” tanyaku ragu-ragu. Aku tidak tahu bagaimana tanggapan Davian tentang hal ini dan tidak pernah berani menanyakannya. Tetapi aku harus tahu. Aku ingin tahu bagaimana nasib Jeane setelah tindakan kejam yang dilakukannya padaku.
Tepat dugaanku, Davian tidak langsung menjawab. Dia hanya terdiam dengan bibir mengatup rapat. Aku berdoa dalam hati semoga dia tidak berusaha menyembunyikan apapun dariku.
“Dia akan mendapatkan hukuman atas tindakannya.”
Apa? Aku menahan napas terkejut. Bukankah seharusnya aku gembira karena Jeane akhirnya diadili, tetapi kenapa hatiku rasanya kosong? Aku tidak merasa lega, bahagia, ataupun puas. Davian berlutut di samping kursi roda, menatapku dengan sorot mata sendu seolah ingin meminta pengertianku.
“Apa kau membencinya karena kejadian ini?”
Pertanyaan itu membuatku mengerjapkan mata. Sejujurnya, aku memang kecewa pada Jeane. Aku sudah menganggapnya teman, tetapi siapa yang menyangka ternyata di matanya aku tidak pernah bisa menjadi seorang teman. Aku meremas tanganku sebelum menjawab.
“Sejujurnya, aku justru merasa sedih.” Aku mengakuinya dan Davian terkejut.
“Apa?”
“Jeane adalah gadis yang baik. Menurutku sikapnya selama ini muncul karena dia merasa kesepian. Bahkan sebelum dia menyerangku, dia tampak begitu akrab, ceria, tetapi dia tidak bisa menyembunyikan kesedihan di matanya. Aku, merasa kasihan.” Aku menatap Davian yang tercengang memandangku,
“Aku sempat marah padanya. Tetapi, aku selalu siap memaafkannya.”
***
XOXO