
“Aneh sekali,” gumam Alena sambil menoleh pada Jeane yang berdiri kaku, ia memiringkan kepalanya.
“Tidak biasanya Malvin menanyakanmu. Apa kalian benar-benar menjalin hubungan khusus?” Jeane sadar Alena sedang bertanya padanya, ia segera menepis pikiran melanturnya lalu tersenyum.
“Begitulah,” Alena mengangguk-angguk
“Jadi begitu, Malvin mengatakan kalian hanya teman biasa.” Jeane tidak menjawab, bahkan hanya berdiri kaku di tempatnya. Ia mulai kehilangan kesadaran dirinya lagi.
“Tapi kenapa Davian juga ikut menanyakanmu? Sepertinya dia cemas sekali.”
Mendengar nama Davian disebut membuat Jeane tersentak, sesuatu dalam hatinya mendadak saja bergemuruh dan mendidih. Jeane merasakan kedinginan yang menusuk, ia melirik Alena yang tersenyum ramah padanya, lalu kembali terdengar dering ponsel. Alena terlihat berbicara riang di telepon. Jeane tidak begitu menyimak apa yang dibicarakan Alena.
“Kenapa pria-pria itu bertingkah aneh hari ini? Sepertinya mereka terlalu curiga karena kau berkunjung hari ini,” canda Alena. Jeane hanya menatapnya kosong.
Alena mengajukan pertanyaan padanya namun telinganya tidak bisa menangkap apa pertanyaannya. Semuanya hening, yang terdengar hanya bisikan-bisikan aneh.
Dia yang sudah mengacaukan hidupmu. Dia yang sudah mengacaukan segalanya. Seandainya dia tidak muncul, kau sudah bahagia saat ini. Seandainya dia tidak ada, mungkin segalanya bisa lebih mudah.
Jeane sudah gelap mata. Dirinya betul-betul dipengaruhi sisi gelap yang selama ini ia sembunyikan dari siapapun. Alena tidak menyadari perubahan ekspresi dan auranya yang tiba-tiba berubah gelap. Jeane tidak sadar sama sekali kini di tangannya ada sebuah pisau dapur.
“Aku akan mengantarmu sampai depan, kebetulan aku ingin membeli—“ kata-kata Alena terhenti ketika ia berbalik menghadap Jeane, gadis itu memegang pisau yang mengarah padanya. Matanya membelalak dan ia melihat bola mata Jeane kosong, seperti terhipnotis. Gadis itu bergerak ke arahnya.
“Jeane..” susah payah Alena berkata, menatap Jeane dengan ekspresi nanar. Ia tak percaya Jeane tega menusuknya seperti ini. Ia jatuh berlutut sambil memegang tangannya yang masih tertancap pisau dapur. Darah mulai mengalir deras membasahi lantai dan sebelum kesadarannya hilang, ia masih melihat Jeane berdiri kaku dengan pandangan dingin.
Tepat ketika mendengar suara Alena yang terkapar di lantai, Jeane tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali laksana orang yang baru tersadar dari hipnotis. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan ketika melihat Alena terkapar dalam kondisi berlumuran darah, tenggorokannya seperti tercekik. Ia menahan napasnya terkejut.
Apa aku yang melakukannya? Sekujur tubuh Jeane bergetar ketakutan. Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan? Tiba-tiba saja sekelebat bayangan serupa kembali muncul dalam memori otaknya. Bayangan seseorang yang terkapar dalam kondisi serupa di sebuah kamar.
Tidak, bayangan apa itu..
“Tidaakkk..” Jeane mencengkeram rambutnya sendiri dan jatuh terduduk kehabisan tenaga. Ia bagai diteror rasa takut yang dulu pernah membuatnya frustasi dan dirawat oleh psikiater. Napasnya tersengal, bahkan Jeane merasa dadanya begitu sakit. Ia sudah membunuh.. ia sudah membunuh untuk kedua kalinya. Ia ingat sekarang. bayangan seseorang yang terkapar itu adalah bayangan jasad ibunya yang ia bunuh dengan tangannya sendiri.
Ia harus menolong Alena kali ini. Ia tidak mau disebut pembunuh, Alena tidak boleh mati karena tindakan sisi gelapnya. Seluruh akal Jeane seolah kembali namun ketika ia akan bangkit tiba-tiba saja pintu menjeblak terbuka dan sosok yang masuk membuat Jeane membelalakkan mata.
"Davian..” tamatlah riwayatku.
***
XOXO