
Alena POV
Tanganku bergetar dan kelopak mataku rasanya tak bisa membendung airmata lagi. Seharusnya aku tidak datang ke tempat ini, kantor suamiku sehingga aku tidak perlu menyaksikan pemandangan yang menohok tenggorokanku. Rasanya seperti sebilah pisau yang mencoba memutuskan urat-urat nadi di sekujur tubuh. Aku seperti tengah dimutilasi oleh pemandangan miris yang kusaksikan.
Perlahan aku mendorong kenop pintu yang hampir kubuka namun terhenti karena mataku terlanjur melihat hal yang tak seharusnya kusaksikan. Apa sebaiknya aku pergi? Lalu bagaimana aku menjelaskan pada ibu mertuaku? Aku tidak bisa berbohong pada seorang ibu. Meskipun beliau yang memintaku datang kemari untuk mengantarkan bekal makan siang, pada dasarnya aku memang ingin melihat bagaimana keseharian seorang Davian Fernandez di tempat kerja. Dan dari yang kusaksikan hari ini, timbul pertanyaan di benakku.
Apa setiap hari mereka seperti ini? Bertemu di kantor dan bercumbu?
“Jangan gila, Alena.” Kugelengkan cepat kepalaku. Entah kenapa aku tertawa miris membayangkannya. Inilah harga yang harus kubayar karena telah mencampakkan hati yang mencintaiku dengan tulus. Aku harus menelan pil pahit bahwa pria yang tinggal bersama denganku mencintai wanita lain.
Sebaiknya aku masuk saja dan berpura-pura tidak mengetahui apapun. Benar, begitu saja. Aku tidak akan menyerah hanya karena gadis yang tadi dicium suamiku. Aku istrinya sekarang. Secara hukum negara aku lebih berhak atas Davian. Benar, Davian Fernandez adalah suamiku dan aku istrinya. Aku harus kuat.
Setelah menarik napas dalam lalu menghembuskannya, aku mendapatkan keberanian entah dari mana. Aku meraih kenop pintu yang sempat kuabaikan, lalu membukanya kembali.
Saat menyadari pintu terbuka, kedua orang di dalam menoleh padaku bersamaan. Tidak ada raut kaget seperti yang kuduga sebelumnya. Kukira mereka akan panik dan saling menjauhkan diri rupanya tidak. Kenyataan ini membuatku semakin sakit hati.
“Ada perlu apa kemari? Kau tidak mungkin dikirim Ibu untuk mengantarkan bekal makan siang untukku bukan?” kata-kata yang kudengar dari mulut Davian begitu dingin. Aku sempat terkejut karena dia bisa menebak dengan benar. Sorot matanya menyiratkan bahwa keberadaanku di hadapannya tidak diharapkan sama sekali.
“Aku memang ingin mengantarkan bekal, tapi bukan Ibu yang menyuruhku. Ini inisiatifku sendiri.” ucapku gugup.
“Apa kau sudah makan siang?”
“Dia akan makan siang denganku.” Kali ini yang menjawab adalah gadis di sampingnya. Ini adalah kali ketiga aku melihatnya. Pertama di depan rumah Davian saat pertemuan dulu, kedua di pesta pernikahan, dan ketiga hari ini.
Menyadari tatapan menyelidikku, gadis itu mengulurkan tangannya. “Aku Jeane Vania.”
“Alena. Alena Kezia Fernandez.” Aku sedikit menekankan kata ‘Fernandez’ sekedar mengingatkan bahwa aku adalah istri dari Davian. Kami berjabat tangan sambil menatap satu sama lain. Melihat caranya tersenyum, aku yakin Jeane memiliki rasa percaya diri tinggi bahwa ia akan menang dariku. Parasnya cantik, dan senyumnya mampu menyihir siapapun yang melihatnya. Mungkin itu yang membuat suamiku tertarik padanya.
“Em, bagaimana kalau kita bergegas makan siang saja.” sela Davian. Otomatis aku menarik tanganku kembali. Aku tersenyum senang namun hal itu tak berlangsung lama karena aku menyadari sejak tadi pandangan Davian terus tertuju pada Jeane.
Mereka bahkan mulai mendiamkanku. Aku menunduk menatapi kotak bekal yang kupeluk sejak tadi. Kau tidak boleh kalah Alena!
“Aku membuatkan Hawaian Locomoco untukmu.” Aku berkata agak kencang saat Davian berjalan melewatiku. Langkahnya terhenti, lalu menoleh padaku.
“Hawaiian Locomoco?” ulangnya dengan mata melebar.
Bingo! Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu. Kau tidak akan menemukan menu ini di restoran manapun di Jakarta. Aku cukup pintar karena bertanya mengenai makanan favorit Davian pada Ibu. Selera Davian cukup unik memang. Sebagian orang pasti menganggap makanan khas Hawaii ini terlalu sederhana karena hanya berbahan dasar daging ham, nasi, telur, dan saus.
“Aku membuatkan spesial untukmu.” Aku menyerahkan kotak bekalku padanya. Tak kusangka detik berikutnya aku melihat senyum Davian yang sempat kuimpikan. Senyum manis yang benar-benar tulus. Tangannya sudah terulur hentak mengambil kotak bekalku namun Jeane menjegal tangannya.
“Kau sudah berjanji.” Ucapnya dengan mata menajam. Davian menunjukkan raut bimbangnya. Dia menatapku dan Jeane bergantian. Aku hendak membuka mulut kembali namun terhenti karena ponselku berdering.
“Hallo..” suara Bunda segera menerjangku saat aku baru saja menempelkan ponsel di telinga. Mataku melebar, Ibu berkata dengan panik di ujung sana mengenai kondisi Ayah yang memburuk.
“Baik-baik. Aku akan ke sana sekarang!!”
Aku tidak peduli jika Davian ingin makan dengan siapapun sekarang. Aku hanya ingin pergi menemui Ayah yang kembali kritis di rumah sakit. Hatiku tidak tenang dan kepanikan melanda seperti banjir bandang.
“Maaf, aku harus pergi sekarang. Kondisi Ayah memburuk.” Aku baru akan pergi ketika telingaku mendengar seuntai kalimat mengejutkan keluar dari mulut Davian.
“Ingin kuantar?”
Langkahku terhenti, aku membalikkan tubuh mengarahnya. Aku melihat Jeane pun tak kalah kagetnya denganku. Pandanganku kembali fokus pada Davian yang melangkah mendekat.
“Ayo pergi.” dia berjalan melewatiku lebih dulu. Aku terpaku selama beberapa detik. Tak menyangka Davian akan mengatakan kalimat itu. Aku melirik sekilas pada Jeane yang syok dan mematung di tempatnya. Aku sedikit iba melihat ekspresi kecewa di wajahnya tapi bagaimana lagi, Davian yang memutuskannya. Aku tidak memaksa sama sekali. Maafkan aku, Jeane. Tapi kali ini kau harus mengalah.
“Alena, cepatlah!!” aku mengerjap sadar ketika Davian meneriakiku. Aku segera berlari menyusulnya.