I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#16



“Davian, kau tidak apa-apa?” Alena panik dan segera menyongsong tubuh Davian yang hampir terhuyung jatuh. Ia terkejut menyadari tubuh Davian begitu panas.


“Kau demam!!” pekik Alena panik.


“Bagaimana bisa?” gumam Davian lemah. Ia sendiri heran bagaimana bisa dirinya sakit. Terakhir kali ia sakit demam adalah akhir musim dingin dua tahun yang lalu.


“Tentu saja bisa. Robot saja bisa sakit apalagi manusia normal. Kau sebaiknya istirahat dulu.”


“Tidak mungkin. sekarang ada rapat penting dengan para pemegang saham,” Davian tetap memaksakan diri bangun dan di saat yang bersamaan Alena menyuruhnya tidur.


“Mana yang lebih penting? Kesehatanmu atau lembaran saham perusahaan?” gerutu Alena jengkel. Ia tahu Davian begitu mencintai pekerjaannya. Tapi bukan berarti seluruh hidupnya dicurahkan hanya untuk bekerja. Setelah berdebat, akhirnya Davian mengalah karena tidak memiliki tenaga untuk melawan lagi. Alena tersenyum senang lalu menyelimuti tubuh Davian.


“Aku sudah membuatkan sarapan. Kau harus makan. Setelah itu minum obatnya. Jika panasnya tidak turun juga, kita ke rumah sakit.”


"Tidak mau. Aku benci tempat itu!” Davian menolak gagasan itu mentah-mentah. Sejak kecil ia memang benci rumah sakit. Ya, siapa yang suka tempat yang berbau obat dan alkohol seperti itu?


“Ya sudah kalau memang tidak mau, kau tinggal minum obatnya kan,” Alena memilih jalan damai saja. Ia sudah tidak tega mengajak Davian berdebat lagi. Pria ini harus banyak istirahat agar kembali pulih.


Setelah makan sedikit dan meminum obatnya, Davian beristirahat dengan tenang sementara Alena melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia membuka laptopnya lalu mengecek perkembangan perusahaan Ayahnya. Sebetulnya, selama ini tanpa Davian ketahui Alena bekerja menggantikan tugas Ayahnya. Hanya saja semua tugas itu ia lakukan di rumah. Sebagai seorang istri, tentu tidak mungkin baginya bekerja di kantor dan meninggalkan tugasnya di rumah. Davian tidak akan suka hal itu.


Ponselnya bergetar. Dengan mata tetap tertuju pada layar laptop, Alena meraih ponselnya.


“Hallo?”


“Alena…” mata gadis itu melebar seketika saat suara panik Bundanya terdengar di telinga.


“Iya, Bunda. Ada apa?” cecarnya panik. Hatinya berdebar dan ia merasakan firasat buruk.


“Bisakah kau datang ke rumah sakit? Ayahmu…” Bunda kemudian menceritakan tentang kondisi kesehatan Ayahnya yang semakin memburuk dan saat ini memasuki masa kritis. Tentu saja tanpa membuang waktu Alena yang diserang kepanikan bergegas pergi ke rumah sakit. Namun saat langkahnya hendak meninggalkan rumah, mendadak ia menoleh ke arah pintu kamar suaminya. Ia lupa. Bukankah di dalam sana Davian sedang sakit? Ya ampun, apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia tidak bisa meninggalkan Davian begitu saja sementara ia juga tidak mungkin membiarkan ibunya sendirian menghadapi masa-masa seperti ini.


Dengan ragu, akhirnya Alena kembali ke kamar untuk mengecek keadaan Davian. Saat ia memegang kening suaminya, syukurlah suhu badan Siwon tidak sepanas tadi.


“Davian, aku pergi ke rumah sakit sebentar. Ayah sedang dalam masa kritis. Kau bisa memakluminya bukan? Aku sudah menghubungi Ibu agar datang kemari,” ucapnya sambil membenarkan selimut. Ia tahu percuma saja berbicara pada orang yang sedang tertidur namun setidaknya ia sudah meminta izin Davian.


•••


Davian merasa dirinya tidak cukup baik ketika mendengar suara bel dibunyikan. Ia menoleh ke sekeliling kamar untuk memastikan apa yang terjadi. Hari sudah sore dan hal pertama yang ia pertanyakan adalah kemana perginya Alena?