I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#47



Nia terpaku di tempatnya. Ia memegang erat kotak makanan yang digenggamnya. Ia memang sengaja menguping, namun tidak menyangka sama sekali akan mendengar pembicaraan menyakitkan seperti ini. David sungguh mencintai Sarah dan tidak ada niatan sama sekali untuk memalingkan hati padanya. Betapa kejamnya, padahal selama ini—jauh sebelum perjodohan ia diam-diam mencintai pria itu dan ia yakin rasa cintanya tidak kalah besar seperti rasa cinta milik Sarah.


Sarah tampak bimbang namun ia membiarkan David menggenggam tangannya. Mereka tidak menyadari kehadiran Nia sama sekali karena tenggelam dalam dunia mereka sendiri.


“Tapi dia calon istrimu, meskipun kita saling mencintai tidak selayaknya..”


“Tidak, Sarah. Aku sudah berjanji padamu. lagipula seharusnya kau tahu aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku tidak bisa mencintainya, seberapa besar pun aku berusaha,” David berusaha meyakinkan. Mendengar kesungguhan David. Sarah luluh juga. Ya, ia tidak bisa membohongi diri bahwa ia pun mencintai pria ini. Ia menatap penuh harapan kekasihnya.


“Kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu? Kau tahu seperti apa keluargaku. Jika kau tidak bisa menepati janjimu aku yakin kakakku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”


David tahu, aral yang harus dilewatinya jika ia berhasil membatalkan pernikahan itu adalah kakak laki-laki Sarah yang amat menyayangi adik semata wayangnya. Namun ia mengeratkan genggamannya demi menumbuhkan keyakinan dalam hati Sarah.


“Aku sangat mencintaimu Sarah, aku pasti akan menikah denganmu..”


“Kau tahu aku lebih mencintaimu,” ungkap Sarah dengan airmata berlinang.


“Tapi bagaimana kau bisa meyakinkan kedua orang tuamu untuk membatalkan rencana pernikahan itu?”


David terdiam, pandangannya menerawang. Tampak jelas ia sedang memikirkan solusi yang tepat. Ia terkesiap lau kembali memandang Sarah begitu menemukan jawabannya.


“Jika kau hamil, mungkin Ayahku akan mengizinkanku menikah denganmu, kau tahu harga diri Ayahku sangat tinggi. Dia tidak akan membiarkanku menelantarkan wanita yang dihamilinya.” Ujarnya yakin. Sarah tidak berkata, ia hanya menatap David dengan segala macam emosi bercampur baur.


Lambat laun ia tersenyum pertanda setuju dengan usul David. Saat itu perasaan keduanya seperti terbakar dan mereka melupakan segalanya dengan saling mendekatkan wajah satu sama lain lalu berciuman. Dengan sigap David membuka seluruh pakaian Sarah dan mereka tenggelam dalam dunia milik mereka sendiri.


•••


Hari pernikahan semakin dekat dan Nia sudah memutuskan bahwa ia akan mundur. Ia bukanlah wanita tidak tahu diri yang buta pada ketidakbahagiaan calon suaminya. Ia tidak mau memutuskan tali cinta yang terhubung di hati David dan Sarah karena itu hari ini ia berniat menemui David untuk mengatakan hasil perenungannya selama beberapa hari ini.


Tetapi hari itu, terjadi hal di luar dugaan. Ibu David meninggal dunia dan dalam wasiat terakhirnya, dia ingin putranya menikah dengan Nia. Sebagai seorang putra yang mencintai ibunya, David hanya bisa menerima wasiat itu dengan hati pedih. Di hari setelah pemakaman, ia menemui Nia.


“Baiklah, kita menikah..” Nia dikejutkan oleh kata-kata mendadak David.


“Kenapa tiba-tiba setuju?” jelas saja Nia heran. Ia tahu cinta David pada Sarah tidak tergantikan dan beberapa hari yang lalu ia mendengar sendiri bahwa David akan membatalkan pernikahan dengan cara apapun. Terpaksa Nia menelan kembali niatnya untuk membatalkan pernikahan itu.


David memalingkan pandangannya, “Semuanya kulakukan demi ibuku. Beliau berwasiat agar aku menikahimu,” ucapnya dengan pandangan kosong.


Entah Nia harus gembira atau sedih, namun ia merasa jantungnya seperti ditusuk sebilah pisau saat sorot mata penuh luka itu menatapnya. “Tapi jangan harap aku akan mencintaimu karena bagiku, Sarah tetap satu-satunya gadis yang pantas memiliki cintaku.”


Nia hanya duduk terpaku di tempatnya setelah David melancarkan kalimat pedas itu. Ia bahkan tidak sanggup berkata, hanya sanggup menatap sedih pria yang akan menikah dengannya, namun hatinya itu jelas tidak akan dimilikinya. Sebenarnya hari itu Nia bisa saja menolak pernikahan itu dan membiarkan David bahagia dengan gadis yang dicintainya namun sudut hatinya yang egois telah mengunci mulutnya. Jika ini cara Tuhan untuk memberinya kebahagiaan, akan ia lewati meskipun jalannya terjal dan penuh duri.


________


XOXO