
“Bunda sudah tidak tinggal dengan Ayah lagi.” ucap Bunda tiba-tiba, membuat Senja terdiam karena syok.
Berita mendadak ini sedikit membuat Senja terkejut. Ia mencoba memahami setiap kejadian dari posisi orang dewasa atau orang tua.
“Kok bisa Bun?” tanya Senja dengan suara tenang.
“Semalam waktu Bunda lagi membuat kue untuk jualan, tiba-tiba Ayah marah-marah tidak jelas, berteriak dengan mengatakan kalau Bunda selingkuh darinya. Ayah bilang Bunda selingkuh dengan dokter yang membantu mengobati sakit Ayah. Padahal Bunda tak melakukan itu Mbak. Mbak tahu, Ayah yang jual Bunda pada dokter itu Mbak.” Jelas Bunda menceritakan pada Senja.
“Jual? Maksudnya gimana Bun? Ayah menjual Bunda?” detak jantung Senja berdetak cepat, darahnya mendidih mendengan cerita dari Bunda.
“Bunda mendengarnya Mbak, ketika Ayah tengah diperiksa oleh dokter tersebut. Ayah bilang karena dia tidak punya cukup uang, dia meminta dokter untuk meringankan pembayarannya dengan melakukan barter antara kesehatan Ayah dengan Bunda. Ayah beri nomor telepon Bunda pada dokter itu.” lanjutnya.
“Ayah kok jahat banget sih Bunda, suami macam apa yang tega menjual istrinya pada laki-laki lain, aku benci Ayah!” ucap Senja dengan derai air mata, ia terisak sedih.
“Mbak gak boleh bilang gitu, walau bagaimanapun dia tetaplah Ayah Mbak.” ucap Bunda.
“Takkan ada seorang Ayah melakukan hal tidak pantas Bun.”ucap Senja dengan suara marah. “Terus bagaimana selanjutnya Bun?” tanya Senja.
“Bunda menjalin hubungn dengan dokter itu, hanya berbicara lewat telepon Mbak, terkadang juga bertemu di rumah. Dia bilang dia tidak pernah menerima tawaran Ayah, bahkan selama kami saling berbicara lewat telepon, atau berbicara secara langsung, dia tidak pernah berbuat kurang ajar pada Bunda. Dia menganggap Bunda seperti adiknya. Itulah sebabnya kami makin dekat sampai sekarang Mbak, dan Ayah malah menuduh Bunda, padahal semua itu juga penyebabnya Ayah Mbak.” Senja masih mendengarkan mencoba memahami situasi.
“Mbak maafkan Bunda, Bunda sepertinya ada rasa dengan Dokter tersebut, Bunda mendapatkan kenyamanan, sebab dia memberikan kasih sayang pada Bunda, tidak pernah membentak Bunda, tidak pernah berkata kasar, memberikan apapun pada Bunda, dan Bunda menyukainya Mbak.” Senja terdiam mendengarnya.
“Jadi pada akhirnya, Bunda ada hubungan juga dengan dokter itu?” tanya Senja pelan.
“Iya Mbak.”
“Dia ada keluarga?” tanya Senja dengan suara datar.
“Ada, anak dia 3, yang paling besar lebih muda setahun dari Mbak.” jawab Bunda.
Senja kembali syok mendengarnya. Ia hapus air matanya dengan kasar, namun tak bisa untuk berhenti.
Jadi kesimpulannya Ayah menjual Bunda, namun Bunda dan dokter itu hanya berhubungan sebatas kakak adik, karena kebaikan tadi membuat Bunda dan dokter itu saling nyaman. Senja masih bingung, dilain sisi ia membenci Ayahnya karena menjual Bundanya pada dokter hanya demi pengobatan gratis. Sementara Senja juga tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan Bundanya, nyaman dengan laki-laki lain dan menyukai laki-laki itu. Senja tidak tau harus bersikap bagaimana.
“Mbak kenapa nangis?”tanya Bintang ketika selesai piket dan datang menghampiri Senja.
Begitulah semuanya bermula, entah siapa yang harus disalahkan. Bunda yang jatuh cinta karena perhatian dokter tersebut, Ayah yang telah menjual Bunda pada dokter tersebut, atau dokter itulah yang patut disalahkan karena menerima dan memberikan perhatian lebih pada Bunda. Dan sampai detik ini, Bunda dan dokter itu masih berhubungan, mereka bertemu di rumah, tapi hanya mengobrol di teras atau di ruang tamu. Dokter itu baik, sangat baik pada Bunda dan Senja, hanya minusnya, dia berselingkuh dari istrinya, dan selingkuhannya itu adalah Bunda.
Senja sudah pernah, bahkan sering meminta pada Bunda untuk mengakhiri hubungan terlarang mereka, dan Bunda menyetujuinya. Namun yang membuatnya bermasalah adalah, dokter itu tidak mau mengakhiri hubungan mereka, dia bilang sayang dan cinta pada Bunda. Pernah sekali Bunda coba untuk tidak memperdulikan dokter tersebut dengan tidak menjawab telepon, membalas pesan dan tidak menerima kedatangan dokter tersebut di rumah, dan kalian tahu apa yang terjadi? Dokter itu jatuh sakit, dia seperti mayat hidup, tidak ada Bunda, tidak semangat hidupnya. Dia meminta pada sahabat Bunda untuk membujuk bunda agar kembali padanya, dan dengan kejadian tersebut membuat Bunda tidak bisa mengakhiri hubungan itu. Hampir 4 tahun, Senja pun tidak tahu pasti hubungan seperti apa yang terjadi di antara keduanya.
Ayah Senja bilang, bahwa Bunda sudah menikah siri, menjual dirinya, bahkan sudah tidur dengan dokter tersebut, membuat Senja menjadi semakin tidak respect pada Ayahnya. Sifat egois dan temprament yang dimiliki Ayahnya lah yang membuat hancurnya keluarga kecil mereka. Terlepas dari baim atau buruknya kelakukuan Bundanya, yang Senja tahu Bunda adalah ibu terbaik di dunia, menyayangi dirinya, memberikan apa saja yang Senja butuhkan, dan menjadi single parents itu bukanlah hal yang mudah, namun Bunda mampu melewatinya. Jikapun seluruh dunia memusuhinya, Senja tetap akan berada di samping Bunda.
Flashback Off
“Senja! Kamu kenapa? Hey kenapa menangis?” tanya Fara khawatir, melihat Senja yang tengah menangis, ia langsung buru-buru datang dan menghampiri Senja.
“Ra.” Senja memeluk Fara, menumpahkan kesedihannya, memeluk Fara dengan erat.
“Kamu kenapa? Menangislah sampai kamu merasa lebih baik.” Fara memgusap punggung Senja, membalas pelukan Senja, memberikan ketenangan untuk Senja.
***
“Maafkan aku Fara, karena aku kita jadi menunda agenda hari ini.” ucap Senja, dengan mata sembab.
Kini keduanya berada di dalam kosan Senja.
“Eih, apalah... kita kan sahabat.” ucap Fara dengan tersenyum. “Tapi apa yang buat kamu menangis tadi hm?” tanya Fara.
Senja terdiam mendengarnya pertanyaan Fara, ia sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana. Selama ini yang Fara tahu hanya sebatas kedua orang tua Senja telah bercerai tak lebih. Sebab Senja tidak pernah terbuka terhadap semua orang, termasuk orang terdekatnya.
“Gak papa kalau gak mau cerita, apapun masalahmu jangan pernah merasa sendiri, kamu punya aku yang siap kapanpun, jangan sedih lagi, semuanya pasti akan baik-baik saja.” ucap Fara menenangkan Senja kembali.
“Makasih yah Far, kamu selalu mengerti aku, dan maafkan aku yang belum bisa terbuka denganmu.” ucap Senja dengan mata yang berkaca-kaca.
“Jangan menangis, nanti Fara ikut nangis loh.” ucap Fara dengan memeluk Senja. “Perlu Bila ingat yah, kita sahabat, apapun kondisinya, tidak ada alasan untuk Fara pergi meninggalkan Bila, jangan sedih-sedih lagi oke, Fara ikut sedih juga.” Senja mengangguk mendengar ucapan Fara.
Note:
Tidak ada yang tahu bagaimana kisah orang lain. Terkadang mereka menutupinya dengan senyum ceria agar terlihat baik-baik saja, padahal kita tidak pernah tahu, apa yang sudah terjadi dengannya.