
Up nya cuma 900 an kata, maaf sedikit readers, soalnya pikiran DD lagi semrawut, mikirin revisi, bimbingan sama harus up novel. Jadi DD gak bisa nambah kata untuk Bab ini. Semoga ceritanya menghibur.
Ini belum masuk ******* yah, masih Bab munculnya masalah. DD lambat update, jadi gak apa-apa kalau readers gak baca lagi, soalnya pikiran bercabang. Terimakasih pengertiannya, selamat membaca.
*
*
*
Pukul 03:35 WIB
Reyhan melepas apron yang ia kenakan, ia sudah menyiapkan sepiring nasi goreng, dengan sisa ayam fillet gulung isi nanas ketika berbuka puasa sebelumnya yang sudah ia panasi di dalam microwave. Juga ada buah apel dan tomat kesukaan Senja yang sudah ia potong dan diletakkan di dalam piring.
Ia meletakkan semuanya di atas nampan, lengkap dengan air putih dan vitamin penambah stamina tubuh kemudian membawanya ke lantai atas. Reyhan membuka pintu kamar, meletakkan makanan yang ia buat di atas meja, dan beralih berjalan menuju ranjang.
Ia berbaring, kemudian memiringkan tubuhnya menatap Senja yang masih terlelap dalam tidurnya. Semalam ia meminta lagi setelah mengobrol banyak hal dengan Senja. Mungkin itulah sebabnya Senja merasa tubuhnya sangat lelah, mungkin besok akan terasa pegal sekujur tubuhnya.
Reyhan menyelipkan anak rambut Senja, mencolek hidung Senja, mengigit bibir Senja dan meniup kedua mata Senja. Senja yang terusik menggerakkan tubuhnya untuk berpindah posisi.
"Sayang.... bangun yuk." bisik Reyhan di telinga Senja.
"Sayang...." ucapnya lagi.
"Sudah pagi sayang, waktunya sahur."
"Humairahku sayang..."
Senja membuka perlahan kedua matanya, penerangan yang masih minim membuat ia samar-samar melihat senyum Reyhan.
"Pagi sayang."
Reyhan mengecup bibir Senja, membuat Senja menutup wajahnya dengan selimut.
"Mas..." ucap Senja dengan suara serak khas bangun tidur.
"Kenapa di tutup sayang." goda Reyhan, dengan mencoba mengintip istri mungilnya yang berada di dalam selimut.
"Malu ...." cicit Senja.
Reyhan tertawa pelan mendengarnya.
"Bahkan aku sudah melihat semuanya sayang." ucap Reyhan.
Senja semakin mengeratkan selimutnya, membuat Reyhan lagi-lagi tertawa.
"Mau dilanjut lagi yang semalam?" goda Reyhan.
"Astaghfirullah." ucap Senja spontan, Reyhan kembali tertawa, ia senang menggoda Senja.
"Mas gak capek?" tanya Senja pelan, masih di dalam selimut.
"Bahkan untuk melakukannya seharian aku sanggup sayang."
Senja merinding dibuatnya.
"Tapi aku tidak mau membuatmu kesulitan nantinya, jadi aku akan menahannya sampai waktunya berbuka puasa." ucap Reyhan dengan lembut.
"Dibuka dong sayang selimutnya."
Senja membukanya dengan perlahan, lampu sudah dihidupkan, semakin memperjelas wajah merah merona milik Senja.
"Yah... kenapa lampunya hidup." keluh Senja pelan. Ia malu jika mengingat kejadian semalam, apalagi saat ini Reyhan tidak berhenti memandanginya.
"Mas jangan lihatin aku terus." Senja mengintip sedikit, ia sungguh malu saat ini.
Reyhan sudah berpakaian lengkap, sementara dirinya masih berlindung di dalam selimut.
Reyhan menarik tubuh Senja, memeluknya sejenak.
"Mau mandi bareng, atau mandi sendiri? Atau mau makan dulu?" tanya Reyhan dengan lembut.
"Mas Reyhan sudah mandi?" tanya Senja.
"Belum, maunya sih ngajak bareng." jawab Reyhan.
lidah Senja tercekat mendengarnya.
"Gimana, mau?" tanya Reyhan.
Senja mengangguk pelan. Reyhan tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
Reyhan langsung menggendong tubuh Senja, ia tidak melepaskan selimut yang menutupi tubuh Senja. Senja yang malu pun hanya bisa menyembunyikan wajahnya di pelukan Reyhan.
Ritual mandi pun berjalan lancar, meski berulang kali Reyhan sering menggoda Senja. Lewat kata-kata manis atau tingkah jahilnya.
***
"Ini semua Mas Reyhan yang masak?" tanya Senja menatap semua makanan yang tersaji di atas meja.
"Cuma nasi goreng aja sayang." jawab Reyhan.
"Maaf yah Mas, gara-gara aku telat bangun, jadi Mas Reyhan yang masak." ucap Senja.
"Aku memang sengaja untuk gak bangunin kamu sayang, kamu kelihatan capek banget, kan yang perlu di salahin Mas, bukan kamu, karena Mas yang bikin kamu kelelahan gitu." ucap Reyhan.
Senja bersemu merah kembali, masih terlalu vulgar menurutnya untuk membahas hal-hal seperti itu.
Reyhan langsung menyuapi Senja dengan nasi goreng dan ayam fillet gulung, begitupun sebaliknya, Senja pun menyuapi Reyhan. Mereka lebih sering makan di piring yang sama, dan menggunakan sendok yang sama, agar tak ada jarak di antara keduanya.
"Mas gak ngajar kuliah lagi? Absen gitu?" tanya Senja.
"Mas sudah tidak menjadi dosen lagi sayang, sekarang menggantikan posisi Papa di perusahaan." jawab Reyhan.
Senja mengangguk mengerti, ia sempat dengar dulu ketika Reyhan di minta menggantikan Papa Alex di perusahaan, namun karena ia masih ingin menjadi dosen, jadi Papa Alex tidak memaksanya lagi.
"Aaa...." Reyhan menyuapi buah apel untuk Senja. "Manis?" tanya Reyhan.
"Manis tapi asam, Mas kasih perasan air lemon kan?" tebak Senja, Reyhan mengangguk.
Senja melanjutkan memakan buah apelnya dengan sesekali menyuapi Reyhan yang kurang suka makan buah. Reyhan cenderung menyukai sayuran ketimbang buah-buahan, katanya asam, entahlah rasanya tidak sesuai dengan lidahnya.
"Masih sakit?" tanya Reyhan.
"Hah?" tanyanya membeo tak paham arah pertanyaan Reyhan.
"**** * kamu masih sakit gak sayang?" tanya Reyhan, kali ini jauh lebih jelas.
Senja membulatkan matanya. Ia reflek menutupnya menggunakan bantalan sofa.
"Kenapa sayang? Sakit?" dengan wajah khawatir Reyhan mendekatkan dirinya pada Senja, mencoba memeriksa.
"Mas mau ngapain?"
"Mau periksa keadaan kamu sayang." jawab Reyhan.
"Ya Allah." desis Senja dengan helaan napas. "Aku baik-baik saja Mas, gak ada sakit." lanjutnya menatap Reyhan.
"Yakin sayang? Gak perlu Mas periksa?" tanya Reyhan lagi, ia menahan tawanya saat ini, melihat wajah panik Senja.
"Kenapa aku jadi takut dengan suamiku sendiri." guman Senja, menatap Reyhan.
Reyhan tiba-tiba berbaring dengan kepala yang diletakkan di paha Senja. Ia memeluk dan mencium perut Senja yang tertutupi piyama tidur.
"Ini bulan Ramadhan paling berkesan dalam hidupku, dan yang paling membuatku bahagia, kamu tahu kenapa sayang?" Reyhan mendongak menatap Senja.
Senja menggeleng pelan, ia memasukkan potongan tomat ke dalam mulutnya sambil mendengarkan ucapan Reyhan.
"Karena Allah kirimkan bidadari surganya untuk aku jadikan dia istriku." ucap Reyhan membuat Senja tersenyum.
"Rasanya jantungku ingin melompat keluar Mas." ucap Senja dengan wajah polos. Reyhan tertawa mendengarnya.
"Lagi romantis loh sayang." keluh Reyhan.
"Bisa-bisa aku melayang Mas, kalau tiap hari kamu gombalin terus." ucap Senja.
"Kan biar kamu makin sayang sama aku, makin cinta sama aku, gitu sayang." ucap Reyhan.
Senja mengelus pipi Reyhan, menatap wajah tampan suaminya yang mulai di tumbuhi bulu-bulu halus.
"Rasa sayang dan cintaku ke kamu semakin bertambah tiap waktunya Mas, dan gak akan pernah berkurang. Aku menitipkan kamu kepada-Nya, meskipun aku dijauhkan darimu atau kita dipisahkan, aku percaya Allah selalu menjagamu." ucap Senja dengan tersenyum.
"Manisnya istriku."
Reyhan tersenyum dan kembali memeluk Senja.
*
*