
Bintang sudah berada di kediamaan Alfarisi. Sebelumnya ia dijemput oleh Riko di bandara sesuai dengan permintaan Reyhan kemarin. Di sinilah ia kini, menatap satu persatu anggota keluarga Alfarisi, ada Mama Mira, Papa Alex, Reyhan, Geri dan Riko.
"Ada yang mau disampaikan?" tanya Bintang dengan wajah bingungnya. Sejak ia sampai ia tidak melihat Senja.
Mama Mira berjalan mendekati Bintang, ia duduk di samping Bintang dengan memeluknya, dan mengusap pundaknya dengan lembut.
"Apapun yang akan Bintang dengar nanti, tolong jangan marah, tolong jangan kecewa, dan Bintang tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh yah." ucap Mama Mira.
"Kenapa Tante?" kening Bintang mengerut mendengar ucapan Mama Mira.
"Sebelumnya Kakak mau minta maaf Bintang dengan semua yang terjadi, keterlambatan Kakak untuk mengetahui hal yang sudah terjadi." ucap Reyhan dengan perlahan. Ia takut Bintang akan syok ketika mendengar semuanya.
"Kak, langsung to the point aja, aku gak mau berbelit-belit. Lagipula dimana Mbak Senja? Dari tadi aku gak melihatnya." ucap Bintang dengan tidak sabaran.
30 menit ia menunggu apa yang akan dibicarakan, dan selama itu pula semuanya hening, tanpa ada obrolan penting. Jujur Bintang tidak suka seperti ini.
Papa Alex menepuk pundak Reyhan, agar Reyhan bisa segera mengatakan apa yang harus dikatakan pada Bintang.
"Semuanya masih diam? Gak ada yang mau jelasin apapun ke Bintang?" tanyanya lagi.
"Dimana Mbak Senja?" tanyanya lagi.
Dengan menarik napas panjang, Reyhan menatap Bintang dengan sendu.
"Senja, istri Kakak, Mbak kamu, dia diculik." ucap Reyhan dengan suara pelan, namun masih dapat di dengar oleh Bintang.
"Apa!"
Jantung Bintang rasanya berpacu dengan cepat, tubuhnya lemas, luluh dalam pelukan Mama Mira. Air matanya menetes tanpa diminta, ia menangis mendengar ucapan Reyhan.
"Bintang tenang sayang, tenang Nak." Mama Mira hanya mampu memeluk menenangkan Bintang, ia pun ikut menangis melihat hancurnya Bintang.
"Gak! Mbak Senja, Mbak..... huhuhu, Mbak..." Bintang menangis memanggil Senja.
"Bohong kan? Ini semua prank kan?" Bintang melepaskan pelukan Mama Mira, ia berdiri menatap semua orang.
"Mbak! Mbak Senja, Mbak gak usah sembunyi lagi, aku tahu Mbak nyambut kedayangan aku dengan semua prank ini kan... Mbak! Jangan kayak gini Mbak, Bintang gak suka Mbak." Bintang berteriak menyerukan nama Senja. Ia melihat sekeliling, barang kali semuanya hanya prank semata.
"Mbak!"
"Mbak!" teriakan terakhir Bintang berakhir dengan lemasnya tubuh Bintang yang menyebabkan Bintang pingsan.
"Ya Allah, Bintang!"
Beruntung Riko cepat tanggap, ia langsung menangkap Bintang, sehingga kepala dan tubuh Bintang tidak terbentur lantai.
Mama Mira semakin menangis melihat Bintang.
"Bawa Bintang ke kamar." ucap Mama Mira. Riko segera mengangkat tubuh Bintang, memindahkannya ke kamar tamu. Terlalu jauh jika membawanya ke kamar yang biasa Bintang tempati.
Reyhan mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya dengan kasar, rasanya ia ingin menghajar Fino habis-habisan. Dua hari berlalu, dan besok adalah hari lebaran, namun bagaimana bisa menikmati suasana lebaran jika Senja saja belum ditemukan. Melihat keadaan Bintang membuat Reyhan menjadi semakin kecewa pada dirinya yang belum menemukan keberadaan Senja.
***
Siang hari Fino datang mengunjungi markas, setelah beberapa hari dia off dan hanya memantau dari jauh, kini ia datang untuk memastikan barang-barang yang akan di jual ke pasar gelap, termasuk para gadis yang berhasil mereka tipu.
Setelah kegagalan di transaksi sebelumnya, kini Fino lebih berhati-hati, ia tidak ingin sampai Reyhan atau siapapun menghancurkan pekerjaan yang selama ini ia rintis.
"Selamat datang Bos." sapa sang ketua pada Fino.
"Hm, semua sudah beres Dev?" namanya Devan, termasuk orang kepercayaan Fino, ia diangkat untuk menjadi ketua yang menghandle semua urusan Fino jika Fino berhalangan.
"Sudah Bos, nanti malam saya jamin tidak akan kendala dan kegagalan lagi." ucap Devan dengan yakin.
Fino hanya tersenyum miring.
"Oh iya Bos, Joni dan Heru sudah kembali." ucap Devan, membuat kedua alis Fino hampir menyatu. "Keadaaan mereka tidak baik-baik saja, mereka datang dengan baju lusuh, dan luka di sebagian tubuh mereka." lanjutnya memberikan informasi.
"Apa yang terjadi?" tanya Fino.
"Tidak tahu Bos, tapi ketika mereka datang tadi, mereka langsung menanyakan keberadaan Bos. Sepertinya ada yang ingin mereka sampaikan." ucap Devan.
"Hmm." Fino menganggukkan kepalanya. "Suruh mereka berdua menemui ku di ruangan ku." ucap Fino.
"Baik Bos."
"Utus salah satu anggotamu untuk datang ke perumahan Xx, menjaga tawananku dan Riani." ucap Fino.
"Baik Bos."
Fino kemudian berjalan menuju ruangannya, begitupun sebaliknya Devan yang langsung menuju markas.
"Ekhm, semuanya berkumpul!" teriak Devan pada anggotanya.
"Siapa di antara kalian yang bersedia di beri tugas untuk menjaga Nona Riani dan tawanan khusus Bos Fino."tanyanya menatap satu-persatu anggotanya.
"Mohon maaf ketua, apakah setelah itu kami tidak bisa kembali ke sini?" tanyanya.
Bisik-bisik terdengar, banyak di antara mereka yang tidak mau melakukan tugas itu. Selain mereka tidak bisa kembali ke markas dan berkumpul bersama. Hal utama yang membuat mereka tidak mau adalah tidak bisa menikmati tubuh gadis-gadis perawan dan menikmati haramnya minuman yang setiap hari mereka konsumsi di markas. Apalagi besok adalah hari lebaran, otomatis sebagian dari mereka akan kembali pulang guna mengunjungi keluarga masing-masing.
"Kenapa diam?" tanya Devan dengan sedikit bentakan.
Bimo diam mendengarkan, ia sebenarnya tidak masalah diletakkan dimanapun, karena di markas desa mati ini, atau di tempat lain sama saja, Fino juga akan ada di kedua tempat itu.
Semuanya menunduk, tak ada yang mau mengusulkan dirinya.
"Ketua, bagaimana jika ketua saja yang memilihkan." ucap salah satunya.
"Benar ketua, kami akan setuju saja jika ketua yang menunjuk." timpal lainnya.
"Oke, jika itu mau kalian." Devan menatap sekeliling, mengabsen satu-persatu di antara anggotanya, hingga matanya menatap Bimo yang sedari tadi hanya berdiri tegap tanpa bergerak sedikitpun.
"Kamu!" tunjuknya pada Bimo.
"Saya ketua?" tanya Bimo.
"Iya, kamu." Bimo berjalan menuju Devan dan berdiri tegap di hadapan Devan.
"Ini alamatnya, segera pergi ke alamat ini, tugas kamu langsung dimulai saat ini juga, tunjukkan lencana ini agar penjaga di sana tahu kamu utusan langsung dari markas." ucap Devan.
"Baik Ketua." Bimo langsung pergi menuju alamat yang diberikan Devan.
***
Joni dan Heru mengetuk pintu ruangan Fino. Fino yang tengah memeriksa berkas berdehem memperbolehkan mereka berdua masuk.
Beberapa saat yang lalu.
Devan datang menemui Joni dan Heru sesuai perintah Fino. Ia langsung mengatakan apa yang perlu disampaikan, setelahnya Devan langsung kembali ke gudang untuk melihat persiapan transaksi nanti malam.
Joni dan Heru saling berpandangan, bohong jika mereka tidak takut pada Fino, nyatanya Fino seperti iblis yang akan melakukan segala cara, serasi dengan Bella yang selalu berada di sampingnya, memberikan ide-ide gila dalam semua bisnis Fino.
"Aku takut ketahuan." ucap Joni.
"Mau tidak mau kita harus melakukannya, dengan begitu posisi kita akan aman, setidaknya kita tidak masuk penjara." ucap Heru.
"Aku lebih baik masuk penjara dari pada mati terbunuh di sini." ucap Joni dengan helaan napas kasar.
"Kita sudah terlanjur menyetujui kesepakatan dengan Tuan Geri." ucap Heru. "Lagipula, kita harus ingat, nasib keluarga kita sekarang berada di tangan Tuan Geri." lanjutnya.
"Setelah semuanya selesai kita akan pergi sejauh mungkin bersama keluarga kita, Tuan Geri sudah menjanjikannya bukan." ucap Heru lagi.
"Kamu pikir orang kaya akan semudah itu memberikan janji, apalagi kita sudah membantu Bos Fino dalam melecehkan adiknya Tuan Geri." ucap Joni.
"Setidaknya walaupun kita akan tetap berakhir di penjara, keluarga kita akan aman, Tuan Geri berjanji akan menjaga keluarga kita dari ancaman Bos Fino." ucap Heru.
Joni mengangguk lemas. Ia dan Heru memang sudah berniat tobat sejak disekap oleh Geri, itulah juga alasan keduanya menerima kesepakan yang dibuat Geri.
Kembali pada masa saat ini, Fino mengalihkan pandangannya pada Joni dan Heru. Ia melihat tangan Heru yang diperban, dan kaki Joni yang diperban juga, sehingga membuatnya menggunakan tongkat untuk berjalan.
"Duduk." Joni dan Heru langsung mendudukkan dirinya di hadapan Fino.
"Devan bilang kalian tiba-tiba datang dan ingin menemuiku." ucap Fino dengan wajah datar.
"Benar Bos." jawabnya berbarengan.
"Jadi jelaskan apa yang perlu kalian jelaskan, selagi aku mau mendengarnya." ucap Fino.
"Kami di sekap Bos selama ini, itulah sebabnya kami menghilang tanpa kabar. Dan yang menyekap kami adalah Geri, Kakak dari Reyhan, suami gadis berjijbab panjang malam itu." ucap Heru langsung pada intinya.
"Geri. Reyhan." Fino bergumam dengan mengernyitkan keningnya.
"Awalnya kami tidak tahu siapa yang menyekap kami, hingga mereka sendiri yang mengatakan tentang gadis berjilbab malam itu Bos. Ternyata gadis itu sudah menikah, dan suaminya berniat membalaskan semuanya pada Bos." lanjut Heru.
"Malam kemarin kami berhasil lolos Bos, setelah penyiksaan yang kami rasakan berhari-hari." timpal Joni.
Mereka membuat semuanya seolah benar-benar menyakitkan.
"Kami mendengar, mereka akan menghancurkan bisnis Bos, dan membeberkannya ke media, agar keluarga Bos malu." ucap Joni, sambil memperhatikan mimik wajah Fino. Sepertinya Fino sudah termakan apa yang mereka katakan. Sengaja memang Joni mengatakan hal itu, sesuai permintaan Geri.
Tangan Fino mengepal mendengarnya.
"Dan transaksi malam ini sudah mereka ketahui, jika Bos tidak memindahkan lokasinya maka kita akan mengalami kerugian yang kedua kalinya Bos." ucap Heru.
"Sial!"
Di tempat lain Geri, Reyhan dan Riko mendengarkan dengan seksama apa yang mereka bertiga obrolkan. Ketika pertama kali Geri dan Joni disekap, Geri membuat keduanya tertidur, dengan menambahkan obat tidur di dalam makanan mereka. Sehingga memudahkan Geri menanam alat penyadap berbentuk chip di dalam tubuh mereka berdua yang mampu merekam suara mereka dan melacak di manapun keberadaan mereka. Itulah sebabnya Geri, Reyhan dan Riko bisa mendengarkan obrolan mereka saat ini.
"Fino sudah masuk ke dalam perangkap." ucap Geri.
Ia sengaja membuat Fino pusing untuk mengalihkan fokusnya, agar pencarian Senja bisa lebih cepat ditemukan.