
"Minum dulu Senja." ucap Riani, sembari membantu Senja untuk minum.
Dilihatnya Senja yang masih enggan untuk memberikan respon lebih, wajahnya yang pucat dan tatapan matanya yang kosong begitu memprihatinkan. Mentalnya jauh lebih sakit dari Riani.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu menyadarkan Riani dari lamunannya. Ia segera membukakan pintu kamarnya.
"Sudah kamu urus Bim?" tanya Riani ketika melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Sudah Nona."
"Em, apakah Nona Senja baik-baik saja Nona?" tanyanya dengan hati-hati.
Riani menoleh sebentar ke belakang, melihat Senja yang masih dengan posisi yang sama, duduk di atas ranjang dengan menyenderkan tubuhnya.
"Aku rasa dia trauma." helaan napas terdengar sesaat setelah ia menjawab pertanyaan Bimo. Bimo mengangguk paham.
"Apa ada kepentingan lain?" tanya Riani, pasalnya waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 WIB.
"Tidak Nona."
"Baiklah, kalau gitu kamu istirahatlah, biar Senja aku yang jaga, nanti jika terjadi sesuatu aku akan memanggilmu kembali." ucapnya pada Bimo.
"Baik Nona, saya permisi."
***
Kombes Burneo bersama Papa Alex dan Riko sudah sampai lokasi. Mereka tidak memarkirkan mobil di halaman lokasi tempat perdagangan itu berlangsung. 500 meter dari lokasi perdagangan tersebut, gedung kosong bekas mall, mereka gunakan untuk memantau pergerakan orang-orang yang berkontribusi di dalan perdagangan gelap malam ini.
"Bagaimana?" tanya Kombes Burneo pada ajudannya yang dia persiapkan untuk pergi ke lokasi lebih awal.
"Tinggal menunggu kedatangan Fino, Komandan." jawab Jico.
"Hm baiklah."
"Pastikan semua siap di posisi masing-masing. Arahkan Tim D-2 ke sebelah barat, Tim F-5 ke sebelah utara dan sisanya Tim E-6 menyebar dari arah Selatan. Hanya ada tiga pintu, jadi cukup dengan menyergap dari tiga arah." jelas Kombes Burneo.
"Nanti penyerbuan akan dilakukan dari pintu utama, namun tim khusus akan masuk lewat atap dan pintu belakang. Selamatkan dahulu remaja perempuan dan wanita-wanita yang akan dijual, serta tangkap dan lumpuhkan semua orang tang terlibat." lanjutnya memberikan arahan.
"Baik Komandan." segera Jico menghubungi para tim kepolisian menggunakan interkom kepolisian.
"Nanti biar saya dan tim khusus yang akan mencari tempat penyimpanan organ tubuh yang mereka jual sebagai utama acara penjualan gelap ini." ucap Riko mengajukan diri. "Saya bisa meretas fungsi keamanan mereka, sehingga memudahkan untuk kita bisa masuk dan menyamar." lanjutnya menatap Kombes Burneo.
"Ini Pak Kombes, scan code undangan yang berhasil saya dapatkan, jadi nanti saya dan beberapa tim khusus akan menyamar sebagai tamu undangan mereka. Nanti akan kami sampaikan bagaimana situasi di dalam. Karena kabarnya tidak hanya satu atau dua kelompok penjahat di dalam, namun ada 20 an kelompok penjahat, tentu hal ini akan menjadi penangkapan besar-besaran, sehingga kita membutuhkan perencanaan yang matang. Dan tidak lupa pula dengan buruan utama kita Fino." jelas Riko, kali ini tidak ada Riko si jenaka, ia berlih ke mode serius.
"Saya setuju dengan Riko, Komandan. Melihat hasil pantauan tadi, ada banyak sekali pejabat-pejabat tinggi yang juga ikut berkontribusi dalam penculikan, penjualan gadis-gadis muda dan organ dalam manusia. Selain itu ada banyak obat-obatan terlarang yang akan dipasarkan bebas nanti di puncak acara." tutur Jico menjelaskan.
"Baiklah, nanti Riko, bersama tim khusus kepolisian akan masuk dan menyamar di dalam. Sedangkan untuk Jico, kamu akan ikut menyergap bersama tim elit kepolisian."
"Baik Komandan."
Di luar gedung pengamanan tidak nampak, karena memang mereka tidak ingin membuat polisi mencurigai tempat tersebut. Namun di dalam gedung tersebut, ada banyak sekali penjagaan ketat. Acara yang akan dilakukan berada basement yang sangat luas, di dalam sana lah mereka akan melaksanakan transaksi besar-besaran. Sebelum masuk ke basement, tentu pengawalan ketat di berikan di lantai utama, di pintu masuk dan di pintu utama, sementara pintu belakang, menurut prakiraan mereka hanya akan memberikan kamera CCTV guna memantau keadaan. Tak hanya di pintu belakang, di dalam basement pun mereka memberikan CCTV agar acara lebih kondusif dan menghindari pengkhianatan.
Tugas Riko adalah meretasnya, karena kebetulan perusahaan milik Riko memang berkecimpung di bidang IT, itulah sebabnya Reyhan selalu meminta bantuan Riko guna melacak keberadaan Senja atau Maura-nya dulu, karena memang itu keahlian Riko.
***
Bella yang ingin kembali pulang mengurungkan niatnya setelah melihat mobil milik Reyhan dan Geri sedang di periksa di gerbang utama perumahan oleh security. Jelas ia tahu mobil tersebut milik Reyhan, dirinya yang sering mengunjungi kediaman Alfarisi pasti sangat hafal dengan mobil tersebut.
Melihat hal itu, Bella mengemudikan mobilnya untuk putar balik, kembali ke rumah milik Fino. Ia dengan tergesa-gesa masuk kembali ke dalam rumah tersebut. Tujuannya ada Senja, Senja yang harus ia singkirkan sebelum Reyhan dan Geri berhasil menyelamatkannya.
BYUR!!
Bella menyiramkan air ke wajah Fino yang tengah terlelap tidur.
"Bangun Bodoh!" ucap Bella membangunkan Fino.
Fino mengerjapkan matanya, ia cukup terkejut akibat air yang mengguyur wajahnya. Mata satunya menatap Bella yang berdiri di samping ranjangnya.
"Ada apa?" tanya Fino dengan suara khas bangun tidur. Ia memposisikan dirinya duduk dan bersandar di sandaran ranjang.
"Bangun sekarang, dan bantu gue untuk mengecoh Kak Reyhan juga Geri, mereka sudah di gerbang utama, mereka akan membawa Senja pergi. Gue gak mau yah sampai rencana untuk menghancurkan Senja gagal." ucap Bella dengan cepat.
"Reyhan dan Geri di sini?" tanyanya lagi.
"Iya! Dan apa lo lupa, kalau malam ini lo ada janji transaksi di gedung Xx." ucap Bella mengingatkan.
"Oouh astaga aku melupakannya." Fino segera bangkit dan berlari ke kamar mandi, ia membasuh wajahnya agar lebih fresh. Setelahnya ia menggati pakaiannya yang terlanjur basah.
"Mau kemana lo." cegah Bella melihat Fino berjalan tergesa-gesa meninggalkannya, ia mencekal pergelangan tangan Fino.
"Gue udah terlambat untuk transaksi dan udah gak banyak waktu lagi, kalau sampai ini terlewat, gue bisa rugi milyaran rupiah." ucap Fino.
"Bantu gue membawa Senja juga, sepertinya cara balas dendam yang paling ampuh adalah melihatnya hancur ketika digilir dengan banyak pria." ucap Bella dengan seringainya.
"Apa maksud lo?" tanya Fino.
"Gue mau lo jual Senja di pelelangan nanti, jadikan dia sebagai pion utamanya, gue yakin dengn harga mahal akan banyak orang yang ingin membelinya." ucap Bella.
"Jangan kurang ajar Bella!" Fino menggeram marah.
"Apa?! Lo mau bilang lo suka sama Senja gitu? Hah! Dengar baik-baik Fino, disini gue yang boleh mengatur Senja, mau gue melakukan apapun ke cewek murahan itu, itu semua bukan urusan lo. Dari awal lo cuma partner kerja gue, tugas lo cuma membantu semuanya agar berjalan dengan keinginan gue! Dengar itu!" Bella tak kalah marah melihat reaksi yang ditunjukkan Fino.
"Lo gak berhak atas Senja, ngerti lo!" Bella melenggang berjalan mendahului Fino. Sementara di belakang Fino menggeram dan berteriak frustasi.
Ia tertarik pada Senja, jelas ia menaruh ketertarikan pada Senja, namun dirinya juga tidak mampu melakukan apapun, karena semuanya berada dalam kuasa Bella.