Better Days

Better Days
Tante Mira



Deru napas tak beraturan terdengar begitu lirih. Kaki kecil penuh luka itu melangkah tanpa alas kaki dengan mengendap-endap. Rasa takut menyelimutinya, malam yang gelap membuatnya harus lebih berhati-hati. Gadis itu menoleh sebentar, memastikan semuanya aman. Ia masih melihat pria yang sudah membuat tubuhnya kotor terbaring tanpa sehelai kain di atas kasur lusuh itu. Tangan yang gemetar mencoba mengambil kunci yang tergantung tinggi, ia berjinjit untuk meraihnya.


KLIK


Suara kunci yang ia dapatkan, dengan cepat ia genggam agar tak mengeluarkan suara kembali. Ia melangkah dengan perlahan dan hati-hati. Memasukkan kunci itu dan memutarnya agar pintu ruangan itu terbuka. Dengan bersusah payah ia bisa membukanya. Helaan napas lega diiringi tetesan air mata menandakan masih ada harapan baginya.


“Tolong hambamu ini Ya Allah.” bisisknya dalam hati.


Diintipnya di luar ruangan, ada 3 pria yang tengah tertidur pulas. Gadis itu melanjutkan langkahnya. Ia harus cepat pergi sebelum pria-pria bejat itu bangun dari tidurnya.


Setelah melewati waktu yang menegangkan, ia berhasi keluar dari tempat terkutuk itu. Kaki kecil tanpa alas itu berlari menyusuri jalan yang ia sendiri pun tak tahu. Hanya kegelapan malam yang menemaninya. Entah bahaya apalagi yang sedang mengincarnya, yang ia tahu, ia harus pergi sejauh mungkin.


***


Suasana pagi yang cerah membuat semua orang bersemangat dalam melakukan kegiatan. Hari ini Senja pergi ke pasar pagi untuk membeli pesanan dosen pembimbingnya. Membelikan kain berbahan dasar katun yang berwarna hijau toska. Sekalian Senja bisa mampir ke tempat perabotan untuk membeli panci dan parutan kelapa.


Ketika tengah berbelanja, Senja diusikkan dengan suara ribut dari toko sebelah. Dapat Senja lihat ada ada ibu-ibu yang tengah berbelanja kain juga. tapi transaksi itu seperti mendapat masalah, membuat Senja tertarik untuk melihat apa yang sedang terjadi.


“Ya ampun Pak, saya mau beli ini banyak, jadi kasih discount dong, masa beli banyak harganya masih mahal.” ucapnya ala ibu-ibu menawar harga pasar.


“Itu sudah yang paling murah Buk, sudah tidak bisa turun lagi harganya.” ucap sang penjual.


“Masih mahal ini Pak, kasih murah dong, nanti saya promosikan toko Bapak dengan teman-teman arisan saya deh.” tawarnya dengan berbagai cara.


“Gak bisa Buk, nanti saya bisa rugi kalau kasih harga murah, ini saja saya cuma dapat untung sedikit.” ucap penjual tersebut.


“Mohon maaf, permisi Buk, kalau boleh tau ada masalah Buk?” tanya Senja yang sedang menghampiri Ibuk tersebut.


“Ini Nak, masa Ibuk mau borong banyak dagangannya malah di kasih harga mahal.” ucapnya seperti sedang mengadu.


“Sudah murah loh Buk, ini sudah harga paling murah.” ucap penjual itu tidak terima.


Senja tersenyum mendengarnya. Ia membisikkan sesuatu yang membuat Ibu itu mau ikut dengannya.


Beberapa saat kemudian...


“Wah... tau gini dari dulu Tante beli kain di toko itu, dari pada beli di toko yang tadi buat emosi aja.” kata ibu-ibu itu dengan raut wajah gembira menenteng belanjaan 2 kantong kresek besar.


“Emang mau dibuat apa Buk?” tanya Senja.


“Jangan panggil Ibuk dong, panggil saja Tante, nama Tante adalah Mira, nama kamu siapa?” tanyanya balik dengan tersenyum.


“Iya Tante, nama saya Senja, memangnya mau buat apa kain-kain itu tante?” tanya Senja kembali.


“Nama yang cantik, Tante ini suka merajut Senja, kadang juga menjahit, biasalah ibu-ibu suka gatel tangannya kalau gak ada kerjaan.” jawabnya dengan tersenyum. “Kalau Senja sendiri untuk apa beli kain itu?” lanjutnya bertanya sambil melihat kain yang dibawa Senja.


“Ini titipan Tante, dosen pembimbing Senja yang minta belikan.” jawabnya.


“Senja lagi kuliah yah?”


“Iya Tante.”


“Semester berapa?” tanyanya.


“Semester akhir tante, lagi menyusun skripsi.” Jawab Senja.


“Tante suka tau dengan anak-anak muda jaman sekarang yang giat belajar demi meraih cita-citanya, apalagi anak perempuan, karena jaman sekarang tuh Tante udah jarang menemukan anak perempuan yang kuliah, kebanyakan mereka memilih untuk menikah muda, padahal perjalanan mereka masih jauh.” ucap Tante Mira.


“Kuliah dimana Senja?” tanya Tante Mira.


“Kuliah di salah satu Universitas Islam Tante.” jawab Senja.


“Anak Tante itu seorang dosen, tapi dia ngajar di Universitas Swasta yang umum, bukan keislaman Senja, Tante kira Senja kuliah di tempat yang sama seperti anak Tante.” Ucap Tante Mira.


“Emm tidak Tante.” Senja menggelangkan kepala dengan tersenyum.


“Ngomong-ngomong Senja kuliah dengan pakaian seperti ini?” tanya Tante Mira dengan melihat pakaian tertutup milik Senja.


“Iya Tante.” Jawab Senja dengan tersenyum.


“Apa tidak panas?” tanya Tante Mira.


“Tidak Tante, alhamdulillah sudah terbiasa Tante.” jawab Senja.


“Tante itu pengen banget punya anak perempuan yang pandai menutup auratnya seperti Senja, tidak merasa terbebani dengan kewajibannya sebagai seorang muslimah. Tante itu sebenarnya tau Senja, tapi Tante sendiri pun masih susah untuk menutup aurat, padahal memakai jilbab itu tidaklah sulit.” ucap Tante Mira.


“Perlahan-lahan saja Tante, semuanya kan tidak ada yang instan Tante, yang terpenting ada niat, kemauan, usaha, dan ikhtiar, Allah akan membantu Tante, karena Allah menyukai hambanya yang berusaha Tante.” ucap Senja dengan lembut.


“Jadi pengen mantu sholehah seperti Senja, Senja mau yah Tante jodohin sama anak Tante, soalnya anak Tante cowok semua, gak ada yang cewek.” ucap Tante Mira dengan sedikit gurauan.


Senja hanya tersenyum kikuk mendengarnya.


“Senja, boleh Tante minta nomor telepon Senja? Supaya kapan-kapan kita bisa atur jadwal untuk ketemuan , kita ngobrol lebih banyak dari ini.” ucap Tante Mira.


“Boleh dong Tante, Senja sebutkan yah Tante, 0821 xxxxxx.”


“Wah dapat nomor calon mantu nih, makasih yah cantik, kapan-kapan kita bertemu lagi, nanti Tante chat Senja oke.” ucap Tante Mira.


“Iya Tante.”


“Senja pulang ke mana? Tante antar yah..” ucapnya memberi tawaran.


“Tidak usah Tante, kosan Senja juah dari sini, nanti Senja pulang naik angkot saja.” tolaknya.


“Maka dari itu, karena jauh biar Tante antar saja, sekalian Tante mau tahu kosan Senja, supaya kapan-kapan Tante bisa mengunjungi Senja.” ucap Tante Mira.


“Tidak apa-apa Tante, Senja pulang...”


“No! Ayo Tante antar, Tante bukan orang jahat Senja, Tante tidak akan menculik atau menjual Senja, ayo.” ajak Tante Mira.


“Em iya Tante.”


“Pak tolong masukkan belanjaan ke dalam bagasi yah.” ucap Tante Mira pada supir pribadinya.


“Baik Nyonya.”


“Ayo sayang masuk.” ucap Tante Mira mengajak Senja masuk ke dalam mobilnya.


“Iya Tante.”


Mobil melaju sedang menuju ke kosan Senja. Selama perjalanan Senja dan Tante Mira banyak mengobrol dengan bercanda. Ada saja hal-hal yang diceritakan oleh Tante Mira, dan Senja menjadi pendengar yang baik. Sesekali ia tertawa mendengar kisah lucu yang diceritakan Tante Mira. Hingga tak terasa perjalanan yang biasanya begitu membosankan menjadi begitu menyenangkan.