Better Days

Better Days
Skandal



Bimo sudah sampai di lokasi yang diberikan Devan sebelumnya. Sesuai instruksi Devan, ia memperlihatkan lencana yang diberikan Devan.


"Saya diutus oleh Bos Fino untuk menjadi pengawal Nona Riani dan tawanan khusus." ucap Bimo dengan menunjukkan lencana tersebut.


Penjaga tersebut menganggukkan kepala setelah melihat kencan tersebut, kemudian mempersilakan Bimo untuk masuk.


"Silakan masuk."


Sebelum masuk Bimo memperhatikan are sekitar, ini seperti perumahan, namun jauh lebih sepi, hanya ada 3 rumah, nampaknya ini perumahan khusus. Di dalam pun Bimo memperhatikan setiap sisi rumah. Yang bisa Bimo amati hanya 3 penjaga di gerbang utama, 2 penjaga di pintu depan, 2 penjaga di sisi kanan rumah, 2 penjaga di sisi kiri rumah, dan 3 penjaga di dalam rumah. Total ada 12 penjaga di dalam rumah.


"Siapa tawanan khusus itu? Apa jangan-jangan Nona Senja?" tanyanya pada diri sendiri. "Bukannya Bos Geri mengatakan bahwa Nona Senja diculik Fino, mungkinkah..."


"Eh kamu!" seru Riani melihat Bimo yang diam berdiri di dekat tangga, sementara Riani berjalan menuruni tangga hendak ke dapur dan tak sengaja melihat Bimo.


Bimo menatap Riani yang berjalan ke arahnya, ia menundukkan kepalanya seperti layaknya seorang pengawal.


"Kamu di sini? Kok aku baru lihat kamu." ucap Riani menatap intens Bimo.


"Saya baru tiba Nona, Bos Fino yang mengutus saya untuk menjaga keselamatan Nona di sini." ucap Bimo.


"Keselamatan?" guman Riani dengan tersenyum sinis. Bagaiaman bisa disebut keselamatan jika Fino lah yang menyiksanya setiap hari.


"Oh.. pantas saja kamu di sini, Bos mu itu memang sangat memahami kebutuhan tawanannya." ucap Riani dengan sinis.


Setelahnya Riani kembali melanjutkan kegiatannya, mengambil minuman di dapur, dia sedang tidak puasa.


Bimo menatapnya dalam diam, sebelum mengalihkan pandangannya menatap dua kamar yang berada di lantai 2. Ia yakin salah satunya adalah kamar tawanan khusus itu. Namun sebelum mencari tahu lebih lanjut, Bimo segera menuju kamar yang telah disiapkan untuknya untuk membersihkan tubuhnya.


***


"Sudah dapatkan lokasinya?" tanya Geri pada Riko.


"Sudah, semuanya sudah kudapatkan, ini aku kirim Kak." ucap Riko.


"Kita mulai perang sesungguhnya." ucap Geri menyeringai.


"Kita sudah ada tugas masing-masing, segera luncurkan semuanya hari ini juga." ucap Reyhan.


"Siap." ucap Riko.


Reyhan segera mengirim semua bukti kejahatan Fino ke pihak kepolisian. Bukti ini akan menguatkan semua dugaan kepolisian, sekaligus membantu pihak kepolisian untuk menangkap dalang dari kasus penipuan, penculikan dan perdagangan manusia.


Tadi pagi, setelah semua kejujuran yang mereka katakan pada Bintang, Reyhan beserta Papa Alex, Geri dan Riko menemui Kombes Burneo yang memang sebelumnya sudah mereka hubungi untuk meminta bertemu. Mereka mendiskusikan solusi terbaik atas masalah hilangnya Senja yang Reyhan yakini adanya unsur paksaan, atau mungkin Senja memang di ancam oleh Fino. Begitulah yang mereka simpulkan.


Sedangkan Riko, ia bertugas menyebarkan semua skandal Fino yang sering melakukan se*s bebas. Jika Fino hanya penjahat biasa, hal ini tidak akan berdampak lebih, namun yang dirugikan dari skandal ini adalah, bisnis keluarga Fino yang diambang kehancuran dan tercorengnya nama besar keluarga Fino sebagai salah satu pemilik Mall terbesar di kota tersebut.


Lalu tugas Geri ialah memporan-porandakan pusat utama kekuatan Fino, yaitu menggagalkan transaksi yang akan dilakukan Fino pada tengah malam nanti, dan mengobrak-abrik markas Fino bersama dengan pihak kepolisian yang akan membantu mereka. Dia sudah mendapatkan lokasinya dari Joni dan Heru.


Riko tersenyum puas setelah membuat banyak artikel, postingan di berbagai sosmed dengan nama samaran yang memuat skandal Fino.


Begini Kelakuan Anak Dari Pemilik Mall Terbesar di Kota X Yang Sering Dikagumi Banyak Wanita. *Menampilkan Foto Fino di dalam Hotel*


5 Potret Fino Brahwesta yang Tengah Bermain Basah-basahan di Dalam Kolam Renang, Meresahkan!


Wajah Rupawan, Kelakuan Bak Hewan! Fino Brahwesta Melakukan Eksploitasi Anak di Bawah Umur.


Tak Menyangka! Anak Konglomerat Ini Tersandung Skandal Se*s.


Saham Mall Cc Turun Drastis, Terancam Bangkrut Akibat Ulah Anak Semata wangnya.


Dan masih banyak lagi.


"Ternyata wajah tampan tidak cukup untuk menilai seseorang."


"Kelihatannya aja sempurna."


"Hancur sudah nama keluarga Brahwesta."


"Itulah jika terlalu dimanja apalagi sebagai anak tungga.


"Kalau gak baca judul, gue kira ini bukan Fino."


"Gak kaget sih... wajar saja, pergaulannya saja sudah beda dengan orang-orang kelas bawah seperti kita ini "


Namun tak jarang masih ada juga orang-orang yang mendukung Fino, dan beberpaa dari mereka yang memilih tidak mendukung pihak manapun.


"Kok pada sebel sih, gue malah suka banget sama Fino Brahwesta."


"Mau sebejat-bejatnya moral dia, faktanya dia anak salah satu konglomerat di kota ini."


"Gak ngaruh juga sih buat gue, mau gimanapun gue tetep bakal belanja di Mall itu."


"Gue gak setuju sih sama perbiatannya, tentu aja apa yang udah dia lakukan itu salah. Gak mau menghakimi, dosa diri sendiri aja udah banyak, apalagi nyinyirin dosa orang."


"Biasanya orang-orang kalangan atas itu mainannya yah begini, selagi bisa dapat gratis sama-sama mau atau bisa bayar, kenapa gak kan?"


Dan masih banyak lagi. Mereka semua merepost postingan tersebut, men-tag Fino langsung atau men-tag akun keluarga dan akun bisnis keluarga Braswesta.


Sementara di tempat lain, Fino menggeram marah. Ia berteriak melihat semua postingan tentang dirinya. Jika hanya menyangkut dirinya mungkin ia tidak akan semarah ini, namun semuanya menyangkut nama baik keluarga Brahwesta.


"SIAL!"


"ARRGGHH, BRENG**K!"


Suara gaduh terdengar dari luar, Jonu dan Heru begidik ngeri. Bukan setahun atau dua tahun mereka bekerja dengan Fino, jadi bukan tidak tahu jika sifat dan karakter Fino seburuk ini.


Bersamaan dengan itu, handphone Fino berdering. Tertera nama si pemanggil "Papa." Fino mengangkatnya.


"Halo Pa."


"Pulang kamu sekarang juga!"


Belum menunggu sampai Fino menjawabnya, telpon sudah dimatikan secara sepihak oleh Papanya.


"AWAS KAU REYHAN! GERI!". teriaknya dengan mengobrak-abrik ruangan kerjanya.


"Tunggu pembalasanku!" gumamnya dengan sorot mata penuh kebencian.


Segera ia kembali ke kediaman keluarga Brahwesta, untuk menerima konsekuensi akibat yang telah terjadi.


***


Bella yang sedang jenuh di salon kecantikan, membuka akun sosmednya, berniat mencari kesibukan lain agar tidak terlalu bosan, selagi menunggu treatment rambut miliknya. Namun hal tek terduga yang ia dapatkan. Matanya membulat sempurna ketika melihat begitu banyaknya postingan tentang skandal Fino, selain itu artikel di media massa juga menuliskan berita tentang skandal Fino.


"Apa-apaan ini, siapa yang melakukan ini." gumam Bella.


"Sial! Apa ini ada hubungannya dengan Senja?" tanyanya pada diri sendiri. "Kalau iya, berarti semua ini terjadi atas campur tangan Kak Reyhan, aku harus cari tahu semuanya." lanjutnya dengan cemas.


Bella takut ketika Fino hancur, maka dirinya pun akan ikut hancur. Ia tidak ingin jika sampai semuanya terbongkar.