
“Terimakasih Nak sudah mengantar Nenek.” ucap Nenek tersebut pada gadis yang mengantarnya.
“Sama-sama Nek, oh iya ini buah-buahan milik Nenek.” ucapnya sambil memberikan 4 kantong kresek buah.
“Siapa namamu Nak?” tanya Nenek.
“Nama saya Senja Nek.” jawabnya dengan tersenyum.
“Nama yang cantik seperti orangnya.” Nenek itu tersenyum dengan mengusap punggung Senja. “Ini ambil untukmu Nak.” lanjutnya dengan menyerahkan satu kresek buah miliknya.
“Tidak usah Nek, Senja ikhlas bantu Nenek.” ucap Senja menolaknya.
“Terima yah Nak, Nenek juga ikhlas mau berbagi dengan Nak Senja.” ucapnya meminta.
“Terimakasih Nek.” Senja menerimanya dengan tersenyum. “Kalau begitu Senja pamit pulang dulu yah Nek, assalamu’alaikum.” lanjutnya berpamitan.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati Nak.” Senja mengangguk dengan tersenyum.
Senja tadi sedang jalan-jalan santai, ia sebenarnya ingin pergi ke supermarket di ujung komplek dekat kosannya. Siapa yang tahu, di jalan tersebut ia bertemu dengan Nenek yang tengah kesusahan memunguti buah-buahan yang jatuh berserakan di tengah jalan raya. Tak bisa melihat orang lain kesusahan Senja menolong Nenek tersebut memunguti buah-buahan yang berserakan.
“Alhamdulillah dapat rezeki buah, mana banyak lagi.” ucap Senja dengan menatap buah yang ia bawa.
“Pria tadi seperti tidak asing, tapi tidak mungkin aku pernah bertemu dengan pria kaya dan bermobil sepertinya.” gumamnya dengan menggelengkan kepala dan terkekeh pelan.
“Tapi aku seperti telah mengenalnya, dimana? Kapan? Pasti cuma khayalan saja, kan banyak anak kampus yang sering bawak mobil atau jangan-jangan dia salah satu peserta seminar yang pernah aku ikuti, bisa jadi aku memang pernah berpapasan dengannya di jalan, banyak kemungkinannya Senja, jangan terlalu dipikirkan.”
“Suara lembutnya terngiang-ngiang di telingaku, masa iya aku tidak pernah bertemu dengannya.” Gumamnya dengan terus memikirkan Reyhan.
“Astagfirullah Senja, bisa-bisanya kamu memikirkan seorang pria yang baru kamu temui, sudah-sudah, lupakan!” lanjutnya dengan menggelangkan kepala.
***
“Assalamu’alaikum Bunda.” ucap Senja menelepon Bunda ketika sudah sampai di kosan.
“Wa’alaikumsalam, ada apa Mbak?” tanya Bunda.
“Ih Bunda, memangnya Mbak gak boleh nelpon Bunda?” ucapnya.
“Tumben-tumbenan kamu yang telpon Bunda Mbak, lagi bosan yah?” tebak Bunda.
“Hehehe iya Bun, oh iya, Mbak mau cerita sama Bunda.” ucapnya.
“Cerita apa Mbak?”
“Mbak dapat buah gratis, tadi itu ada Nenek baik hati yang kasih buah satu kresek penuh Bun.” cerita Senja dengan antusias.
“MasyaAllah, itu rezeki buat anak Bunda yang baik hati.” ucap Bunda.
“Padahal Senja cuma sedikit membantu Nenek itu Bun, tapi Allah balas dengan yang berlipat, masyaAllah banget Bun, coba aja Bunda di sini, pasti kita bisa makan buahnya bersama-sama.” ucap Senja.
“Bunda di sini juga ada buah Mbak, Mbak makan buahnya yang banyak yah, sebagai penambah vitamin untuk tubuh Mbak, jaga kesehatan juga, jangan sakit-sakit yah Mbak.” ucap Bunda.
“Siap Bunda.”
“Yaudah Mbak istirahatlah, walaupun lagi sibuk nyusun skripsi tetap harus jaga pola kesehatan yah.” ucap Bunda.
“Iya Bunda, Bunda juga istirahat yah, semangat buat kuenya.” ucap Senja memberi semangat. “Assalamu’alaikum Bunda.”
“Wa’alaikumsalam.”
Senja mematikan sambungan telepon. Ia menyusun beberapa bahan pokok yang ia beli dari supermarket ke dalam lemari dan meletakkan sayuran di dapur. Buah-buahan ia letakkan di dalam keranjang buah.
Drrtttzz, Drrrtzz
Handphone milik senja bergetar, dering telpon membuatnya menjeda kegiatannya.
“Kak Hana.”
Senja mengangkat telpon tersebut.
“Wa’alaikumsalam, Senja boleh Kakak tanya sesuatu, tapi maaf sebelumnya mengganggu waktu Senja.” ucapnya dengan serius.
“Tidak apa-apa Kak tidak mengganggu kok, mau tanya apa Kak?” tanya Senja dengan kerutan di keningnya, ini kali pertama Hana menelpon Senja dengan nada yang begitu serius.
“Senja mau melanjutkan ta’aruf yang tertunda dulu?” tanya Hana.
“Kenapa tiba-tiba Kak Hana tanya itu?” tanya Senja.
“Senja belum siap yah? Tidak apa-apa Dek kalau belum siap atau memang tidak mau.” ucap Hana.
“Bukan begitu Kak, hanya saja ini terlalu tiba-tiba bagi Senja.” ucap Senja pelan.
“Maafkan Kakak yang selalu memaksa Senja, Kakak cuma mau membantu Senja untuk sedikit melupakan kejadian itu, Kakak tidak suka melihat Senja terlalu terpuruk, Kakak rindu Senja yang dulu.” ucap Hana.
“Bagaimana aku bisa melupakannya Kak, sementara sampai saat ini aku masih dibayang-bayangi kehidupan kelam itu.”
“Beri Senja sedikit lagi waktu yah Kak, nanti Senja akan jawab semuanya, sekitar 1 bulan, Senja janji Senja sudah memberikan jawaban pastinya.” ucap Senja.
“Berapa lama pun Kakak tidak masalah Dek, yang penting kamu nyaman.” ucap Hana.
“Doain Senja yah Kak dan tetap berada di samping Senja.” ucap Senja.
“Siap, Kakak selalu mendoakan yang terbaik untuk Senja, dan Kakak akan selalu ada untuk Senja, mensupport Senja apapun keadaannya, yang kuat yah Dek, kamu wanita hebat.” ucap Hana.
“Iya Kak, terimakasih Kak.”
Keduanya melanjutkan perbincangan ringan hingga telepon berakhir
***
“Kapan mau ngenalin calon kamu Rey?” tanya Mama.
“Nanti Ma.” jawab Reyhan sambil memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
“Nanti kapan? Jawaban kamu itu-itu aja terus, Mama bosan Rey.” ucap Mama. “Masih gadis ta’aruf itu?” tanyanya.
“Em iya Ma.”
“Bawa aja langsung ke sini Rey, Mama yang akan menyeleksinya, atau langsung menikah saja.” ucap Mama.
“Kayak ngajak anak orang main aja Ma, Rey ngajak anak gadis orang menikah Ma, bukan main.” ucap Reyhan.
“Dari pada kamu gak nikah-nikah.” ucap Mama.
“Rey bukannya gak laku Ma, belum ada yang cocok aja.” ucap Reyhan.
“Dan yang cocok gak mau sama kamu, yah kan? Makanya dia mutusin ta’aruf sama kamu.” ucap Mama sambil mengejek.
Rey memanyunkan bibirnya, sambil memutar matanya malas. “Bukan gak mau Ma.”ucap Reyhan tidak terima.
“Terus apa namanya kalau bukan gak mau, buktinya sampai sekarang aja kamu gak berhasil dapatkan gadis itu.” ucap Mama.
“Lagian umur Rey juga masih muda Ma, untuk apa cepat-cepat menikah, masih ada waktu Ma.” ucap Reyhan.
“Umur masih muda gak menjamin kamu bisa hidup lebih lama lagi Rey, atau Mama sendiri, gak menutup kemungkinan kalau malaikat Izrail bakal ngambil Mama lebih dulu.” ucap Mama.
“Mama, Rey gak suka Mama ngomong kayak gitu.” ucap Reyhan.
“Makanya Mama minta Reyhan cepar-cepat menikah, gini aja deh, Mama kasih waktu 1 bulan, jika kamu belum juga dapetin gadis incaran kamu, jangan salahkan Mama jika kamu Mama jodohkan dengan gadis pilihan Mama.” ucapnya dengan memaksa.
“Ma...”
“No! No! Mama tidak menerima penolakan yah, mau sampai kapan kamu menunggu hal yang tidak pasti, kamu anak cowok loh Rey, bukan anak cewek yang habis di PHP dan akhirnya galau, lebih parahnya kamu galau sampe 1 tahun, malu Rey.” ucap Mama.
Reyhan menghela napas pasrah mendengar ocehan sang Mama. Tidak ada pilihan lain selain menerima apa yang Mama mau. Setidaknya Mamanya tidak bertanya hak yang sama setiap hari. Reyhan benar-benar bosan mendengarnya.