
Hubungan keduanya yang sempat memburuk kini kembali membaik. Reyhan juga tidak menyinggung tentang kehidupan pribadi Senja di masa lalu. Baginya tidak penting bagaimana masa lalu Senja, ia tetap menerima Senja apa adanya. Ia juga sudah tidak penasaran lagi dengan semuanya, kecuali laki-laki yang kata Mang Ujang sempat membuat Senja ketakutan.
"Hari ini kamu ke kampus?" tanya Reyhan dengan lembut, memeluk Senja yang masih meringkuk di dalam selimut.
Semalam hujan deras disertai angin membuat cuaca dingin melanda kota. Senja kembali melanjutkan tidurnya setelah menemani Reyhan shalat subuh. Ia tidak ikut berjamaah, hanya saja tetap ikut bangun sahur sampai Reyhan selesai shalat subuh. Cuaca yang begitu dingin membuat Senja nyaman untuk melanjutkan tidurnya setelah subuh.
"Eugh." Senja melenguh ketika Reyhan mengganggu tidurnya. "Mas.... masih ngantuk." rengek Senja dengan tetap memejamkan matanya dan memeluk Reyhan.
"Bangun dan mandi Senja, biar fresh badannya." ucap Reyhan dengan lembut.
"Dingin Mas." ucap Senja yang masih menelungkupkan wajahnya di dada Reyhan.
"Katanya ada agenda hari ini." ucap Reyhan.
Senja menganggukkan kepala, tanda mengiyakan ucapan Reyhan.
Drrtzz..
Suara handphone Reyhan berdering. Reyhan mengambil handphone di atas nakas tanpa melepaskan pelukannya pada Senja, dan mengarahkan kamera depannya wajahnya.
"Assalamu'alaikum Ma." sapa Reyhan, menatap layar handphone yang memperlihatkan Mama Mira.
"Wa'alaikumsalam, kamu gak pergi ngajar Rey?" tanya Mama Mira, memicingkan matanya ketika melihat Reyhan masih tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Ngajar Ma, nanti jam 10 pagi." jawab Reyhan.
"Oh.. kirain udah pensiun, kamu kan udah tua Rey." ucap Mama Mira sekenanya.
Reyhan memutar malas bola matanya.
"Mama ngapain video call pagi-pagi gini?" tanya Reyhan dengan suara datarnya.
"Mama tadi nelpon Senja, tapi gak aktif, makanya Mama nelpon kamu." ucap Mama Mira membuat Reyhan menganggukkan kepalanya. "Senja mana Rey, panggilin dong." pintanya pada Reyhan.
Reyhan langsung mengarahkan kamera handphone pada Senja yang tengah tertidur di dalam pelukan Reyhan. Ia sudah tidak mendengar suara-suara di sekitarnya, Senja langsung melanjutkan tidurnya ketika Reyhan tengah sibuk mengobrol dengan Mama Mira tadi.
"Anak Mama pasti kecapekan." ucap Mama Mira menatap gemas Senja yang memeluk Reyhan.
"Enak kamu yah Rey, tidur udah ada yang nemenin" sungut Mama Mira dengan memanyunkan bibirnya.
Reyhan tidak menanggapinya, masih menatap dengan wajah datar miliknya.
"Sudah yah Ma, Senja lagi tidur, cuaca dingin, di luar masih hujan, jadi biarkan Senja tidur dulu." ucap Reyhan, sembari mengarahkan kamera handphone di depannya.
"Iya-iya deh, yaudah Mama titip salam yah untuk anak kesayangan Mama, jagain, jangan di sakitin." ucap Mama Mira.
"Iya Ma, yaudah Reyhan tutup dulu telponnya assalamu'alaikum." ucap Reyhan.
"Wa'alaikumsalam."
Reyhan menatap Senja dengan tersenyum, ia suka melihat Senja yang tengah tertidur. Wajah imut Senja menjadi semakin imut dan menggemaskan ketika Senja tidur. Ia semakin mengeratkan pelukannya dan ikut tidur sampai alarm yang di atur membangunkan mereka.
***
"Bel." panggil Fino pada Bella yang berjalan keluar dari apartemennya.
"Berisik deh Fin, pagi-pagi jangan buat mood gue ancur." ucap Bella tanpa menghentikan langkahnya.
Fino menarik kasar tangan Bella, menatap tajam Bella yang tengah menatap tajam balik padanya.
"Lepasin!" ucap Bella dengan menghentakkan pegangan tangan Fino.
"Kita ke dokter sekarang." ucap Fino. " Gue cuma takut lo hamil, kalau sampai lo hamil otomatis itu anak gue, dan gue harus mempertanggungjawabkan semuanya." ucap Fino dengan serius.
Bella tertawa mendengarnya, ia menatap remeh Fino yang kini tangah mengernyitkan keningnya.
"Gue serius Bel." tekan Fino.
"Gue gak butuh tanggungjawab lo, sekalipun ada anak di dalam sini, dia juga akan langsung hilang, karena gue gak akan sudi punya anak dari lo Fin." ucap Bella membuat darah Fino mendidih.
"Lo itu beda dari Kak Reyhan yang gue harapkan jadi suami gue, jadi buang jauh-jauh pikiran bodoh lo itu." ucap Bella keras.
"Kerjain tugas lo dengan benar, kita ini cuma rekan bisnis Fino, gak lebih." ucap Bella.
Tangan Fino terkepal mendengar semua ucapan Bella.
"Kurang ajar lo Bella." desis Fino menatap mobil Bella yang melaju meninggalkan gedung apartemen.
Fino merogoh saku celananya, mengambil handphone dan segera menghubungi seseorang.
"Siapkan semuanya, hari ini harus berjalan sesuai rencana." ucap Fino pada orang di seberang telpon.
Panggilan terputus dan Fino segera meninggalkan gedung apartemen yang Bella tempati.
***
"Kabari kalau sudah mau pulang, nanti saya jemput lagi." ucap Reyhan pada Senja.
"Emm." Senja menganggukkan kepalanya.
Senja menyalimi tangan Reyhan seperti biasanya, dan dengan kebiasaannya pula Reyhan mencium lembut kening Senja.
"Semangat." ucap Reyhan.
"Iya, Mas juga semangat mengajarnya." ucap Senja dengan tersenyum.
Senja turun dari mobil dan menutupnya dengan pelan. Ia melambaikan tangannya pada Reyhan.
"Hati-hati di jalan Mas." pesan Senja pada Reyhan.
Reyhan mengangguk dan tersenyum, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman kampus.
"Ah cieeee, pengantin baru." ucap Fara dengan tersenyum menggoda Senja, membuat Senja tersipu dengan pipi yang merona malu.
"Apaan sih Far, bukan pengantin baru lagi." ucap Senja pelan.
"Masih tau, baru jalan 2 minggu kok, masih disebut pengantin baru." ucap Fara.
"Terserah kamu aja deh."
"Pak Reyhan romantis yah Bil, aku senang lihat kamu bahagia menikah dengan Pak Reyhan." ucap Fara dengan merangkul tangan Sena, berjalan beriringan menuju ruang prodi.
"Namanya juga menjalankan kewajiban seorang suami, harus romantis dan sayang istri dong Far." ucap Senja.
"Beda ih... auranya tuh beda sama waktu pertama kali kalian menikah." ucap Fara kekeh.
"Sama aja." ucap Senja.
"Menurut pandangan aku beda, sekarang itu kayak ada manis-manisnya gitu, kalau dulu dingin." ucap Fara.
Senja menggelangkan kepalanya. Ia jadi mengingat bagaimana wajah menakutkan Reyhan saat malam mencekam saat itu. Hujan deras, angin kencang, dan mati lampu membuat Senja mengingat kembali masa lalunya, hal itu pula yang membuatnya menangis ketakutan dan meneriaki Reyhan yang berniat membantunya.
Namun semuanya berubah ketika hari pertama mereka menjadi sepasang suami istri, Reyhan begitu perhatian meski masih kaku untuk melakukannya, walaupun hanya sekedar berpegangan tangan, namun kebiasaan itu mampu membuat hubungan keduanya semakin dekat. Cara Senja memperhatikan semua tentang Reyhan pun membuat Reyhan menjadi semakin yakin untuk menaruh hati pada Senja.
"Mulai besok kampus libur kan?" tanya Senja pada Fara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya, untungnya semua urusan kita sudah selesai Bil, tinggal menunggu libur idul fitri selesai, kita ujian munaqasah terus wisuda deh." jawab Fara.
"Gak kerasa yah." gumam Senja menganggukkan kepalanya.
"Hari ini aku ada agenda ke rumah sakit, mau ikut?" tawar Senja mengajak Fara.
Fara menatap Senja dengan tanda tanya.
"Ngapain? Kamu sakit?" tanya Fara dengan khawatir.
"Mau ke psikiater, insyaAllah ini pertemuan terakhir untuk aku konsul dan menghilangkan trauma aku, mau ikut?" tanya Senja lagi.
Fara menatap Senja dengan mata yang berkaca-kaca, padahal Senja tidak sedang menceritakan kisah sedih.
"Pasti sangat sakit, kenapa baru sekarang ngajak aku nya." ucap Fara dengan sendu.
"Eh jangan nangis dong, aku gak kenapa-kenapa, itu kejadian kan sudah sangat lama Far." ucap Senja dengan tersenyum lembut, mencoba meyakinkan Fara bahwa dirinya baik-baik saja.
"Maaf." ucap Fara dan langsung memeluk Senja.
"Setelah urusan kampus selesai kita langsung ke rumah sakit." ucap Senja dan mendapat anggukan dari Fara.