
Pagi ini, seperti yang sudah dijadwalkan, Senja berangkat ke kampus, lebih tepatnya menemui dosen pembimbingnya. Fara juga ikut, karena hari ini juga menjadi jadwal dia untuk bimbingan. Untungnya hari ini cerah, jadi tidak perlu khawatir akan ada hujan badai, angin ribut ataupun halilintar. Apalagi takut pakaian tidak akan kering karena cuaca yang buruk.
Fara kembali menjemput Senja. Pada dasarnya Fara memang selalu menjemput dan mengantar Senja ke mana pun Senja mau, walaupun Senja sering menolaknya. Bukan tanpa alasan, baginya Senja bukan sekadar sahabat, namun sudah seperti saudara. Apalagi Senja kerap membantunya menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang menurutnya sulit.
Keduanya kini berpisah di masing-masing prodi. Setelah mengantar Senja, Fara langsung pergi menemui dosen pembimbingnya. Yah, Fara dan Senja memang bukan dari jurusan atau prodi yang sama, hanya saja, kedekatan mereka sudah terjalin sejak lama, hampir 7 tahun lamanya. Kata orang, hubungan persahabatan yang sudah lama itu akan menjadi penguat saat badai menerpanya.
"Assalamu'alaikum." Senja mengucapkan salam sambil mengetuk pintu. Dan dari dalam, dapat ia lihat bahwa dosen pembimbingnya tersenyum sambil menjawab salamnya.
"Wa'alaikumsalam, masuk Nak." jawabnya dengan tersenyum. Ia mempersilakan Senja duduk di hadapannya. Sangat baik, terlihat sangat baik. Tidak tahu saja dia merupakan salah satu dosen yang harus serba perfect ketika bimbingan dengannya.
"Bagaimana kabarmu Senja, sudah dua minggu sejak revisi yang Ibu berikan, biasanya kamu tidak akan selama itu loh kalau revisi. Apa begitu sulit?" Ibu dosen itu tersenyum menggoda Senja, sambil membaca, dan mengoreksi skripsi milik Senja.
"Alhamdulillah baik Bu."
Senja menampilkan senyum malunya, karena tebakan dosen pembimbingnya adalah benar. Ia memang sempat mengalami beberapa kesulitan ketika mengerjakan revisi bab terakhir dari dosennya itu.
"Sudah baik, ini hanya ada ada beberapa penulisan saja yang salah, sisanya kalau masalah isi skripsi mu baik, overall is good Senja. Ada bagian-bagian yang Ibu coret, nanti harus kamu perbaiki." ucap dosen itu memberikan koreksinya pada Senja.
"Kemudian, nanti di bagian ini." Ibu itu menggaris bawahi alenia ke empat dari paragraf ketiga. "Kamu tambahin lagi yah, penjelasan mengenai bagian penutup, sekitar satu sampai dua paragraf lagi." lanjutnya pada Senja.
Senja segera mencatat apa saja yang perlu ia catat, tidak lupa juga ia merekam semua yang dosennya katakan.
"Setelah itu kamu siapkan saja seperti abstrak, dan ucapan terimakasih, sisanya seperti surat pengesahan dan lain-lain yang perlu kamu urus di bagian jurusan bisa menyusul." Senja kembali mencatatnya, ia menyimak dengan sangat baik.
Setiap Ibu itu menjelaskan secara rinci tentang kesalahannya, Senja hanya meresponnya dengan mengucapkan kata 'iya Bu' kemudian 'baik Bu' tidak lebih tidak kurang.
"Jangan khawatir, Ibu yakin kamu wisuda tahun ini, bisa dipastikan, walaupun tinggal 3 bulan lagi. Revisi kamu juga makin hari makin sedikit." ucap Ibu dosen dengan tersenyum, kemudian memberikan skripsi dengan isi coretan itu pada Senja.
"Terimakasih Bu, Senja pasti akan mengusahakan yang terbaik." ucap Senja dengan tersenyum.
"Ibu tahu itu, kamu memang salah satu mahasiswi teladan, telaten dan penurut yang Ibu kenal." ucapnya dengan tersenyum pula.
Senja tersenyum menganggukkan kepala.
"Yaudah, bimbingan hari ini cukup sampai di sini, karena memang sudah tidak ada yang perlu Ibu tambahkan atau Ibu salahkan dari isi skripsi kamu." ucap Ibu dosen dengan tersenyum.
"Terimakasih, kalau gitu Senja pamit, assalamu'alaikum." Senja kemudian menyalami dosennya, dan segera keluar untuk menemui Fara di prodi lain.
***
"Ayo dong Rey, lambat banget sih kamu ini, cuma nemenin Mama aja kamu ogah-ogahan gini." ucap Mamanya dengan nada mulai merajuk.
Reyhan menghela napas berat. Sesulit ini mengikuti kemauan Mamanya.
"Mama jangan macam-macam yah." peringat Reyhan dengan tatapan selidik.
"Apa sih, Mama cuma mau kamu ikut Mama ke rumah seseorang, jalin silaturahim." ucap Namanya memberikan alasan.
"Kalau iya kenapa?" tantang Mama Mira pada Reyhan yang sudah kehabisan kata-kata mendengar ucapannya.
Melihat tidak ada reaksi dari putranya Mama Mira kembali melanjutkan ucapannya. "Mau apa kamu kalau iya? Kan kamu sudah buat kesepakatan dengan Mama, ingat satu bulan, kalau bukan karena Mama lupa, harusnya sejak satu minggu yang lalu kamu sudah Mama jodohkan dengan pilihan Mama." ucap Mama Mira membuat Reyhan melotot.
Geri dan Papa Alex menjadi penonton keduanya. Jujur saja Geri suka melihat Reyhan tidak berdaya seperti itu, jarang-jarang melihat Reyhan diam seribu bahasa di depan ratu Alfarisi. Diam-diam dia juga tertawa cekikikan bersama sang Papa.
"Semakin seru Pa." bisiknya pada Papa Alex yang berada di sampingnya.
Papa Alex hanya berdehem. Ia lebih suka jika sang istri tidak memaksa putranya, tapi bagaimana lagi, pilihan sang istri pasti tidak pernah salah, setidak itulah yang ia yakini. Entah karena yakin atau karena ia terlalu cinta sampai tidak bisa menolak keinginan istri tercintanya.
"Mama tidak menerima penolakan, atau kau akan melihat Mama berakhir di rumah sakit." Reyhan tahu itu hanya sebuah gertakan semata, tapi bukan tidak mungkin jika keinginan Mamanya tidak dituruti, maka akan terjadi hal gila lainnya di kemudian hari. Dan Reyhan tidak mau sampai itu terjadi.
"Oke, Reyhan ikut Mama." ucapnya dengan terpaksa, namun tetap memaksakan senyumnya demi kebahagian sang Mama. Kemudian keluar terlebih dahulu meninggalkan Mama Mira untuk menyiapkan mobil.
"Ayo! Papa sayang, Mama pergi dulu yah, dan kamu Geri, jangan lupa tugasmu, kerjakan sesegera mungkin." ucapnya pada kedua pria yang tengah duduk santai di sofa.
"Siap Ma." Geri mengangkat tangannya memberikan hormat pada Mama Mira.
"Hati-hati sayang, jangan terlalu memaksa jika tidak sesuai rencana." ucap Papa Alex memberikan pesan.
"Tidak ada yang tidak sesuai Rencana Pa, Mama bisa pastikan puasa tahun ini akan menjadi berkah untuk keluarga kita." ucap Mama Mira dengan percaya diri.
Entah di masa depan dia bisa menerima sebuah fakta atau tidak, yang ia yakini saat ini adalah menjodohkan Reyhan dengan Senja bagaimanapun caranya.
***
"Bagaimana tugas yang ku berikan? Apa sudah kau temukan jawabannya?" tanya Geri.
Ia bergegas keluar rumah juga setelah kepergian Mama Mira dan Reyhan. Papa Alex yang tahu kemana anaknya pergi pun tak menanyakannya.
"Sudah Bos." jawab pria itu dengan memberikan sebuah amplop coklat berisikan semua yang dicari Geri, termasuk flashdisk kecil berisikan file-file lainnya.
"Terimakasih Dev, kau boleh pergi."
Devan, orang kepercayaan Geri, entah sejak kapan tapi keduanya mulai dekat, dan Devan mulai memberikan hidupnya untuk bekerja dengan Geri.
Geri mulai membuka amplop coklat itu, dan membaca dengan detail tanpa terlewat sedikutpun. Ia bisa saja meminta Devan untuk menjelaskannya, tapi ia tidak ingin sampai Devan mengetahui lebih banyak tentang apa yang dia cari, walaupun bisa dipastikan bahwa Devan juga mengetahui isi dari amplop itu.
"Pilihan Mama memang tidak pernah salah." gumamnya sambil menatap kertas di tangannya.
"Aku yakin ini masih kurang lengkap, ada sesuatu di balik karakter Senja saat ini." monolognya dengan menatap lurus ke depan.
"Aku akan segera mengetahuinya, cepat atau lambat."