
Senja bangun di jam seperti biasanya. Walaupun panas di tubuhnya belum turun, dan pusing di kepalanya belum hilang Senja masih memaksakan untuk bangun dan membuat menu sahur buat Reyhan. Ia menoleh menatap Reyhan yang tertidur dengan pulasnya, sepertinya Reyhan kelelahan karena mengurus Senja semalaman.
"Terimakasih Mas, semoga kamu gak akan pernah berubah, maafkan hati ini yang mulai nakal karena memiliki perasaan terhadapmu." gumam Senja dengan tersenyum getir.
Dengan tertatih ia berjalan menuju dapur. Mengambil beberapa bahan makanan yang mau dimasak dari dalam kulkas. Menu yang akan ia masak hanya nasi goreng. Yang simple saja karena hanya Reyhan yang akan sahur, sedangkan Senja tidak ikut puasa, masa datang bulannya ternyata sudah datang.
Reyhan terbangun, ia maraba tempat tidur di sebelahnya, marasa lenggang, Reyhan langsung bangun mencari keberadaan Senja.
"Senja." Reyhan membuka pintu kamar mandi. Kosong, Senja tidak ada di dalam kamar mandi.
Ia kembali melihat di sekeliling kamar, namun Senja tidak ia temukan. Reyhan memutuskan untuk ke dapur, ketika pandangannya menangkap jam dinding yang menunjukkan pukul 03:12 WIB. Ia yang sudah hapal dengan kebiasaan Senja langsung berlari menuju dapur. Dan benar saja, matanya menangkap istri mungilnya yang tengah memotong wortel untuk bahan tambahan nasi goreng.
Dengan tersenyum lembut, Reyhan berjalan menghampiri Senja. Tangan kokohnya melingkar di perut ramping Senja, membuat Senja terlonjak kaget dengan sedikit memekik.
"Astaghfirullah, Mas Reyhan." ucap Senja ketika melihat senyum tampan suaminya.
"Kamu ngapain masak? Saya bisa masak sendiri, kamu masih belum sehat Senja, lihat bibirmu pucat, wajahmu pucat, badanmu juga masih panas." ucap Reyhan dengan lembut.
Senja kembali membalikkan tubuhnya, ia meneruskan kegiatannya, dengan tangan kokoh Reyhan yang tetap memeluk dari belakang.
"Ini salah satu bentuk bakti seorang istri kepada suaminya Mas." ucap Senja.
"Emangnya kamu mau masak apa?" tanya Reyhan.
"Nasi goreng, untuk Mas, maaf karena untuk beberapa hari ke depan Senja gak bisa ikut puasa bareng." ucap Senja.
"Kamu lagi datang bulan?" tanya Reyhan. Senja mengangguk pelan.
"Sini, turunin pisaunya, dan kamu duduk di sini, jadi penonton saja, biar saya yang masak." ucap Reyhan dengan lembut menuntun Senja untuk duduk di kursi meja makan.
"Tapi Mas.."
Reyhan langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir kecil Senja. Seketika Senja berhenti bicara.
"Diam yah manis, biar suami kamu yang memasak." ucap Reyhan dengan manis, kemudian melanjutkan kegiatan masak Senja.
Senja yang mendengar ucapan Reyhan tersenyum tipis, hatinya menghangat mendapat perhatian kecil dari Reyhan.
Reyhan mulai menumis bumbu-bumbu yang sudah disiapkan Senja sebelumnya, kemudian memasukkan telur, wortel, dan sosis ke dalam bumbu-bumbu yang sudah matang. Setelah semuanya matang merata baru kemudian ia memasukkan sepiring nasi ke dalam wajan atau penggorengan, mengaduknya sampai merata, menambahkan seasoning, hingga rasanya pas.
"Sudah selesai." Reyhan membawa nasi goreng itu ke meja makan. Senja tersenyum melihatnya.
"Cicipi." ucap Reyhan, sembari memberikan suapan kecil pada Senja.
Senja menggelengkan kepalanya pelan.
"Kan yang mau puasa bukan saya, tapi Mas Reyhan." ucap Senja.
"Ayo dong dicicipi, biar tahu ini sesuai selera kamu atau gak." ucap Reyhan.
"Yang mau puasa itu Mas Reyhan bukan Senja." ucap Senja dengan menggelangkan kepala lagi.
"Mau saya suapi pakai sendok atau pakai cara lain?" tanya Reyhan dengan seringainya.
Senja mengerutkan keningnya bingung.
"Baiklah ini pilihan kamu Senja."
Reyhan langsung memasukkan sesuap nasi goreng ke dalam mulutnya, kemudian ia mendekat ke arah Senja dan menarik tengkuk Senja. Menyatukan bibirnya dengan bibir pucat milik Senja. Senja yang mendapatkan serangan tiba-tiba hanya mampu melebarkan matanya dengan tubuh yang kaku.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba nasi goreng yang berada di dalam mulut Reyhan berpindah ke dalam mulut Senja.
"Manis." ucap Reyhan dengan tersenyum, ia mengusap bibir Senja yang basah karena ulahnya. Sedangkan Senja masih belum kembali kesadarannya.
"Bagaimana rasanya? Pas?" tanya Reyhan dengan tersenyum miring. Senja mengalihkan pandangannya dengan pipi yang bersemu merah.
"Bagaimana rasanya Senja." bisik Reyhan pada ceruk leher Senja yang tertutup jilbab. Namun rasa geli masih dapat dirasakan oleh Senja.
"M-aas, em rasanya pas." ucap Senja tergagap. Reyhan tersenyum puas mendengarnya.
"Mau lagi?" tanya Reyhan, dengan cepat Senja menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Reyhan.
Reyhan tertawa melihatnya, tangannya mencubit gemas pipi Senja. "Menggemaskan, jangan buat aku khilaf Senja." ucap Reyhan dengan suara serak.
Senja hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.
Reyhan kemudian mulai menyantap menu sahurnya. Ia makan dengan menatap Senja yang diam menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan menutup matanya. Cepat-cepat Reyhan menghabiskan makanannya, ia tidak ingin membuag Senja menunggu lama, apalagi keadaan Senja sedang tidak baik-baik saja.
10 menit kemudian.
Reyhan meletakkan piring kotor ke dalam wastafel, bersama dengan kuali atau wajan yang digunakan untuk memasak tadi. Meninggalkannya begitu saja karena akan ia cuci pagi harinya sebelum mengajar. Ia berjalan menghampiri Senja, kemudian mengangkat tubuh Senja yang ringan ke dalam gendongannya.
"Eh, Mas, sudah selesai makan?" tanya Senja sambil mengalungkan tangannya ke leher Reyhan.
"Sudah."
"Kok cepat?" tanyanya lagi dengan wajah polos.
"Kamu sakit, dan saya tidak ingin terlalu banyak mengurangi waktu tidur kamu." ucap Reyhan. Senja mengangguk dengan tersenyum.
Reyhan menurunkan Senja dengan hati-hati di atas ranjang, kemudian menyelimutinya sampai dada.
"Tidurlah." Reyhan ikut membaringkan tubuhnya di samping Senja, dan kembali memeluk Senja seperti sebelumnya.
"Hm?"
"Pernah jatuh cinta?" tanya Senja.
"Tidak." jawab Reyhan jujur, karena pada dasarnya perasaannya untuk Maura masih sebatas suka, belum pada tahap perasaan cinta.
"Kenapa?" tanya Reyhan balik.
"Tidak ada, hanya bertanya." ucap Senja dengan tersenyum masam.
"Apa yang kamu harapkan Senja, jangankan untuk mencintaimu, melirikmu saja tidak, dia baik karena dia suamimu."
"Kamu sendiri pernah jatuh cinta?" tanya Reyhan.
"Entahlah Mas, pernah nyaman saja." ucap Senja. Reyhan mengangguk pelan.
"Kenapa tidak menikah dengan pria yang membuatmu nyaman?" tanya Reyhan.
"Pria itu kamu Mas, dan aku nyaman karena terbiasa bersamamu."
"Mas sendiri kenapa tidak menikah dengan gadis lain? Aku dengar dari Mama, katanya ada seorang gadis yang membuat Mas menyukainya dulu." ucap Senja mengalihkan pembicaraan.
"Suka belum tentu cinta kan." ucap Reyhan.
"Dan nyaman juga belum tentu cinta, siapapun bisa nyaman dengan orang-orang di sekitarnya." ucap Senja dengan suara pelan menahan kantuknya.
Reyhan tersenyum mendengar jawaban Senja.
"Tapi setidaknya, dibutuhkan kenyamanan untuk menumbuhkan cinta itu, dan saya nyaman dengan kamu, apa mungkin itu sebuah pertanda?" tanya Reyhan dan tidak ada jawaban dari Senja.
Reyhan melihat Senja yang berada dalam pelukannya, ternyata Senja sudah tertidur. Senyum hangat terbit di bibir Reyhan, ia kembali memeluk Senja.
"Saya rasa saya mulai jatuh cinta dengan kamu Senja." gumam Reyhan dengan mengecup pucuk kepala Senja.
Malam dingin pun di lalui dengan hangat. Reyhan melanjutkan tidurnya sebentar sampai waktu shalat subuh tiba.
***
"Assalamu'alaikum." teriakan salam menggelegar terdengar sampai ke seluruh penjuru rumah.
Mama Mira masuk dengan membawa dua paper bag, yang berisikan makanan sehat buatan Mama Mira dengan buah-buahan segar yang dipetik langsung dari pohonnya, begitulah kira-kira.
"Mama." Senja tersenyum melihat kedatangan Mama Mira.
"Anak Mama sakit yah." Mama Mira memeluk dan mengecek suhu tubuh Senja menggunakan tangannya.
"Cuma demam biasa Ma." jawab Senja. "Sekarang sudah sembuh." lanjutkan dengan tersenyum, agar Mama Mira tidak khawatir.
"Tetap saja itu namanya sakit." ucap Mama Mira, ia kemudian ikut mendudukkan dirinya di samping Senja.
"Mana Reyhan sayang?" tanya Mama Mira.
"Mas Reyhan sudah berangkat mengajar Ma." jawab Senja. Mama Mira menganggukkan kepala mengerti.
Sebelumnya pagi-pagi sekali setelah adzan subuh Reyhan sudah menghubungi Mama Mira, untuk datang ke rumahnya menemani Senja yang sedang sakit. Sejujurnya ia ingin meninggalkan jadwalnya untuk menemani Senja di rumah, hanya saja Senja tidak ingin Reyhan sampai meninggalkan kewajibannya sebagai seorang dosen.
Itulah sebabnya untuk meminimalisir kekhawatirannya, Reyhan meminta bantuan Mama Mira. Mendengar permintaan Reyhan tentu Mama Mira senang, karena memang dia sudah sangat rindu dengan Senja. Ia sampai masak menu sehat karena kata Reyhan Senja sedang tidak puasa, dan sengaja membeli buah segar untuk Senja.
"Sudah makan sayang?" tanya Mama Mira.
"Mama tau Senja gak puasa?" tanyanya dengan wajah polos.
"Tau dong sayang, kan Reyhan yang ngasih tau semuanya sama Mama. Dia itu khawatir sama kamu, takut ninggalin kamu yang lagi sakit, makanya minta Mama dateng ke sini buat nemenin kamu, jadi sekalian aja deh Mama juga udah kangen banget sama kamu " ucap Mama Mira panjang lebar.
Hati Senja menghangat, mendengar ucapan Mama Mira.
"Mama puasa?" tanya Senja.
Mama Mira mengangguk sembari mengeluarkan semua makanan yang telah ia bawa dari rumah.
"Senja gak enak kalau makan di depan Mama." ucap Senja.
"Ada yang namanya toleransi kan? Nah Mama sedang melakukan itu sekarang, pertama karena kamu lagi sakit, dan kedua karena memang kamu lagi berhalangan sayang." ucap Mama Mira.
Senja menerima suapan dari Mama Mira dengan perlahan, nafsu makannya memang masih belum pulih, tapi ia bisa memakan apapun walaupun sedikit.
"Gimana enak sayang?" tanya Mama Mira.
"Enak, sup buatan Mama sangat enak." ucap Senja. "Biar Senja makan sendiri Ma." ucap Senja mengambil alih kotak bekal dari tangan Mama Mira.
Senja menghabiskan makanannya sampai selesai, kemudian mengobrol banyak hal dengan Mama Mira. Mendengarkan cerita Reyhan kecil sampai dewasa, mendengarkan cerita cinta Mama Mira dan Papa Alex juga mendengarkan cerita Geri.
...****************...
Cerita kali ini memang jauh berbeda dengan genre sebelumnya. Kali ini DD ingin sedikit lebih santau, tanpa adegan-adegan action yang berlebihan. Cerita kali ini mengambil kisah nyata sebagian, dan sisanya fiksi belaka. Jujur DD kesulitan ketika menyampaikan emosi ke dalam cerita ini, karena yah begitu mengalaminya saja tidak pernah, hanya saja ini merupakan kisah milik orang lain.
Bagaimana pentingnya komunikasi dan support sistem dalam keluarga. Ingin sekali DD sampaikan disini, meskipun begitu sulit menuangkannya ke dalam tulisan. Selain itu, DD juga ingin membagikan sebuah trauma bagi setiap perempuan di luar sana, yang sering mendapat ketidakadilan, dan pele**han baik secara verbal dan non verbal. Dan pentingnya menghukum pelaku kejahatan tersebut, apapun alasannya. Terlepas dari hal itu, peran orang tua juga penting, kepedulian mereka adalah semangat bagi para anak perempuan.
Perselingkuhan juga menjadi salah satu konflik di dalamnya, hal ini tentu tidak baik dan tidak untuk dicontoh. Entah apapun alasannya, DD sendiri tidak menyetujui tindakan perselingkuhan itu. Jadi sebenarnya ini rumit, cuma DD akan mencoba memberikan yang terbaik. Mohon doanya Readers.
Ah ada satu lagi, tahu kisah Griffin dan Ajeng? Sepetinya DD ingin membuat cerita tentang anak-anak mereka, tapi nanti, setelah "Better Days" selesai dibuat. So, stay tuned yah Readers.....😁