Better Days

Better Days
Mencari Tahu



Bintang sedang melamun di dalam kamarnya. Lebih tepatnya ia sedang memikirkan cara agar mengetahui semua masalah yang terjadi. Selama 6 tahun tinggal di Jawa, menbuatnya menjadi bodoh karena tidak mengetahui masalah yang terjadi di keluarganya. Apalagi masalah antara kedua orang tuanya.


Ia pulang karena berita pernikahan Senja, dan hal itu membuatnya bahagia. Awalnya ia yakin Senja memang tidak menyembunyikan sesuatu selama ini, namun semuanya berbanding terbalik dengan apa yang Bintang pikirkan, ia tidak sengaja melihat Bunda Lusi bertangkar dengan Ayah Bayu, sehari sebelum pernikahan Senja di langsungkan.


Dan yang membuat dirinya semakin terkejut adalah Ayah Bayu yang menampar Bunda Lusi. Sebenarnya sudah menjadi hal biasa bagi Bintang maupun Senja ketika melihat kedua orang tua mereka bertengkar. Apalagi saat Ayah Bayu mengeluarkan kata-kata kasarnya, baik kepada Bunda Lusi maupun kepada kedua putrinya. Namun kejadian terakhir waktu itu, membuat Bintang semakin syok, temperamental Ayah Bayu semakin buruk.


Hal lainnya yang membuat Bintang terkejut ialah ketika melihat Bunda Lusi bermesraan dengan laki-laki seumuran Bunda. Laki-laki itu tak lain adalah Pram, orang yang sering mampir berkunjung ke rumah Bunda.


Bintang yang tidak tau kondisi dan situasinya hanya diam memperhatikan dari balik jendela kamarnya, tanpa berniat bertanya ataupun menyapa keduanya. Itulah mengapa saat berbuka bersama di hari berikutnya, Bintang langsung memberikan berbagai pertanyaan pada Bunda. Ia ingin semua yang mengganggu beban pikirannya terpecahkan.


"Jika Bunda tidak mau jujur, aku harus cari cara lain agar tahu tentang semua ini, ada waktu beberapa hari lagi sebelum aku kembali ke Jawa." monolognya dengan tatapan menajam.


"Step pertama, cari tahu isi handphone Bunda, yah aku harus ngecek handphone Bunda, sedikit pasti ada informasi di dalamnya." ucap Bintang dengan tersenyum. Ia segera bangkit untuk melaksanakan rencananya.


Bintang langsung menuju kamar Bunda Lusi, untuk melihat apakah Bunda sudah tidur atau belum. Ia berjalan perlahan dengan penuh kehati-hatian. Tangannya memutar handle pintu kamar Bunda, ia mengintip ke dalam kamar Bunda Lusi.


"Syukurlah Bunda tidur."


Bintang bernapas lega melihat Bunda Lusi tidur dengan pulas. Ia berjalan mengendap-endap ke dalam kamar Bunda, hingga ia berhenti tepat di samping tempat tidur Bunda.


"Itu dia handphonenya." monolognya dengan berbisik.


Tangan Bintang mencoba mengambil handphone milik Bunda yang berada tepat di samping Bunda.


"Yes, berhasil." Bintang melambungkan tangannya ke udara, ia tersenyum senang ketika handphone Bunda bisa ia dapatkan.


Bintang langsung membuka handphone Bunda dengan kata sandi yang di tahu. Hal pertama yang ia lakukan adakah membuka aplikasi chatting milik Bunda, kemudian lock panggilan Bunda dan lainnya.


Isi Chat


P: "Dek?"


^^^Bunda: "Mas untuk beberapa hari ke depan jangan dateng ke rumah dulu yah."^^^


...📞Panggilan tak terjawab pukul 20.13...


P: "Kenapa Dek?"


^^^Bunda: "Gak ada apa-apa Mas."^^^


^^^Bunda: "Pokoknya jangan ke sini dulu Mas."^^^


...📞Panggilan tak terjawab pukul 20.28...


...📞Panggilan tak terjawab pukul 20.29...


Kening Bintang mengkerut membaca isi chattan Bunda. Inisial P yang digunakan Bunda, Bintang yakini sebagai inisial laki-laki yang ia lihat di rumahnya malam itu.


"Pasti dia laki-laki itu." gumam Bintang, hatinya tiba-tiba sakit membaca isi chattingan Bunda.


Bintang merasa seperti Bunda sengaja merahasiakan semuanya dari dirinya. Atau jangan-jangan... Pikiran Bintang sudah pada tahap jauh.


"Atau Bunda sudah kena tegur dengan warga di sini." pikir Bintang sambil menatap Bunda yang tengah tertidur.


"Astaghfirullah, apa sejauh itu hubungan mereka?" gumam Bintang dengan wajah kecewa.


Bintang kembali mengalihkan fokusnya pada handphone milik Bunda. Ia membuka daftar panggilan di handphone Bunda, dan melihat ada banyak panggilan masuk dari inisial P tersebut. Membuat Bintang kembali kecewa pada Bunda, ia sudah ingin marah pada Bundanya.


"Apa mereka sudah menikah?" gumam Bintang. "Ya Allah rahasia sebanyak apa lagi yang di rahasiakan keluargaku." Bintang menatap Bundanya dengan mata yang memerah.


Bintang meletakkan kembali handphone Bunda ke tempat semula. Hatinya sakit menatap Bunda yang terlihat damai dalam tidurnya.


"Inilah akibatnya terlalu ingin tahu rahasia orang Bintang, rasakan sendiri sakitnya." monolognya pelan sembari menutup pintul kamar Bunda.


"Tapi gak boleh berhenti sampai di sini, masih banyak yang harus aku lakukan." ucapnya sembari memberi semangat pada dirinya sendiri.


Reyhan sudah kembali ke rumah. Tak ada sambutan dari Senja seperti biasanya, wajahnya bingung mengedarkan pandangannya pada seisi rumah.


"Tuan." panggil Mang Ujang.


Reyhan menoleh dengan salah satu alis yang terangkat


"Nyari Non Senja?" tanyanya dengan sopan.


"Iya Mang, dimana istri saya?" tanya Reyhan.


"Begini Tuan, sejak siang tadi Non Senja tidak keluar kamar." ucap Mang Ujang.


"Kenapa Mang? Apa istri saya sakit?" tanya Reyhan.


"Tadi siang ada laki-laki ke sini Tuan, dia bilang temennya Non Senja. Waktu saya beresin kebun belakang saya gak sengaja lihat, Non Senja seperti menghindari laki-laki itu Tuan. Saya hanya memantau dari jauh, jika Non Senja butuh bantuan baru saya mendekat. Tapi sampai laki-laki itu pergi Non Senja gak manggil saya, makanya saya gak tanya-tanya. Cuma yah gitu Tuan, dari siang tadi Non Senja gak keluar dari kamar." jelas Mang Ujang memberitahukan situasi rumah pada Reyhan.


"Terimakasih Mang, tetap berikan saya informasi ketika saya tidak di rumah" ucap Reyhan.


"Baik Tuan." Mang Ujang mengangguk paham.


Reyhan langsung berjalan ke lantai atas, ia khawatir dan ingin melihat bagaimana keadaan Senja. Walaupun di hatinya timbul rasa penasaran sebab laki-laki yang bertamu ke rumahnya siang tadi, apalagi laki-laki itu bertamu ketika dirinya tidak ada di rumah.


"Assalamu'alaikum."


Reyhan membuka pintu kamarnya dengan pelan. Matanya mengedar mencari sosok istri kecilnya. Tasnya sudah ia letakkan di atas meja


Ia tersenyum tipis melihat Senja yang tengah tidur di sofa, kemudian melangkah mendekatinya.


"Ada apa denganmu Senja." ucap Reyhan sembari menyelipkan anak rambut yang menghalangi separuh wajah Senja. Ia melihat bekas air mata yang mengalir di pipi Senja.


"Saya nyaman denganmu Senja, tapi kamu penuh dengan misteri, saya tahu kamu menyimpan sesuatu yang tidak saya ketahui." monolognya dengan menatap wajah Senja yang begitu teduh.


Reyhan menggendong Senja, memindahkan Senja ke atas ranjang.


"Selamat istirahat Humairahku."


Reyhan mengambil handphone miliknya, ia keluar menuju balkon kamarnya, mengirim pesan kepada Geri.


Drrttzz


Handphonenya bergetar, panggilan masuk dari Geri.


"Bagaimana Kak?" tanya Reyhan pada Geri di seberang telepon.


"Bisa, Kakak akan carikan informasinya. Misal nih, informasi ini merupakan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang lain, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Geri.


"Hanya kita berdua yang tahu, dan yang bersangkutan." ucap Reyhan.


"Yakin?" tanya Geri memastikan.


"Hm, yakin, aku sangat penasaran dengan kehidupan Senja Kak." ucap Reyhan.


"Tanyakan langsung sama orangnya." ucap Geri.


"Akan aku coba, sekarang tolong Kakak cari tahu siapa laki-laki dengan plat mobil yang sudah aku kirim sebelumnya." ucap Reyhan.


"Iya, besok paling lambat semua informasi bisa kamu terima." ucap Geri.


"Thank's Kak."


Panggilan terputus, Reyhan kembali masuk ke dalam kamar dan membersihkan dirinya.