
Senja kembali ke rutinitas hariannya. Hari ini ia sudah menemui pembimbing 1, dan alhamdulillah, skripsi nya sudah di acc. Ia tinggal melengkapi dokumen-dokumen pengesahan, dan lain sebagainya. Untuk persyaratan wisudanya nanti.
"Kamu gimana Far?" tanya Senja.
"Alhamdulillah juga sudah selesai." ucap Fara dengan tersenyum senang.
"Alhamdulillah."
"Yee, kita bisa wisuda bareng." ucap Fara dengan bersorak bahagia
Senja mengangguk tersenyum.
"Aku langsung pulang yah Far, maaf gak bisa nemenin kamu." ucap Senja.
"Gak apa-apa, lagian semuanya udah kita urus, jadi bisa langsung pulang." ucap Fara tersenyum.
"Kapan-kapan main yah ke rumah, ditunggu." ucap Senja. "Aku pulang dulu Far." kemudian Senja berjalan dengan melambaikan tangannya.
"Eh tunggu." Fara berlari dan memeluk Senja.
"Aku selalu ada di samping kamu, gak akan pernah ninggalin kamu, ingat itu." Senja membalas pelukan Fara.
"Terimakasih." keduanya kemudian berpisah di kampus.
***
"Hei Bro." sapa Riko dan mendudukkan dirinya di kursi.
"Ini kampus Rik, bukan tempat nongkrong." ucap Reyhan dengan suara datarnya.
Pasalnya sudah sangat sering Riko bermain ke kampusnya. Masuk ke ruangan Reyhan dengan alasan mengunjungi atau menemani Reyhan. Walaupun semua dosen, mungkin juga mahasiswa sudah banyak yang mengenalnya, namun hal itu tetap membuat Reyhan menggelangkan kepala.
Riko akan datang dan merecoki kegiatan Reyhan, atau hanya sekedar untuk menumpang tidur. Untung Reyhan memiliki ruangan sendiri, jadi tidak menganggu dosen-dosen lainnya.
"Udah nikah masih aja kayak gitu sifat kamu Rey." ucap Riko.
"Udah bawaan dari lahir." ucap Reyhan singkat.
"Bodo lah." ucap Riko dengan wajah masam.
Reyhan menatap layar handphonenya. Foto Senja yang tengah tertidur menjadi layar utama dari handphone miliknya.
"Bucin, dah bucin nih." ucap Riko yang melirik handphone Reyhan. "Udah bener-bener ngelupain Maura kamu Rey?" tanyanya.
"Hanya perlu dijadikan kenangan masa lalu saja Rik, yang perlu dijalanin itu adalah masa depan. Lagian kata ustadz Kamil, dia juga sudah menikah." ucap Reyhan.
"Nikah? What!" Riko membulatkan matanya mendengar ucapan Reyhan.
"Serius?" Reyhan mengangguk dengan pasti.
Riko diam sejenak, ia cukup terkejut mendengar informasi dari Reyhan.
"Okay, no problem, lagian Senja juga perempuan baik-baik." ucap Riko.
"Dengan Maura aku hanya merasa kagum dan suka saja, belum ada cinta, makanya tidak terlalu sulit untuk melepaskannya." ucap Reyhan dengan ringan.
"Kalau Senja?" tanya Riko.
Reyhan tersenyum tipis, ia jadi teringat kejadian semalam.
"Dih malah senyum." ucap Riko dengan menggelangkan kepala. "Dah lah gak usah di jawab, aku udah tahu jawabannya." lanjutnya.
Riko sudah pasti paham bagaimana sifat Reyhan. Jika Reyhan sudah tersenyum ketika membicarakan seorang wanita, maka sudah dapat dipastikan ia Reyhan memiliki perasaan dengan wanita tersebut.
"Perusahaan Om Alex sedang tidak baik-baik saja." ucap Riko.
"Em, aku tahu, alhamdulillah sekarang sudah teratasi." ucap Reyhan.
"Mereka pasti tidak tinggal diam, kapan kamu akan masuk dan menggantikan Om Alex." ucap Riko.
"Setelah lebaran, aku sudah menjanjikan itu pada diriku." ucap Reyhan.
"Tapi apa menurutmu mereka akan tinggal diam?" tanya Riko.
"Tentu tidak, aku tahu bagaimana selama ini mereka menjalankan bisnisnya, terlalu kotor." ucap Reyhan.
"Maka dari itu, aku ingin kamu cepat menggantikan posisi Om Alex, kemudian kita saling bekerjasama, dan saling membentengi." ucap Riko.
"Pikiranmu Rik." decih Reyhan.
"Hey ini merupakan rencana yang sangat bagus, bahkan aku sudah memikirkan hal ini matang-matang, setelah kita punya anak, anak kita akan menjadi sahabat seperti kita." ucap Riko tidak terima.
"Masih terlalu cepat untuk memikirkannya." ucap Reyhan.
"Kita bisa merencanakan sejak kini." ucap Riko.
Reyhan diam tak membalas ucapan Riko. Ia memfokuskan dirinya pada tugas-tugas para mahasiswa. Sedangkan Riko, ia membaringkan tubuhnya di sofa yang tersedia, menumpang tidur siang katanya, sembari menemani Reyhan sampai pulang ngajar.
***
"Siapa Mang?" tanya Senja.
"Katanya temen Non Senja." jawab Mang Ujang.
"Teman?" pikir Senja.
"Kalau begitu saya permisi ke kebun belakang Non, nanti kalau ada butuh sesuatu panggil saya saja Non." ucap Mang Ujang permisi undur diri.
"Terimakasih Mang."
Senja meletakkan laptopnya, meninggalkan perlengkapan belajarnya di ruang perpustakaan. Ia berjalan keluar untuk melihat tamu yang datang.
Matanya menyipit ketika melihat seorang pria yang berdiri membelakanginya, ia berada tepat di depan pintu masuk.
"Permisi." sapa Senja pada pria bertubuh tegap, dan tinggi di hadapannya.
Pria itu membalikkan tubuhnya dengan tersenyum miring menatap Senja. Senja yang tidak mengenalnya hanya menampakkan raut wajah bingung dengan kening yang berkerut melihat pria asing di depan rumahnya.
"Lama tidak bertemu Baby." sapanya dengan tersenyum miring.
Suara yang sangat Senja kenal. Senja melebarkan matanya menatap pria di hadapannya, tubuhnya menegang dengan detak jantung yang berpacu lebih cepat.
"Tenang Baby, jangan menangis, aku akan melakukannya dengan sangat lembut."
"Baby..."
Senja menggelengkan kepalanya ketika tiba-tiba ingatan malam itu muncul.
Pria itu berjalan mendekati Senja, ia kemudian menyentuh dagu Senja dengan lembut, dan langsung mendapat tepisan keras dari Senja. Wajah Senja berubah menjadi merah, menatap takut, namun juga penuh kemarahan dan kebencian pada pria di hadapannya.
Senja berjalan mundur dengan cepat, dan berniat menutup pintu rumah. Namun belum sempat ia menutupnya, pria itu sudah menghalangi pergerakan Senja.
"Kamu makin seksi jika sedang marah Baby, aku jadi ingat bagaimana kegiatan kita malam itu.". seringai di bibirnya menggambarkan betapa mengerikannya pria itu.
"Tutup mulut kotormu!" bentak Senja dengan wajah marahnya.
Pria itu tertawa melihat bagaimana ekspresi Senja saat ini.
"Semakin kamu marah, semakin aku menyukainya Baby." ucapnya dengan suara sensual.
"Pergi dari sini! Pergi sekarang!" tekan Senja mencoba menghilangkan rasa takutnya.
"Aku pasti pergi Baby, tapi aku pasti akan datang lagi, aku ke sini untuk memberitahukanmu bahwa malam itu aku belum selesai denganmu." ucapnya dengan tersenyum miring.
Tangan Senja terkepal mendengar kata demi kata pria di hadapannya.
"Aku mohon pergi dari sini, dan jangan pernah ganggu aku lagi." ucap Senja, matanya melihat ke sekeliling, takut jika sampai Mang Ujang, atau Pak Darmin melihat dan mendengar semuanya.
"Aku akan datang lagi, ingat baik-baik ini Baby, dan aku akan merebutmu dari suami bodohmu itu, tentu dia belum mengetahui bagaimana manisnya malam itu, apa perlu aku memberitahunya? Pasti akan seru." ucapnya dengan wajah yang memuakkan bagi Senja.
Baru hari ini Senja bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah pria yang menjijikkan di hadapannya. Pria yang sudah mengambil kehormatannya.
"Tutup mulutmu! Jangan pernah mencoba untuk mengatakan apapun pada suamiku!" ucap Senja dengan sedikit berteriak dengan wajah marahnya.
"Mangambil istri orang adalah sebuah kepuasan Baby, apalagi aku yakin suami bodohmu itu belum pernah menyentuhmu kan? Karena aku lah yang pertama yang merasakannya." ucapnya dengan tersenyum miring.
PLAK!!
Pria itu terkekeh sambil memegang pipinya yang habis ditampar oleh Senja.
"Tangan kecilmu itu ternyata sangat kuat Baby." ucap pria itu.
"Pergi sekarang atau aku akan melakukan sesuatu lebih dari ini." ucap Senja dengan tangan terkepal, emosi yang ia tahan, dan rasa takut yang menyerangnya.
Pria itu kemudian mengangguk kecil dengan tetap tersenyum.
"Aku akan kembali Baby." setelah mengucapkan itu pria itu langsung pergi.
Senja terduduk di lantai, tangannya meremas kuat gamis yang ia kenakan. Seketika air matanya meluncur dengan suara isakan yang tertahan. Senja menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tubuhnya bergetar menahan tangis dan rasa takut yang ia tahan sejak tadi.
Senja beristighfar dalam diamnya, mencoba menenangkan dirinya, menghilangkan ketakutannya dengan mengucap kalimat-kalimat Allah.
"Bagaimana ini." gumamnya pelan.
"Ya Allah." desisnya dengan mencengkram kuat gamisnya.
Senja masih menangis mengingat bagaimana menjijikkannya wajah dan mulut pria itu ketika berucap. Dagu yang tersentuh ia gosok sampai merah, mungkin nanti akan perih karena sedikit terkelupas, melihat betapa kuatnya Senja mencoba menghilangkan jejak pria itu pada tubuhnya.
Ia bangkit dan segera pergi ke kamar, tak ingin sampai Mang Ujang atau Pak Darmin melihat kondisinya saat ini. Senja takut jika nanti mereka akan mengadukannya pada Reyhan. Ia belum siap jika Reyhan mengetahui semuanya, jika pun harus mengetahuinya tidak di waktu sekarang yang Senja inginkan.
*
*
*