
Reyhan masuk ke dalam mobil setelah mengembalikan kunci dan berpamitan pulang terlebih dahulu. Tadinya ia sedikit kesulitan untuk mencari alasan pulang, namun dengan sedikit berbohong Reyhan bisa pulang, tanpa menimbulkan kecurigaan.
Ia segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Diliriknya Senja yang duduk kaku di samping kursi kemudi. Menundukkan kepala dengan kesibukan memainkan ujung jilbab panjang miliknya.
"Dimana alamat tempat tinggalmu?" tanya Reyhan.
"Di jalan mawar, gang kapuk depan simpang 5 Pak." jawab Senja dengan suara pelan, tanpa menoleh ke arah Reyhan.
"Em." Reyhan berdehem dengan menganggukkan kepala.
"Kamu yang menjadi moderator tadi kan? Juga yang mengajukan proposal ke saya." ucap Reyhan.
"I-iya Pak."
Terlalu kaku untuk mengobrol berdua. Ini kali pertama Senja berada di satu tempat dengan seorang pria. Terasa aneh baginya, apalagi mengingat Senja yang telah menjaga jarak dengan lawan jenisnya.
Beberapa menit berlalu, mobil Reyhan telah terparkir di depan kosan Senja.
"Terimakasih Pak sudah mengantar saya pulang." ucap Senja dengan menundukkan kepala. Ia segera keluar dari mobil Reyhan dan menutupnya kembali.
"Sama-sama, lain kali lebih berhati-hatilah."
Reyhan kemudian melanjutkan kemudinya menuju apartemen miliknya. Sementara Senja langsung masuk ke dalam kosannya.
CEKLEK!
Suara gagang pintu ketika Senja mencoba membukanya.
"Ya Allah aku lupa kunci dan handphone kan sama Fara." monolognya dengan helaan napas pelan.
Senja duduk di kursi tunggu depan kamarnya, menyandarkan tubuhnya dengan memejamkan matanya menikmati udara malam yang menerpa kulit wajahnya.
"Kenapa sulit melupakan kejadian itu." Senja kembali menghembuskan napasnya.
"Aku berharap bisa menghilangkan ingatan ini." lirihnya dengan air mata yang kembali menetes.
"Ya Allah, bukan maksud hamba untuk mengeluh dengan semuanya, tapi ini terlalu menyakitkan." lanjutnya dengan suara yang semakin lirih.
"Senja." panggil suara yang sangat familiar di telinga Senja.
Dengan cepat Senja mengusap air matanya, kemudian membalikkan tubuhnya, menatap orang yang memanggilnya dengan tersenyum lembut.
"Aku kira kamu masih di kampus, aku cari-cari kamu loh, aku coba hubungi kamu ternyata handphone kamu sama aku." ucapnya yang tak lain adalah Fara.
"Aku pulang duluan tadi, capek mau gabung sama yang lain." ucap Senja memberikan alasan. "Maaf yah ninggalin kamu sendirian." lanjutnya.
"Kok jadi kamu sih yang minta maaf, harusnya aku, kamu jadi pulang sendirian." ucap Fara tak enak hati.
"Sudahlah, yuk masuk, aku gak bisa masuk loh dari tadi, udah kayak gelandangan tau." keluh Senja dengan wajah dibuat lucu.
"Ih.... gemesin deh." Fara mencubit pipi Senja "Yaudah yuk masuk." Fara mengeluarkan kunci kamar kosan Senja, dan langsung membuka pintu kamar Senja.
Hari ini keduanya akan menghabiskan waktu bersama. Fara memutuskan untuk menginap karena jarak antara rumahnya dengan kampus jauh, apalagi acara kampus baru sudah selesai saat malam hari.
***
Sementara itu, di lain tempat, tepat pukul 22:32 WIB.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu terdengar, Bunda Senja menyudahi kegiatannya dan segera membuka pintu.
"Mas, duduk dulu." Bunda mempersilakan tamunya duduk di kursi teras.
"Ini oleh-oleh." laki-laki seumuran Bunda itu memberikan sebuah bingkisan.
Bunda menerimanya dengan tersenyum.
"Iya, seperti biasa yah Dek." jawabnya dengan menyematkan panggilan khusus buat Bunda.
"Eh Dek tunggu, kamu masak apa?" tanyanya sebelum Bunda masuk ke dalam.
"Masak ikan Nila di sambal, sama tumis bayam, mau?" jawab Bunda.
"Boleh Dek, Mas lapar belum makan seharian." ucapnya dengan tersenyum.
"Aku ambilkan dulu Mas." Bunda kembali masuk dengan membawa bingkisan oleh-oleh dari laki-laki tersebut.
Bunda meletakkan bingkisan di atas meja, kemudian segera membuat segelas kopi dan menyiapkan makanan. Kemudian membawanya ke depan, untuk dinikmati oleh tamunya.
"Mas dari mana?" tanya Bunda sambil meletakkan kopi dan sepiring makanan di hadapan laki-laki itu.
"Biasa Dek, ada pasien di luar kota, makanya Mas gak bisa main ke sini selama beberapa hari." jawabnya kemudian menyesap kopi buatan Bunda.
"Selalu sempurna." ucapnya memuji kopi buatan Bunda.
Bunda hanya tersenyum dengan menganggukkan kepala.
"Apa parah sekali sampai Mas harus ke luar kota segala? Kenapa gak dibawa ke rumah sakit saja biar diobati lebih intensif." tanya Bunda lagi, masih seputar pasien yang menjadi topik pembicaraan.
"Katanya dia trauma sama rumah sakit, mungkin dia pernah mengalami kejadian yang buat dia jadi takut dengan rumah sakit. Nah makanya dia minta di rawat.di rumah saja, kebetulan Mas ini dokter yang pernah nolongin dia." jawabnya kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ouh... sakit apa emang Mas?" tanya Bunda lagi.
"Sakit kulit, antahlah Mas juga gak terlalu paham."
"Kok gak paham sih Mas, kan Mas seorang dokter." ucap Bunda.
"Mas ini dokter penyakit dalam, yah... walaupun tau tentang penyakit bagian luar tapi Mas gak bisa asal mendiagnosis, mungkin aja dia punya alergi gitu." ucapnya dengan tersenyum lembut pada Bunda.
"Kamu kenapa tanya-tanya terus? Cemburu? Atau kangen karena Mas lama gak ke sini?" tebak nya membuat Bunda tersenyum malu.
"Mas." panggil Bunda, membuat laki-laki itu menoleh menatapnya, dan menghentikan kegiatan makannya.
"Hm?"
"Kita sudah terlalu jauh Mas." lirih Bunda yang masih di dengar oleh laki-laki itu.
"Kenapa masih memikirkan hal itu Dek? Mas kan sudah bilang selagi kita menjalaninya dengan bahagia apa salahnya?" ucapnya dengan serius.
"Apa Mas bahagia?" tanya Bunda.
"Iya tentu aku bahagia, aku selalu bahagia bisa bersama kamu." ucapnya penuh keyakinan.
"Jalan yang kita ambil salah Mas, hubungan kita banyak melukai orang lain." ucap Bunda dengan wajah tak kalah serius.
"Siapa yang kita lukai?" tanya laki-laki itu.
Bunda terdiam, ia tahu siapa saja yang terluka dengan hubungan mereka. Tapi melihat ekspresi laki-laki itu yang mulai tak bersahabat Bunda memilih untuk diam dan tak menjawabnya.
"Kamu diam? Jawab aku Dek!" ucapnya penuh penekanan.
"Kamu jelas tahu Mas." jawab Bunda.
"Kamu kenapa sih Dek? Selama ini kita fine-fine aja, tapi tiba-tiba kamu malah ngomong hal gak jelas kayak gini." ucapnya dengan wajah datar.
"Aku pulang dulu, niat aku mau ketemu kamu malah kita terlibat obrolan yang kurang menyenangkan kayak gini." ucap laki-laki itu, kemudian berdiri dan langsung meninggakkan rumah Bunda dengan mobil miliknya.
Bunda menghembuskan napas pelan. Memang sesulit ini untuk mengajak laki-laki yang tak lagi muda itu berbicara serius tentang hubungan mereka yang salah.
Bunda tahu, bahkan secara sadar dia melakukan semuanya, ia juga merasakan penyesalan dengan hubungan yang banyak melukai hati orang lain, apalagi orang-orang terdekat mereka.
Tapi tetap saja, sekuat apapun Bunda ingin menghentikannya, ia tidak bisa mengalahkan keegoisan laki-laki itu. Kalau saja ia tidak terjerat hubungan ini, sudah pasti tidak akan ada rasa bersalah dalam dirinya. Entah siapa yang harus di salahkan, sejak awal semua yang terlibat adalah salah, baik Bunda, laki-laki itu ataupun ayahnya Senja sendiri.