
Rencana matang yang dibuat Fino harus gagal karena Senja yang tidak lepas dari pantauan orang-orang sekitarnya. Niatnya ia akan menculik Senja, menjadikan Senja miliknya secara utuh. Ia hanya memiliki kepentingan dengan Senja, rasa suka karena bermain-main dengan perasaannya membuat Fino ingin memiliki Senja, terlepas Senja sudah menikah atau belum.
Namun ia harus menelan pil pahit ketika anak buahnya menelpon dan mengatakan tidak bisa menculik Senja karena tidak ada celah untuk menculik Senja.
"Mungkin belum saatnya Baby." monolognya dengan tersenyum miring.
Ia menghubungi anak buahnya. "Tunggu sampai situasinya lenggang." ucap Fino.
"Siap Bos."
***
Senja kembali pulang setelah di jemput Reyhan di kampus. Sepulangnya dari rumah sakit Senja dan Fara kembali ke kampus, karena Reyhan akan menjemputnya di sana.
"Sudah selesai?" tanya Reyhan dengan lembut.
"Sudah Mas, alhamdulillah semuanya lancar." jawab Senja.
"Far aku pulang dulu yah, makasih untuk hari ini." ucap Senja memeluk Fara.
"Hati-hati di jalan." pesan Fara.
Mobil meningglkan kampus, Reyhan menyetir dengan kecepatan sedang.
"Kita mampir ke rumah Mama yah, tadi Mama nelpon meminta kita untuk berbuka di rumah." ucap Reyhan.
"Iya Mas, tadi Mama juga nelpon, Senja lupa ngasih tau Mas Reyhan." ucap Senja.
Reyhan menganggukkan kepalanya.
"Lebaran seminggu lagi, Bunda jadi mudik bareng Bintang?" tanya Reyhan.
Ia sudah cukup akrab dengan keluarga Senja. Kadang Bintang main ke rumah untuk berbuka bersama atau sekedar mengunjungi Senja. Begitu juga dengan Bunda, sesekali juga Senja dan Reyhan lah yang mengunjungi Bunda.
"Katanya sih jadi Mas, entah sebelum lebaran atau sesudah lebarannya." jawab Senja.
"Kamu mau ikut mudik juga?" tanya Reyhan.
"Gak deh kayaknya Mas, tahun lalu saya sudah mudik, tahun ini pengen lebaran bareng keluarga Mas Reyhan." ucap Senja dengan tersenyum.
Obrolan berlanjut dengan candaan hingga mobil Reyhan memasuki halaman rumah Mama Mira. Terlihat Mama Mira sudah berdiri di depan pintu dengan senyum cerahnya menyambut kedatangan Senja dan Reyhan.
"Menantu kesayangan Mama." Mama Mira begitu bahagia menyambut Senja, ia langsung memeluk dengan tersenyum cerah.
"Assalamu'alaikum Ma." Senja menyambut pelukan hangat Mama Mira dengan tetap mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam, ih lama kamu gak ke sini sayang, pasti ini kerjaan Reyhan yah, dia yang gak bolehin kamu main ke sini." ucap Mama Mira dengan bibir cemberut.
Reyhan menghela napas pasrah ketika mendengar semua tuduhan aneh dari Mama Mira. Ia memilih masuk ke dalam rumah dari pada mendengarkan celotehan aneh Mama Mira.
Senja terkekeh pelan, ia menatap Mama Mira dengan tersenyum. "Jangan salahin Mas Reyhan Ma, ini murni karena kesalahan Senja, akhir-akhir ini Senja yang sibuk di kampus, makanya jadi jarang main ke rumah Mama." ucap Senja.
Mama Mira tersenyum dengan menganggukkan kepala, ia sebenarnya tidak benar-benar marah, hanya suka mengganggu Reyhan dan lebih memperhatikan Senja.
"Ayo sayang." ajak Mama Mira dengan mengandeng Senja.
"Sendirian Rey?"
"Sama Senja lah Pa." jawab Reyhan dengan suara datar.
"Mana Senjanya?" tanya Papa Alex.
"Biasa Pa, Mama mengambil alih." jawab Reyhan sekenanya.
Papa Alex tersenyum menggelangkan kepalanya.
"Mama itu sayang banget sama Senja, selain dia ingin memiliki anak perempuan, Senja juga memiliki karakter seorang menantu yang diinginkan Mama kamu." ucap Papa Alex.
"Papa tidak cemburu Mama lebih perhatian dengan Senja?" tanya Reyhan.
"Ngapain cemburu, Papa cemburu kalau kamu yang ngerebut Mama dari Papa." jawab Papa Alex.
Reyhan memutar malas bola matanya dengan helaan napas pelan.
"Sama-sama aneh." gumam Reyhan.
Papa Alex tersenyum menoleh menatap sang istri yang menggandeng tangan menantu kesayangannya.
"Rey, ajak istri kamu untuk istirahat sebelum waktunya berbuka." ucap Mama Mira.
Reyhan mengangguk dan mengandeng tangan Senja, membawanya ke kamar, untuk beristirahat dan membersihkan dirinya.
"Kamu mandi lah dulu." ucap Reyhan.
Senja mengangguk, ia mengambil baju ganti di lemari, dan membawanya ke kamar mandi, karena sampai saat ini, keduanya masih sama-sama malu meskipun sudah sering menunjukkan perhatiannya satu sama lain.
Reyhan menatap Senja dengan tatapan yang sulit di artikan. Ia kemudian mendudukkan dirinya di sisi ranjang, mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Keningnya berkerut dan semakin serius membaca bersamaan dengan lembaran demi lembaran berkas di tangannya.
***
Keempatnya sudah berkumpul di meja makan setelah melaksanakan shalat maghrib berjamaah. Kini menyantap makanan yang tersaji dengan nikmat.
"Senja mau ikut mudik bareng Bunda dan Bintang?" pertanyaan yang sama dilontarkan Mama Mira.
"Gak Ma, kalau dikasih kesempatan Senja mau lebaran di sini, bareng Mama, Papa dan Mas Reyhan." jawab Senja.
"Pasti dong sayang, kita akan lebaran bersama." ucap Mama Mira dengan tersenyum.
"Tapi kalau Senja mau, kita sekeluarga bisa pergi ikut Bunda dan Bintang." ucap Papa Alex memberi usul.
"Mama setuju sayang, pasti lebih rame lebaran nanti, sekalian ikut merasakan budaya lebaran di Jawa." timpal Mama Mira tersenyum senang.
"Apa tidak merepotkan Pa, Ma? Lagipula gak apa-apa kok lebaran di sini, ini kan lebaran pertama Senja bareng Papa, Mama dan Mas Reyhan, jadi Senja pasti bahagia bisa lebaran bareng di sini." ucap Senja dengan tersenyum menatap Papa Alex dan Mama Mira bergantian.
Reyhan diam menyimak ketiga, ia tidak masalah jika harus mudik atau tidak.
"Yaudah kalau itu kemauan Senja, kita buat lebaran paling berkesan untuk Senja." ucap Mama Mira membuat Senja mengangguk dengan tersenyum.
Acara berbuka berlanjut, dengan diselingi obrolan ringan. Memang dalam keluarga ini Papa Alex sebagai kepala rumah tangga tidak menetapkan peraturan untuk diam ketika sedang makan. Baginya ketika orang tua tidak memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga, maka jalan lainnya adalah, bercengkrama sambil menikmati hidangan yang tersaji di meja makan.