
Seorang gadis menangis meminta untuk di bebaskan. Namun sekeras apapun ia meminta tak membuat pria di hadapannya membebaskannya. Tangisan itu lama-kelamaan membuat pria itu jengah, ia melepaskan sabuk yang melilit pinggangnya, kemudian mencambuk gadis itu dengan sangat kuat. Gadis itu berteriak kesakitan dengan tetap menangis.
"Diam!" bentaknya pada seorang gadis yang tengah menangis.
Suara bentakannya membuat gadis itu berhenti bersuara, meskipun air mata tetap mengalir di kedua pipinya.
"Dengar baik-baik, pekerjaan hari ini sangat melelahkan, jadi berhentilah menangis sebelum tubuhmu semakin sakit." ucapnya dengan tersenyum miring.
Gadis itu berusaha menahan suara tangisnya, membuat tubuhnya bergetar, dengan air mata yang tetap mengalir.
Fino, pria yang tengah bersama gadis itu. Ia tersenyum miring dengan membelai wajah gadis belia di hadapannya. Lalu menyeret gadis itu untuk masuk ke dalam kamar yang telah disiapkan sebelumnya. Gadis dengan tangan terikat itu hanya mampu menahan sakit di tubuhnya dengan tetap menangis di pinggir ranjang, menatap Fino yang tengah bersandar menikmati wine di tangannya, menunggu seorang tamu.
Jangan tanya, kenapa Fino tidak puasa di dalam bab ini, karena pada dasarnya memang ada sebagian orang yang tidak mematuhi bagaimana peraturan agamanya, mereka cenderung melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah. Itulah rupa-rupa manusia.
Tak berselang lama pintu kamar terbuka, menampakkan seorang pria dengan tubuh gemuk, yang memiliki usia sekitar 50 an. Tubuhnya yang gemuk sedikit membuatnya susah untuk berjalan, namun tak sedikutpun mengurangi niatnya untuk datang menemui Fino.
Fino tersenyum menyambut kedatangan pria itu, ia menjabat tangan pria itu, kemudian mengajaknya duduk di sofa bersamanya.
"Selamat datang Tuan Lucas." ucap Fino.
Pria yang di panggil Lucas itu tersenyum dengan mengangguk, dan mengalihkan pandangannya pada gadis yang tengah menangis itu.
"Dia orangnya?" tanya Lucas tanpa mengalihkan tatapannya pada gadis itu.
Ia menatap dengan penuh nafsu pada gadis tersebut. Sementara gadis itu menangis dan semakin beringsut ke belakang, menatap takut pada Lucas.
"Sesuai pesanan, masih vir*in." ucap Fino dengan tersenyum miring.
Lucas tersenyum menyeringai mendengarnya.
"Ambil uangnya dengan anak buah ku di luar." ucapnya pada Fino.
"Senang berbisnis dengan anda Tuan Lucas."
Keduanya berjabat tangan kembali.
"Jangan main terlalu kasar, asetnya masih sangat terjaga." bisik Fino.
Lucas tertawa mendengarnya.
Fino sangat mengenal Lucas, bagaimana pria bertubuh gemuk itu begitu kasar ketika bermain dengan wanitanya. Itulah sebabnya ia sudah 5x gagal dalam pernikahannya. Alasannya adalah karena ia sangat kasar, suka main tangan, baik ketika bermain di ranjang, atau hanya dalam kesehariannya. Ia akan melunak dengan rekan kerjanya jika disuguhkan dengan mainannya (wanita), itulah sebabnya, Fino bekerja sama dengan Lucas, sang penjahat kela*** yang terkenal di kalangan penjahat.
Setelah itu Fino meninggalkan keduanya di kamar yang telah di siapkan. Tidak perlu ditanyakan bagaimana kelanjutannya, gadis belia itu sangat menyedihkan keadaannya. Bisa jadi ia hanya merasa tak berdaya, lemas dengan sedikit luka di tubuhnya, itu jika ia tidak membuat Lucas marah. Namun jika Lucas marah karenanya, gadis yang bermain dengannya pasti akan pingsan, tidak sadarkan diri, dengan luka di tubuhnya, dan terparah di bagian sensitifnya.
Begitulah cara kerjanya, dan begitulah kenyataannya. Fino menipu perempuan-perempuan dari desa yang tidak tahu bagaimana jahatnya dia, dengan mengiming-imingi pekerjaan dan gaji yang besar, agar menjebak mangsanya.
***
Senja memeluk Bunda dan Bintang bergantian. Hari ini keduanya akan mudik ke Jawa sesuai rencana sebelumnya. Senja tidak ikut karena ingin merasakan lebaran bersama keluarga Reyhan, lagipula ia bisa menelpon Bunda jika rindu.
"Semoga selamat sampai tujuan, nanti kabari yah Bun kalau sudah sampai di rumah Mbah." ucap Senja.
Bunda mengangguk dan kembali memeluk Senja.
"Putri Bunda sudah besar dan sudah menikah, Bunda sudah tidak khawatir lagi ketika meninggalkanmu sendirian." ucap Bunda dengan tersenyum.
Senja menangis mendengarnya.
"Mbak, nanti kita video call yah kalau Bintang sudah di Jawa." ucap Bintang.
Senja mengangguk dengan tersenyum, kemudian memeluk Bintang.
Tak hanya Senja saja, Reyhan, Mama Mira, dan Papa Alex ikut mengantar keberangkatan Bunda dan Bintang. Mama Mira dan Bunda pun saling berpelukan, mengucapkan salam perpisahan, meskipun nantinya Bunda akan kembali pulang.
"Titip Senja Mbak." ucap Bunda.
"Pasti Mbak, Senja sudah seperti putri saya sendiri." ucao Mama Mira dengan tersenyum.
Mama Mira beralih pada Bintang.
"Bintang pasti kangen banget sama Tante." ucap Bintang dengan wajah dibuat cemberut.
Tante Mira terkekeh mendengarnya. "Baik-baik yah anak gadis." ucap Tante Mira.
Reyhan berjalan mendekat pada Bunda.
"Tolong jaga Senja yah Nak Reyhan, Bunda titip Senja." ucap Bunda ketika Reyhan datang dan menyalaminya.
"Iya Bunda." Bunda tersenyum dan mengusap kepala Reyhan.
"Kak Rey." panggil Bintang, Reyhan menoleh dengan tersenyum, mengangkat sebelah alisnya.
"Kalau Mbak Bila nakal, jewer aja telinganya." ucap Bintang, membuat semua orang tertawa, sedangkan Senja mendelikkan matanya menatap Bintang.
...Selamat siang. Boarding dengan nomor penerbangan ABC Airlines 09386 ke Surabaya akan segera dimulai. Mohon semua penumpang untuk melanjutkan ke gerbang D2 dan menyiapkan boarding pass dan ID Anda. Terima kasih....
...*...
...Perhatian. Penerbangan 09386 ke Surabaya sekarang naik. Tolong semua penumpang lewat ke gerbang D2. Terima kasih....
Mendengar suara pengumuman keberangkatan, Bunda dan Bintang segera menuju gerbang D2 yang sudah diumumkan. Mereka kembali berpelukan sebelum saling melambaikan tangan tanda perpisahan.
"Pulang yuk." ajak Reyhan, ia menggenggam tangan Senja.
"Tunggu sampai pesawatnya terbang Mas." pinta Senja.
Reyhan mengangguk.
"Sayang, Mama dan Papa pulang duluan yah." ucap Mama Mira.
Senja mengangguk dan mencium punggung tangan Mama Mira dan Papa Alex secara bergantian.
"Nanti jangan lupa berbuka di rumah " ucap Mama Mira.
Senja dan Reyhan mengangguk.
Setelah kepergian Mama Mira, Reyhan mengajak Senja untuk duduk di kursi tunggu, dekat dengan dinding kaca yang mengarah pada landasan pesawat. Dari atas terlihat Bintang yang sedang melambaikan tangannya pada Senja dan Reyhan. Ia menyadari jika Senja dan Reyhan belum pulang, dan menunggu pesawat terbang meninggalkan kota.
Senja tersenyum dengan melambaikan tangannya pula. Melihat pesawat yang mulai take off entah mengapa Senja menjadi begitu cengeng, ia menangis namun masih memaksakan untuk tersenyum.
Reyhan memeluknya, membenamkan wajah Senja ke dalam pelukannya.
"Hanya satu bulan, nanti Bunda pulang." ucap Reyhan menenangkan Senja. Senja mengangguk pelan, kemudian menghapus air matanya.
Pesawat pun take off, terbang dan menjauh meninggalkan bandara, Senja menatapnya dengan sendu.
"Kita pulang?" tanya Reyhan.
"Em." Senja mengangguk dengan tersenyum tipis.
Reyhan menggandeng tangan Senja, menuju parkiran, dan segera kembali pulang.
***
"Dimana perempuan itu?" tanya Fino, ia datang mengunjungi rumah yang berada di desa matu itu.
"Di belakang Bos." jawab anak buahnya.
Fino mengangguk. Ia berjalan menuju lemari es, mengambil wine kembali, meneguknya langsung dari botolnya.
"Paket yang ku minta sudah dikirim?" tanyanya lagi.
"Sudah Bos, sudah diterima pemiliknya juga." jawabnya.
"Good. Panggil perempuan itu, jika membangkang seret dan bawa ke dalam kamar." ucap Fino, ia kemudian berjalan menuju kamarnya.