
Kesibukan terlihat di dalam gedung serba guna kampus yang akan digunakan untuk tempat seminar berlangsung. Para panitia dan beberapa dosen sedang mempersiapkan keperluan untuk seminar.
Terlihat juga Senja dan Fara yang sama sibuknya dengan orang-orang di dalam gedung itu. Raut wajah mereka semua begitu serius mengenai project seminar yang tinggal menghitung jam ini.
"Tolong bagian perlengkapan, cek soundnya dong." ucap Fara dengan sedikit berteriak.
"Rendi, tugas Rendi Kak." balas seorang panitia lainnya.
"Siap Kak." sahut Rendi yang baru masuk ke dalam gedung. "Cek cek, 1 2 3, cek, gimana suaranya? jelas?" tanya Rendi memastikan.
"Jelas, jernih Rendi." ucap Fara dengan mengacungkan jempol.
Sementara itu Senja sedang berada di belakang layar, memastikan semua keperluan yang dibutuhkan sudah siap semua.
"Kak Senja ini diletakkan dimana?" tanya seorang panitia.
"Di pojok kanan bagian depan yah, di samping tempat duduk para pemateri nanti." jawab Senja, dengan menunjukkan lokasi yang dimaksud.
"Baik Kak."
"Untuk kue sama minumnya langsung disiapkan sekarang aja yah, disusun di meja pemateri." ucap Senja pada panitia bagian konsumsi yang baru masuk membawa kotak kue dan botol-botol aqua.
"Baik Kak."
"Siap-siap 5 menit lagi panitia yang bertugas untuk mengabsen para peserta boleh standby di depan yah." ucap Senja.
"Iya Kak."
"Panitia konsumsi jangan lupa dihubungi pihak rumah makannya, sudah dipesan untuk nanti siang kan?" tanya Pak Agung pada panitia.
"Sudah Pak, semua siap, nanti jam 11 siang kami akan mengambil makanan di lokasi." jawab salah satu panitia konsumsi.
"Good, yang lain silakan kerjakan tugasnya masing-masing, dan semoga acara seminar kita hari ini berjalan lancar." ucap Pak Agung.
"Aamiin." semua anggota panitia dan penanggung jawab acara mengaminkan ucapan Pak Agung.
Semua kembali pada tugasnya masing-masing. Beberapa panitia yang telah menyelesaikan tugasnya ikut membantu teman-teman panitia yang lain.
"Senja, Fara, Hardi, Aris dan Rendi ikut Bapak menyambut pemateri." ucap Pak Agung.
Mereka berlima langusung mengekori Pak Agung. Untuk melaksanakan tugas menyambut kedatangan para pemateri. Termasuk dosen muda berprestasi yaitu Reyhan, yang menjadi salah satu alasan banyaknya mahasiswi yang mendaftar seminar hari ini.
"Banyak banget pesertanya Bil, gila sih, ini bisa full satu gedung." ucap Fara dengan menggelengkan kepala, menatap kagum dengan pencapaian mereka.
"Wajarlah Far, ada yang menarik mereka untuk mengikuti seminar ini." gumam Senja dengan nada acuh. Pandangannya menatap lurus ke depan.
Setelah beberapa saat berlalu, para pemateri yang ditunggu-tunggu pun akhirnya sampai semua. Hardi, Aris dan Rendi, ikut menyalami para pemateri, sementara Senja dan Fara hanya tersenyum, dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, dan sedikit menundukkan tubuhnya.
***
Fara dan Hardi menjadi MC dalam acara seminar hari ini, dengan dua bahasa yaitu Inggris dan Indonesia.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Kalimat salam pun diucapkan, tanda bahwa acara sedang dimulai.
Fara dan Hardi pun bergantian melanjutkan membacakan teks MC dengan bahasa masing-masing.
"Marilah kita buka acara seminar pada pagi hari ini dengan mengucapkan lafadz basmalah."
"Bismillahirrahmanirrahim." lafadz basmalah terdengar dari setiap insan yang berada di dalam gedung tersebut.
"Acara selanjutnya yaitu pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an, yang akan dibacakan oleh saudara Ilham, waktu dan tempat dipersilakan."
Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an berlangusng khidmat. Tak ada suara bising apapun, semua mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Ilham. Hingga suara salam menutup bacaannya.
Susunan acara selanjutnya ialah kata sambutan dari ketua panitia, juga beberapa dosen yang ditunjuk, seperti Ka.Prodi, Dekan, dan Ketua Jurusan.
Setelah kata sambutan, acara seminar dilanjutkan dengan pergantian MC ke moderator, yang dipandu oleh Senja, sebagai moderator acara.
Pukul 09:00 WIB, Senja sebagai moderator memulai acara inti, atau penyampaian materi oleh para narasumber-narasumber pilihan. Setiap narasumber atau pemateri, berhak menyampaikan materinya dengan durasi waktu 2 jam, sesuai dengan tema seminar hari ini.
Reyhan mendapat giliran terakhir untuk menyampaikan materi. Sengaja memang, agar para peserta tidak meninggalkan acara hanya karena alalasan bosan, inilah yang dinamakan strategi. Ide ini adalah milik Senja, yang mana Senja melihat banyak mahasiswi yang menarik minat ketika melihat wajah tampan Reyhan, jadi apa salahnya jika dia menggunakan strategi itu.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16:30 WIB, sistem tanya jawab juga sudah dibuka, dan semua pertanyaan sudah dijawab oleh para pemateri. Khusus para penanya akan diberi hadiah khusus setelah acara selesai, dan boleh ikut berfoto bersama para pemateri.
"Terimakasih banyak kepada Pak Tio, Pak Herman dan pak Reyhan, yang telah bersedia menjadi pemateri dalam seminar karya anak bangsa, yang akhirnya bisa berjalan lancar sesuai harapan kita bersama." ucao Pak Agung dengan tulus. Ia menjabat tangan pemateri satu per satu.
"Sama-sama Pak Agung, saya begitu senang melihat antusis para mahasiswa, apalagi tema yang diangkat oleh panitia telah membuat jiwa mahasiswa seakan ikut menggelora." ucap Pak Tio dengan terkekeh, dan diikuti gelak tawa dari anak-anak panitia, juga para pemateri.
"Bisa saja Pak."
"Saya setuju loh dengan Pak Tio, tema yang diambil pas sekali, apalagi ada dosen muda dengan sejuta prestasi di tengah-tengah kita, ya kan Pak Reyhan." timpal Pak Herman dengan tersenyum menatap Reyhan. Sedangkan Reyhan hanya tersenyum menanggapi ucapan Pak Herman.
Senja diam-diam menyimak dengan tetap membereskan peralatan-peralatan yang digunakan, dibantu para anggota panitia lainnya.
"Gimana kalau kita adakan makan bersama? Apalagi waktu sebentar lagi sudah mau maghrib, kita shalat berjamaan bersama di masjid kampus, sesudah itu kita adakan makan bersama di ruang audit? Bagaimana kira-kira? Sekalian menyambung silaturahmi kita bersama." usul Pak Agung pada para pemateri.
"Boleh-boleh, saya senggang hari ini, gimana Pak Tio? Pak Reyhan?" tanya Pak Herman.
"Saya setuju saja." ucap Pak Tio.
"Saya ngalir saja Pak." ucap Reyhan. Ia sendiri juga sedang lenggang, jadi apa salahya menerima ajakan para bapak-bapak berpengalaman ini untuk sekedar makan bersama.
***
"Bil, aku sama anak-anak mau ngangkutin semua barang-barang ini ke ruang seni. Kamu disini sendirian gak apa-apa kan?" tanya Fara.
"Iya gak apa-apa Far, lagipula disini masih banyak tugas yang harus diselesaikan." ucap Senja.
"Nanti aku minta anak-anak untuk nemenin kamu yah, aku antar barang ini dulu." ucap Fara.
"Iya Fara, sudah sana, keburu hari semakin gelap, bentar lagi maghrib, kamu shalat aja dulu, baru nanti ke sini lagi." ucap Senja.
"Oke siap."
Sebenarnya anak-anak panitia banyak, hanya saja semua sudah pada tugasnya masing-masing. Ada juga yang izin pulang duluan karena rumah yang jauh dari kampus ataupun dengan alasan mendesak lainnya. Alhasil Senja kini sendirian di dalam ruangan yang begitu luas, membereskan sisa-sisa barang yang belum dibereskan dan memunguti sampah bekas makan para peserta.
Ruangan yang luas, dengan banyaknya kursi dan lampu yang begitu terang tak membuat Senja takut. Hanya sedikit rasa was-was, karena sendirian di ruangan seluas itu.
"Aaaaaa." suara terikan Senja ketika lampu gedung serba guna mati mendadak.
Di luar juga mendadak hujan turun dengan sangat deras, membuat suara teriakan Senja tidak terdengar.