Better Days

Better Days
Penyelidikan Reyhan



"Desa itu memang desa mati Pak Reyhan." ucap seorang detektif yang telah Reyhan sewa untuk menyelidiki desa tempat dimana Senja kehilangan kepe******nya.


"Untuk menemukan tentang aktifitas pada 2 tahun yang lalu bukanlah hal yang mudah Pah Reyhan." lanjutnya.


"Sedikitpun tentang aktifitas Fino yang pernah pergi ke desa itu pun tidak ada?" tanya Reyhan.


"Tidak ditemukan Pak, kami mau bertanya dengan siapa Pak? Desa itu tidak ada hunian, sepertinya sudah kosong." ucap Detektif itu.


"Lalu aktifitas pemuda-pemudi dan acara hajatan itu?" pikirnya.


Reyhan mengingat cerita Senja malam itu.


"Tapi kami menemukan sesuatu Pak." Detektif mengeluarkan amplop cokelat dari dalam tasnya.


"Ini foto sebuah rumah yang masih sangat terjaga di desa itu, beda dengan rumah-rumah lainnya yang terbengkalai, justru rumah ini begitu sangat terawat." ucap Detektif itu, sambil menunjukkan sebuah foto.


"Sudah diselediki lebih lanjut tentang rumah ini?" tanya Reyhan.


"Kami kesulitan Pak, karena ternyata, di halaman rumah itu sudah diletakkan beberapa anjing galak yang menggonggong dan akan mengejar kami jika kami mendekat, bahkan di persimpangan gang ini, ada cctv yang siap merekam aktifitas siapapun Pak." jelasnya pada Reyhan. Detektif itu menunjukkan foto lainnya tentang suasana sekitar rumah itu.


"Apa ada pergerakan dari dalam rumah?" tanya Reyhan.


"Ada Pak, kami sempat mendengar suara barang jatuh di dalamnya." ucapnya.


Reyhan semakin di buat pusing mendengarnya. Mencari kebenaran dan keadilan untuk Senja tidaklah mudah.


"Lalu bagaimana dengan hutan mangrove itu?" tanya Reyhan.


"Hutan itu juga terlihat tidak terurus, sepertinya pemerintahan di daerah itu memang tidak memberikan dana untuk mengurusnya, atau mungkin sengaja membuatnya menjadi hutan terbengkalai." jelas sang Detektif.


"Apa ada bangunan yang saya katakan sebelumnya?" tanya Reyhan.


"Ada Pak Reyhan, seperti gubuk tapi dia cukup besar. Anak buah saya menemukan di dalamnya ada sebuah kasur, lemari dengan pakaian laki-laki, kemudian di depan gubuk itu ada beberapa kantong plastik, berisikan sampah, saya pikir mereka baru saja menyinggahi tempat itu, tapi belum membuang sampahnya." jelasnya lagi.


"Apa ada sesuatu lagi yang mencurigakan?" tanys Reyhan.


"Saya melihat bayangan wanita di dalam rumah yang terurus itu Pak Reyhan, rambutnya panjang, namun hanya sedang duduk, seperti tengah memandangi area luar rumah." ucapnya lagi. "Selebihnya kami belum mendapatkan apa yang Pak Reyhan cari." lanjutnya.


"Tetap awasi desa dan hutan itu, sampai laki-laki itu datang terlihat mengunjungi desa itu." ucap Reyhan.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi."


Reyhan kembali membaca berkas laporan daru Detektif itu. Ia benar-benar dibuat penasaran dengan sosok perempuan di rumah itu, bagaimana keadaan asli desa dan hutan tersebut, juga gubuk di dalam hutan mangrove.


"Sebenarnya rahasia tersembunyi apa dibalik misteriusnya tempat itu, dan apa hubungannya dengan Senja." monolognya memikirkan teka-teki yang membuatnya bingung.


Drrtzz ......


Bunyi handphone membuyarkan konsentrasi Reyhan. Ia mengambil dan melihat nama si penelepon.


"Wa'alaikumsalam Sayang." ucap Reyhan dengan suara lembut.


"Mas nanti buka puasa di rumah?" tanya Senja di seberang telepon.


"Iya Sayang, berbuka dengan masakan istimewa buatan istri tercinta."


Senja salting dibuatnya, meskipun saat ini Reyhan tidak sedang berbicara langsung dengannya.


"Mau menu apa Mas?" tanya Senja.


"Em.... apa yah? Ayam fillet gulung isi nanas seperti waktu itu kayaknya enak deh sayang, bisa Mas minta buatkan menu itu?"


"Bisa Mas, nanti Senja buatkan, selain itu ada lagi yang ingin Mas makan? Sayur atau lauk lainnya gitu?" tanya Senja lagi.


"Loh kenapa? Mas gak suka sama masakan Senja yah? Atau Senja ada buat salah sama Mas?" tanya Senja dengan wajah panik dan sendu.


"Gak Sayang, Mas cuma mikir pasti kamu kecapekan kalau harus masakin Mas setiap hari, belum lagi beresin rumah, Mas gak tega." ucap Reyhan dengan lembut.


Senja tersenyum mendengarnya.


"Lagi pula tugas beres-beres rumah, memasak dan lain sebagainya itu sebenarnya bukan kewajiban kamu sayang." Senja diam menyimak, ia tidak menyela sedikitpun ucapan Reyhan


"Istri punya 3 peran yang tidak bisa digantikan oleh laki laki. Apa itu? Hamil, melahirkan dan menyusui. Diluar itu, semua urusan domestik dan urusan rumah tangga adalah pekerjaan bersama. Berumah tangga artinya saling tolong menolong di antara suami istri. Justru seharusnya perihal pekerjaan rumah tangga itu termasuk bentuk nafkah aku sebagai seorang suami."


"Jika kamu mengerjakan semua pekerjaan rumah, itu hanya bentuk bakti kamu sebagai istri dan bentuk toleransi istri yang mau membantu suami meringankan pekerjaannya." ucap Reyhan.


"Kata siapa Mas?" tanya Senja mengetes Reyhan.


"Mas kan juga belajar sayang, Mas sering belajar bareng ustadz Kamil, berumah tangga tidak semudah teori dalam buku." ucap Reyhan.


"Jadi Mas mau makan pake sayur apa?" tanya Senja, mengembalikan pada topik awal pembicaraan.


"Tumis bayam aja sayang, lauknya ayam fillet gulung isi nanas, sisanya terserah kamu mau buat apa." jawab Reyhan.


"Oke Mas, oh iya Mas, Bintang mau ikut buka puasa di rumah, boleh?" tanya Senja.


"Boleh, gak apa-apa biar rame."


"Makasih Mas, yaudah Senja tutup dulu, Assalamu'alaikum." ucap Senja.


"Wa'alaikumsalam Humairahku."


Senja tersenyum mendengar ucapan salam terakhir dari Reyhan.


"Manisnya, sampe aku jadi nyamuk di sini." ucap Bintang menyindir Senja.


"Apaan sih Dek, yaudah yuk kita ke supermarket dulu, beli bahan masakan untuk berbuka." ajak Senja pada Bintang.


***


"Bintang mau lanjut kuliah dimana?" tanya Reyhan ketika ketiganya menikmati hidangan berbuka puasa bersama.


"Di Jawa kayaknya Kak, kalau di sini malah asing, mungkin karena sudah terlalu lama di Jawa." jawab Bintang.


Reyhan mengangguk paham.


"Yah mau dimana pun kita menuntut ilmu semua sama saja, yang penting adalah jika sesuatu dilakukan dengan kesungguhan, maka Allah akan memberikan keberhasilan di dalamnya. Selain kesungguhan, juga perlu diiringi dengan sikap kesungguhan yang terus menerus dan komitmen dalam menuntut ilmu. Tiga sikap ini harus ada dalam diri kamu dan berjalan beriringan, tidak dapat hanya salah satu saja. Wajib bagi setiap pelajar, bersungguh-sungguh, terus menerus, dan komitmen, tidak berhenti hingga tujuan dalam menuntut ilmu tercapai." ucap Reyhan memberikan sedikit wejangan untuk Bintang.


"Iya Kak, siap, pasti Bintang akan bersungguh-sungguh dan berkomitmen dalam menuntut ilmu." ucap Bintang dengan tersenyum.


Hati Senja menghangat melihat keakraban Bintang dan Reyhan. Ia semakin mengagumi Reyhan sebagai sosok suami sempurna dalam hidupnya.


"Kamu gak makan sayang?" tanya Reyhan ketika menyadari Senja sedang menatap dirinya.


Senja tersadar akan lamunannya, ia tersenyum bingung menatap Reyhan.


"Mbak Senja lagi mengagumi Kak Reyhan itu." ucap Bintang membuat Reyhan tersenyum menatap Senja. Sementara Senja bersemu merah karenanya.


"Mau aku suapi? Apa kita makan di satu piring saja yah." ucap Reyhan.


"Ya Allah cobaan apa lagi ini." gumam Bintang menatap adegan romantis di hadapannya.


Karena saat ini Reyhan sudah memindahkan semua makanan Senja ke piringnya, dan benar-benar menyuapi Senja. Mereka menikmati menu berbuka puasa dengan piring dan sendok yang sama.