
"Mas sudah buka puasa?" tanya Senja, pada Reyhan yang masih memeluknya. Bedanya kini keduanya sedang duduk di sofa.
"Belum." jawab Reyhan.
"Aku ambilkan makanan dulu yah Mas." ucap Senja.
Reyhan menggelengkan kepalanya di dalam ceruk leher Senja. Semakin mengeratkan pelukannya.
"Mas kenapa? Mas gak mau cerita sama Senja?" tanya Senja.
Reyhan masih diam tanpa suara, sudah sejak satu jam yang lalu ia masih memeluk Senja. Bahkan ketika Senja mengajaknya untuk duduk di sofa ia berjalan dengan memeluk Senja.
"Kalau Mas mau meluk Senja sampai pagi juga gak apa-apa, tapi Senja takut Mas sakit karena belum makan." ucap Senja dengan lembut. Tangannya mengelus lembut kepala Reyhan, ia sudah seperti seorang ibu yang tengah menenangkan anaknya ketika menangis.
Senja pun memikirkan cara agar Reyhan mau menatapnya dan berbicara kepadanya. Hingga ia menemukan sebuah ide untuk membuat Reyhan berbicara.
"Mas tahu kenapa aku sampai konsultasi ke psikiater?"
Reyhan mendengarkan tanpa melepaskan pelukannya.
"Karena mental aku yang terganggu, dan terlalu takut dengan persepsi orang terhadap diriku."
"Berulang kali aku memberikan semangat untuk diriku sendiri Mas, tapi tetap saja namanya kesehatan mental tidak bisa hanya kita dapatkan dari diri sendiri. Lingkungan pertemanan terbatas, hanya Fara yang dekat denganku, dan ketika di dalam keluarga pun aku tidak bisa membagikan apa yang aku rasakan."
"Aku masih bisa menahannya dan membuat kesehatan mentalku terjaga, namun saat malam itu, aku tidak bisa lagi menjaganya, rasanya aku seperti orang gila Mas, aku merasa sudah sangat tidak waras. Kalau saja Allah tidak bersamaku mungkin aku memilih untuk mengakhiri hidupku. Karena aku merasa kesehatan mentalku tidak lagi stabil aku perlu seseorang yang bisa menyembuhkannya, atau setidaknya aku butuh seorang pendengar. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk pergi ke psikiater, karena di sana aku bisa membagikan apa yang aku rasakan dan apa yang telah aku lalui."
Senja menjeda ceritanya, ketika Reyhan sudah melepaskan pelukannya dan menatapnya dalam diam. Tatapan yang begitu dalam, menatap Senja yang tersenyum lembut padanya.
"Aku hanya ingin jadi tempat Mas untuk berkeluh kesah, gak apa-apa, karena aku suka mendengarkan. Aku ingin tahu semua masalah Mas dan gak cuma tahu kebahagian Mas." ucap Senja dengan lembut, ia mengusap lembut kedua pipi Reyhan.
"Maafkan aku." ucap Reyhan.
Senja menggelengkan kepalanya. "Mas gak salah, aku tahu Mas lagi punya masalah, dan memang gak mudah untuk membagi masalah itu pada orang lain." ucap Senja dengan tetap tersenyum.
"Kamu bukan orang lain sayang." ucap Reyhan.
"Aku tahu Mas, terkadang memang diri tidak bisa membagikan masalahnya pada orang lain, aku pernah di posisi Mas, tapi aku hanya tidak ingin Mas merasa sakit sendirian, padahal ada aku di sini yang siap menerima sakit yang sama seperti yang Mas rasakan." ucap Senja.
Reyhan menggelengkan kepalanya, menolak ucapan Senja.
"Gak boleh, kamu hanya perlu merasakan kebahagian sayang." ucap Reyhan.
Senja mengambil tangan Reyhan meletakkannya di dadanya.
"Hidup itu gak semua tentang kebahagian kan? Akan menjadi tidak seimbang jika kita bahagia terus. Seperti Mas Reyhan yang menjadi obat untukku, begitu juga sebaliknya, jadi tidak akan terasa sakit jika itu bersama dengan orang yang dicintai." ucap Senja.
Kini giliran Reyhan yang membawa Senja ke dalam pelukannya, ia mengecup kening Senja dan menahannya sejenak.
"Aku sedang dalam misi memenjarakan Fino, anak buahnya, dan antek-anteknya." ucap Reyhan akhirnya dengan menatap manik mata hitam milik Senja.
Sementara senja yang mendengarnya hanya terdiam, ia cukup terkejut dengan ucapan Reyhan.
"Dan penyelidikan yang ku lakukan selama ini membuahkan hasilnya. Di satu sisi aku bahagia karena akan memberikannya balasan atas perbuatannya, namun ada rasa sakit yang aku rasakan ketika mengetahui semuanya." raut wajah Reyhan memang menggambarkan ia begitu sakit saat ini. Meskipun tatapan itu teduh dan begitu dalam namun terselip kekhawatiran di dalamnya.
"Itu berbahaya Mas." ucap Senja.
"Akan sangat berbahaya jika membiarkannya berkeliaran di luar sana, dan akan memakan banyak korban lagi sayang." ucap Reyhan.
"Maksud Mas Reyhan?" kening Senja berkerut mendengarnya.
"Pertama dia akan membahayakan dirimu, dan kedua dia membahayakan gadis-gadis lainnya, karena pekerjaannya adalah sindikat perdagangan manusia." ucap Reyhan memberikan penjelasan.
Ia pikir akan lebih baik jika Senja mengetahui apa yang sedang ia lakukan, ia juga harus memberikan antisipasi kepada Senja jika sewaktu-waktu Fino datang ketika dirinya tidak bersamanya.
"Astaghfirullah." Senja menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Sudah berapa banyak orang yang menjadi korban Mas?" tanya Senja.
"Entahlah, Mas juga tidak tahu, tapi sepertinya sangat banyak, karena sindikat perdagangan ini sudah berjalan selama kurang lebih 4 tahun." jawab Reyhan.
Ia mulai tenang saat ini, memang benar apa yang dikatakan Senja, berbagi cerita tentang masalah yang ia alami mampu membuat kegelisahan dan rasa sakit di dalam dirinya berkurang.
"Ya Allah." desis Senja masih dengan wajah terkejut.
"Tidak bisakah secepatnya dia dilaporkan ke polisi Mas?" tanya Senja.
"Tidak bisa sayang, hukum di negara kita saat ini bisa diperjualbelikan, mereka bisa mengelak dan mengkambing hitamkan orang lain." ucap Reyhan.
Senja mengangguk mendengarkan ucapan Reyhan.
"Apa yang bisa Senja bantu Mas?" tanya Senja.
Reyhan menggelengkan kepalanya. "Gak ada yang perlu kamu lakukan sayang, biar semua ini menjadi urusan aku. Tugas aku adalah memastikan kamu baik-baik saja, dan tugas kamu adalah cukup mendoakan aku agar aku selalu dalam lindungan Allah." ucap Reyhan.
"Pasti Mas, Senja selalu mendoakan Mas Reyhan, menitipkan keamanan Mas Reyhan dalam lindungan Allah adalah cara ampuh untuk menjaga Mas Reyhan." ucap Senja dengan tersenyum.
"Tapi aku sungguhan ingin membantu Mas, semua ini bermula karena aku, karena aku Mas Reyhan jadi harus menyelidiki tentang masa lalu ku." ucap Senja.
"Doa kamu sudah sangat membantuku sayang." ucap Reyhan dengan lembut.
"Mas, biar aku bantu dengan ingatan ketika malam itu yah." ucap Senja dan langsung mendapatkan penolakan keras dari Reyhan.
"Tidak usah sayang, aku gak mau kamu sakit karena mengingat kejadian itu." tolak Reyhan langsung.
"Lihat aku Mas, selama ada kamu di sisi aku, semuanya akan berjalan baik-baik saja, jadi jangan khawatir. Aku mau bantu Mas Reyhan, siapa tahu informasi yang aku berikan sedikit membantu Mas Reyhan." ucap Senja meyakinkan Reyhan.
Sedangkan Reyhan masih menatap Senja tanpa mengiyakan.
"Ayolah Mas, tidak akan sakit, aku juga tidak akan menangis, aku ingin membantu gadis-gadis itu Mas." bujuk Senja.
Reyhan mengangguk pelan, dan Senja tersenyum melihatnya.
"Malam itu, setelah aku berhasil kabur, aku gak tau telah melewati jalan apa, tapi dari tempat itu, aku berjalan ke arah barat, aku gak melewati jalan sebelumnya Mas, takut jika sampai tertangkap, karena aneh saja masa iya aku teriak minta tolong tidak ada seorang pun yang membantu."
"Dari arah barat itu, aku mendengar sayup-sayup suara orang mengobrol, karena penasaran aku mendekat dan melihat beberapa orang laki-laki sedang membawa sesuatu di dalam karung besar, kemudian yang lainnya mengobrol, dan di dalam obrolan itu, mereka bilang 'bawa ke ruang bawah tanah'. Aku rasa ada ruangan tersembunyi lainnya di dalam hutan itu Mas. Meskipun aku sedang terburu-buru untuk kabur, namun masih bisa dengan jelas aku dengar obrolan mereka." ucap Senja menceritakan semua yang dia ketahui ketika dilecehkan malam itu.
"Jika benar di dalam hutan ada ruangan bawah tanah, kemungkinan itu adalah tempat dimana mereka menyekap para gadis-gadis dan warga desa lainnya." ucap Reyhan dengan serius.
"Aku pikir juga begitu Mas, oh iya, karung besar itu pun bergerak-gerak, meskipun penerangannya minim namun masih bisa aku lihat." ucap Senja dengan serius pula, terlihat ia sudah tidak begitu sakit ketika menceritakan masa lalunya.
"Secepatnya kita akan tahu ada apa saja di dalam hutan itu." ucap Reyhan dengan membawa Senja ke dalam pelukannya.
"Em, iya Mas, kalau memang benar ada banyak korban di dalamnya aku ingin mereka cepat di bebaskan, pasti sangat menyakitkan hidup dengan luka yang terus terbuka." ucap Senja.
Reyhan mengangguk dengan mengecup pucuk kepala Senja. "Iya sayang."
"Mas."
"Em?"
"Aku jujur dengan Mama dan Papa yah Mas, tentang masa lalu ku, apapun hasilnya akan aku terima." ucap Senja.
"Kamu mau jujur dengan Mama dan Papa? Bagaimana dengan Bunda dan Ayah?" tanya Reyhan.
Senja terdiam sejenak.
"Aku berharap aku bisa mengatakan semuanya kepada mereka." ucap Senja dengan suara lemah.
"Aku gak mau kamu sedih karena harus mengatakan hal itu berulang-ulang kepada semua orang terdekatmu." ucap Reyhan dengan khawatir.
"Tadi sore Mama tiba-tiba berbeda, aku bahagia ketika Mama memberikan semangat kepadaku, dan mengatakan betapa ia begitu menyayangiku. Tapi Mas, aku merasa menjadi jahat ketika tidak jujur dan berbohong tentang betapa buruknya masa lalu ku." ucap Senja.
"Hey hey, sstt, jangan ngomong kayak gitu sayang, dengar aku, masa lalu kamu tidak buruk, semua yang ada di dalam diri kamu adalah kesempurnaan untukku." ucap Reyhan.
"Soal Mama, Papa, Bunda atau Ayah, nanti kita cari waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya, dan apapun yang terjadi, sesulit apapun yang akan kamu lewati, aku akan selalu ada untuk kamu, kita akan berjalan bersama sampai kita bisa melewati semuanya, paham?"
Reyhan masih mendekap Senja.
"Gimana kalau..."
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Reyhan sudah lebih dulu memotongnya.
"Gak ada yang gimana-gimana, jangan pernah membuat asumsi buruk oke, selama ada aku semuanya akan baik-baik aja." ucap Reyhan.
"Kenapa Mas sangat baik, aku takut tidak bisa membalas kebaikan Mas Reyhan." Senja mendongak menatap Reyhan.
"Mau tahu bagaimana cara nembalasnya?" tanya Reyhan dengan tersenyum.
Senja mengangguk.
"Jadilah istriku selamanya, dan berjanjilah untuk tidak pernah meninggalkanku." ucap Reyhan.
Senja merona dan menunduk.
"Gimana sayang? Sanggup menyetujui?" tanya Reyhan.
"Senja mengangguk malu-malu, membuat Reyhan gemas dan mencium bibirnya.
"Aku lapar." ucap Reyhan dengan suara serak.
"Oh astaghfirullah, maaf Mas, aku sampai lupa." ucap Senja dan hendak berdiri mengambil makanan di dapur.
"Sayang mau kemana." Reyhan memegang tangan menahannya untuk pergi.
"Ke dapur Mas, Mas kan belum makan sejak tadi." ucap Senja dengan polosnya, wajahnya begitu imut bagi Reyhan.
Reyhan berdiri dan memeluk pinggang Senja dari belakang.
"Aku memang lapar, tapi aku bukan mau makan itu, aku mau makan kamu sayang." ucap Reyhan di ceruk leher Senja, membuat Senja merinding karena hembusan napas hangat Reyhan.
"Boleh Mas minta?" tanya Reyhan.
Senja mengangguk dengan pelan. Wajahnya bersemu merah, ia sangat malu saat ini.
Perlahan Reyhan membawa tubuh Senja ke atas ranjang. Dan malam itu menjadi malam indah dalam penyatuan keduanya.