Better Days

Better Days
Firasat Bintang



Senja menatap kepergian Riani, dan kembali mengunci pintu agar Fino atau siapapun tidak sembarangan masuk. Meskipun Senja yakini di rumah ini pasti ada yang kunci cadangan untuk setiap kamar.


Ia kembali mendudukkan dirinya di sofa, dan menatap makanan yang dibawakan Riani tadi, juga alat pendeteksi kamera tersembunyi. Entah sebuah kebetulan atau memang insting wanita itu selalu sama, Senja sebenarnya sengaja belum membersihkan tubuhnya karena takut jika Fino memasang kamera tersembunyi. Ia takut kejadian 2 tahun yang lalu terulang kembali. Kejadian dimana Fino dengan sengaja merekam semua aktifitasnya malam kelam itu. Sungguh Senja sangat takut akan hal itu terulang kembali.


Sedih rasanya ketika menyadari bahwa hidupnya hanya menyusahkan orang-orang disekitarnya. Bahkan sampai ia menikah pun masih menyusahkan sang suami. Hal itulah yang Senja pikirkan dan semakin membuatnya merasa rendah untuk bersama Reyhan.


Senja mengusap air matanya yang tanpa sengaja mengalir saat semua kilasan memori melintas di pikirannya. Ia tak ingin hanyut ke dalam kesedihan, mengalihkan semuanya dengan mengambil alat pendeteksi kamera tersembunyi mulai menggunakannya.


Ia berjalan mengelilingi kamar dengan alat pendeteksi kamera tersembunyi di tangannya, sembari menunggu adzan maghrib untuk berbuka puasa.


***


Reyhan masuk ke dalam rumah kosong yang menjadi tempat penyekapan Joni dan Heru. Keduanya yang tengah duduk dengan tubuh terikat mengangkat kepalanya ketika pintu ruangan terbuka dan menampakkan Reyhan, Geri dan Riko.


Joni dan Heru beringsut kebelakang, hingga tubuh mereka menyentuh dinding dan tidak bisa bergerak kemana-mana. Sedang Reyhan dan Geri menatapnya dengan datar, dan Riko dengan ekspresi bingungnya.


"A-ampun Tuan." ucap mereka dengan wajah ketakutan.


Selama lebih dari seminggu mereka disekap, dan selama itu pula, keduanya hampir tidak bisa tidur nyenyak. Merasakan nyeri di tubuh mereka akibat siksaan anak buah Geri, kelaparan karena hanya diberi makan sehari sekali dan gangguan tidur karena selalu dibuat tidak tenang dengan gangguan-gangguan kecil dari anak buah Geri. Hal itu sengaja Geri lakukan untuk memberikan pelajaran akibat apa yang sudah mereka lakukan pada Senja dan gadis-gadis lainnya.


"Kalian mau keluar dan menghirup udara bebas?" tanya Geri mendekat dengan wajah datarnya, sementara Reyhan dan Riko hanya menatap keduanya yang ketakutan.


Tak berani bereaksi apa-apa, keduanya hanya diam ketika Geri bertanya.


"Jawab! Punya mulut kan!" bentak Geri dengan keras.


"Ma-mau Tuan." Joni menjawab dengan cepat disusul anggukan dari Heru.


"Kalian bisa menghirup udara bebas, tapi tetap dalam pengawasanku, karena kalian berdua harus melakukan sesuatu untuk membayar semua yang telah kalian lakukan." ucap Geri menatap tajam keduanya.


"Ba-baik Tuan."


"I-iya Tuan."


Hanya dua kata itu yang dapat mereka ucapkan. Menolak pun mereka akan tetap melakukan apa yang di perintahkan Geri, karena kini nyawa keduanya di tangan Geri.


"Good." Geri tersenyum miring mendengarnya. "Lepaskan ikatan mereka, beri mereka makan, sebelum menemuiku diruanganku, cepat!" perintahnya pada anak buahnya sembari meninggalkan ruangan tersebut.


"Siap Bos."


***


Sementara itu, di tempat lain yang jauh, Bintang sedang memandangi ponselnya. Ia sudah merasakan kebimbangan selama beberapa hari, lebih tepatnya semenjak ia mudik ke Jawa. Teror, pesan aneh, ia juga sering merasa ada yang sedang mengawasinya, meskipun tidak pernah terlihat secara langsung. Kekhawatirannya semakin terasa ketika beberapa hari sebelumnya Senja mengabarinya agar mengurangi kegiatan di luar rumah. Ia yakin Senja mengalami hal yang sama dengannya, atau bisa jadi lebih dari itu. Karena Bintang tahu, Senja tidak akan menceritakan kesulitannya, ia paham betul bagaimana karakter dan sifat Mbaknya. Setelah menimbang-nimbang begitu lama, akhirnya Bintang memutuskan untuk menghubungi Reyhan.


"Siapa Rey?" tanya Geri.


"Bintang." jawab Reyhan menatap ponselnya.


"Angkat saja." ucap Geri.


Reyhan akhirnya mengangkat panggilan telepon dari Bintang.


"Assalamu'alaikum Kak Reyhan."


"Wa'alaikumsalam Bintang, ada apa Dek?" tanya Reyhan, dengan nada senormal mungkin, agar Bintang tidak merasakan kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan yang ia rasakan.


"Em.. begini Kak, cuma mau tanya, gimana keadaan keluarga di sana? Baik-baik aja kan?" tanya Bintang.


"Alhamdulillah baik, semua keluarga di sini baik, kamu sama Bunda bagaimana Dek?" tanya Reyhan.


Bintang memang sudah mencoba menghubungi Senja sejak kemarin, namun selalu saja operator mengatakan bahwa nomor Senja tidak aktif. Hal itulah yang membuat Bintang menjadi memiliki prasangka buruk tentang keadaan Senja.


Reyhan masih diam tidak menjawab pertanyaan Bintang, ia sendiri bingung harus mengatakan apa. Mulut, hati dan pikirannya tidak sejalan. Ketika ia ingin mengatakan bahwa Senja baik-baik saja atau sekedar memberikan alasan lainnya agar Bintang menjadi tenang, namun hati dan pikirannya menolak untuk mengatakan hal itu. Ia tahu Senja sedang tidak baik-baik saja, Senja jauh darinya, dan pastinya hal itu semakin membuat trauma Senja bertambah buruk. Sungguh ia sangat mengkhawatirkan keadaan sang istri.


"Kak Rey?" panggil Bintang.


"Ah.... iya Bintang."


"Mbak Senja mana Kak? Bintang mau ngobrol." tanya Bintang lagi.


"Em.. Mbak Senja lagi... lagi keluar Dek." ucap Reyhan dengan tidak lancar.


"Keluar kemana?" tanya Bintang.


"Keluar dengan Mama untuk mencari kue persiapan lebaran nanti Dek." kali ini Reyhan menjawab dengan lancar, ia tidak ingin sampai Bintang tau apa yang tengah terjadi saat ini.


"Beneran Kak? Kak Reyhan tidak lagi menyembunyikan sesuatu dari Bintang kan?" tebak Bintang.


"Bintang gak mau jadi orang bodoh yang tidak tau apa-apa, sementara Mbak Senja atau keluarga di sana sedang tidak baik-baik saja." lanjutnya.


Reyhan tidak menjawabnya.


"Bintang tau ada yang tidak beres saat ini. Kak, Bintang mau kasih tau sesuatu dengan Kak Reyhan. Tapi Bintang mau ketemu langsung, sekalian bertemu dengan Mbak juga. Besok Bintang akan kembali ke Bengkulu." ucap Bintang.


"Bintang...."


"Kakak gak perlu khawatir, kalau Kak Reyhan gak mau memberitahukan semuanya sekarang, besok kita bertemu dan aku akan tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kak Reyhan tenang saja, aku akan berikan alasan yang logis ke Bunda, agar Bunda mengizinkan aku untuk kembali ke Bengkulu."


"Jemput Bintang di bandara, besok Bintang kabari lagi. Yaudah Kak Bintang tutup dulu teleponnya, Wassalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam..." Reyhan menghela napasnya.


"Kenapa Rey?" tanya Riko.


"Bintang sepertinya tahu apa yang terjadi dengan Senja, besok dia akan kembali ke sini, kamu tolong jemput dia di bandara besok Rik." jawab Reyhan.


"Ada sesuatu juga yang ingin Bintang tunjukkan, sepertinya sangat penting, itulah sebabnya ingin kembali ke sini." lanjutnya.


"Apapun yang terjadi besok, kita pasti akan menemukan keberadaan Senja dan membawanya pulang." ucap Geri.


"Joni dan Heru sudah diantarkan kembali ke tempat Fino, tinggal menunggu informasi selanjutnya dari mereka, sebentar lagi kita akan tahu dimana keberadaan Senja dan segera menyelamatkannya." lanjutnya.


"Permisi Bos, ini makanan yang dipesan tadi." anak buah Geri datang dengan membawa tiga kotak makanan.


"Oke terimakasih, kalian juga silakan berbuka puasa." ucap Geri.


"Baik Bos."


"Makan dulu, adzan sudah berkumandang." ucap Geri.


"Aku shalat dulu Kak." Reyhan meninggalkan ruangan kerja Geri, meninggalkan Riko dan Geri yang memandang kepergiannya.


*


*


*