
"Mas."
"Hm?"
Reyhan mendekap tubuh polos Senja yang tertutupi selimut. Menyisir rambut panjang Senja dengan jari-jari tangannya dan sesekali mengecup pucuk kepala Senja dengan penuh cinta.
"Kenapa sayang?" tanya Reyhan dengan lembut.
"Mas Reyhan punya seseorang yang Mas sukai dulu atau sekarang? Seseorang yang sangat ingin Mas temui?" tanya Senja dengan suara pelan.
Tiba-tiba saja ia mengingat jika Reyhan masih menyimpan cv ta'ruf miliknya. Rasa penasaran kenapa ia menyimpannya ingin sekali ia tanyakan. Namun ia juga ingat jika pernikahan mereka tanpa sebuah rencana, mengalir begitu saja. Terbesit di hatinya sebuah pertanyaan, apakah Reyhan sebenarnya memiliki perempuan lain yang ia cintai dan pernikahan ini hanyalah sebuah kewajiban yang harus ia tunaikan?
Rasanya hampir setiap hari ia selalu memikirkan tentang ketakutan dan kekhawatirannya. Takut jika seandainya Reyhan akan meninggalkannya. Takut jika aibnya terbongkar, maka sudah tidak ada perlakuan manis dari keluarga Reyhan, terutama Mama Mira. Ia sudah harus menyiapkan diri jika sewaktu-waktu semuanya terjadi, sesuai dengan apa yang ia khawatirkan.
"Pertanyaannya tiba-tiba sekali." ucap Reyhan.
Reyhan menguatkan pelukannya pada Senja, mengusap lembut rambut halus milik Senja. Matanya menatap lurus ke depan, ia jadi mengingat Maura ketika Senja melontarkan pertanyaan yang membuat hatinya merasa aneh. Terkadang ia merasa begitu rindu dengan Maura, terkadang juga ia merasa begitu dekat dengan Maura hingga rasa rindu itu bisa terobati.
"Mau mendengar jawabannya?" tanya Reyhan dengan suara lembut dan tenang, ia tidak merasa khawatir jika harus menjawab pertanyaan dari Senja.
"Em." Senja mengangguk tanpa menatap Reyhan, ia menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Reyhan.
"Dulu, kurang lebih 2 tahun yang lalu, aku pernah berta'aruf dengan seorang gadis, melalui perantara ustadz Kamil dan istrinya." Reyhan kemudian menjeda ucapannya.
"Kemudian?" tanya Senja.
"Kamu yakin ingin mendengarnya?" tanya Reyhan lagi.
Sungguh ia takut menyakiti Senja jika ia ceritakan bagaimana perasaannya pada Maura, gadis ta'arufnya.
"Ceritakan semua Mas, aku ingin mendengarnya." ucap Senja dengan yakin, apalagi yang diceritakan saat ini adalah tentang dirinya dulu, sebagai Maura.
"Baiklah, tapi berjanjilah jangan marah jika ini melukaimu." ucap Reyhan.
"Aku tidak mungkin marah denganmu Mas." ucap Senja.
Reyhan mengangguk, ia sama sekali tidak merubah posisinya, masih dengan memeluk Senja.
"Tak ada kesan pertama dengannya, sesuatu berubah ketika aku menerima cv miliknya, dan beberapa hari kemudian kami bertemu, meskipun diberi sekat dan didampingi dengan ustadz Kamil juga istrinya." ucap Reyhan.
"Lalu apa kesan Mas Reyhan selanjutnya setelah berbincang dengan gadis itu?" tanya Senja dengan begitu antusias.
"Kamu tidak sedang akting kan sayang?" tanya Reyhan kebingungan.
Ketika istri-istri lain akan marah, cemburu dan merajuk ketika mendengar cerita tentang mantan sang suami, atau pujaan hati suami di masa lalu, Senja malah kebalikannya, yang membuat Reyhan bingung karenanya.
"Akting apa mas?" Senja mendongakkan kepalanya, menatap manik mata Reyhan.
"Sudah sampai disini saja ceritanya." ucap Reyhan.
"Yah... gak seru dong Mas." cemberutnya.
"Kenapa tiba-tiba bertanya tentang masa lalu ku hm?" tanya Reyhan.
"Hanya ingin tahu." jawab Senja. "Kalau Mas Reyhan bisa tetap menerima segala kekurangan dan masa lalu ku, masa iya aku gak bisa melakukan hal yang sama." lanjutnya.
"Kesannya biasa saja, karena dia dipilihkan langsung oleh ustadz Kamil dan istrinya, maka tidak ada keraguan ketika aku mengikuti setiap proses ta'aruf itu. Tapi setelah pertemuan itu kami tidak lagi bertemu, dia juga sudah menikah dengan orang lain." ceritanya.
Reyhan tidak menjelaskan betapa ia dulu sangat penasaran dengan gadis yang bernama Maura itu. Bahkan hari-harinya hanya diisi dengan kerinduannya pada gadis itu. Mencari dengan bantuan Riko, meminta sedikit petunjuk dari ustadz Kamil, namun hasilnya nihil. Informasi yang terlalu sedikit tidak bisa membuatnya menemukan gadis tersebut.
Entah perasaan apa dulu, hingga membuatnya tidak bisa menerima ta'ruf atau perjodohan dengan gadis lainnya, sebelum Mama Mira memaksanya menerima perjodohannya dengan Senja. Sekedar penasaran siapa Maura itu, atau memang ia sudah memiliki hati untuk gadis itu.
"Seandainya ia belum menikah dengan orang lain, apakah Mas akan mencarinya dan melanjutkan ta'aruf yang tertunda itu?" tanya Senja.
"Tentu tidak, kan sudah ada kamu sayang, untuk apa Mas mencari perempuan lainnya." jawab Reyhan.
"Kan kalau Mas belum menikah, sekarang jelas Mas sudah menikah, tapi kalau mau cari gadis lain gak apa-apa Mas, Mas berhak mendapatkan yang jauh lebih baik lagi." ucap Senja, kemudian memejamkan matanya untuk tidur.
"Dan kamu yang terbaik sayang." ucapnya dengan mengecup pucuk kepala Senja.
Reyhan diam ketika melihat Senja memejamkan matanya. Ia jadi berpikir apakah benar jika Mama Mira tidak memaksanya, ia tidak akan menikah? Ia akan tetap mencari Maura? Tapi tidak peduli seperti apa ia merencanakannya, rencana Allah sudah menuntunnya pada Mauranya, meskipun ia sendiri masih tidak tahu siapa Maura itu.
***
Di Kantor
Pukul 10:47 WIB
Reyhan membaca laporan tentang penyelidikan Detektif yang ia sewa. Sedangkan Detektif yang mengantar laporan itu sedang duduk di hadapan Reyhan dengan wajah yang tak kalah seriusnya dari Reyhan.
"Jadi Fino memang sering berkunjung ke desa itu?" tanya Reyhan.
"Iya Pak Reyhan, dengan seorang perempuan." jawabnya.
"Siapa itu?" tanya Reyhan.
" Kami masih menyelidikinya Pak, karena setiap kali dia mengunjungi desa itu selalu menggunakan masker dan topi hitam, lengkap dengan jaket hitam juga." jawab Detektif.
"Perempuan yang di dalam rumah itu bagaimana?" tanyanya.
"Kami masih belum dapatkan informasinya Pak, kami masih mencoba untuk masuk ke dalam rumah itu. Entah apa yang terjadi di dalam rumah itu, namun hampir setiap malam kami mendengar teriakan dan raungan dari perempuan itu. Apalagi setiap Fino datang mengunjungi rumah itu, gadis itu selalu berteriak histeris, suaranya memenuhi penjuru desa, karena suasana desa itu yang kosong tak berpenghuni."
"Tapi kami pernah beberapa kali melihat Fino membawa laki-laki dengan berbagai usia datang ke rumah tersebut, dan lagi-lagi suara perempuan itu menggema, sebelum berhenti oleh sebab yang tidak kami ketahui." lanjutnya.
Reyhan mengangguk.
Ia kembali membaca laporan tersebut. Hanya ada 5 lembar laporan yang disiapkan, namun sudah cukup membuatnya mengetahui apa saja yang dilakukan Fino selama ini. Kegiatan Fino baik ketika di dalam desa itu, maupun di luar desa itu.
"Kami curiga ada skandal di dalamnya Pak, seperti pendagangan manusia atau hal lainnya. Berberapa kali kami memergoki Fino sedang bertemu dengan seorang pria tua di sebuah restoran, mereka selalu memesan ruangan VIP, membicarakan hal yang sangat rahasia sepertinya. Pria itu merupakan salah satu penjabat yang pernah dicurigai oleh kepolisian karena kasus perdagangan gadis-gadis muda dan hampir dipenjara namun gagal karena kurangnya bukti, dia selalu memenangkan pengadilan." ucapnya.
"Kirimkan data-data semua orang yang berhubungan dengan Fino.." ucap Reyhan.
"Baik Pak."
Detektif itu kemudian meninggalkan ruangan Reyhan.
Reyhan mengusap wajahnya dengan helaan napas panjang. Ia tidak habis pikir akan serumit ini, mengupas dan mencari keadilan untuk Senja, malah berujung pada masalah panjang yang menjadi misteri di baliknya.