Better Days

Better Days
Sudah Tahu



Setelah mengantar kepergian Bunda dan Bintang ke bandara, Senja dan Reyhan langsung mengunjungi kediaman Alfarisi. Mengingat 3 hari lagi adalah waktunya lebaran, maka sudah mulai banyak kesibukan di kediaman Alfarisi. Meskipun semuanya sudah dihandle oleh orang-orang yang memang bertugas untuk mengurusi kediaman Alfarisi.


Keduanya tiba ketika menjelang maghrib. Senja dan Reyhan langsung di sambut hangat oleh seluruh anggota keluarga. Ada Geri juga di sana, ia akan menetap sampai beberapa hari setelah lebaran.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mama Mira memeluk dan menyambut kedatangan Senja. Ia tersenyum hangat dan mengajak Senja masuk.


Senja yang melihat Papa Alex di belakang Mama Mira langsung menyalami tangan Papa Alex. Dan ketika melihat Geri ia hanya mengatupkan kedua tangannya, sembari tersenyum.


"Sayang kamu langsung ke kamar saja yah, bebersih, nanti kita berbuka bersama." ucap Mama Mira sambil merangkul Senja, masuk ke dalam rumah.


"Iya Ma." ucapnya dengan tersenyum.


Reyhan menganggukkan kepala ketika Senja menatapnya seolah meminta izin.


Melihat Senja yang menaiki tangga menuju lantai atas, Mama Mira, Papa Alex dan Geri langsung mengalihkan pandangannya pada Reyhan. Raut wajah ketiganya berubah, dari tersenyum hangat menjadi penuh selidik. Dan tanpa banyak bicara, Mama Mira langsung menarik tangan Reyhan, membawanya menuju ruang keluarga, yang jaraknya lumayan jauh dari arah kamar Senja.


"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu." tanya Reyhan.


Mama Mira memberikan amplop coklat yang sama seperti milik Reyhan waktu itu.


"Ini?" raut wajah Reyhan berubah serius, ia mulai paham kemana arah pembicaraan mereka saat ini, dan mulai menyadari arti raut wajah ketiganya.


"Dapat dari mana?" tanya Reyhan to the point.


"Seseorang mengirimnya ke sini, dan menitipkannya dengan security di depan." jawab Geri dengan wajah datarnya.


"Buka Rey!" perintah Mama Mira.


Dan dengan berat hati Reyhan membukanya, kembali melihat foto yang seharusnya tidak ia lihat, dengan surat yang berisikan hinaan untuk Senja. Reyhan memejamkan matanya, ia tak sampai hati untuk melihatnya lebih lama.


"Kalian semua melihat ini?" tanya Reyhan dengan suara yang terdengar dingin.


"Mama yang menerima paket itu tadi pagi, jadi cuma Mama yang melihatnya, Papa dan Geri hanya membaca suratnya saja." jawab Mama Mira. Ia paham jika di dalamnya adalah sebuah aib yang tidak boleh di lihat oleh Papa Alex dan Geri.


Helaan napas berat terdengar dari Reyhan. Ia sedikit merasa lega, setidaknya yang melihat aib ini hanya Mama Mira.


"Apa foto itu benar Rey?" tanya Mama Mira dengan tatapan tajam.


"Apa kamu sudah mengetahui tentang ini?" tanya Mama Mira lagi dengan lebih menggebu. Ia melihat keanehan ketika Reyhan tidak menunjukkan reaksi apapun.


"Apa isi pesan itu benar? Senja seorang pel..."


"Ma! Senja perempuan baik-baik, dan dia istri Reyhan." potong Reyhan dengan tatapan mata yang tajam dan suara dinginnya.


Ia tidak terima jika ada yang mencela Senja, sekalipun itu keluarganya sendiri. Sejak Senja mengatakan kejujurannya, sejak itulah ia berjanji untuk menjaga Senja, menerimanya baik dengan segala kekurangannya atau kelebihannya.


"Kalau begitu jelaskan pada kita Rey." ucap Papa Alex yang sedari tadi hanya diam menyimak.


Reyhan terdiam, entah bagaimana ia menjelaskannya. Ia sendiri melarang Senja untuk menceritakan tentang hal ini, namun hari ini, semuanya terbongkar. Entah siapa dalang di balik pengiriman paket-paket ini, Reyhan tidak akan membiarkan Senja sakit kembali.


"Apa ini ada kaitannya dengan Fino? Orang yang ingin kamu adili?" tebak Geri.


"Fino? Siapa itu?" tanya Mama Mira.


"Kalau kamu gak mau jelasin ke kita, biar aku panggil Senja ke sini dan kita dengarkan dari mulut dia sendiri." ucap Geri dan mulai berdiri hendak memanggil Senja.


"Sekali kaki itu melangkah, aku gak akan segan-segan mematahkannya." ucap Reyhan dengan suara dingin.


"Kalo gitu jelaskan ke kita." ucap Geri.


Reyhan mengambil napasnya pelan, ia memejamkan matanya sejenak, meredam rasa marahnya, tak ada pilihan lagi.


"Senja korban pem*rkos*an." kalimat itu lolos dari mulut Reyhan.


Ketiganya seketika diam membisu. Hening sejenak, tak ada yang merespon. Mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar.


"Kamu berbohong kan Rey? Bilang kalau semua foto yang dikirim itu adalah editan." tanya Mama Mira, matanya memanas mendengar ucapan Reyhan. Ini yang ia takutkan ketika melihat foto kiriman itu.


Reyhan menggelang lemah.


"Bilang ke Mama kalau foto-foto itu editan Rey, ada orang yang dengki sama Senja dan sengaja mengirim itu ke kita, untuk membuat Senja di benci sama keluarga kita Rey!" ucap Mama Mira dengan sedikit berteriak.


Geri sudah merubah ekspresinya, ia tidak sekeras pertama kali mendengar kabar itu. Kini wajah itu menjadi sangat sendu, apalagi ketika melihat Mama Mira mulai berteriak dan menangis mendengar apa yang Reyhan ucapkan sebelumnya. Papa Alex yang berada tepat di samping Mama Mira memeluk dan menenangkannya.


Reyhan kembali menggelengkan kepala mendengar terikan Mama Mira.


"Itulah kenyataannya Ma." ucap Reyhan dengan suara lemah.


"Kapan kamu mengetahui semua ini Rey?" tanya Papa Alex.


Mama Mira masih menangis dalam pelukan Papa Alex, ia sakit mendengar anak menantunya pernah mengalami hal sangat sulit dalam hidupnya. Membayangkan senyuman Senja terasa seperti mimpi bahwa di baliknya ada sebuah duka.


"Minggu lalu." jawab Reyhan dengan suara lemah. "Papa bilang dengan Reyhan, untuk menjaga istri Reyhan, memberikan dia ruang di hati Reyhan. Reyhan melakukannya, bahkan kini Reyhan sudah sangat mencintainya." lanjutnya dengan suara bergetar.


"Dia perempuan baik-baik, dia istri sholeha seperti yang Mama bilang, dia pilihan tepat dari Mama untuk Reyhan. Dia bahkan rela Reyhan ceraikan, ketika mengatakan kejujurannya yang membuatnya sakit dan trauma. Tapi bagaimana Reyhan bisa menghakiminya sedang ini bukan karena keinginan atau kesalahannya." ucap Reyhan dengan air mata yang mengalir dari kedua matanya. Geri dan Papa Alex pun ikut menangis mendengarnya.


"Ya Allah, putriku....." Mama Mira semakin menangis mendengar apa yang diucapkan Reyhan.


"Jadi Reyhan mohon, jika kalian tidak menyukai Senja, biar Reyhan bawa Senja pergi jauh dari kalian, tapi tidak dengan meninggalkannya atau menikah lagi." tegasnya dengan mengusap air matanya.


Mama Mira menggelangkan kepala, ia tidak akan sejahat itu untuk menghakimi Senja.


"Jika ada suatu hal tentang Senja yang akan membuat keluarga Mama malu, apa yang akan Mama lakukan?"


Ia jadi teringat moment saat Senja tiba-tiba memberikan pertanyaan waktu itu. Kini ia paham apa maksud pertanyaan itu.


"Anakku yang malang." isak Mama Mira.


"Laki-laki itu Fino, Rey?" tanya Geri.


Reyhan diam tak menjawab.


"Jawab Reyhan! Dia Fino?" tanyanya lagi dengan penuh penekanan, nada suaranya sudah tidak bersahabat lagi. Ada kemarahan di dalamnya.


"Iya." ucap Reyhan dengan helaan napas. Sementara Geri sudah mengepalkan tangannya mendengar ucaoan Reyhan.


"Bahkan dia sempat datang ke rumah, mengancam dan membuat trauma Senja semakin menjadi, ketika aku sedang tidak di rumah." jawab Reyhan dengan jujur. Senja sudah menceritakan semuanya, tak terkecuali.


"Kurang ajar!" umpatnya dengan marah.


"Tidak semudah itu Kak, ini seperti memecahkan teka-teki, ada sesuatu di balik semua ini, dalang utamanya masih belum di temukan." ucap Reyhan.


"Kita cari semua orang yang ikut andil dalam masalah ini, Papa pasti bantu, Senja sudah seperti putri kandung Papa." ucap Papa Alex dengan pasti.


"Mama mau semua pelaku dihukum!" ucap Mama Mira dengan sesenggukan.


"Pasti Ma." ucap Reyhan.


"Tolong rahasiakan dari Senja dan dari siapapun, jika kalian sudah mengetahui semua ini." ucap Reyhan.


Ketiganya mengangguk setuju. Setelahnya Reyhan pamit untuk menyusul Senja ke dalan kamar.


***


"Wanginya istriku." Reyhan memeluk Senja dari belakang yang tengah menyisir rambut panjangnya. Menciup pucuk kepala Senja.


"Pakai sampo apa sih, kok wangi banget?" tanya Reyhan.


Senja tersenyum, senyum manisnya dapat Reyhan lihat dari pantulan kaca.


"Sampo biasanya Mas." jawab Senja. Ia menghentikan kegiatan menyisir rambutnya karena Reyhan masih memeluknya dari belakang.


"Sini, biar aku yang nyisir." ucap Reyhan mengambil alih. Dengan tetap berdiri, ia menyisir rambut panjang Senja dengan telaten.


"Lebaran mau liburan ke mana?" tanya Reyhan.


"Liburan? Halal bihalal aja sama keluarga Mas, tapi kalau Mas mau berlibur aku ngikut aja kemana Mas pergi. Soalnya aku gak tahu tempat-tempat liburan yang bagus." jawab Senja.


"Gak bosan di rumah terus?" tanya Reyhan.


"Pernah sih ngerasa bosan, tapi karena keseringan sendirian jadi udah terbiasa Mas." jawab Senja dengan raut wajah yang terlihat biasa saja, namun bagi Reyhan itu tidak.


Selesai menyisir rambut Senja, Reyhan menggulungnya dan menjepitnya menggunakan jedai rambut. Ia memutar kursi Senja, menghadapkannya ke arahnya. Kemudian ia merendahkan tubuhnya, menekuk kedua kakinya, kemudian menggenggam kedua tangan Senja.


"Mas ngapain?" raut wajah bingung Senja ketika Reyhan melakukan hal aneh saat ini.


"Biarkan Mas mengulang lamaran kita yang tidak menyenangkan waktu sayang." ucap Reyhan.


Senja diam menatap Reyhan.


"Istriku Senja, mungkin ini terdengar begitu konyol, tapi izinkan suamimu ini mengungkapkan semua isi hatinya. Lamaran kita dengan sebab perjodohan waktu itu memang begitu sangat asing, dua insan yang tidak saling kenal di satukan dalam takdir pernikahan. Meski awalnya hanya sebatas hak dan kewajiban dalam pernikahan, namun karena hal itu pula yang membuat aku takut untuk kehilanganmu, berjauhan denganmu, dan tak rela orang lain menyakitimu."


Senja diam mendengarkan, jantungnya berdetak kencang ketika suara lembut dan penuh rayuan itu mengucapkan kata demi kata yang membuat Senja terharu. Tatapan mata Reyhan yang tidak lepas dari Senja membuat Senja hanyut ke dalamnya. Ia seperti tengah menyelami lautan cinta dari Reyhan.


"Sayangku, humairahku, hari ini, detik ini, meskipun terlambat aku mengatakannya, aku mencintaimu, aku menyayangimu, aku menginginkanmu, dan aku membutuhkanmu. Jadi sayang, maukah kamu menemaniku hingga akhir? Menjadi teman yang tidak sekedar teman dalam suka, namun teman hidup yang akan menemanimu dalam suka dan duka. Berbagi semua rasa kecewamu, menjadi bahu tempatmu bersandar. Maukah kamu sayang?"


Senja menitikkan air mata ketika mendengar kata-kata manis dari Reyhan. Lamaran yang tak menyenangkan? Siapa yang peduli pikir Senja. Ia sudah sangat bahagia bisa menikah dengan Reyhan, dan diperlakukan bagaikan seorang istri yang sempurna.


Namun hari ini, lagi-lagi ia kembali dibuat bahagia ketika Reyhan kembali melamarnya dengan kalimat-kalimat memuja, dan penuh cinta. Bahkan air matanya tidak ingin berhenti karenanya.


Reyhan bangkit dan membawa Senja ke dalam pelukannya. Ia mengelus punggung Senja dengan mengecup pucuk kepalanya dengan penuh cinta.


"Jadi lamarannya di terima?" tanya Reyhan dengan lembut.


Senja melepaskan pelukannya. Ia mendongakkan kepalanya, karena Reyhan yang begitu tinggi. Mengusap air matanya kemudian tersenyum menatap Reyhan.


"Tidak peduli bagaimana cara Mas melamar dulu ataupun sekarang, romantis atau tidak romantis, tetap akan aku terima. Seperti Mas menerima baik buruknya aku, begitu juga aku menerima semua yang ada pada diri kamu Mas."


"Jadi jawabannya, pasti aku terima lamarannya Mas, aku mau, dan sangat mau menemani kamu hingga akhir Mas, sampai hanya maut yang mampu memisahkan kita." lanjutnya dengan tersenyum lembut, tangannya terulur membelai wajah Reyhan.


Reyhan mendekatkan wajahnya pada wajah Senja, kini hidung keduanga menyatu, dan saling menggegesekkan. Reyhan kemudian menciun kening Senja dengan lembut, dan cukup lama ia menciumnya. Senja memejamkan matanya menikmati kebersamaan ini dengan Reyhan.


...Allaahu Akbar, Allaahu Akbar ...


................


Suara adzan maghrib berkumandang, Reyhan menatap wajah Senja.


"MasyaAllah, bahkan Allah pun memberikan waktunya untuk kita." ucap Reyhan.


Ia langsung membaca doa berbuka puasa, dan menikmati manisnya b****r Senja. Cukup lama keduanya saling menikmati kebersamaan, hingga melupakan ada tiga orang di bawah yang sedang menunggu keduanya turun.


"Ulah Reyhan menahan Senja, mereka pasti sudah berbuka puasa." ucap Geri, merotasi matanya dengan malas.


"Kita duluan saja, biarkan mereka menikmati waktu berdua." ucap Papa Alex.


Mama Mira hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala.


"Cepat nikah Ger, Mama gak sabar mau nimang cucu dari kamu." ucap Mama Mira.


"Reyhan aja dulu Ma, jodohku belum ketemu." ucapnya sekenanya sambil menyantap kurma.


"Kamu saja yang terlalu terobsesi dengan pekerjaanmu." ucap Mama Mira.


"Iya nanti aku cari."


"1 Bulan, Mama kasih waktu 1 bulan." ucap Mama Mira.


"1 tahun Ma, aku bukan pujangga cinta seperti Reyhan." ucapnya.


"5 bulan, atau besok kamu langsung Mama nikahin sama seorang gadis." ucap Mama Mira.


"Yah Ma...." keluhnya.


"Deal?" tanya Mama Mira, mengulurkan tangannya pada Geri.


"Oke deal." Geri menjabat tangan Mama Mira.


Sementara Papa Alex hanya tersenyum melihat keduanya.


"Seru nih, tantangan baru, untuk kamu yang sukanya menguji adrenalin Ger." ucap Papa Alex.


Geri mendengus mendengarnya, apalagi ketika melihat Papa Alex dan Mama Mira tertawa.


*


*


*