
Sore hari dengan cuaca mendung menyelimuti langit, gerimis rintik-rintik membasahi bumi. Beberapa orang memilih untuk tetap di dalam rumah bersama keluarga, sementara yang lain tetap melaksanakan kegiatan di luar ruangan.
Hari ini merupakan jadwal Senja untuk mengajar, ia tengah menunggu anak-anak yang akan datang untuk mengaji. Belajar mengajinya di langgar atau mushollah dekat dengan kosan Senja. Sehingga memudahkan Senja untuk pulang pergi mengajar, karena tidak jauh dari kosannya.
Beberapa menit kemudian.
"Assalamu'alaikum Ummi." ucap anak-anak kecil yang akan belajar mengaji dengan Senja. Satu per satu
"Wa'alaikumsalam anak-anak Ummi, sini-sini masuk sayang." Senja menjawab salam dan mengajak anak-anak untuk masuk ke dalam langgar.
"Apakabar semuanya?" tanya Senja.
"Alhamdulillah, and luar biasa!" jawab mereka bersamaan.
"Alhamdulillah." Senja tersenyum mendengarnya.
"Ummi, kenapa mengajar ngajinya cuma di hari jum'at sore?" tanya Aisyah tiba-tiba.
"Karena memang sudah jadwalnya Isyah." jawab Senja dengan lembut.
"Tapi kami maunya mengaji setiap hari dengan Ummi." ucap anak lainnya.
Senja tersenyum sejenak, ia menatap satu persatu anak-anak di hadapannya.
"Kan setiap hari guru ngajinya berbeda-beda, dan jadwal Ummi adalah setiap hari jum'at. Anak-anak tetap bisa mengaji bukan? Dengan siapapun gurunya yang terpenting adalah ilmunya." ucap Senja mencoba memberikan pengertian pada anak-anak.
"Kenapa begitu Ummi? Padahal kami sangat menyukai ketika belajar mengaji bersama Ummi." jawab Aisyah dengan cepat.
"Apakah belajar dengan guru-guru yang lain tidak mengasyikkan? Padahal ilmu yang diajarkan sama loh." ucap Senja.
"Bukan begitu Ummi, hanya saja lebih menyenangkan ketika belajar bersama Ummi." ucap Adi mengutarakan suaranya.
Senja tersenyum kembali.
"Kalian tahu anak-anak, ada kisah seorang guru yang begitu dicintai oleh semua murid-muridnya, mau dengar kisahnya?" tanya Senja dengan tersenyum lembut.
"Mau!" semuanya berteriak dengan keras.
"Terkisah, ada seseorang yang begitu menyukai pekerjaannya sebagai seorang guru, dia rela menempuh perjalanan yang begitu jauh, sangat jauh bahkan, hanya demi mengajar dan memberikan ilmunya bagi setiap murid-muridnya. Yang menbuatnya semakin berkesan adalah dia mengajar muridnya dari rumah ke rumah." ucap Senja memberikan jeda pada ceritanya.
"Kenapa tidak berkumpul di satu tempat Ummi? Kan kasihan guru itu." ucap seorang anak laki-laki.
"Pertanyaan yang bagus, Ummi lanjutkan yah ceritanya." ucap Senja dengan tersenyum. "Jadi begini, guru itu memberikan dedikasinya untuk pekerjaan dia, dan murid-murid yang dia ajar itu merupakan murid-murid yang berkebutuhan khusus, yang tidak mampu untuk mengikuti kegiatan belajar mengaji di tempat yang telah ditentukan. Maka dari itu, guru ngaji itu rela berjalan jauh demi bisa mengajar murid-muridnya."
"Nah Ummi mau tanya nih sama kalian, gimana kalau salah satu atau semua guru ngaji kalian adalah guru teladan yang Ummi ceritakan tadi?" tanya Senja.
"Kasihan Ummi." ucap seorang anak perempuan.
"Kenapa bisa kasihan?" tanya Senja.
"Gurunya jalan jauh cuma buat ngajar muridnya." jawab yang lainnya.
"Jadi kesimpulannya apa?" tanya Senja kembali.
"Kami harus menghargai perjuangan setiap guru yang mengajar kami Ummi." jawab Adi.
"Benar sekali Adi, ada yang bisa menambahkan?" ucap Senja. Anak-anak menggelangkan kepalanya tanda tidak ingin menambahkan.
"Nak, dengarkan Ummi, mau siapapun guru kalian, atau siapapun orang yang mengajar kalian, harus kalian hormati, bisa jadi dibalik dia mengajar setiap harinya ada perjuangan dibaliknya." ucap Senja memberikan kesimpulan yang mudah dipahami.
"Iya Ummi." ucap mereka serentak.
"Ummi, Ibu guru Santi juga jauh rumahnya." ucap Aisyah.
"Jadi anak-anak sekalian harus menghormati, dan menyayangi Buk Santi, juga setiap guru yang telah rela meluangkan waktunya untuk memberikan ilmunya." ucap Senja.
"Siap Ummi."
"Ummi, ayat ini gimana bacanya? Ada tanda baca yang Isyah gak mengerti" tanya Aisyah sambil menunjuk ayat yang tidak ia mengerti.
"Mana sini Ummi lihat." ucap Senja sambil melihat ayat yang ditunjuk Aisyah.
"Ini bacanya بِسْمِ اللّٰهِ مَجْرٰىهَا وَمُرْسٰٮهَا (Bismillahi Majreha wa Mursaha)." ucap Senja sambil menunjuk ayat yang ditanyakan Senja.
"Kenapa bacanya pake 'e' Ummi ?" tanya Aisyah.
"Karena memang begitu ketentuannya." jawab Adi yang berada di belakang Aisyah, ia diam tapi juga mendengarkan obrolan Senja dan Aisyah.
"Iya kenapa ketentuannya begitu? Kenapa tidak dibaca 'majroha' seperti 'ra' lainnya?" tanya Aisyah lagi.
"Karenan bacaan imalah." jawab Adi.
"Apa itu imalah?" tanya Aisyah lagi.
"Ummi bantu jelasin dong, Adi bingung jelasinnya ke Isyah." ucap Adi.
Aisyah memalingkan wajahnya dari Adi, ia menatap Senja untuk mendengar penjelasan dari Senja.
"Apa Aisyah tahu, imalah ini salah satu bacaan yang jarang ditemui di dalam Al-Qur'an." Aisyah menggelengkan kepalanya, tanda ia tidak tahu tentang bacaan imalah, sedangkan Senja tersenyum melihatnya.
"Makanya hanya ada satu bacaan imalah, yaitu di dalam surah Hud ayat ke 41 yang tadi Aisyah baca." ucap Senja.
Anak-anak yang lain juga ikut mendengarkan penjelasan Senja, mereka berhenti mengaji yang memperhatikan penjelasan Senja.
"Imalah ini cara bacanya adalah dengan memiringkan bacaan yang berharakat fathah pada kasrah sekitar dua pertiganya. Makanya dibaca seperti 'e' untuk bagian tersebut." lanjutnya memberikan penjelasan.
"Jadi ini cuma satu di dalam Al-Qur'an Ummi?" tanya Aisyah.
"Iya sayang, cuma satu." ucap Senja.
"Wah.... Aisyah senang deh bisa dapat ilmu baru dari Ummi." ucap Aisyah.
Senja tersenyum mendengarnya. Aisyah anak-anak lainnya kembali melanjutkan kegiatan mengaji mereka. Dengan sesekali tetap bertanya pada Senja jika ada ayat yang tidak mereka mengerti.
***
"Assalamu'alaikum, apa benar kamu Maura?" tanya Reyhan pada seorang gadis yang ia temui di restauran.
"Kamu Reyhan yang kemarin ngirim e-mail ke aku?" tanyanya pada Reyhan.
"Iya itu saya." Reyhan langsung mendudukkan dirinya di hadapan gadis yang ia temui.
"Rasanya biasa saja, pertama kali bertemu dengannya, tidak ada getaran-getaran seperti yang aku bayangkan." batin Reyhan ketika menatap gadis yang bernama Maura itu.
"Pesan dulu makanan kamu Reyhan." ucap Maura.
"Iya terimakasih." Reyhan langsung memesan makanan yang akan dia makan.
"Jujur aku gak tau ada perlu apa kamu meminta aku untuk bertemu di sini, karena ini juga kali pertama aku ketemu dengan kamu Reyhan." ucap Maura.
"Ekhm, begini Maura, ada beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada kamu, dan maaf sebelumnya Maura, mungkin ini akan mengganggu kamu." ucap Reyhan menjelaskan maksud dan tujuannya.
"Oke, no problem Reyhan, kita kan sudah buat janji, so apa yang perlu kamu tanyakan kepada aku silakan kamu tanyakan, kalau bisa aku bakal jawab semuanya." ucap Maura.
"Baiklah, pertama perkenalkan, nama saya Reyhan, saya seorang dosen du salah satu kampus swasta." ucap Reyhan memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Maura, saya seorang mahasiswi semester akhir, di salah satu kampus swasta juga." ucap Muara memperkenalkan dirinya.
"Oh iya, ngomong-ngomong kalau boleh aku tahu, dari mana yah kamu dapat e-mail aku?" lanjutnya bertanya pada Reyhan.
"Aku dapat dari temanku." jawab Reyhan. Maura hanya menganggukkan kepala paham.