
"Maafkan Tente yah sayang, pasti lama yah nunggunya." ucap Tante Mira tidak enak hati, ketika sudah tiba di depan gerbang kampus Senja.
"Tidak Tante, Senja tidak sampai menunggu lama kok." ucap Senja dengan tersenyum.
Tante Mira tersenyum dengan mengangguk. Ia menggandeng dan menarik tangan Senja, mengajaknya untuk ikut masuk ke dalam mobilnya.
Senja memang sudah mengiyakan permintaan Tante Mira untuk menemaninya jalan-jalan. Karena janji inilah Senja menolak ajakan anak-anak panitia seminar untuk makan bersama. Tak mengapa, lagipula Senja juga sedang penat, banyak beban pikiran yang menganggunya. Jadi, tak ada salahnya jika ia ikut Tante Mira jalan-jalan.
"Senja sayang, kamu mau jalan-jalan kemana dulu nih sekarang?" tanya Tante Mira.
"Eh, kok Senja Tante, kan Senja tugasnya menemani Tante jalan-jalan hari ini." Senja dengan tersenyum menatap Tante Mira di sampingnya.
"Kamu kenapa sayang? Hm? Tante lihat kamu seperti memiliki beban masalah?" tanya Tante Mira dengan menelisik raut wajah Senja.
Senja sendiri pun terdiam dengan tatapan kosong. Mendengar pertanyaan Tante Mira menbuatnya menjadi mengingat masalah yang sedang ia pikirkan.
"Senja?" panggil Tante Mira dengan menyentuh punggu tangan Senja.
"Em, iya Tante," Senja menoleh menatap Tante Mira, yang sedang menunggu jawaban darinya. "Senja hanya lagi pusing dengan skripsi Tante." jawab Senja dengan tersenyum, menghilangkan guratan-guratan penuh masalah di wajahnya.
"Kapan-kapan kamu Tante kenalkan yah sama anak Tante, biar dia bantu kamu untuk menyelesaikan masalah skripsi kamu." ucap Tante Mira.
"Tidak usah Tante, Senja hanya perlu memahami isi skripsi Senja saja, lagipula, Senja ingin meraih apa yang Senja inginkan dengan hasil jerih payah Senja sendiri." tolak Senja.
"Gak apa-apa sayang, anak Tante itu kan seorang dosen, jadi dia paham tentang proses pembuatan skripsi, jadi pasti dia bisa bantu kamu nanti." Tante Mira masih mencoba membujuk Senja.
"Tante, selagi Senja masih bisa mengerjakannya sendiri, tak ada salahnya Senja berjuang dengan usaha Senja." tolak Seni dengan halus.
Tante Mira tersenyum mendengar alasan atas penolakan Senja tersebut.
"Oke deh, Tante yakin kamu bisa mengatasi masalah skripsi kamu." ucapnya dengan tersenyum.
Senja menganggukkan kepala tanda menyetujui ucapan Tante Mira.
"Pak kita ke Mall yah." ucap Tante Mira kepada supirnya.
"Baik Buk."
Senja dan Tante Mira kembali mengobrol ringan, sesekali dengan sebuah candaan atau lelucon. Entah lelucon itu memang lucu, atau mereka saja yang terlalu mudah tertawa dengan lelucon garing itu.
Perjalanan 30 menit menuju Mall menjadi 45 menit karena jalanan yang begitu macet.
***
"Ini kebanyakan Tante, Senja tidak akan memakainya setiap hari." keluh Senja ketika melihat banyaknya paper bag yang ia terima.
"Hanya beberapa potong gamis sayang, nanti kita beli di toko lain lagi yah." ucap Tante Mira sambil memilih baju-baju gamis yang tergantung rapi di hadapannya.
Mata Senja membulat sempurna ketika mendengar ucapan Tante Mira, beruntung ia tidak sampai pingsan dibuatnya.
"Tante, sudah yah, ini sudah banyak Tante." ucap Senja memelas.
Tante Mira menoleh dengan menatap Senja.
"Duua, empat, enam, delapan, baru sedikit sayang, Tante mau belikan kamu baju yang banyak, Tante tuh gak punya anak perempuan loh, makanya Tante mau manjain kamu, Tante tuh udah anggap kamu seperti anak Tante sendiri." ucap Tante Mira dengan wajah yang tak kalah melas dari milik Senja.
Senja menarik napas pelan. Ia tersenyum kikuk mendengar ucapan Tante Mira. Bingung harus berkata apa, dan merespon bagaimana.
Dilain sisi ia senang bisa mengenal Tante Mira, soosk wanita yang mengagumkan bagi Senja. Apalagi sifat Tante Mira yang mampu membuat Senja melupakan kesedihannya.
Senja meletakkan semua paper bag di sampingnya, kemudian tangannya menyentuh tangan Tante Mira.
"Senja sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan Tante, sungguh ini merupakan bagian dari kebahagiaan Senja. Senja juga sangat bahagia karena Tante begitu baik kepada Senja, apalagi sampai menganggap Senja sebagai anak Tante."
"Selain itu, Senja juga ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada Tante karena sudah memberikan barang-barang sebanyak ini kepada Senja. Bukan maksud Senja untuk menolak rezeki, yang di kirim Allah melalui Tante, tapi sesuatu hal yang berlebihan juga tidak baik. Nanti kalau mubadzir bagaimana? atau kalau Senja menjadi sombong dan tidak pandai bersyukur bagaimana?.
"Dari pada memberikan baju-baju mewah untuk Senja, Senja lebih senang jika kita bisa membaginya pada orang yang tidak mampu di luar sana Tante."
Senja masih tersenyum lembut dengan menatap Tante Mira yang tersenyum terharu mendengar ucapan Senja. Bahkan ia sampai meneteskan air mata mendengar setiap kalimat yang diucapkan Senja.
"I'am so happy, baiklah sayang, sesuai dengan permintaan kamu, Tante tidak akan membelikan pakaian lagi yah, tapi untuk semua paper bag ini, Tante mau kamu terima oke." ucap Tante Mira dengan tersenyum.
Senja mengangguk dengan tersenyum.
Kini keduanya tengah berada di salah satu restauran, kebetulan restauran ini milik Tante Mira sendiri, yang letaknya tidak jauh dari Mall tempat mereka berbelanja tadi.
"Siang, tolong siapkan ruangan khusus seperti biasa, dan menu-menu istimewanya juga." ucap Tante Mira.
"Baik Nyonya, mari Nyonya saya antar." pelayan tersebut berjalan terlebih dahulu, memandu Tante Mira dan Senja menuju ruangan khusus yang berada di dalam restauran.
"Silakan Nyonya dan Nona." pelayan tersebut tersenyum kemudian pamit ke belakang untuk menyiapkan menu-menu istimewa atau menu-menu andalan restauran tersebut.
Selang beberapa saat, para pelayan datang dengan membawa beberapa menu-menu istimewa tersebut. Ada dimsum udang, cumi crispy, kepiting saos Italia, losbter bakar dengan saos BBQ, kari udang dan sate kambing.
"Ayo dimakan sayang, ini semua khusus kamu." ucap Tante Mira.
"I-ini terlalu banyak Tante." ucap Senja tak berkedip menatap makanan yang tersaji di atas meja.
Tante Mira hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya. Ia sangat menyukai karakter Senja, walaupun ini baru pertemuan kedua mereka, tapi rasanya ia sudah sangat menyayangi perempuan di sampingnya saat ini.
"Gimana rasanya? Apa ada yang kurang?" tanya Tante Mira.
"Ini sih perfect Tante." ucap Senja dengan jujur. Karena memang semua makanan di restauran itu sangatlah enak, tak salah jika restauran tersebut menjadi salah satu restauran favorit di kota tersebut.
***
"Rey, Reyhan." panggil Riko ketika memeriksa CV taaruf milik gadis yang bernama Maura.
"Apa?" Reyhan tetap tidak mengalihkan fokusnya pada laptop di hadapannya.
"Lihat ini." seru Riko sekali lagi.
"Rey lihat ini!" teriak Riko karena tidak mendapat respon yang dia inginkan dari Reyhan.
"Apaan sih Rik, ganggu deh, laporan ini udah harus selesai besok." gerutu Reyhan.
"Ini jauh lebih penting, sini deh, kamu pasti kaget banget, sini deh." panggil Riko, meminta Reyhan mendekat.
Reyhan datang menghampiri Riko dengan bersungut kesal.
"Apa? Awas kalau gak penting." ucap Reyhan, sembari mendudukkan dirinya di samping Riko.
"Nah." Riko menunjukkan map yang ia pegang.
"Kok kayak gini Rik?" Reyhan mengambil alih map tersebut dari tangan Riko.
"Itulah, aneh kan, coba kamu sobek, itu masih ada map lagi, nempel jadi satu." jelas Riko dengan menatap map tersebut.
Reyhan langsung menyobek map tersebut, benar dugaan Riko, ada dua map yang ditempelkan menjadi satu. Semakin dibuka Reyhan dan Riko melihat ada tulisan di dalam map tersebut.
"Sen ..... Sen apa itu Rey? Pelan-pelan dong biar jelas tulisannya." ucap Riko.
"Iya-iya bawel."
Riko menatap intens tulisan di dalam map tersebut.
"Se ... Maura Salsa....." Riko membaca tulisan tersebut. "Ah... kamu sih Rey, gak kebaca kan tulisannya, itu mapnya rusak." keluh Riko.
"Lemnya terlalu menempel Rik, kamu juga kalau buka pasti kayak gini." sungut Reyhan tidak terima.
"Udah salah malah nyalahin orang." Riko mencabik kesal.
"Tapi Rik, ini kayak nama orang kan? Apa jangan-jangan ini nama asli Maura?" tebak Reyhan.
"Bisa jadi sih, aku juga sempat curiga Rey, lagian susah cari nama Maura yang gak pake kepanjangan." ucap Riko.
"Kalau benar ini nama dia, kenapa dia palsuin nama yang di dalam CV yah?" Reyhan masih berpikir alasan apa yang kira-kira memungkinkan Maura untuk memalsukan namanya.
"Mungkin sejak awal dia memang tidak ada niat untuk berta'aruf denganmu." ucap asal Riko, yang langsung mendapat sentilan dari Reyhan.
"Aduh! Sakit dodol." Riko mengaduh kesakitan dengan mengusap keningnya.
"Lagian punya mulut kok gak dijaga." ucap Reyhan.
"Itu masih kemungkinan Rey, aku hanya memberikan kemungkinan yang terjadi." ucap Riko.
Reyhan menatap tulisan tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa disaat aku ingin melupakanmu, dan mencoba untuk mengikhlaskan kamu, tiba-tiba petunjuk ini ditemukan, apa ini artinya aku tidak boleh menyerah untuk mencarimu Maura?"