
"Ma-maaf Bos." cicitnya dengan takut-takut.
PLAK!
"Bod*h!" ucap Fino dengan raut wajah marah
BUGH!
Fino menampar dan memukul anak buahnya yang berhasil kabur dan kembali ke markas dengan mengatakan kalimat 'maaf'. Membuat seketika darahnya mendidih dan rasa marah menyelimutinya.
"Akkhh...! Breng**k!" Fino berteriak mengamuk.
Ia marah karena semua urusannya di usik, apalagi yang mengusiknya adalah Reyhan dan Geri.
BRAK!
Fino berteriak dan membanting apa saja yang bisa ia banting. Anak buahnya yang melihatnya hanya mampu membungkam mulutnya dengan tetap menunduk, agar Fino tidak menyerang mereka dalam keadaan marah.
"Sial, kurang ajar, mereka membuat aku rugi! Berani mereka macam-macam." ucap Fino dengan mata yang memanas, tangannya terkepal dan berdarah karena menghancurkan barang-barang tadi.
"Baiklah, kita mulai peperangan yang sesungguhnya." ucap Fino dengan tersenyum miring.
****
"Mas." Senja menyambut suaminya sekitar jam 02.15 WIB.
Reyhan pulang ketika tengah malam, dan baru sampai rumah ketika sudah lewat tengah malam. Ia dan Geri berpisah di jalan, karena Geri pulang ke rumah Mama Mira, sementara dirinya pulang ke rumahnya sendiri.
Reyhan sebenarnya sudah membawa kunci cadangan rumah, hanya saja Senja yang memang terjaga dan biasa bangun malam, dapat merasakan bahwa Reyhan suaminya tidak ada di kamar, sepertinya ia menyadari bahwa Reyhan keluar malam-malam tanpa berpamitan dengannya.
"Kamu ngapain sayang?" Reyhan membawa pandangannya pada Senja yang sedang duduk di ruang tamu, ia langsung datang menghampiri Senja, dan ikut mendudukkan dirinya.
"Aku melihat Mas Reyhan tidak ada di kamar, makanya aku keluar untuk melihat apakah ada Mas Reyhan atau tidak, ternyata tidak ada." ucap Senja menjelaskan apa yang terjadi.
"Maaf yah." Reyhan meminta maaf dengan tersenyum lembut menatap Senja.
"Peluk." rengek Senja yang tiba-tiba bermanja pada Reyhan.
Ia merentangkan tangannya, dengan wajag imutnya meminta Reyhan untuk memeluknya. Reyhan terkekeh melihatnya.
"Tubuh aku kotor sayang, habis dari luar." ucap Reyhan dengan lembut.
Bukan maksudnya menolak, ia justru bahagia ketika Senja bermanja-manja dengannya, hanya saja, untuk saat ini tubuhnya benar-benar kotor akibat proses penangkapan sebelumnya.
Senja menggelangkan kepalanya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Mau peluk Mas, gak apa-apa, Mas gak kotor kok." ucap Senja kekeh.
Reyhan terkekeh mendengarnya, ia kemudian merapatkan duduknya pada Senja, dan membawa Senja ke dalam pelukannya.
"Kenapa tiba-tiba manja, hm?" tanya Reyhan dengan posisi mendekap hangat tubuh Senja yang memeluknya dengan erat.
"Entahlah." Senja menggelengkan kepalanya tak tahu.
Reyhan masih memeluk Senja, ia juga rindu dengan istri kecilnya ini, meskipun hanya sebentar tak jumpa, cukup membuat rasa rindu melanda hatinya.
"Sudah." ucap Senja melepaskan pelukannya setelah beberapa menit berlalu.
Reyhan mengecup kening Senja dan mengusap pucuk kepala Senja.
"Mau sahur sama menu apa Mas?" tanya Senja menatap Reyhan.
"Mau makan kamu boleh?" tanya Reyhan menggoda Senja.
Senja yang sudah paham arti makan bagi Reyhan tersipu dan merona.
Reyhan tersenyum melihatnya. "Kita sahur yah, aku tidak mau kamu kelelahan, lagipula waktunya sangat mepet." ucap Reyhan dengan tersenyum lembut.
Senja mengangguk.
"Mau menu apa Mas?" tanya Senja lagi.
"Apa saja, yang penting tidak menyulitkanmu." ucap Reyhan.
"Aku masak dulu, Mas bebersih badan yah." ucap Senja.
Reyhan mengangguk. "Siap." kemudian memberikan hormat seperti seorang tentara.
Senja tertawa pelan melihatnya. Ia pun bergegas ke dapur untuk memasak, sementara Reyhan pun segera membersihkan tubuhnya yang kotor dan bau keringat.
***
"Besok pagi akan ada asisten rumah tangga baru, nanti untuk urusan itu kamu yang urus yah sayang." ucap Reyhan.
"Kenapa tiba-tiba pake asisten rumah tangga Mas?" tanya Senja.
"Lebaran 2 hari lagi, pekerjaan rumah jadi makin bertambah. Lagipula, kan aku sudah pernah bilang, pekerjaan rumah tangga bukan tugasnya seorang istri, jadi aku gak mau, istri tercinta aku ini kelelahan atau bisa saja sakit karena banyaknya pekerjaan sebelum dan sesudah lebaran nanti." jelas Reyhan dengan suara lembut dan senyum yang manis.
Senja pun tersenyum dengan menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Tapi bolehkan Mas kalau aku buat kue untuk lebaran?" tanya Senja dengan penuh harap.
"Em, gimana yah." Reyhan terlihat berpikir dengan menatap Senja yang berharap akan dibolehkan.
"Please Mas, cuma buat 2 atau 3 macam kue lebaran." ucap Senja memohon.
"Nanti kamu capek sayang." ucap Reyhan.
"Gak capek Mas, boleh yah." bujuk Senja.
"Yaudah boleh, tapi dengan syarat, dibantu sama asisten rumah tangga yang datang besok, gimana, setuju?" tanya Reyhan memberikan syarat.
"Setuju, makasih Mas." ucap Senja dengan rautw ajah bahagia.
***
"Kapan lo bergerak Bel?" tanya Fino sembari menyesap wine.
Bella tersenyum miring mendengar pertanyaan Fino.
"Jangan coba-coba untuk mengatakan bahwa gue lambat Fino, lo jauh lambat dari gue." ucap Bella dengan sinis.
Fino mengernyitkan keningnya menatap tajam Bella yang tengah tersenyum sinis padanya.
"Apa kalimat pertanyaan gue ada yang mengatakan lo lambat?" tanya Fino.
"Cih!" Bella berdecih sinis.
"Hari ini transaksi gagal, besok apa lagi? Gue yakin lo akan mudah kecolongan kalau kayak gini terus Fin." ucap Bella.
Bella tahu bahwa semua transaksi penjualan gagal dikarenakan Geri dan Reyhan.
"Masih mau nunggu sampai lo kalah? Sampai lo jatuh se jatuh-jatuhny? Lo pikir Fin, emangnya apa yang mendasari Kak Reyhan dan Geri melakukan ini semua? Jika bukan karena mereka tahu, lo adalah pelaku pemer****an Senja." ucap Bella.
"Atau mereka tahu kalau lo udah ngancam Senja sampai ke rumahnya. Lo pikir mereka akan selesai sampai di sini? Gue yakin gak sih." lanjutnya dengan sinis.
"Terus usaha lo apa Bel? Lo cuma bisa nyuruh-nyuruh gue tanpa ikut bantu semuanya." ucap Fino dengan sinis pula.
"Jaga mulut lo yah Fin, lo kira tanpa bantuan gue gadis-gadis yang lo jual dapat dari mana? Kayangan? Lo pikir, usaha lo akan berkembang tanpa bantuan gue, dan untuk semua yang udah lo lakuin itu adalah bayaran yang sama sekali belum lunas bagi gue." ucap Bella dengan sengit.
"Lo bikin kita rugi banyak, lo tau gadis-gadis yang gue dapatin itu gak mudah." lanjutnya.
Fino mengepalkan tangannya, menatap tajam dan marah pada Bella, namun sadar ia tidak bisa apa-apa. Membunuh atau menghancurkan Bella, sama saja dengan menghancurkan dirinya sendiri.
Semua usaha yang sekarang ia tekuni tak lepas dari campur tangan Bella. Ia bisa mendapatkan para gadis karena Bella dengan mudahnya merayu dengan iming-iming pekerjaan bagus dan gaji yang besar. Bella menjadikan dirinya sebagai contoh atas suksesnya masa depan dirinya, ia juga membagikan brosur perusahaan dengan daftar list bidang yang masih kosong. Dan semuanya begitu menggiyurkan, apalagi bagi orang-orang desa yang hanya mengandalkan ijazah SMP atau SMA.
"Sekarang gini deh, lo cepat-cepat singkirin Senja dari Kak Reyhan, tapi setelah instruksi dari gue, setelah semua rencana gue berjalan lancar." ucap Bella.
"Kapan itu?" tanya Fino. Ia mulai tertarik dengan pembahasan Bella tentang rencana memisahkan Senja dari Reyhan.
Sejak malam itu, ia begitu tertarik pada Senja, ingin sepenuhnya menjadikan Senja sebagai wanitanya.
"Secepatnya, sangat cepat." ucap Bella dengan tersenyum miring.