Better Days

Better Days
Terkejut



"Kau sangat membosankan Tio, bahkan mendekati perempuan kuno sepertinya saja kau tidak bisa." ucap teman satu kelasnya, yang berkulit sawo matang.


"Aku sudah mencobanya, bahkan berulang kali, tapi memang dia saja yang sudah tidak seasik dulu." jawab laki-laki yang bernama Tio itu.


"Yah aku ingat, bagaimana dia menjadi sangat pendiam dan anti sosial selama beberapa bulan, sampai akhirnya dia mulai bersosialisasi, walaupun hanya dengan kaum perempuan, dan sangat membatasi diri dengan kita para lelaki." salah seorang laki-laki berkulit putih ikut menimpalinya.


"Memang dia pintar, tapi tidak cantik, lupakan taruhan itu, kita ganti target saja." laki-laki berkulit sawo matang memberikan usulannya, sambil menyesap rokok yang ia hidupkan.


"Sial! Tapi aku merasa tertantang karena dia tidak tersentuh." ucap Tio yang kurang setuju dengan pendapat temannya.


"Ada mangsa yang lebih menarik, hampir sama dengannya, sama-sama berpakaian kuno, kau pasti tahu Tio, sahabat dia, ah... lebih tepatnya kacung, karena aku sering melihatnya mengantar jemput Senja." ucap laki-laki berkulit putih.


Yah perempuan yang sejak tadi mereka bicarakan adalah Senja. Ingat saat Senja pernah disapa dengan seorang laki-laki? Dia lah Tio, dia dan teman-temannya menjadikan Senja barang taruhan, beruntung Senja tidak tertarik atau berminat menerima ajakan laki-laki itu, walaupun hanya sekedar mengobrol.


"Aku lebih tertarik dengan Senja, aku merasa dia begitu menarik, lagian aku penasaran dengan tubuhnya yang terbungkus pakaian kuno itu." ucap Tio sambil tersenyum miring.


"Parah, otakmu mulai tidak beres Tio, labelmu saja seorang mahasiswa di Universitas Islam, tapi isinya sangat-sangat buruk." laki-laki berkulit sawo matang mengomentari isi buruk pikiran Tio, dengan diakhiri gelak tawa ketiganya.


"Aku tetaplah Tio, semuanya hanya pencitraan, demi orang tuaku, selagi tidak ketahuan apa salahnya tetap melakukannya." Tio kembali tertawa setekah mengucapkan itu.


"Hei Hei! Ssstt, berhenti, yang kita bicarakan akhirnya lewat juga." laki-laki berkulit putih itu segera memberitahu Tio dan temannya.


"Biar aku mencobanya lagi." Tio langsung berdiri dari duduknya, dan segera menghampiri Senja.


Senja yang merasakan ada hal yang tidak beres mencoba tetap berjalan tanpa memperdulikan ketiga laki-laki yang menatapnya terus sejak tadi. Suasana kampus yang ramai membuat Senja merasa aman walaupun ia risih ketika Tio sudah menghadang langkahnya.


"Hai Senja." sapa Tio.


Senja menghentikan langkahnya, walau bagaimanapun dia bukanlah perempuan sombong yang tidak membalas sapaan orang lain, walaupun hanya dengan menatapnya sekilas.


"Kau sangat dingin Senja, apa itu tidak keterlaluan?" Tio masih tidak berhenti, ia kembali memulai obrolan.


"Maaf, aku sedang buru-buru, jadi tidak bisa banyak mengobrol, permisi." Senja kemudian berjalan melewati Tio begitu saja.


Kedua teman Tio sudah hampir meledakkan tawanya melihat Senja yang tidak menggubris Tio. Hal itu membuat Tio menjadi geram, dan menahan Senja dengan menarik pergelangan tangan Senja.


"Mau kemana sih, kita ngobrol aja dulu." Senja menautkan kedua alisnya, ada yang berbeda dari suara Tio.


"Lepaskan tanganku Tio." pinta Senja dengan mencoba melepaskan pegangan tangan Tio yang kuat dan menyakitkan, mungkin kini pergelangan tangannya sudah memerah dan membekas.


Tio menampilkan smirk dengan menatap Senja intens.


"Jangan kurang ajar Tio!" Senja menekankan kalimatnya.


"Senja!" Fara datang menghampiri Senja. Ia memang berniat menjemput Senja di prodi tempat Senja bimbingan tadi. Hanya saja, dalam perjalanan menuju ke sana, Fara melihat Senja yang seperti mengalami kesulitan karena ulah Tio.


"Lepasin tangan sahabatku." Fara mendorong tubuh Tio, hingga pegangan tangan Tio terlepas dan dia mundur beberapa langkah ke belakang.


"Ayo Bil, kita pergi, dasar cowok kurang etika." Fara menarik tangan Senja, membawa Senja untuk pergi dari sana.


"Sabar Far." Senja mencoba menenangkan Fara yang masih mengomel selama perjalanan pulang.


"Gak bisa di biarin dia Bil, udah berapa kali coba dia gangguin kamu, kesal aku lihatnya." omel Fara.


"Kamu ini."Senja menggelengkan kepala mendengarnya.


"Kita jadi pulang kan?" tanya Senja.


"Iya, mau ambil barang kamu di kosan?" tanya Fara.


"Gak usah, langsung pulang aja, lagian sorenya kita kan balik ke kota lagi." jawab Senja.


"Oke, kita langsung pulang."


***


"Mama yakin ini rumahnya?" tanya Reyhan. Menatap rumah sederhana di hadapannya.


"Mama yakin, ayo."


Mama Mira langsung mengetuk pintu rumah itu, sambil mengucapkan salam pada pemilik rumah. Sedangkan Reyhan, ia terlihat mengekori Mama Mira.


"Wa'alaikumsalam." terlihat seorang wanita lebih muda dari Mama Mira membuka pintu dengan tersenyum.


"Cari siapa Bu?" tanyanya menatap Mama Mira.


"Boleh saya masuk Bu?" ucap Mama Mira.


"Mari silakan masuk, maafkan saya yang kurang menyenangkan menyambut tamu."


Sang pemilik rumah kemudian mempersilakan Mama Mira dan Reyhan masuk, dan duduk di sofa ruang tamu.


"Tidak apa-apa Bu, wajar saja karena kita baru pertama kali bertemu, kenalkan nama saya Mira, dan ini anak saya Reyhan." ucap Mama Mira dengan tersenyum.


"Begini Bu Lusi, saya dan putra saya datang kemari untuk mengenal keluarga Senja, terutama orang tuanya." ucap Mama Mira membuat Reyhan menoleh dan menatapnya.


"Senja? Jadi ini rumah Senja, apa niat terselubung Mama, jangan bilang Mama mau..., astaga Ma."


"Oh.." Bunda Lusi ber o ria karena bingung harus meresponnya bagaimana.


"Saya sudah mengenal Senja selama beberapa minggu ini, memang terdengar sebentar, dan kehadiran saya ke sini ingin mengenal lebih jauh, dalam artian sebagai perjodohan atas putra saya Reyhan dengan putri Ibu Hana Senja." Oke Reyhan hampir kehilangan kesadarannya saat ini. Ia begitu terkejut dengan keberanian sang Mama, bahkan tanpa meminta persetujuannya.


Bunda Lusi tersenyum kaku, ia bingung harus merespon seperti apa, tidak menyangka putrinya yang masih terlalu muda, dan tidak pernah ia lihat pernah dekat dengan seorang laki-laki mana pun kini tiba-tiba dilamar oleh keluarga yang menurutnya bukan dari kalangan biasa.


"Begini Bu Mira, bukan maksud saya menolaknya. Ada beberapa alasan yang membuat saya belum bisa memutuskan semuanya. Pertama ini pertemuan pertama kita, jujur saya begitu terkejut, karena putri sulung saya yang tidak pernah dekat dengan siapapun bisa tiba-tiba dilamar. Kedua, soal perjodohan saya tidak bisa memutuskannya, semua ada di tangan Senja, saya sendiri walaupun sebagai orang tuanya tidak bisa seenaknya menjodohkan anak saya." Bunda Lusi mencoba memberikan alasan dengan penuh pengertian, takut disalah artikan oleh Mama Mira.


Mama Mira tersenyum, ia tidak merasa tersinggung sama sekali, bahkan ia merasa kagum kini, setelah mendengar semua alasan yang diberikan oleh Bunda Hana.


"Saya senang mendengarnya Bu Hana, saya pikir Ibu seperti kebanyakan orang tua di luar sana, seperti saya contohnya." Mama mira terkekeh di akhir ucapannya.


"Baru sadar Mama." cibir Reyhan dalam hati saat mendengar ucapan Mama Mira.


"Kalau Ibu Mira dan Nak Reyhan bersedia, boleh menunggu di sini, tadi Senja ngabarin kalau dia akan pulang setelah bimbingan, mungkin sebentar lagi, karena saat ini dia sudah di perjalanan." ucap Bunda Lusi.


"Boleh Bu, kami akan menunggu Senja." ucap Mama Mira menerima ide dari Bunda Hana. " Bu Lusi, saya mohon maaf yah, kalau kedatangan kami tiba-tiba, kami datang cuma berdua, padahal ada suami dan anak sulung saya. Maaf mereka tidak datang karena ada kesibukan katanya, mereka menitipkan salam untuk Bu Hana." lanjutnya dengan tersenyum.


"Sibuk, aku sibuk Mama paksa ikut." Reyhan mencibir dalam hati.


"Tidak apa-apa Bu Mira."


Mereka bertiga melanjutkan mengobrol, membahas hal-hal ringan sambil menunggu kepulangan Senja. Sesekali Reyhan juga ikut menimpali jika dibutuhkan. Bunda juga sedikit menceritakan tentang hubungan dia dengan Ayah Senja, bahwa keduanya sudah bercerai sejak beberapa tahun yang lalu, untuk alasan atau penyebabnya ia tentu tidak akan menyebarkannya.


"Assalamu'alaikum." suara lembut menyapa telinga ketiganya, sontak membuat ketiganya menoleh ke sumber suara.


"Wa'alaikumsalam." ketiganya menjawab salam dari Senja. Mama Mira dengan senyum cerahnya, Bunda Lusi dengan senyum lembutnya dan Reyhan dengan wajah datarnya.


Dengan wajah bingung dan terkejutnya, Senja datang menghampiri ketiganya. Menyalami Bunda dan Mama Mira secara bergantian, dan berganti menatap sekilas ke arah Reyhan.


"Halo sayang." sapa Mama Mira.


"Halo Tante, ini... ." Senja tidak melanjutkan ucapannya karena Bunda langsung memotongnya.


"Duduk dulu Mbak." ucap Bunda meminta Senja duduk di sampingnya. "Bagaimana bimbingannya? Lancar?" tanya Bunda sebagai permulaan.


Senja mendudukkan dirinya. "Alhamdulillah Bun." Jawabnya pelan, kemudian menunggu apa yang akan diucapkan oleh salah satu dari ketiganya.


"Begini Mbak..."


"Em, biar saya saja yang menjelaskannya Bu." Tante Mira memotong ucapan Bunda Lusi. Bunda mengangguk dengan tersenyum, sementara Reyhan tidak berniat mencegahnya ataupun ikut campur, ia cenderung penasaran dengan reaksi yang di keluarkan Senja nanti.


"Tante yakin Senja pasti kebingungan kenapa tiba-tiba Tante dan Reyhan datang ke rumah Senja." Senja mengangguk pelan.


"Selama mengenal Senja Tante merasa nyaman, dan cocok, itulah mengapa kadang-kadang Tante sering memberikan panggilan 'sayang' atau 'calon mantu' untuk Senja." Senja masih mendengarkan, jujur jantungnya sudah berdetak lebih cepat, pikirannya sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Mama Mira selanjutnya.


"Jadi Tante pikir, setelah menimbangnya dari pertemuan awal kita, Tante ingin menjadikan Senja....." Senja menahan napasnya, tangannya bergetar menunggu apa yang diucapkan Mama Mira.


"Menantu Tante, itulah sebabnya Tante ke sini ingin membuat perjodohan antara Senja dan Reyhan." lanjutnya dengan tetap tersenyum menatap Senja.


Senja menampilkan wajah terkejutnya, menarik napas dengan cepat tanpa bisa menghentikan getaran di tangannya.


"Apa ini, kenapa jadi sejauh ini." batin Senja menatap Mama Mira.


"Dia tidak tahu apa-apa, jadi ini semua rencana Mama." Reyhan menghembuskan napas pelan, dengan tetap menatap Senja intens.


Melihat tak ada ucapan apapun dari Senja, Tante Mira kemudian melanjutkan ucapannya. Cukup senang melihat reaksi Senja yang terkejut karena ucapannya.


"Tante tahu ini semua membuat Senja terkejut, tapi Tante mohon Senja mau mempertimbangkan semua keputusan Senja, Tante sangat berharap Senja menjadi bagian dari keluarga Tante." ucap Tante Mira tulus.


"Ma, Tante Lusi, boleh Reyhan mengajak Senja keluar jalan-jalan sekitar sini, sambil berbicara berdua dengannya, Reyhan pikir ini semua bukan hal sepele yang harus diputuskan secepat itu. Kita berdua juga butuh pendekatan." ucap Reyhan. Tante Mira dan Bunda mengangguk setuju.


"Mama setuju, bagaimana Bu?"


"Saya setuju, Mbak?" Bunda mengalihkan pandangannya pada Senja.


"Em, a-anu Bun." Senja masih belum terlalu fokus, ia tidak semudah itu menerima semua yang terjadi secara tiba-tiba.


"Ayo Senja." tanpa menunggu jawaban iya atau tidak dari Senja, Reyhan sudah berdiri dan menarik tangan Senja untuk keluar bersamanya.


"Bagaimana ini." harap-harap cemas Senja mengikuti langkah kaki Reyhan.


Dapat Reyhan rasakan dingin dan bergetarnya tangan Senja, yang membuat Reyhan tersenyum miring.


To be continue...