Better Days

Better Days
Ke Kantor



Setelah dari rumah ayah Bayu, Senja melanjutkan perjalanannya menuju kantor Reyhan. Sesuai janjinya ia akan menemani Reyhan seharian di kantor, meskipun hal itu akan menjadi aneh baginya, karena ini pengalaman pertama baginya.


Perjalanan menuju kantor memakan waktu kurang lebih 1 jam, karena Senja harus putar balik dari rumah Ayah Bayu. Arah yang berlawanan membuatnya harus menempuh perjalanan lebih lama.


"Bapak sudah pernah pergi ke kantor Mas Reyhan?" tanya Senja mengusir kekosongan selama perjalanan.


"Sering Non, kan sebelum ikut Tuan Reyhan, saya dulu ikut keluarga Tuan Alex Non." jawab pak supir.


"Wah... berpengalaman yah Pak."


"Alhamdulillah Non."


"Sudah berapa tahun ikut keluarga Papa Pak?" tanya Senja, ia jadi tidak jenuh ada Pak supir yang menemaninya ngobrol.


"Sudah sejak Tuan Reyhan berumur 10 tahun Non." jawabnya.


"MasyaAllah, sudah sangat lama yah Pak."


"Iya Non."


"Dan sekarang Bapak ikut Mas Reyhan apa tidak apa-apa Pak?" tanya Senja.


"Justru ini permintaan Nyonya Mira Non, katanya untuk menantu tersayangnya." jawab Pak Supir dengan tersenyum.


Senja tersenyum malu mendengarnya, ia tiba-tiba merasa rindu dengan Mama Mira.


"Oh iya Pak, kantor keluarga Mas Reyhan itu besar yah Pak?" tanya Senja.


"Waaah besar sekali Non." ujarnya. "Nah Non lihat gedung itu, perusahaan keluarga Tuan Reyhan tiga kali gedung besarnya Non." lanjutnya dengan antusias.


"Besar banget Pak." Senja bergumam kagum ketika membayangkan besarnya gedung perusahaan milik keluarga Alfarisi.


"Iya Non, makanya perusahaan keluarga Tuan Reyhan itu menjadi salah satu perusahaan incaran para investor-investor saham." ucap Pak supir.


"Bapak sepertinya tahu banyak yah."


"Hehehe, hanya sekedarnya Non, suka baca majalah bisnis milik Tuan Alex biasanya." ucap Pak supir.


Senja mengangguk paham. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada gedung-gedung mewah selama perjalanan menuju kantor. Hiruk piruk kota yang begitu ramai menbuatnya merasa bosan, dan ingin segera sampai ke tujuan.


Perjalanan yang lumayan menyenangkan dan cenderung membosankan kini berakhir ketika mobil mulai memasuki halaman perusahaan yang begitu luas. Senja menatap kagum ketika melihat megahnya bangunan perusahaan tersebut.


"Silakan Non." Pak supir membukakan pintu mobil untuk Senja.


"Terimakasih Pak."


"Mari saya antar sampai ke ruangan Tuan Reyhan Non." ucapnya sambil menunjukkan jalan.


Senja mengikuti dari belakang, karena memang sejak awal Reyhan sudah menitipkan pesan untuk Pak supir mengantar Senja sampai ke ruangan Reyhan.


Security tersenyum dengan menundukkan kepala ketika Senja berjalan lewat di depan mereka, sedangkan para karyawan hanya memandang bingung penuh pertanyaan ketika melihat Senja. Wanita berhijab syar'i dengan gamis panjang menutupi tubuhnya. Namun mereka tidak dapat melarang Senja masuk karena ia datang bersama pak supir yang memang sudah biasa berkunjung ke kantor milik keluarga Alfarisi.


Sudah sangat familiar bagi mereka semua. Bahkan supir keluarga Alfarisi sekalipun mereka tahu. Itulah sebabnya tak ada yang heran ketika melihat pak supir datang dan mengunjungi kantor.


"Pak Hanif." panggil Beni sekretaris Papa Alex yang kini beralih menjadi sekretaris Reyhan.


"Eh Mas Beni, ini Mas, Tuan Reyhan nya ada?" tanyanya.


"Ada Pak." jawabnya kemudian mengalihkan pandangannya menatap Senja yang tengah menatap kemegahan gedung kantor keluarga Alfarisi.


"Bisa tolong beritahukan Tuan Mas, soalnya Nona mau berkunjung." ucap Pak Hanif.


"Emang dia siapa Pak?" tanya Beni, masih belum mengalihkan pandangannya pada Senja.


"Sayang."


Baru saja Pak Hanif akan menjawab, namun teralihkan dengan suara panggilan dari arah belakang. Senja, Pak Hanif dan Beni pun menoleh.


"Sayang kok gak bilang kalau sudah sampai hm?" Reyhan langusng memeluk Senja tanpa malu di hadapan yang lain.


Senja yang terkejut pun hanya diam ketika Reyhan memeluknya dan mengelus kepalanya.


"Masuk yuk." Reyhan menggandeng tangan Senja membawanya ke dalam ruangannya.


"Tuan." panggil Pak Hanif pada Reyhan.


Reyhan dan Senja membalikkan tubuhnya, menatap Pak Hanif. Reyhan yang mengerti dengan tatapan Pak Hanif, segera mengalihkan pandangannya pada Senja.


"Sayang kamu masuk duluan yah, nanti aku nyusul." Senja mengangguk kemudian berjalan masuk duluan ke dalam ruangan Reyhan.


"Ada apa Pak?" tanya Reyhan dengan wajah serius dan datar.


"Begini Tuan, tadi selama perjalanan baik ketika menuju rumah Ayahnya Nona dan kantor Tuan ada mobil yang mengikuti kami dari belakang Tuan." ucap Pak Hanif pada Reyhan.


Reyhan mengerutkan keningnya.


"Hapal Tuan."


"Kirim ke saya, semua detail yang bapak lihat mengenai mobil itu." ucap Reyhan.


"Baik Tuan."


Reyhan mengalihkan pandangannya pada Beni.


"Beni, handle semua urusan yang berkaitan dengan laporan karyawan, sedangkan untuk laporan dewan direksi dan proposal kerja sama dengan perusahan lain kamu kasihkan ke saya." ucap Reyhan pada Beni.


"Siap Tuan."


Reyhan kemudian melangkahkan kakinya menyusul Senja yang sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangannya.


"Pak Hanif." panggil Beni. "Itu tadi istri Tuan Reyhan?" tanya Beni.


"Iya Mas, Non Senja namanya." jawab Pak Hanif dengan tersenyum. Beni menganggukkan kepala paham.


"Mas, seperti biasa, saya numpang istirahat yah, selama nungguin Tuan dan Nona pulang." ucap Pak Hanif.


"Iya Pak, ayo masuk ke ruangan saya." ajak Beni pada Pak Hanif.


***


"Capek sayang?" tanya Reyhan, ia mendudukkan dirinya di samping Senja, kemudian mengelus kepala Senja.


"Gak Mas, cuma bosan aja." jawab Senja dengan menyandarkan kepalanya pada dada bidang Reyhan, sambil memainkan kancing kemeja milik Reyhan.


Senja kemudian memperbaiki duduknya.


"Mas pasti banyak kerjaan kan? Maaf karena aku gak bisa bantu Mas. Soalnya aku gak paham dengan kerjaan kantoran, jadi aku tungguin Mas di sini aja gak apa-apa kan?" tanya Senja.


Reyhan tersenyum menatap Senja.


"Tugas kamu di sini cuma nemenin aku sayang, cukup dengan kamu duduk di sini, dan aku bisa leluasa melihat kamu, itu udah sangat membantu kesulitan aku." jawab Reyhan dengan lembut.


Senja tersenyum dengan mengangguk.


"Yaudah, Mas ke sana dulu yah, kamu kalau butuh apa-apa panggil Mas aja yah." ucap Reyhan kemudian mengecup kening Senja. Senja mengangguk patuh.


Reyhan terlihat begitu semangat mengerjakan tugas-tugas kantor yang begitu melelahkan. Namun ketika melihat Senja yang menyejukkan pandangannya seolah membuat seluruh beban masalahnya hilang. Dengan tetap fokus pada pekerjaannya, sesekali Reyhan juga diam mengamati apa yang dilakukan Senja.


"Itu remot sayang, kamu bisa nonton apapun film yang kamu suka, atau kamu mau baca buku-buku di rak itu juga boleh, semua yang ada di sini boleh kamu gunakan." ucap Reyhan.


"Kalau nonton nanti suaranya ganggu konsentrasi Mas Reyhan, emm aku mau baca buku aja Mas." ucap Senja kemudian berjalan ke arah rak buku.


Reyhan tersenyum dengan menganggukkan kepala.


Senja mengambil sebuah buku berjudul 'Biang Inovasi.' Ia merasa tertarik ketika melihatnya. Dari pada membaca buku-buku tentang bisnis, lebih baik jika ia bisa mendapatkan berbagai inovasi setelah membaca buku tersebut, begitulah pikirnya.


Senja memfokuskan dirinya pada kegiatan membaca. Dari posisi duduk, hingga ia membaringkan tubuhnya di sofa. Sofa yang begitu empuk, membuatnya nyaman, Hingga tanpa sadar ia menjatuhkan buku yang ia baca di atas tubuhnya dan matanya pun perlahan tertutup karena mengantuk.


Pukul 17:55 WIB


Reyhan menutup laptopnya dan membereskan berbagai berkas dokumen yang berada di atas mejanya. Ia kemudian bangkit dan berjalan menghampiri Senja. Melihat Senja yang tertidur pulas membuatnya tersenyum. Ia jongkok dan menatap Senja, tangannya terukur untuk mengelus pipi Senja.


"Eugh..." Senja memiringkan tubuhnya ke arah Reyhan. Ia masih tidak sadar jika saat ini Reyhan tengah menatapnya.


Dengan hati-hati Reyhan mengambil buku yang berada di atas tubuh Senja, meletakkannya di atas meja. Ia langsung menggendong Senja karena tidak ingin menganggu tidurnya. Senja yang memang mengantuk semakin mengeratkan pelukannya pada Reyhan.


"Pak Hanif, tolong siapkan mobilnya." ucap Reyhan ketika berada di luar ruangan.


"Baik Tuan."


"Ben, nanti tolong antar semua berkas yang di atas meja saya ke rumah." ucapnya pada Beni.


"Siap Tuan."


Masih dengan posisi yang sama, Reyhan tanpa merasa lelah menggendong Senja sampai parkiran. Dan aksi Reyhan tadi menjadi sorotan pada karyawan yang memang belum pulang dari kantor. Mereka semakin bertanya-tanya siapa perempuan yang begitu akrab dengan Reyhan, sampai-sampai Reyhan rela menggendongnya dari lantai atas sampai basement tempat parkir.


Dengan perlahan Reyhan membawa Senja yang berada dalam gendongannya masuk ke dalam mobil. Kemudian memposisikannya senyamannya mungkin, membawa Senja ke dalam pelukannya.


"Kemudikan mobilnya dengan santai saja Pak." ucap Reyhan.


"Baik Tuan.


"Selain membuntuti keseharian istri saya, apa yang dilakukan pengemudi mobil itu Pak?" tanya Reyhan, tangannya mengelus lembut pucuk kepala Senja.


"Tidak ada sih Tuan, hanya mengamati kegiatan Non Senja, seperti diintai begitu Tuan. Oh iya Tuan, tadi jumlah orang yang berada di dalam mobil ada 2 orang, satu bertugas mengemudikan mobil, dan yang satunya bertugas memfoto kegiatan Non Senja. Beruntungnya Non Senja tidak banyak aktifitas di luar ruangan Tuan." papar Pak Hanif.


Reyhan mengangguk paham. Tadi ketika Senja tertidur di ruangannya, ia sempat mencari tahu pemilik mobil tersebut. Hasilnya ternyata itu hanya mobil sewaan, dan yang menyewa pun menggunakan nama samaran. Hak inilah yang menyulitkan Reyhan untuk mengetahui siapa dibalik penguntit itu.