Better Days

Better Days
Trauma yang Masih Ada



"Halo Bos."


"Bagaimana Bim?"


"Saya berada di perumahan, tempat Nona Senja di sekap." ucap Bimo.


Sehari menjalankan tugas sebagai pengawal tambahan, membuat Bimo langsung mengenali siapa tawanan khusus yang harus ia jaga.


"Segera kirim alamatnya, tetap awasi dan jaga Senja, jangan biarkan Fino melukainya." ucap Geri di seberang telepon.


"Baik Bos."


"Bagaimana keadaannya?" tanya Geri.


"Nona baik-baik saja Bos, tidak seperti tawanan lainnya yang berada di penjara bawah tanah atau gudang, Fino memperlakukan Nona dengan baik, memberikan fasilitas dan pelayanan para pelayan dengan baik pula. Namun terlepas dari itu semua, jelas ini bukan tempat tinggal Bos, ini adalah penjara. Nona akan mengunci rapat pintu kamarnya ketika Fino datang, dan akan keluar kamar jika Fino tidak ada di rumah." jawab Bimo, menjelaskan semuanya. Sehari berada di rumah itu, cukup untuk bagi Bimo untuk mendapatkan informasi-informasi yang dia butuhkan. Pelayan yang terpikat akan ketampanan Bimo mulai memberikan info-info yang mereka ketahui, sementara pengawal lainnya pun sedikit memberikan informasi, dan itu lebih dari cukup.


"Pastikan semuanya aman sampai nanti malam, jangan sampai Fino curiga." ucap Geri.


"Siap Bos."


Geri mengingat ketika Bimo mengabarinya tentang perumahan tempat dimana Senja disekap, dan kebetulan Bimo sebagai pengawal tambahan yang bertugas menjaga Riani juga Senja.


Sementara Reyhan menatap jalanan yang begitu lenggang dengan tetap fokus menyetir, similir angin menerpa rambutnya yang ia biarkan kaca mobil itu terbuka. Bersamaan dengan itu ingatan-ingatan bersama Senja melintas.


"Tunggu aku Mauraku, tunggu aku" batin Reyhan menatap jalanan yang lenggang.


***


BUGH!!


Riani memukul tengkuk Fino, membuat Fino jatuh tak sadarkan diri.


Entah apa jadinya jika ia tidak keluar kamar dan mendengar teriakan Senja. Kini pandangannya beralih menatap Senja yang terisak di sudut ruangan dengan memeluk kedua lututnya. Jilbabnya sudah tak telepas bahkan gamisnya sobek meski tak sampai memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Senja." panggilnya dengan mendekat ke arah Senja.


Senja semakin mendekatkan dirinya ke dinding, seolah melihat sosok yang membuatnya takut.


"PERGI!" teriaknya dengan menangis.


"JANGAN MENDEKAT!"


Riani menggeleng pelan, ia ikut menangis melihat keadaan Senja.


"Ini aku, Riani." ucapnya dengan lembut, masih mencoba mendekati Senja.


Senja masih menangis, menatap Riani.


"Ini aku Riani." ucapnya lagi sembari menyentuh tangan Senja. Tanpa aba-aba ia memeluk Senja, menyalurkan rasa aman dan kehangatan bagi Senja. Tangannya mengelus pelan punggung Senja.


Senja masih menangis sesenggukan, rasanya kepalanya berputar, kejadian ini sangat tiba-tiba. Ia masih begitu syok, belum selesai trauma di masa lalu, kini mimpi buruk itu kembali menyerangnya. Menyerang fisik, terutama psikisnya. Senja lebih rapuh dari Riani, ia tidak mampu melewatinya jika saja kewarasannya sudah menghilang secara penuh.


Senja yang akan mengambil air minum di bawah dikejutkan dengan kedatangan Fino. Ia yang terkejut berniat akan menutup pintunya langsung. Namun kecepatan dan kekuatannya tak sebanding dengan Fino. Apalagi Fino yang memang dalam pengaruh alkohol semakin menjadi ketika melihat Senja, perempuan yang ia renggut kesuciannya dengan cara paksa. Tatapannya penuh nafsu, menelisik tubuh Senja yang tertutupi baju gamis panjang yang tak menampakkan lekuk tubuhnya.


"Baby." suara serak Fino membuat tubuh Senja membeku. Seketika kilasan-kilasan malam itu berputar di ingatannya, semakin membuatnya ketakutan.


Fino pun mendorong pintu kamar Senja dengan keras, mengakibatkan Senja terjatuh. Senja yang tak memiliki kesiapan apapun, belum lagi ketakutannya, traumanya yang kembali datang membuatnya tak mampu mengambil tindakan menghindar lebih cepat, belum lagi keterkejutannya melihat kedatangan Fino membuat tubuhnya seakan membeku tak mampu digerakkan.


"Hai Baby." Fino mendekat dengan tatapan penuh nafsu.


Tangannya terulur menyentuh Senja, membuat Senja tersadar dan segera mendorong Fino. Ia bangkit dan mencoba meraih knop pintu untuk segera keluar, namun sayang semuanya sia-sia. Tubuhnya dipeluk oleh Fino, dan dibawa ke atas ranjang.


Senja mencoba mendorong kembali Fino, namun yang didapat ialah tamparan keras dari Fino.


PLAK!!


"Diam!" bentaknya dengan setengah sadar.


Ia menarik paksa jilbab Senja, membuangnya asal. Setelahnya ia mencium ceruk leher Senja dengan penuh paksaan. Kedua tangan Senja dicekal dengan kuat sehingga ia hanya mampu menangis, merasa jijik untuk yang kedua kalinya. Pakaiannya pun sudah di robek oleh Fino, membuat Fino semakin menginginkan Senja.


Bahkan permohonan dan tangisannya tetap tidak mampu menembus hati nurani Fino. Nyatanya Fino memang tidak memiliki hati nurani.


BRAK!!


Pintu kamar didobrak oleh Bimo. Riani meminta bantuan Bimo untuk membuka pintu yang sudah dikunci dari dalam oleh Fino.


"Kamu tunggu di sini." ucap Riani pada Bimo. Ia yakin keadaan Senja saat ini pasti sangat buruk, dan ia tidaj ingin jika Bimo melihat itu. Jelas ia tahu batasan bagi wanita seperti Senja. "Akan aku panggil jika aku membutuhkanmu." lanjutnya dan segera masuk ke dalam.


"BRENG**K!!" teriak Riani menendang Fino, membuat Fino tersungkur ke bawah.


Sementara Senja langsung beringsut dengan wajah ketakutan yang sangat terlihat jelas.


Riani semakin geram saat Fino menatap Senja seolah belum puas dengan apa yang ia lakukan sebelumnya.


BUGH!!


Riani memukul tengkuk Fino, membuat Fino jatuh tak sadarkan diri.


Kembali pada masa sekarang.


"Kita ke kamar aku yah." ucap Riani meski tak mendapat respon dari Senja.


Melihat Senja yang hanya diam, dengan tatapan yang kosong, meski tak lagi menangis membuat Riani ikut merasa sakit.


Ia melepaskan pelukannya. "Aku ambil jilbab kamu dulu yah." tak ada respon dari Ruani. Nampaknya kejadian ini benar-benar memicu trauma itu kembali.


"Dasar Fino brengsek!" umpat Riani, ia menendang kaki Fino yang sudah tak sadarkan diri dengan keras.


"Pakai dulu yah." Riani dengan telaten memakaikan jilbab sorong pada Senja. Kemudian melilitkan selimut ke tubuh Senja, mengingat pakaiannya yang sudah tidak lagi utuh.


"Bimo." panggil Riani.


"Iya Nona." Bimo masuk dan melihat keadaan kamar. Pandangannya tak lepas dari Senja yang hanya duduk diam dengan tatapan kosong, terlihat mata sembab Senja dan pipi yang merah akibat tamparan Fino.


"Maafkan saya yang telat menolong Nona." batinnya menatap iba Senja.


"Bereskan si fu*king Fino itu! Aku akan bawa Senja ke kamarku." ucap Riani.


"Baik Nona."


Setelahnya Riani mambawa Senja yang sudah seperti mayat hidup. Raganya masih utuh, namun jiwanya, psikisnya tidak lagi utuh.


***


"Sial!" Bella menggeram marah melihat Riani yang menggagalkan rencananya, dan membantu Senja.


"Kurang ajar Riani, beraninya dia!" tangannya terkepal menatap Riani dan Senja.


"Semuanya belum berakhir Senja, sebelum kamu dan keluarga kamu hancur." ucapmya dengan sorot mata penuh dendam.