
Kepulangan Senja dan Reyhan mendapat sambutan hangat dari keluarga. Apalagi Mama Mira yang langsung membawa Senja untuk mengobrol bersama. Sementara Reyhan pergi ke ruang kerja Papa Alex.
"Dimana Kak Geri Pa?" tanya Reyhan.
"Sudah kembali ke NY, bisnisnya tidak bisa ditinggal lebih lama." jawab Papa Alex.
"Ini berkas apa Pa?" Reyhan mengambil berkas yang sedang diperiksa Papa Alex. "Penurunan saham?" kening Reyhan berkerut membaca setiap detail berkas di tangannya.
"Yah seperti yang kamu lihat son, penurunan saham ini hanya sedikit, Papa masih bisa mengatasinya." ucap Papa Alex.
"Kalau butuh bantuan Papa bisa panggil Reyhan." ucap Reyhan.
"Pasti."
"Apa penyebab turunnya saham ini Pa?" tanya Reyhan.
"Seminggu yang lalu Papa sempat menolak kerjasama dari GN-Company, Papa curiga hal ini berkaitan dengan penolakan hal itu, kamu tahu sendiri Rey, perusahaan itu terkenal dengan segala tipu dayanya, bahkan tidak segan-segan menghancurkan perusahaan lain yang menghalangi jalan mereka." jelas Papa Alex.
"Apa mereka mencoba meretas sistem keamanan perusahaan Pa?" tanya Reyhan.
"Bukan mencoba lagi Rey, sebelum kembali dipulihkan, kemarin mereka berhasil meretas sisitem keamanan perusahan, tapi kamu tenang saja, Geri sudah memulihkannya." jelas Papa Alex.
"Jadi itu alasan Kak Geri pulang." ucap Reyhan.
"Yah salah satunya begitu, Papa tidak ingin membebani kamu, kamu fokus dengan cita-cita kamu, nanti setelah bosan jadi dosen baru kamu gantikan posisi Papa." ucap Papa Alex dengan tersenyum.
"Maafkan Reyhan Pa."
"No problem son." Papa Alex menepuk pundak Reyhan dengan tersenyum.
Ia cukup tahu bagaimana cita-cita dan keinginan Reyhan sejak kecil. Menjadi seorang dosen muda yang berprestasi, dan semuanya terwujud. Walaupun ia ingin Reyhan melanjutkan kepemimpinannya, menggantikan posisi dirinya. Tapi ia tidak bisa memaksakan kehendak sepihaknya saja. Ia ingin Reyhan datang dengan sendirinya, ketika ia bosan menjadi dosen mungkin.
***
"Wah... Indah sekali Ma." ucap Senja menatap taman di belakang rumah. "Bunganya cantik-cantik." lanjutnya dengan tatapan takjub.
"Mama suka menanam yah?" tanya Senja sambil menghirup aroma wangi bunga-bunga tersebut.
"Ini bukan Mama yang menanam sayang." ucap Mama Mira. Ia berjalan menghampiri Senja.
"Terus siapa Ma?" Tanya Senja dengan raut wajah penasaran.
"Reyhan, suami kamu sayang." jawab Mama Mira. Senja melebarkan matanya terkejut mendengar jawaban Mama Mira.
"Pasti kamu gak nyangka yah." Senja mengangguk. "Reyhan emang begitu sayang, anaknya dingin tapi peduli, kadang juga suka jahil dan romantis, seperti yang ia lakukan pada taman ini. Karena permintaan Mama, dia ingin membuatnya sendiri, padahal dia bisa meminta tukang kebun untuk membuatkannya. Tapi Reyhan lebih memilih bersusah payah dalam membuatnya karena ingin memberikan yang terbaik untuk Mama kayanya." jelas Mama Mira dengan terkekeh.
Senja tersenyum mendengarnya, ia tidak menyangka jika Reyhan bisa semanis itu.
"Itulah sebabnya Mama juga yakin Reyhan pasti akan memberikan yang terbaik untuk kamu, karena sekarang, ada dua wanita di dalam hidupnya yang harus ia perlakukan dengan sangat istimewa, Mama dan kamu." ucap Mama Mira sambil menatap Senja.
"Ma." panggil Senja.
"Iya sayang?"
"Jika ada suatu hal tentang Senja yang akan membuat keluarga Mama malu, apa yang akan Mama lakukan?" tanya Senja dengan hati-hati.
"Sini duduk dulu." ajak Mama Mira pada Senja. Keduanya duduk di gazebo kayu minimalis namun nyaman. "Kenapa Senja tiba-tiba bicara seperti itu? Hm?" tanya Mama Mira.
"Gak kenapa-kenapa Ma, hanya tiba-tiba terlintas di pikiran Senja saja." ucap Senja.
Mama Mira mengangguk mengerti. "Baiklah karena Senja bertanya maka Mama jawab. Tergantung sebesar apa masalah itu sayang, kalau masalah itu memang berdampak sangat buruk, Mama harus bersikap tegas, tapi satu yang Mama yakin sama Senja, Senja adalah perempuan baik, yang InsyaAllah sholehah seperti yang Mama lihat. Jika ada masalah yang membuat keluarga Mama malu, maka di cari tahu dulu sayang, apa masalahnya, siapa penyebabnya, kapan dan dimana terjadinya, dan bagaimana cara mengatasinya." jawab Mama Mira.
"Mama tidak ingin gegabah dalam menyikapinya, mendapat Senja menjadi menantu Mama itu tidak mudah, jadi Mama tidak akan semudah itu menerima semuanya mentah-mentah, harus di saeing terlebih dahulu." lanjutnya dengan memeluk Senja.
"Senja mengerti Ma." ucap Senja dengan tersenyum dan membalas pelukan Mama Mira.
"Senja kalau ada masalah cerita sayang." ucapnya lagi.
"Iya Ma."
Hanya itu yang mampu Senja ucapkan, walaupun ia sendiri tahu, ia tidak bisa menceritakan apapun pada siapapun.
***
Buka bersama yang diharapkan Senja pun terlaksana. Tapi sebelum itu, Senja dan Mama Mira akan memasak dan mempersiapkan menu berbuka. Mereka akan pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan yang dibutuhkan.
"Kamu tanya suami kamu dulu yah sayang, dia mau makan apa, biar kamu tahu apa yang Reyhan suka dan apa yang tidak dia sukai." Senja menganggukkan kepala mendengar ucapan Mama Mira. Setelahnya ia langsung berjalan ke kamar untuk bertanya pada Reyhan.
"Mas." panggilnya. Reyhan menoleh dengan tersenyum.
"Ada apa?" tanyanya menatap Senja.
"Saya sama Mama mau ke supermarket, beli bahan masakan untuk berbuka, boleh?" tanya Senja.
"Boleh." jawab Reyhan. "Itu saja?" tanyanya.
"Gak, Senja mau tanya lagi, menu apa yang mau Mas makan untuk berbuka nanti?" tanya Senja dengan lembut.
"Kamu bisa masak apa?" kali ini Reyhan membalikkan pertanyaannya.
"Mas maunya apa? Emang susah yah menu yang Mas sukai?" tanya Senja.
Reyhan tersenyum dengan menggelangkan kepala. "Mudah kok, masak sup tomat ikan patin, sama udang crispy seperti waktu itu bisa?" tanya Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya pada Senja.
"Bisa, nanti Senja masak kan menu itu." ucap Senja yakin.
"Kalau gitu Senja pamit ke supermarket dulu." Senja mengambil tangan kanan Reyhan yang berada di atas laptop, kemudian menyalaminya dengan lembut dan bergegas keluar dari kamar. Karena jujur Senja masih sangat malu berhadapan langsung dengan Reyhan.
Sementara itu, Reyhan tersenyum melihat tingkah Senja. "Ah lucunya." desis Reyhan.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Senja berlari menuju parkiran.
"Sudah sayang?" tanya Mama Mira.
"Em sudah Ma." Mama Mira tersenyum melihat rona merah di kedua pipi Senja.
"Ayo berangkat, keburu sore."
Mobil melesat menuju supermarket lengkap terdekat. Sesampainya di sana Senja dan Mama Mira langsung memilih bahan yang dibutuhkan untuk membuat menu yang diinginkan Reyhan dan Papa Alex.
Hampir 1 jam mereka belanja, memutari supermarket, hingga akhirnya kini mereka sudah kembali ke rumah. Dan mulai mengolah semua bahan yang mereka beli tadi.
***
"Mau kemana Bel?" tanya Yumi, Mama dari Bella.
"Ke tempat Tante Mira." jawab Bella.
"Kapan kamu ada waktu untuk buka bersama di rumah? Papa nanyain kamu terus loh Bel." ucap Yumi pada sang putri.
"Dia tanya bukan karena peduli, lagian bukannya seneng yah gak ada lagi yang ngerecokin dia untuk selingkuh sama perempuan murahan itu." ucap Bella ketus.
"Kamu gak boleh ngomong kayak gitu Bel, walau bagaimana pun dia ayah kamu." ucap Yumi mencoba memberikan pengertian pada Bella.
"Mama sama Papa sama aja, gak usah sok peduli sama Bella, Bella bisa ngatasin semuanya sendiri." ucap Bella dengan smirk yang tidak Yumi lihat.
Tanpa memperdulikan Mamanya, Bella langsung melenggang pergi keluar rumah. Tekadnya sudah bulat, ia akan merebut Reyhan dari istrinya. Bila perlu melakukan apa saja agar rencananya berjalan mulus. Tidak tahu saja istri Reyhan adalah Senja. Entah akan jadi seperti apa nantinya.
"Kak Reyhan pasti akan jadi milikku." monolognya dengan tersenyum licik. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.