
Mama Mira bangun dengan semangat 45, pagi-pagi ia sudah merepotkan diri dengan banyak persiapan untuk menyambut Senja. Hari sudah menunjukkan pukul 13:00 WIB, dan ia juga sudah siap untuk menjemput Senja di kosannya.
"Nanti Geri sana Reyhan bakalan dateng kan Pa?" tanya Mama Mira memastikan janji kedua anaknya.
"Pasti Ma, sesibuk apapun mereka pasti menyempatkan untuk berbuka bersama di rumah, apalagi mereka berdua sangat-sangat menyayangi Mama." jawab Papa Alex.
Hari ini, khusus hari pertama puasa, Papa Alex sengaja tidak ke kantor. Urusan kantor ia serahkan kepada asisten pribadinya dan sekretarisnya. Ia ingin menghabiskan waktu di rumah, selama hari pertama puasa. Apalagi ia ingin menyambut sendiri kedatangan Geri anak sulungnya, Reyhan anak bungsunya, dan Senja yang digadang-gadangkan menjadi calon menantu pilihan istrinya sendiri.
"Yaudah, Mama pergi dulu yah Pa." Mama Mira mencium punggung tangan kanan suaminya dengan berpamitan mengucapkan salam sebelum berangkat menjemput Senja.
"Jangan ngebut-ngebut yah Pak, hati-hati di jalan, jaga istri dan calon menantu saya." pesan Papa Alex pada supir pribadi keluarganya.
"Siap Tuan."
Entah apa yang membuat mereka yakin kalau Senja akan menjadi menantu mereka. Sampai-sampai Senja sudah diberi cap sebagai 'calon menantu'. Padahal Senja sendiri tidak tahu menahu rencana mereka.
***
"Siang cantik." sapanya ketika melihat Senja keluar dari kamar kosan dengan balutan gamis panjang berwarna hitam yang dipadukan dengan jilbab berwarna mocca.
"Siang Tante." Senja tersenyum membalas sapaan Tante Mira.
"Ayo sayang, keburu sore, waktu kita tidak banyak." ajak Tante Mira dengan penuh semangat.
Mobil melesat sampai ke tempat tujuan, yaitu pasar tradisional yang buka setiap hari dan setiap saat di kota itu.
"Apa yang mau di beli terlebih dahulu Tante?" tanya Senja. Kini keduanya berjalan melihat-lihat isi pasar.
"Menurut Senja, cocoknya menu apa yang kita masak untuk berbuka?" Tante Mira balik bertanya pada Senja.
"Apa yah Tante, Senja juga bingung, soalnya kan selera keluarga Tenta sama Senja gak sama, takutnya nanti malah gak ada yang makan." ucap Senja dengan tersenyum.
"Keluarga Tante gak ribet kok sayang, mau masak apapun pasti di makan." Tante Mira tersenyum sembari mengajak Senja untuk pergi ke lapak daging.
"Kamu ada saran sayang?" tanya Tante Mira.
"Bikin semur daging yuk tante, kayaknya enak deh, terus ngerebus bayam, sama buat udang crispy." kali ini Senja menjawab pertanyaan Tante Mira dengan mantap.
"Senja tahu gimana caranya memilih daging yang bagus dan masih segar?" tanya Tante Mira.
Senja tersenyum dengan menganggukkan kepala, ia sedikit tahu dengan jawaban atas pertanyaan yang disampaikan tante Mira.
"Pertama, perhatikan kebersihan tempat daging sapi dijual, tampat jualan harus yang bersih dan terjauh dari hal-hal yang menyebabkan daging rusak. Kedua, cek warna daging sapi, daging yang baik yang memiliki warna kemerahan dan terlihat segar, jangan beli yang warna pucat. Ketiga, pastikan daging sapi tidak berair, biasanya yang berair atau yang lembek adalah daging gelonggongan, yang sudah di cekoki air. Keempat, cium aroma dari daging sapi, daging yang segar aromanya masih khas dengan sapi. Kelima, pegang tekstur daging sapi, daging yang masih segar kenyal dan tidak lembek ketika di pegang, kemudian tidak mudah hancur." jawab Senja dengan lancar menjelaskan yang ia ketahui.
"Biasanya itu yang Senja lihat kalau beli daging di pasar Tante." lanjutnya lagi dengan tersenyum.
"Kalau belinya di toko atau super market gimana?" tanya Tante Mira lagi. Sepertinya ia sedang menguji Senja sebagai menantu pilihannya.
"Kalau di tempat seperti itu, lihat tanggal kedaluwarsa daging sapi dan jangan beli daging yang beku, takutnya daging yang beku sudah terlalu lama di freezer Tante, kalau bisa beli baru di potong aja." Tenta Mira tersenyum mendengarnya.
"Senja sudah biasa belanja di pasar yah, kelihatan sudah sangat paham dengan semuanya." ucap Tante Mira memuji pengetahuan Senja.
"Itu basic setiap orang Tante, cari di internet juga banyak kok Tante."
"Walaupun bisa lihat di internet, tapi kebanyakan orang cuma tahu teorinya aja sayang, sedangkan kamu, mampu menjelaskan dan memilihkan daging yang bagus untuk Tante." jelas Tante Mira sambil menunjuk daging yang sudah mereka beli tadi.
Senja hanya tersenyum mendengarkan ucapan Tante Mira.
Kini keduanya berada di tempat penjual udang, dan lagi-lagi Tante Mira memberikan pertanyaan seputar pemilihan udang yang bagus dan segar. kemudian bertanya banyak hal yang alhamdulillah mampu di jawab oleh Senja.
"Tante udah kayak wartawan yah, dari tadi tanya-tanya mulu, kamu pasti bete yah jalan sama Tante." ucapnya tak enak hati.
"Aku malah seneng loh Tante, biasanya belanja itu jadi hal yang membosankan buat aku Tante, tapi hari ini belanja sama Tante begitu menyenangkan." ucap Senja sambil terkekeh pelan.
"Benar kata Papa, cerewetnya aku bisa buat dia jatuh cinta sama aku, begitu juga dengan Senja, dia bisa tertawa dan nyaman walaupun aku dari tadi gak berhenti ngomong." batin Tante Mira senang.
***
"Mama mana Pa?" tanya Geri anak pertama dari keluarga Alfarisi.
Nama lengkapnya ialah Ahmad Geri Alfarisi. Seorang pengusaha terkenal, dengan sisi lain yang hanya keluarga dan orang terdekatnya yang tahu.
"Lagi belanja, bentar lagi pulang, katanya sudah di jalan." jawab Papa Alex.
"Hei Bro." Geri bangkit dan memeluk Reyhan dengan hangat.
"Kapan dateng Kak?" tanya Reyhan sembari mendudukkan diri di samping sang Papa.
"Baru beberapa menit yang lalu." Reyhan menganggukkan kepala mendengar jawaban Geri.
Ketiganya mengobrol seputar masalah laki-laki atau juga masalah bisnis dan pekerjaan masing-masing. Reyhan dengan jadwa mengajarnya, Geri dengan usaha dia dan Papa Alex dengan perusahaannya.
"Bener yang dibilang Papa Rey, udah waktunya kamu menggantikan posisi Papa di perusahaan." ucap Geri menyetujui ucapan Papanya.
"Gak semudah itu lah Pa, Kak, aku perlu beradaptasi ulang, dan itu menyulitkanku, sekalipun aku sudah terbiasa dengan tugas kantor dari Papa." jawab Reyhan.
"Apa mau ikut bantu kerjaan aku di luar negeri?" tawar Geri dengan tersenyum penuh arti.
"Ngawur Kak!" Reyhan langsung melempar bantal sofa ke arah Geri, dan dengan sigap Geri menangkisnya, kemudian dia tertawa kencang melihat reaksi Reyhan.
"Becanda kali Rey, serius amat, aku tahu mana mungkin kamu mau ikut dengan usaha aku." ucap Geri dengan tertawa.
"Kalian ini kalau ketemu selalu aja ribut." ketiga pria yang tengah bercengkrama itu menoleh ke sumber suara, dan mendapati Tante Mira berkacak pinggang.
"Mama." Geri berlari ke arah Tenta Mira, kemudian memeluk sang Mama.
"Kayak anak kecil kamu Ger, malu umur udah tua." ucap Mama Mira kepada putranya.
"Lebih tua Mama dari pada aku Ma." Geri menjawab sekenanya.
"Kamu yah, pulang cuma setahun sekali malah jadi anak kurang ajar gini." Mama Mira menjewar telinga Geri,
sedang Geri berteriak mengaduh kesakitan.
"Jewer aja Ma, sampe panjang telinganya." Reyhan berteriak menyemangati Mama Mira.
Sedangkan Papa Alex hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala.
Senja yang baru masuk terdiam melihat adegan di hadapannya, sembari meringis melihat Geri yang berteriak mengaduh kesakitan.
"A...Ampun Ma, sakit Ma." teriaknya dengan keras.
"Makanya jangan nakal." Mama Mira kemudian melepaskan jewerannya.
Setelah kegaduhan candaan itu kini mereka kembali fokus, dan baru menyadari kehadiran Senja yang berada di tengah-tengah mereka.
"Siapa dia Ma." tanya Geri menatap Senja dari bawah sampai ke atas, seolah-olah akan menguliti Senja.
Senja yang ditatap seperti itu kembali menundukkan kepalanya.
"Jaga tatapan kamu Geri." tegur sang Mama.
Reyhan juga menatap Senja dengan tatapan bingung.
"Untuk apa dia di sini?"
"Sini sayang, jangan takut, anak-anak Tante emang gini bentukan mukanya." ucap Tante Mira sembari menyindir Geri dan Reyhan yang sedang menatap Senja.
Senja mendekat dan berdiri di samping Tante Mira, kepalanya masih tertundu menatap lantai putih di rumah itu.
"Ayo sayang, kita langsung ke belakang saja, jangan hiraukan mereka yah, yuk." Tante Mira menggandeng tangan Senja, mengajaknya ke dapur.
Geri dengan tatapan bingungnya berjalan ke arah Papa Alex dan Reyhan.
"Siapa perempuan itu Pa?" tanya Geri.
"Kamu tanya aja sama Reyhan atau Mamamu langsung." Papa Alex menjawab acuh tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas di pangkuannya.
Geri mengalihkan pandangannya menatap Reyhan. Menyadari hal itu Reyhan hanya mengangkat kedua bahunya, kemudian melenggang pergi ke kamarnya.
"Pada main rahasia-rahasiaan yah." Geri bersungut kesal dengan reaksi Reyhan dan Papa nya.
"Nanti kamu juga bakal tahu Ger." ucap Papa Alex.