
Bintang mengerjapkan matanya, kepalanya sedikit pusing, mungkin karena mendengar kabar yang membuatnya syok. Ia menatap sekeliling, sadar bahwa masih berada di rumah Mama Mira.
"Mbak... " lirihnya dengan menangis lagi.
Bintang memaksakan dirinya untuk duduk, hingga kini ia menyandarkan tubuhnya.
Mama Mira datang membawa teh hangat dengan semangkuk bubur. Ia tersenyum melihat Bintang yang sudah bangun, namun kembali sedih menyadari Bintang masih menangis.
"Syukurlah Bintang sudah bangun." Mama Mira meletakkan nampak tersebut di atas nakas, ia lalu mendudukkan diri di sisi ranjang dan mengelus kepala Bintang dengan lembut. Ia kembali memeluk Bintang memberikan usapan-usapan lembut di punggungnya.
"Bintang menangis saja dulu, Tante ada di sini." ucap Mama Mira dengan lembut.
Ia merasakan tubuh Bintang bergetar, dengan isakan-isakan pelan.
Hingga beberapa menit kemudian Bintang melepaskan pelukannya pada Mama Mira, dan mengusap air matanya.
Melihat Bintang yang mulai tenang, Mama Mira memberikan teh hangat agar Bintang merasa lebih baik.
"Diminum dulu sayang." ucap Mama Mira, memberikan teh hangat. "Tante tahu Bintang lagi tidak puasa, jadi makanya Tante buatkan teh hangat." lanjutnya menatap Bintang dengan tersenyum.
Bintang menerimanya dan meneguknya beberapa kali, lalu memberikannya pada Mama Mira kembali. "Terimakasih Tante."
"Bintang makan bubur dulu yah." tawar Mama Mira. "Sedikit saja, supaya Bintang ada tenaganya." lanjutnya membujuk Bintang.
Bintang mengangguk pelan. Ia akhirnya menerima suapan demi suapan dari Mama Mira. Meskipun tidak banyak namun itu sudah cukup untuk memeberibya tenaga, apalagi Bintang sedang haid, mengeluarkan banyak darah juga membutuhkan energi.
"Tante." panggilnya pelan.
"Iya Nak?"
"Bintang mau Kak Reyhan ke sini, ada sesuatu yang perlu Bintang sampaikan, mungkin ini bisa membantu untuk menemukan Mbak Senja yang diculik." ucapnya dengan sendu, rasanya ia ingin menangis lagi saat ini. Perasaannya memang sudah tidak enak sejak beberapa hari yang lalu, dan ternyata inilah kenyataan yang harus ia terima, Senja hilang diculik.
Mama Mira mengangguk paham, ia langsung memeluk Bintang sebelum keluar untuk memanggil Reyhan.
"Tante panggil Kak Reyhan dulu yah." ucap Mama Mira.
Bintang mengangguk pelan.
***
Dengan mata sembab, dan hidung memerah, Bintang menatap ketiga orang di hadapannya. Kini mereka berkumpul di dalam kamar tempat Bintang beristirahat. Papa Alex, Reyhan dan Mama Mira.
"Ada apa Bin? Kamu masih belum pulih, lebih baik kamu beristirahat saja saat ini." ucap Reyhan.
Bintang menggeleng pelan.
"Ada yang mau aku sampaikan Kak, ini tentang penculikan Mbak Senja." ucap Bintang.
Ketiganya langsung mengernyitkan keningnya. Sementara Bintang mengambil tasnya dan mengambil amplop coklat juga handphone miliknya.
Dia kemudian membuka amplop tersebut dan memberikannya pada Reyhan. Foto seorang laki-laki yang tengah mengintai rumah kediaman keluarga Senja yang ada di Jawa. Foto ini dicetak dan diambil dari CCTV yang berada di halaman rumah. Tak hanya satu, namun ada banyak, dan semua foto itu berbeda-beda gambarnya, juga waktu pengambilannya.
"Sejak Bintang dan Bunda sampai di Jawa, mereka sudah ada untuk mengintai kami." ucap Bintang membuka pembicaraan. Ia tahu ada yang mengintainya sebab Bintang sudah memiliki firasat tidak enak ketika tiba di bandara Surabaya. Rasanya seperti ada yang sedang mengawasi dirinya.
"Foto-foto ini diambil tepat sehari setelah kami tiba di sana. Entah mereka sengaja menampakkan dirinya, atau memang bodoh karena tidak melihat adanya CCTV dan kamera pengawas di pinggir jalan."
"Mereka tidak hanya satu, lebih jelasnya aku tidak tahu, tapi yang jelas pengintai di rumah, dan orang yang mengikuti kemanapun Bintang dan Bunda pergi adalah orang yang berbeda."
"Aku pernah sengaja memantau mereka melalui kamarku di lantai dua, menggunakan teropong. Namun tak ada yang bisa aku kenali dengan fisiknya, yang bisa aku lihat dia menggunakan jaket kulit berwarna hitam bergambar kalajengking dengan ular yang melingkarinya, hanya itu." ucap Bintang menceritakan semuanya.
"Empat hari yang lalu, sebelum aku kembali ke sini, Mbak Senja menelpon Bintang, Mbak bilang untuk jangan pergi kemana-mana selama berada di Jawa, kalaupun ingin pergi harus ditemani dengan saudara di sana. Begitu katanya, aku pikir Mbak juga mengalami hal yang sama, dan mungkin Mbak diancam dengan keselamatan aku juga Bunda." lanjutnya sembari menunjukkan bukti panggilan dari Senja, dan sedikit pesan teks yang ditinggalkan Senja.
"Ya Allah..." desis Reyhan. "Pasti Senja pergi bukan karena keinginannya, namun karena keadaan yang memaksanya." ucap Reyhan.
"Bintang yakin Mbak pasti diancam oleh orang itu, Mbak terlalu mencintai keluarganya, dibanding dirinya sendiri, pasti ini bukan karena keselamatan dirinya, melainkan Bintang dan Bunda." ucap Bintang menimpali.
"Mama setuju dengan teori Bintang. Melihat semua bukti yang ada, ini pasti memang sudah direncanakan sejak lama." ucap Mama Mira.
"Nak, apakah setelah hari itu pengintai itu masih mengintai dan mengikuti kamu pergi?" tanya Papa Alex.
"Enggak Om, Bintang yakin sekali mereka semua tiba-tiba saja menghilang, biasanya setiap pagi hari, ketika Bintang akan ke pasar, mereka selalu mengikuti kemanapun Bintang pergi, namun sejak hari dimana Bintang menghubungi Kak Reyhan. mereka sudah tidak terlihat lagi. Hari itu Mbak sudah tidak ada kan Kak?" ucap Bintang mengingat semuanya.
Bintang adalah gadis yang peka terhadap sekitarnya, ia bisa langsung mendeteksi bahaya jika ada yang tidak beres. Apalagi ini jelas sekali, jika bukan sekali atau dua kali Bintang melihat orang yang sama, menggunakan topi dan masker di sekitarnya, meski hal itu bisa saja kebetulan. Tapi Bintang bukanlah orang yang akan berpikir seperti itu.
"Iya, hari itu hari terakhir aku melihat istriku, Senja." ucap Reyhan. "Aku akan cari orang yang menggunakan jaket kulit bergambar kalajengking dengan ular yang melingkarinya itu." lanjutnya dengan pasti.
"Mau cari dimana Rey?" tanya Mama Mira.
"Aku punya kenalan Ma, Mama tenang saja, secepatnya kita akan menemukan Senja." jawab Reyhan.
"Pa, tolong temui Kombes Burneo, file bukti kejahatan Fino sudah aku kirim ke Kombes Burneo, nanti Papa tinggal membawa hard file yang dibutuhkan, ada di dalam kamar ku, di atas meja, Papa bisa membawanya. Sementara aku akan mencari orang-orang itu. Usahakan untuk membuat konsentrasi Fino terpecah." ucap Reyhan, dan mendapat anggukan dari Papa Alex.
"Siapa Fino?" tanya Bintang.
"Orang yang yang akan bertanggung jawab atas hilangnya Mbak Senja." ucap Reyhan.
"Dia orang yang menculik Mbak Senja?" tanya Bintang.
Reyhan hanya mengangguk pelan.
"Pokoknya Kakak harus membawa Mbak Senja pulang dengan selamat dan hukum orang itu dengan setimpal. Bila perlu tanganku sendiri yang akan menghukumnya." ucap Bintang dengan mata menyorot tajam.
"Pasti." ucap Reyhan.
"Aku pergi dulu Pa, Ma, kamu istirahat saja Bintang." Reyhan langsung pergi.
***
PLAK!!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Fino. Ia hanya bisa menahan amarah dalam dirinya dengan mengepalka. kedua tangannya. Kalau bisa ia akan mena.par balik laki-laki tua di hadapannya saat ini.
"Bikin malu keluarga!!" bentaknya dengan keras.
PLAK!!
Satu tamparan kembali mendarat di pipi kanan Fino. Panas menjalar, jika Fino dapat melihatnya, ia pastikan kedua pipinya memerah dan bengkak.
"Mamalukan!!" lagi, suara keras itu tidak ada yang bisa membantah. Fino di sidang di hadapan seluruh orang yang berada di kediaman Brahwesta. Dan yang menampar serta memarahinya adalah Papanya sendiri.
Lagi, tangannya diayunkan di udara, hendak menampar dan memukul Fino kembali.
"Pa! Cukup Pa!" teriak Nyonya Morina, istri dari Tuan Brahwesta. Mama dari Fino Brahwesta.
Ia menahan tangan Tuan Brahwesta agar tidak memukul anak semata wayangnya yang begitu ia sayangi. Seburuk-buruknya Fino tetaplah anak yang begitu ia banggakan dan ia sayangi. Dari kecil hingga dewasa, hanya Nyonya Morina yang memperlakukan Fino layaknya seorang anak tunggal dari keluarga Brahwesta. Sedangkan Tuan Brahwesta sendiri selalu memberikan pendidikan dan pelatihan ekstrem pada Fino. Ia ingin Fino bisa menjadi pembisnis hebat, yang tentunya akan mewarisi semua kekayaan keluarga Brahmesta. Akibat didikannya inilah yang membuat Fino menjadi anak berandalan ketika di luar, sedangkan di depan keluarganya ia menjadi anak kebanggan. Tidak tahu saja Fino tumbuh menjadi orang yang mengerikan, predator bagi gadis-gadis diluar sana.
"Jangan pukul Fino lagi!!" teriak Nyonya Morina.