Better Days

Better Days
Teror



Beberapa hari telah berlalu, kini Senja dan Reyhan sudah pindah ke rumah mereka sendiri. Reyhan juga juga memenuhi janjinya untuk memberikan supir bagi Senja, yang akan mengantarnya kemana pun Senja pergi, sesekali juga Reyhan mengantar Senja ke kampus.


Hari ini seperti tugas seorang istri, Senja bangun pukul 02:30 WIB, memasak untuk menu sahur bersama. Pukul 05:00 WIB mereka akan melaksanakan shalat berjamaah bersama, dan setelahnya Senja akan menyiapkan pakaian yang akan digunakan Reyhan untuk mengajar. Begitulah kegiatan Senja setiap harinya. Ia juga akan pergi ke kampus, dan pulang siang, kecuali ketika ia mengajar mangaji, ia akan pulang setelah maghrib, Reyhan juga sudah mengizinkannya.


Hubungan keduanya pun semakin dekat, bahkan kadang Reyhan tidak segan-segan untuk bermanja-manja dengan Senja, atau sedikit mengusili Senja. Reyhan mulai melupakan Mauranya, dan lebih memperhatikan Senja, ia menyukai apapun masakan Senja, bagaimana perhatian kecil dari Senja, ia menyukai semua itu. Dan mungkin karena hal itu juga Reyhan sudah memberikan ruang di hatinya untuk Senja.


Untuk Senja sendiri, ia masih memberi jarak antara dirinya dengan Reyhan, ia tidak ingin sampai melibatkan hati dan perasaan. Takut sesuatu terjadi maka dirinya akan terluka. Walaupun sebenarnya sadar atau tidak sadar, ia pun sama seperti Reyhan, mulai terbiasa dengan perlakuan manis dari Reyhan.


Di kamar.


"Mas, hari ini saya izin pulang sore boleh? Karena setelah selesai bimbingan ada sisa barang yang mau diambil di kosan." ucap Senja meminta izin pada Reyhan.


Reyhan menganggukkan kepala. Ia kemudian memberikan dasi yang ia pegang pada Senja.


"Tolong pakaikan." pintanya dengan lembut.


Senja mengambil dasi yang diberikan Reyhan, kemudian mencoba menjangkau kerah baju Reyhan yang tinggi, dengan berjinjit Senja berhasil mengalungkan dasi pada kerah baju Reyhan.


Sementara Senja fokus pada kegiatannya, Reyhan justru tersenyum melihat Senja yang kesusahan menyeimbangkan tubuhnya ketika berjinjit. Dengan tingkah usilnya, Reyhan malah menegakkan tubuhnya dan berjinjit pula. Senja semakin kewalahan karena ulah jahil Reyhan.


"Mas nunduk dikit." ucap Senja sambil mendongak menatap Reyhan.


"Kenapa?" tanya Reyhan tanpa wajah bersalah.


"Huft." Senja menghela napas kemudian menundukkan kepala, ia terkejut melihat Reyhan dengan sengaja ikut berjinjit.


"Mas jangan jinjit juga." ucap Senja dengan memanyunkan bibirnya menatap Reyhan.


"Bibir itu, apa dia sengaja membuatku tertarik."


"Kamu jinjit saya juga ikut jinjit dong." ucap Reyhan.


"Ih kan beda, saya kan pendek, gak nyampe, makanya jinjit, Mas udah tinggi pake jinjit makin ketinggian." keluh Senja membuat Reyhan tertawa mendengarnya.


"Kok ngomel sih, istri gak boleh ngomel-ngomel loh, harus manis sama suami." ucap Reyhan masih tak mau mengalah.


"Oke kalau gitu, Senja juga bisa lebih tinggi." ucap Senja dengan berkacak pinggang.


Senja langsung berjalan ke arah meja rias. Reyhan memperhatikan dengan memicingkan matanya, melihat apa yang akan dilakukan Senja.


Dengan bangga Senja menarik kursi, kemudian meletakkannya di hadapan Reyhan. Ia kemudian naik di atas kursi tersebut dengan tersenyum senang.


"See, aku lebih tinggi sekarang, Mas gak bisa main-main lagi." ucap Senja, kemudian melanjutkan kegiatan memasang dasi Reyhan.


Reyhan tertawa melihatnya.


"Dah selesai." ucap Senja selesai memasang dasi milik Reyhan.


"Aaaa, Mas, Mas turunin, Mas." Senja berteriak karena tiba-tiba Reyhan mengangkat tubuhnya, menggendong Senja dengan berputar.


Merasa usahanya sia-sia Senja akhirnya pasrah ketika kepalanya mulai pusing karena ulah jahil Reyhan. Reyhan dengan tersenyum bahagia meletakkan tubuh mungil Senja di atas ranjang.


"Ah kepalaku, Astaghfirullah kamarnya berputar." gumam Senja. Reyhan kembali tertawa.


"Mas jangan ketawa dong." ucap Senja dengan wajah kesal memegang kepalanya yang pusing.


"Kamu sih lucu, masa gitu aja pusing." ucap Reyhan kemudian mendudukkan dirinya di samping Senja.


"Siapa pun bakal pusing kalau diputar-putar begitu." ucap Senja sembari memijit pelipisnya.


"Sini, berbaringlah." ucap Reyhan, langsung meletakkan kepala Senja di pangkuannya. Ia kemudian memijat pelipis dan kening Senja dengan telaten.


"Mas pernah jadi tukang pijat yah?" tanya Senja dengan memejamkan matanya, menikmati setiap pijatan dari Reyhan.


"Kenapa?"


"Enak pijatannya." ucap Senja dengan tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya. Reyhan hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan tersenyum.


"Masih pusing?" tanya Reyhan.


"Masih sedikit, tapi mendingan." ucap Senja jujur.


Cup


Cup


Senja terkejut ketika kedua pelipis kepalanya di cium Reyhan, terasa lembut dan hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.


"InsyaAllah, kalau habis di cium suami gak akan pusing lagi." ucap Reyhan.


Senja langsung bangkit dan duduk dengan tegap di samping Reyhan. Pipinya bersemu merah saat ini.


"Ayo, Mas Reyhan harus ke kampus sekarang, kasihan mahasiswanya sudah nungguin." ucap Senja mengalihkan pembicaraan. Ia berdiri dan berjalan duluan keluar kamar.


Reyhan tersenyum melihatnya, baginya selalu saja ada tingkah menggemaskan Senja.


"Mas juga hati-hati di jalan, dan semangat ngajarnya." ucap Senja.


Mobil Reyhan mulai meninggalkan halaman rumah, dan keluar dari komplek perumahan yang mereka tempati. Selang beberapa menit setelah kepergian Reyhan, Senja pun berangkat ke kampus, diantar supir.


***


"Halo Bil." suara Fara di seberang telepon.


"Iya, kenapa Far?" tanya Senja sambil membuka kunci kamar kosannya.


"Td aku habis dari kosan kamu, ada yang ngantar paket, tapi aku gak tau siapa pengirimnya, terus yaudah aku masukkan aja ke kamar kamu, kebetulan kamu megangin aku kunci cadangan kan, jadinya aku yang terima paket kamu tadi pagi." ucap Fara.


"Oh... iya-iya, ini aku udah masuk ke kamar, ada paket di meja, makasih yah Far." ucap Senja.


"Oke bye, aku otw ke kosan kamu." kemudian panggilan terputus ketika Fara bilang mau ke kosan Senja.


Senja meletakkan handphonenya di atas meja, ia meraih paket yang diterima Fara tadi pagi. Benar-benar tidak ada nama pengirimnya, membuat Senja penasaran.


"Siapa pengirimnya." gumam Senja sambil mencoba membuka paket tersebut.


Setelah bungkusnya di buka, terlihat kotak berwarna hitam berukuran sedang, di luarnya ada tulisan tinta putih yang membuat Senja mengerutkan keningnya dengan wajah khawatir dan was-was. Tangan Senja yang mulai gemetar mencoba membuka perlahan kotak hitam tersebut.


"Aaaa!" Senja berteriak dan tak sengaja melempar kotak itu ke lantai.


Isinya berceceran memenuhi lantai kosan.


"Astaghfirullah." desis Senja sambil menelungkupkan wajahnya, terdengar isakan tangis dari Senja.


"Gimana ini, hiks." monolognya menatap isi kotak yang sudah berceceran.


Isi kotak itu ada tanah merah, dengan ratusan cacing, kemudian terdapat beberapa foto yang membuat Senja kembali mengingat masa lalu yang kelam itu.


"Assalamu'alaikum Bila." Fara masuk dan langsung membuka pintu kamar kosan.


Senja yang baru tersadar akan kedayangan Fara langsung bergeegas mengambil foto-foto yang berserakan di lantai, tanpa memperdulikan cacing-cacing yang menggeliat di lantai.


"Astaghfirullah! Apa ini Bil." Fara menutup mulutnya melihat berantakannya kamar Senja.


Senja menelan salivanya dengan kesusahan, tangan kirinya mencoba menyembunyikan foto-foto itu di belakang tubuhnya, sementara tangan kanannya mengusap sisa-sisa air mata yang masih terlihat.


Dengan berjingkat, Fara datang menghampiri Senja yang terlihat ketakutan. Fara langsung memeluk Senja dan mengusap kepala Senja dengan lembut.


"Kamu gak apa-apa kan?" Senja menggelengkan kepala di dalam pelukan Senja.


"Itu semua isi paket yang aku bilang?" tanya Fara dan lagi-lagi Senja hanya menganggukkan kepala.


"Siapa yang tega ngelakuin ini sama kamu, ya Allah." desis Fara dengan raut wajah marah.


"Kamu tunggu di sini, biar aku yang beresin semuanya." ucap Fara kemudian dia bangkit dan mengambil sapu untuk membersihkan tanah dan ratusan cacing tersebut.


Sementara Fara tengah sibuk membersihkan semuanya, Senja segera menyembunyikan foto-foto tersebut di bawah kasur.


"Semoga Fara tidak melihatnya." gumam Senja.


"Far aku mau ke kamar mandi dulu." Fara menganggukkan kepala.


Seluruh sisi dan sudut kamar Senja tak luput dari sapuan Fara, ia membersihkan tanpa menyisakan satu cacing atau sedikutnpun tanah.


"Apa ini." monolognya. Fara mencoba mengambil foto yang berada di bawah meja.


Ketika kotak tadi jatuh, isinya berserakan, dan salah satu foto yang terdapat di dalam kotak terhempas ke bawah meja. Senja yang tidak melihatnya pun tidak sempat menyembunyikan foto itu dari Fara.


"Astaghfirullah, Bila." Fara terkejut bukan main, ia sampai melebarkan matanya ketika melihat tersebut.


"Kenapa Far?" Senja sudah selesai membersihkann dirinya, ia berjalan menuju Fara.


Melihat Fara memegang salah satu foto itu, segera dengan cepat Senja mengambilnya dari Fara. Fara menoleh menatap raut wajah takut dan kekhawatiran dari Senja.


"Bil." panggil Fara pelan.


Senja hanya menggelangkan kepalanya dengan berjalan mundur. Air matanya kembali menetes, bahkan kali ini lebih deras dari sebelumnya.


"Bil." panggil Fara lagi dengan mata berkaca-kaca melihat keadaan Senja.


"Pergi! Pergi! Pergi." Senja berteriak histeris, ketika Fara ingin menyentuhnya.


"Bila ini aku Fara."


Fara segera menutup rapat pintu kosan. Ia tidak ingin orang-orang melihat keadaan Senja.


"Bil." panggil Fara lagi, ia menghampiri Senja dengan perlahan.


Melihat Senja yang menangis di pojok ruangan membuat hati Fara teriris, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan sahabatnya itu. Dan foto itu, Fara sungguh tekejut melihatnya.