
Pagi-pagi sekali Joni dan Heru sudah sampai di desa mati itu, mereka langsung menuju ke rumah yang menjadi markasnya selama ini.
"Joni, Heru!" teriak teman-temannya melihat kedatangan Joni dan Heru yang sudah lama menghilang.
"Ada apa dengan kalian? Kenapa keadaan kalian berdua menyedihkan sekali?" pertanyaan itu keluar dari para anak buah Fino lainnya, yang ikut memapah Joni dan Heru.
"Ceritanya panjang." jawab Heru.
"Kami mau bertemu Bos Fino, dia ada di dalam?" tanya Joni.
"Bos lagi gak ada di markas, mending obati luka kalian dan ganti dengan pakaian yang lebih baik, nanti malam akan ada rapat mungkin kalian bisa ikut hadir jika ingin bertemu Bos. Lagipula Bos juga sudah mencari kalian kemana-mana." ucapnya pada Joni dan Heru.
"Nanti anak buah lainnya akan mengantarkan kalian sarapan. Kalian berdua tidak puasa kan?" tanya temannya.
Joni dan Heru saling melirik. Seminggu berada dalam sekapan Geri, mereka berdua diajarkan untuk berpuasa seperti umat muslim lainnya. Mereka berdua akan dibangunkan saat waktunya sahur, dan akan diberikan makan ketika sudah waktunya berbuka puasa, lengkap dengan takjil dan menu berbuka lainnya. Sejahat-jahatnya Geri, namun tidak meninggalkan kewajibannya untuk tetap memperlakukan Joni dan Heru dengan baik, meski kadang disertai sedikit kekerasan.
"Kami berdua puasa." ucap Joni.
"Wuiiihhh tumben, tobat kalian?" teman-teman lainnya tertawa meledek Joni dan Heru.
Pasalnya kebiasaan orang-orang seperti mereka yah selalu melanggar syari'at Islam. Kewajiban yang utama saja, seperti shalat, dan puasa mereka langgar, bagi mereka semua itu tidaklah penting. Dan hari ini mereka tiba-tiba menyaksikan langsung dua kaki tangan yang paling setia kepada Fino berpuasa, yang biasanya mereka akan berpesta dengan minuman haram atau makan dengan bebas, sekarang Joni dan Heru berpuasa, sungguh mencengangkan.
"Hanya coba-coba." jawab Heru, merasa tidak suka menjadi bahan ledekan.
"Yah yah coba-coba aja, awas keterusan." ledeknya lagi dan disertai gelak tawa yang lainnya.
Joni dan Heru menghela napas tidak suka. Namun tidak punya tenaga lebih untuk menjawab ledekan dari teman-temannya.
"Sudah-sudah, biarkan Joni dan Heru beristirahat, kalian kembali bertugas dan kerjakan apa yang harus kalian kerjakan." ucap sang ketua kelompok.
"Baik." mereka semua segera membubarkan diri, meninggalkan Joni dan Heru yang bernapas lega. Hampir saja perubahan mereka menjadi bumerang untuk sir mereka.
"Lebih baik kalian segera membersihkan diri, dan persiapkan jawaban ketika bertemu Bos Fino." ucap sang ketua.
Joni dan Heru mengangguk. Posisi ketiganya memang sama-sama penting. Sebagai kaki tangan terpercaya Fino dan sebagai ketua yang juga dipercaya Fino.
Sepeninggalan ketua tersebut Joni dan Heru segera masuk ke dalam kamar masing-masing, dan segera membersihkan diri.
***
"Hai." sapa Riani pada Senja yang tengah membaca buku di rumah belakang.
Setelah memastikan Fino tidak ada di rumah, Senja memberanikan keluar kamar, ia juga bosan jika terus-terusan mengurung diri di kamar karena menghindari Fino.
Kali ini Senja tidak terlalu memasang kewaspadaan pada Riani. Ia lihat Riani cukup sopan meskipun pakaiannya tidak terlalu sopan. Yah Senja paham perbedaan berpakaian setiap orang, mungkin saja Riani juga berbeda keyakinan.
"Boleh gabung?" tanya Riani.
"Em boleh." jawaban Senja yang singkat cukup membuat Riani puas, ketimbang Senja yang menjauhinya atau menolak untuk berinteraksi dengannya.
"Baca buku apa?" tanya Riani lagi, ia akan terus bertanya agar memiliki topik pembicaraan dengan Senja.
"Perempuan Bertanya Fikih Menjawab, oh.. buku fikih." ucap Riani membaca judul buku tersebut.
Merasa tak enak pada Riani karena sedikit menjaga jarak, Senja mencoba mengobrol sedikit dengan Riani.
"Mau baca?" tawarnya pada Riani.
Riani tersenyum canggung. "Ehehe, No, aku tidak suka buku itu, yah meskipun aku orang Islam, aku hanya Islam KTP saja." ucap Riani.
"Ouh... kenapa tidak menjalani kehidupan sesuai dengan orang Islam pada umumnya?" tanya Senja, sambil membaca bagian buku bab Shalat.
"Terlalu banyak dosa yang sudah aku lakukan." jawab Riani.
"Allah Maha Pengampun, jadi jangan merasa rendah diri, bertaubat lah sungguh-sungguh maka Allah akan mengampunimu." ucap Senja.
"Masalahnya tidak semudah itu, sampai sekarang pun dosa itu masih terus berjalan beriringan denganku." ucap Riani dengan tersenyum getir, mengingat kejadian tiap kejadian saat bersama Fino. Bukan perlakuan cinta nan halal yang diberikan Fino, melainkan kenikmatan yang penuh dengan dosa.
Riano sadar secara penuh, ia melakuka kesalahan terus menerus, maka dosa yang ia tanggung pun akan semakin banyak. Namun apa dayanya, ia tidak mampu lepas dari Fino. Fino selalu mengancamnya dengan segala cara.
Senja menatap Riani dan melihat rasa sakit dibalik senyuman itu. Ia mulai meletakkan bukunya, san mengusap pundak Riani dengan pelan.
"Nasib kita sama Senja, tapi bedanya aku tidak pernah bisa lepas dari iblis itu." ucap Riani.
"Aku tidak tahu seberat apa masalah yang kamu jalani, tapi aku yakin semua pasti akan berakhir indah, kamu perempuan hebat Riani, kamu jauh lebih hebat dari aku." ucap Senja dengan suara lembut, menenangkan Riani yang tersenyum dengan air mata yang mengembun di pelupuk matanya.
"Ah aku sampai kelilipan." ia mengusap matanya, takut-takut jika Senja akan melihatnya menangis.
Senja hanya tersenyum tipis, ia tahu Riani sedang menahan agar tidak menangis.
"Sejak pertama aku melihatmu aku kira kamu akan berakhir sepertiku, tapi ternyata takdir berpihak padamu Senja, kamu bisa pergi jauh dari Fino. Tapu yang buat aku bingung dan tak mengerti kenapa kamu bisa sampai masuk ke dalam lumpur hitam ini lagi?" tanya Riani.
Senja paham kemana arah pembicaraan Riani. Ia menghela napas pelan dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu tahu aku?" tanya Senja.
"Maaf Senja, aku tahu kamu sejak malam itu, tapi aku tidak mampu menolongmu, karena nasib kita juga sama, hingga aku masih menjadi pelampiasan nafsu iblis itu sampai saat ini." jawab Riani dan tanpa sengaja menceritakan tentang hidupnya.
"Ya Allah." Senja membekap mulutnya, menatap Riani dengan perasaan tak enak, ia menjadi sangat kasihan pada Riani. Karena ternyata masih ada perempuan lainnya yang nasibnya jauh lebih buruk darinya. Entah bagaimana jadinya jika ia di posisi Riani, pasti ia akan mati secara perlahan, kewarasannya pun akan hilang dan semakin menggerogoti dirinya.
"Maaf Riani, aku...aku tidak bermaksud....."
"Tidak apa-apa Senja, aku sudah terbiasa kok, sedikit berdamai dengan jalan takdirku." Riani mengusap tangan Senja dengan tersenyum.
"Jadi apa kita menjadi teman?" tanya Riani dengan tersenyum.
Senja diam menatapnya. "Tenang saja, aku tidak bekerjasama dengan iblis bajingan itu." ucap Riani lagi.
Senja tersenyum dan menerima uluran tangan Riani, menjabatnya dan berkata "Kita teman." ucapnya.