
Di tempat yang berbeda, dipertemukan dan kemudian dipisahkan oleh takdir yang tak mampu mereka ubah sebelumnya. Kedua insan yang saling menahan rindu itu menangis dan berdoa dalam sujud mereka.
"Ya Allah, hamba serahkan semuanya kepada-Mu, jagakanlah orang-orang yang hamba sayang, lindungi mereka dalam lindunganmu. Berikanlah ketenangan dan hilangkanlah kekhawatiran dalam diri hamba."
Senja menangis dalam doanya. Ia mengingat hari-harinya ketika bersama dengan Reyhan. Saat segala rasa takut dan trauma nya menghilang dan hanya menjadi rasa bahagia. Senja sadar, untuk sekarang Allah sedang mengujinya, karena rasa cintanya pada Reyhan yang mengakibatkan dirinya takut untuk kehilangan Reyhan. Lagipula, sejak awal masalah ini memang belum selesai, dan Senja bertekad untuk menyelesaikan semuanya sendiri, meski harus mengorbankan dirinya.
"Aku merindukanmu Mas..." lirihnya menangis di atas sejadah, memeluk dirinya sendiri.
Di sisi lain, Reyhan pun merasakan kerinduan yang teramat pada Senja.
"Ya Allah, Ya Rabb, lindungi istri hamba, dan jagakan dia."
Reyhan tak henti-hentinya berdoa, matanya menangis, namun hatinya tetap beristighfar. Ia tahu ini ada ujian dalam pernikahannya.
"Aku tahu kamu kuat sayang, kamu mampu menghadapi semua ini, dengarkan aku humairahku, jangan takut, ada Allah yang menjagamu, kita pasti akan bertemu." ucap Reyhan dengan suara pelan dan bergetar.
***
"Makan dulu Rey." Geri menyodorkan makanan yang tadi dipesan.
"Nanti Kak."
Geri tahu Reyhan habis menangis, mata sembab dan sedikit memerah, ia tahu sang Adik sangat mengkhawatirkan Senja.
"Senja pasti baik-baik saja."
"Dia pasti ketakutan saat ini Kak, traumanya belum hilang, dan si brengsek itu malah semakin menbuat traumanya bertambah parah." ucap Reyhan.
"Seharusnya aku berada di sampingnya saat ini Kak, memberikannya ketenangan, bukannya ketakutan." lanjutnya dengan menitikkan air mata.
"Istighfar Re.. istighfar..." Geri menenangkan Reyhan.
"Astaghfirullah.." Reyhan beristighfar berulang kali. "Mungkin karena aku terlalu mencintainya, sehingga Allah menguji kami Kak." Reyhan menunduk dan menangis.
Ini kali pertama Geri melihat Reyhan menangis sesakit ini. Ia merangkul Reyhan dan menepuk pundaknya seolah menyalurkan kekuatan agar ia lebih tenang.
***
Senja memandang ke arah kolam tanpa menatap Fino yang berada di hadapannya. Tadi ketika selesai shalat isya' pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Hingga akhirnya ia membukanya dan mendapati Fino yang menatapnya dengan senyuman. Itulah sebabnya keduanya kini tengah mengobrol kan sesuatu di pinggir kolam.
"Apa lagi maumu?" tanya Senja dengan raut wajah datar.
"Tanda tangani surat ini." ucap Fino menyerahkan sebuah map.
Tanpa banyak bertanya Senja membuka map tersebut.
"Apa sebenarnya tujuan kamu? Belum puas dengan memisahkan saya dari suami dan keluarga saya?!" tanya Senja menatap dingin Fino. Ia meremas berkas tersebut dan melemparkannya ke dalam kolam.
Fino tersenyum miring melihat kemarahan Senja. Surat yang ia berikan adalah surat cerai. Inginnya Fino adalah Senja menandatangani surat tersebut, dan akan dukirimkan ke Reyhan kemudian di proses lewat jalur hukum. Dengan begitu Senja akan berpisah dengan Reyhan dan semua yang ia rencanakan akan berjalan lancar.
Senja menatap benci Fino. Berada di satu tempat dengan Fino membuat dirinya merasa kotor, bahkan sangat jijik dengan dirinya sendiri. Ia masih sangat mengingat bagaimana tangisannya hanya dianggap seperti angin lalu, dan permohonannya seperti candaan yang tak berarti baginya. Masih sangat jelas di ingatan Senja.
Sungguh memuakkan melihat wajah Fino yang tersenyum sinis sama penuh kemenangan itu. Wajah yang tidak pernah merasa bersalah barang meminta maaf kepadanya.
"Kau bisa membuatku jauh dari suami dan keluargaku, bahkan kau bisa membunuhku, tapi sungguh kau tidak akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan sejauh ini!" tegas Senja,
"Kau tidak lebih dari seorang kaki-laki brengsek yang tidak memiliki harga diri, jangan sentuh suami dan keluargaku atau aku akan melakukan sesuatu yang tidak kamu duga Fino!" tekan Senja menatap tajam Fino, ia kemudian meninggalkan Fino yang menatapnya dengan marah.
BRAK!!
Fino menendang kursi dan meja dihadapannya, ia sangat marah ketika melihat keberanian Senja untuk melawannya. Meski awalnya ia berpikir Senja akan menuruti kemauannya, dan kembali patuh padanya, namun semuanya salah, Senja semakin berani dan menantang dirinya.
Sementara itu Senja segera mengunci kamarnya. Tubuhnya merosot di balik pintu, bergetar dan menangis dalam diamnya. Sekuat tenaga berperang dengan ketakutannya, hingga ia bisa melawan keinginan Fino yang sudah sangat keterlaluan.
Ia menggumamkan istighfar dengan mengelus dadanya yang terasa sesak.
"Astaghfirullah, Astaghfirullah hal 'Adzim, ampuni hamba Ya Allah...."
***
Mama Mira menangis mendengar kabar yang diberitahukan oleh Papa Alex. Kini ia bersikeras untuk mencari keberadaan Senja. Menemukan Fino dan ingin memenjarakannya.
"Putriku yang malang." tangisnya dalam pelukan Papa Alex.
"Senja.... " lirihnya dengan memanggil Senja.
"Kenapa cobaan tidak ada habisnya untuk Senja Pa, hidupnya sudah cukup menderita." ucap Mama Mira, seolah menyalahkan takdir.
"Istighfar Ma, jangan berkata seperti itu." Papa Alex mengelus punggung Mama Mira, mencoba menenangkan Mama Mira yang menangis tak henti-hentinya.
"Senja hanya seorang anak yang menginginkan kehidupan normal nan bahagia, namun seolah takdir tidak mengizinkannya. Mama merasa ini tidak adil Pa. Ini tidak adil...." tangisannya kembali terdengar, mengingat Senja sudah ia anggap seperti putri kandungnya, Mama Mira begitu menyayangi Senja.
Meski Senja tidak pernah bercerita bagaimana kehidupannya selama ini, namun Mama Mira dapat melihat semuanya. Bagaimana hubungan kedua orang tua Senja yang masih tidak akur sampai saat ini, membuat Senja tumbuh menjadi anak pertama yang harus bisa menyelesaikan semua masalah sendiri.
Melihat sosok Senja yang sangat mandiri dan tidak ingin merepotkan semua orang membuat hati Mama Mira sakit. Ia seorang ibu, ia tahu bagaimana anaknya menyembunyikan semua masalahnya meskipun tidak pernah mengatakannya secara langsung.
"Mama mau ikut mencari Senja Pa." Mama Mira mengusap air matanya, menatap Papa Alex dengan mata sembabnya.
"Besok yah Ma, ini sudah malam, tidak memungkinkan untuk mencari Senja. Besok Kombes Burneo dan para kepolisian akan membantu mencari keberadaan Senja, kita akan segera membebaskan Senja." ucap Papa Alex.
"Dan memberi hukuman pada orang yang sudah menyakiti Senja Pa." ucap Mama Mira.
"Iya Ma..." Papa Alex mengangguk dengan tersenyum. "Besok juga Bintang akan datang ke Bengkulu, dia kembali karena memiliki firasat dan ikatan batin yang kuat kepada Senja. Jadi besok, Mama harus jauh lebih kuat dari sekarang, jangan menangis, karena besok Mama akan memberikan kekuatan kepada Bintang. Tenangkan dia besok." lanjut Papa Alex. Ia tadi mendapat telepon dari Geri, katanya Bintang akan kembali karena mengkhawatirkan Senja.
"Iya Pa." Mama Mira kembali memeluk Papa Alex, kembali menangis.