Better Days

Better Days
Mencari Informasi



Reyhan tengah bersiap-siap, ia akan memenuhi tantangan dari sang Mama, untuk segera mendapatkan gadis yang ia cari dalam waktu 1 bulan. Ia menuruni tangga dengan style casual, pagi yang cerah harus diawali dengan semangat dan senyuman yang cerah pula. Di bawah sudah berkumpul Papa dan Mama Reyhan, tinggal menunggu kedatangan Reyhan untuk bisa sarapan bersama.


“Morning Pa, Ma.”


“Morning Son.” ucap sang Papa.


“Rapi sekali, mau kemana nih? Gak ngajar?” tanya Mama.


“No Ma, Rey mau memenuhi tantangan dari Mama.” Jawab Reyhan sambil mengoleskan selai nanas ke roti tawar.


“Tantangan apa nih? Ada yang Papa tidak tahu?” tanya Papa.


“Mama beri tantangan kepada Rey, untuk segera mencari gadis yang ia sukai dalam waktu 1 bulan Pa, jika ia tidak berhasil, mau tidak mau Rey akan Mama jodohkan dengan gadis pilihan Mama.” Jelas Mama.


“Seramnya, kau iyakan Rey?” ucap Papa menatap Rey dengan tersenyum mengejek.


“Adakah pilihan lain Pa, dari pada Rey kena ceramah terus kan.”


“Eh, bukan Mama ceramahin Rey, Mama cuma mau Rey move on, 1 tahun tidak cukupkah waktu untuk move on.” ucap Mama.


“Rey nanti gak pulang ke rumah, Rey pulang ke apartemen, Rey janji dengan Mama, 1 bulan Rey bisa dapatkan gadis itu, Mama tunggu calon menantu Mama oke.” Reyhan mencium kedua pipi sang Mama sebelum pamit pergi.


“Kenapa lagi nih? Masih cemberut.” tanya Papa setelah Rey berpamitan untuk pergi.


“Tidak ada Pa, Mama cuma khawatir saja dengan anak-anak, semakin dewasa semakin banyak kekhawatiran yang Mama rasakan.” ucapnya.


“Anak-anak kita sudah pada dewasa Ma, mereka tahu mana yang terbaik buat mereka, dan kita selalu mendukung mereka dengan pilihannya sendiri bukan? Kita juga tidak memaksa untuk Geri dan Reyhan mengikuti keinginan kita, sampai detik ini mereka bebas melakukan apapun yang mereka inginkan asalkan masih di batas normal.” ucap Papa mencoba menenangkan Mama.


“Soal perjodohan apa itu beneran Ma?” tanya Papa.


“Beneran dong Pa, Mama memang belum menemukan calon yang cocok, tapi untuk nominasi sudah ada, Mama tidak memilih berdasarkan anak teman atau anak kolega, tapi Mama memilih menurut sudut pandang Mama sebagai seorang ibu dan wanita. Mama ingin punya menantu yang tidak sekedar tau tentang make up, fashion, memasak atau menghamburkan uang. Tapi Mama menginginkan menantu yang memiliki inner beauty, yaitu karakter, sifat dan akhlak yang baik.” jawab Mama.


Papa tersenyum mendengar jawaban dari Mama, ia menatap dalam Mama yang sedang menjelaskan keinginannya.


“Siapa nominasi yang Mama masukkan?” tanya Papa.


“Namanya Senja, Mama baru pertama kali bertemu, tapi Mama sudah tertarik Pa, masih pendekatan dulu Pa, kalau dia cocok baru Mama kenalkan ke Papa dan Rey.” jawabnya dengan tersenyum.


“Sekali bertemu dan sudah tertarik? Seperti melihat barang saja.” ucap Papa.


“Susah dijelaskan dan dijabarkan Pa, tapi hati seorang ibu tak pernah salah, ingat tuh Pa.” ucap Mama.


“Ibu atau wanita? Wanita memang tidak pernah mau disalahkan kan?” ucap Papa.


“Hais Papa nih!”


“Terus kalau Rey sudah berhasil menemukan gadis yang dia cari bagaimana?” tanya Papa.


“Mama traine dulu, cocok atau tidak.” jawab Mama dengan tersenyum aneh. Papa yang melihatnya hanya tersenyum dengan menggelangkan kepala.


***


Reyhan terlihat sedang mengamati berkas proposal CV ta’aruf antara dia dan gadis yang dia cari. Sesekali ia mengerutkan keningnya, pandangannya tak teralihkan meskipun ia sedang berada di keramaian.


“Hoy.” Riko datang dan mengejutkan Reyhan.


“Apa yang bisa aku bantu?” tanya Riko to the point.


Reyhan mengangkat kepalanya kemudian memberikan tatapan dan senyum yang aneh.


“Gak usah cosplay jadi sycho deh.” ucap Riko dengan wajah kesal.


“Buru-buru amat, mau kemana? Duduk dulu lah.” ucap Reyhan.


“Yah kau lagian Rey, ini masih pagi, mana hari minggu, waktunya aku istirahat, malah kau message bilang ketemuan.” ucap Riko mengeluarkan keluh kesahnya sambil mendudukkan dirinya di kursi.


“Sabarlah, katanya mau bantuin aku, yah ini saatnya kamu bantuin aku Rik.” ucapnya.


“Tentang apa nih? Gadis itu?” tebak Riko.


“Hmm, aku mau minta bantuanmu, ini berkasnya.” ucap Reyhan sambil menyerahkan map yang berisikan proposal ta’aruf.


“Maura, singkat banget namanya, kau yakin nama dia Maura?” tanya Riko.


“Yah aku yakin, soalnya waktu dia memperkenalkan dirinya dia menyebut namanya Maura, sama dengan yang di dalam CV ta'aruf.” jawab Reyhan.


“Oke, terimakasih Rik.”


“Sama-sama, kita kan sahabat, apa yang bisa aku bantu pasti aku bantu, tenang aja, kita pasti akan menemukan gadis ini, jangan menyerah.” ucap Riko memberi semangat. Reyhan tersenyum dengan menganggukkan kepala.


“Yaudah aku balik, masih ngantuk, mumpung masih jam 9 mau lanjut ritual tidur ganteng dulu.” ucap Riko meninggalkan Reyhan yang tengah menatap malas kepergian Riko.


***


“Halo Fara, kamu dimana?” tanya Senja pada Fara di seberang telepon.


“Aku masih di jalan Bil, bentar lagi sampai, kamu tunggu aku di depan kosanmu yah.” jawab Fara.


“Oke, hati-hati di jalan.”


“Iya, assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Senja mendudukkan dirinya di kursi santai, tepat di halaman kosannya. Karena bosan menunggu Fara ia memainkan handphone, membuka aplikasi sosial media yang dia punya.


“Ekhm.” suara deheman seseorang membuat kegiatan Senja teralihkan. Ia mengangkat kepalanya dan melihat siapa gerangan yang mendatanginya.


“Lo Senja? Senja Maura Tsalsabila?” tanyanya dengan pandangan sinis.


Senja bangun dari duduknya, kemudian berdiri mensejajarkan diri di hadapan gadis itu. “Iya itu saya.” jawab Senja.


“Cih.” Orang itu berdecih dengan menatap Senja dari atas sampai ke bawah, begitu berulang kali.


“Ada apa kalau boleh tau?” tanya Senja dengan sopan.


“Lo punya orang tua tuh dijaga, bersembunyi di pakaian syar’i tapi aslinya L****.” ucapnya dengan kasar tanpa di sensor.


“Maksud anda apa yah? Jika anda datang hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting lebih baik anda pergi dari sini.” ucap Senja masih dengan nada sopan.


“Gak usah sok belaga suci, bunda tersayang Lo itu udah ngerusak rumah tangga orang lain! Sadar diri! Kalau janda tau diri, cari jantan tuh yang bukan milik orang lain, apalagi sampai merebut suami orang!” ucapnya dengan nada marah. Matanya menatap penuh amarah pada Senja. Sedangkan Senja hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


“Gue peringatin yah, bilangin sama bunda Lo, pergi dari kehidupan Papa Gue, atau Gue yang akan buat dia hilang dari muka bumi ini!” ucapnya dengan suara lantang kemudian pergi meninggalkan Senja yang tengah terdiam membeku.


Senja terjatuh dan terduduk lemas di tanah, air matanya mengalir, tangannya meremas erat gamis yang ia kenakan.


Flasback On


4 tahun tahun yang lalu


Suara dering telepon membuat pengurus melihat nama yang tertera di layar handphone jadul itu. “Bunda Senja” pengurus yang bertugas langsung memanggil nama Senja.


“Senja! Bunda kamu telepon.”teriak salah seorang santriwati.


Dengan raut wajah yang gembira, Senja menerima telepon tersebut.


“Assalamu’alaikum Bunda.”


“Wa’alaikumsalam, gimana kabarnya Mbak dan Adek ?” tanya Bunda.


“Alhamdulillah baik Bunda, Bunda dan Ayah gimana disana?”tanya Senja.


“Alhamdulillah disini semuanya baik.”


Seteleh bertanya kabar keduanya bercerita banyak hal, mengenai kegiatan Senja dan Bintang selama di pondok, makan apa? Lagi apa? Atau hal-hal ringan seputar sekolah.


“Mbak lagi sama Adek?” tanya Bunda.


“Em gak Bunda, Adek lagi piket, tapi bentar lagi ke sini.” jawab Senja.


“Bunda mau cerita boleh?” tanya Bunda. “Tapi jangan bilang sama Adek dan keluarga yang di Jawa yah.”lanjutnya memberi syarat.


“Iya Bunda, memangnya Bunda mau cerita apa?” tanya Senja.


Di seberang telepon Bunda menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan perlahan, Senja yang mendengarnya menjadi sangat penasaran.


“Bunda sudah tidak tinggal dengan Ayah lagi.” ucap Bunda tiba-tiba, membuat Senja terdiam karena syok.