
1 minggu berlalu setelah seminar. Senja kembali berkutat dengan kegiatan hariannya, yaitu membuat skripsi, kegiatan yang baru ia tekuni selama beberapa bulan terkahir.
"Wa'alaikumsalam iya Kak Hana?" suara Senja menjawab telepon dari Ustadzah Hana atau kerap dipanggil Kak Hana oleh Senja.
"......"
"Oh... iya Kak, Senja udah lama banget gak main ke pondok." ucap Senja.
"......."
"Pengajian bulanan yang dihadiri wali santri itu Kak?" tanya Senja.
"......."
"Baik Kak, nanti malam Senja datang yah." ucapnya dengan tersenyum.
"......."
"Gak usah Kak, biar Senja berangkat sendiri, nanti Senja bisa pakai goes car." tolak Senja ketika mendengar Hana akan menjemputnya.
"........"
"Kak beneran deh, biarin Senja berangkat sendiri yah, aman-aman pasti." Senja tetap menolak tawaran Hana, dan meyakinkan Hana agar tidak khawatir karena Senja berangkat sendiri.
"........"
"Iya Kak, wa'alaikumsalam."
Senja meletakkan kembali handphone. Ia langsung bergegas membersihkan diri dan bersiap-siap menuju Yayasan Sekolah milik Hana.
***
"Mau ke pengajian Rey?" tanya Mama, ketika melihat Reyhan turun menggunakan baju koko.
"Iya Ma."
"Dimana? Mama ikut dong, bosen nih di rumah sendirian, Papa kamu lagi sibuk-sibuknya dengan urusan perusahaan." ucap Mama.
"Boleh, yaudah Mama siap-siap sekarang, Reyhan tunggu di ruang tamu." ucap Reyhan.
Mendengar ucapan Reyhan, Mama segera bersiap-siap untuk ikut pengajian.
***
Suasana Yayasan begitu ramai, banyak wali murid yang datang, karena memang ini menjadi rutinitas bulanan mereka. Terlihat beberapa anak-anak asrama yang begitu sibuk dalam mempersiapkan acara pengajian yang sebentar lagi akan segera di mulai.
"Ummu, izin mengambil peralatan hadroh." ucap salah satu santri perempuan pada Hana.
Hana mengangguk dengan tersenyum, tanda memberi izin pada santrinya untuk mengambil peralatan hadroh di kediaman ndalem.
"Sudah siap semua Mbak?" tanya Hana pada salah satu santri.
"Tinggal menyusun peralatan hadroh saja Ummu, sesudah itu acara akan di mulai." jawabnya dengan menundukkan kepala sopan.
"Alhamdulillah kalau sudah siap semua." ucapnya dengan tersenyum.
"Saya pamit dulu Ummu." pamit santri tersebut pada Hana. Hama meresponnya dengan menganggukkan kepala.
Hana kembali masuk ke rumah ndalem, ia berjalan perlahan menemui suaminya.
"Semua sudah siap Abi." ucap Hana dengan tersenyum menatap suaminya yang tengah membaca Al-Qur'an.
Usatadz Kamil mengalihkan pandangannya, menatap istrinya. Kemudian menyudahi membaca Al-Qur'an.
"Hari ini Abi mengundang Reyhan, apa Ummu juga sudah mengundang Senja?" tanyanya pada sang istri.
"Sudah Bi." keduanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Abi tidak berniat menjodohkan mereka, biarlah semua mengalir dengan sendirinya, jika jodoh bukan tidak mungkin mereka masih tetap akan bersama." ucap Ustadz Kamil.
"Ummu paham, lagipula Ummu mengundang Senja karena dia sudah Ummu anggap sebagai keluarga." ucapnya dengan tersenyum.
Ustadz Kamil dan ustadzah Hana memanglah pasangan suami istri. Mereka berdua adalah perantara proses ta'aruf Reyhan dan Senja yang batal. Yah Senja lah perempuan yang dicari oleh Reyhan sebagai Maura. Acara pengajian ini memang dilakukan sebulan sekali, undangan untuk Reyhan dan Senja bukan tanpa sengaja, semuanya dilakukan dengan harapan Senja dan Reyhan bertemu sebagai orang lain yang baru saja bertemu.
Apalagi Ustadz Kamil mengingat bagaimana Reyhan begitu bersemangat mencari keberadaan Senja. Memohon kepada dirinya untuk memberikan informasi penting tentang Senja atau Maura yang dia cari.
"Ayo acara sudah dimulai." ucapnya pada sang istri.
Ustadz Kamil dan ustadzah Hana segera menuju halaman masjid, dimana pengajian dilaksanakan.
Tak terasa waktu cepat berlalu, pengajian pun sudah pada penghujung acara. Dan tim hadroh pun menghibur para tamu dengan lagu-lagu nasyid, menemani mereka yang sedang menikmati hidangan.
"Sering-sering ajak Mama ikut acara begini Rey, Mama suka dengar ceramah." ucap sang Mama sambil menatap hiburan di depan.
"Tumben." celetuk Reyhan.
"Mama mau hijrah sedikit demi sedikit, ada seseorang yang bilang ke Mama, semuanya itu berproses, dan Mama mau ngikuti setiap prosesnya." ucapnya dengan mantap.
Reyhan menganggukkan kepala pelan dengan memicingkan mata sambil menatap sang Mama.
"Seseorang siapa Ma?"tanya Reyhan yang penasaran.
"Calon mantu Mama." ucapnya asal.
Reyhan mengerutkan keningnya, kembali dengan tatapan bingung menatap sang Mama.
Belum sempat Reyhan melanjutkan ucapannya. Mama sudah melenggang pergi. Melihat hal itu Reyhan langsung mengekori sang Mama, sambil terus memanggilnya.
"Senja." panggilnya dengan sedikit berteriak, menatap penuh binar.
"Tante Mira." Senja terkejut menadapati wanita tak asing yang ia kenali.
Keduanya berpelukan, terlihat begitu bahagia.
"Tante gak nyangka bisa ketemu kamu di sini, ya ampun dunia sempit sekali yah." ucap Tante Mira dengan tersenyum lembut.
Hana yang tadi sedang berbincang hangat dengan Senja hanya menjadi penonton atas obrolan menyenangkan keduanya. Tak jauh dari sana Reyhan juga menatap sang Mama yang tengah berbincang dengan Senja.
Jelas ia tahu siapa perempuan yang tengah berbincang dengan sang Mama itu. Perempuan yang sudah beberapa kali ia temui, dari kesengajaan maupun tidak sengaja.
"Senja, Mama kenal dengan gadis itu." monolognya dengan pandangan yang tidak terlihkan pada keduanya.
"Oh iya Tante, kenalkan ini Kak Hana. Kak Hana kenalkan ini Tenta Mira." ucap Senja pada kedua wanita yang berada di sampingnya.
"Hana, Ibu." Hana menyalami Tante Mira dengan tersenyum.
"Panggil Tante saja Nak, sama seperti Senja." ucap Tante Mira dengan tersenyum.
"Iya Tante." Hana menganggukkan kepala mengerti.
"Hana teman Senja?" tanya Tante Mira.
Hana hanya tersenyum dengan menganggukkan kepala.
"Kak Hana pemilik Yayasan Sekolah ini Tante." Senja menjawab dengan sopan.
"Oalah.... wah berarti acara pengajian ini juga Nak Hana yah yang menyelenggarakan." ucap Tante Mira.
Lagi-lagi Hana hanya menganggukkan kepala. Bukan karena ia tidak suka berbincang dengan Tante Mira, hanya saja ia tidak suka membicarakan apapun tentangnya, baginya cukup dikenal biasa saja dengan orang lain itu lebih baik.
"Tante, mohon maaf sebelumnya, bukan tidak ingin mengobrol banyak hal dengan Tante, tapi saya...."
"Iya Nak Hana, Tante paham, tidak apa-apa, tante tahu pasti Nak Hana masih ada urusan lain kan?" Tante Mira memotong ucapan Hana yang belum selesai.
"Iya Tante, sekali lagi saya mohon maaf, mari Tante, Bila." ucapnya dengan tersenyum dan langsung melangkah pergi.
Senja dan Tante Mira kembali berbincang ringan. Senja mengajak Tenta Mira duduk di taman Sekolah.
"Tenta kok bisa di sini?" tanya Senja.
"Tante ikut anak Tante ke sini, dia bilang mau pergi ke acara pengajian, yasudah Tante ikut gitu." jawabnya.
"Kalau Senja sendiri?"Tante Mira balik bertanya pada Senja.
"Senja diundang Kak Hana Tante, kebetulan juga Senja sudah pernah beberapa kali ikut pengajian bulanan ini." jawab Senja.
Tante Mira menganggukkan kepala paham. Ia masih intens menatap Senja dengan tersenyum, entah mengapa ia suka dengan karakter Senja yang lemah lembut seperti ini.
"Ma." panggil Reyhan pada Tante Mira.
Senja dan Tante Mira menoleh ke sumber suara, hal itu membuat Tante Mira tersenyum, sedang Senja menatap dengan kerutan di keningnya.
"Senja sini sayang, kenalkan ini anak Tante, Reyhan namanya." ucap Tante Mira langsung dengan antusias.
"Dia ini yang Tante ceritakan sama kamu, anak Tante dosen itu sayang." ucapnya kembali melanjutkan ceritanya.
Sementara Senja dan Reyhan saling berpandangan dengan rauta wajah yang berbeda. Senja dengan keterkejutannya, sedang Reyhan dengan intimidasinya.
Senja kembali menundukkan wajahnya, ia tidak.bisa berlama-lama menatap Reyhan. Apalagi Reyhan memberikan tatapan yang membuatnya tidak nyaman.
"Loh kok kalian diam aja sih?" ucap Tante Mira menyadarkan keduanya.
"Apa Mama sudah selesai? Kalau sudah kita pulang sekarang." ucap Reyhan to the point tanpa menanggapi uacapan perkenalan yang dilontarkan Tante Mira.
"Kamu ini Rey, Mama lagi gak ngomongin pulang." ucap Tante Mira dengan kesal.
"Senja sayang." panggil Tante Mira dengan lembut, berbeda ketika ia berbicara dengan Reyhan. "Jangan nunduk terus dong, muka anak Tante emang ngeselin sayang, maaf yah, jangan takut, disini ada Tante yang akan ngelindungi Senja." ucapnya dengan melirik Reyhan, sengaja membuat Reyhan kesal.
Reyhan yang mendengar dan melihat Mamanya begitu lembut dengan Senja membuat ia merotasi malas pandangannya.
"Kamu ini Rey, kalau lagi ketemu orang baru itu lembut dikit dong, bukannya kayak gitu responnya." ucap Tante Mira kesal.
"Tante." Senja memanggil Tante Mira, merasa tidak enak ketika melihat Reyhan dimarahi Tante Mira.
"Iya sayang?"
"Tante, Senja dan Pak Reyhan sudah saling kenal." ucap Senja pelan, dengan takut-takut, ia bahkan tidak berani menatap Reyhan.
"Benar itu sayang?" tanya Tante Mira memastikan kembali.
"Iya Ma." kali ini Reyhan yang menjawab.
Senyum bahagia terlihat di wajah Tante Mira.
"Ini bagus, aku bisa menjodohkan Reyhan dengan Senja, menantu idaman ku." batin Tante Mira bersorak ria.
Sementara itu dari kejauhan Hana dan ustadz Kamil melihat interaksi ketiganya dari kejauhan. Tak bisa dipungkiri ada kebahagian juga di dalam diri Hana, namun juga ada ketakutan yang tidak bisa ia gambarkan.
"Kita berdoa yang terbaik." Ustadz Kamil memegang tangan Hana dengan mengucapkan kalimat yang membuat Hana tersenyum mengangguk.