Better Days

Better Days
Mari Kita Jalani Bersama



Reyhan menggandeng tangan Senja sampai pada ruangan istirahat yang memang disiapkan untuk keduanya. Masih dengan menautkan jari-jarinya, Reyhan dan Senja duduk di sisi ranjang dengan keheningan dan kecanggungan.


"Tanganmu kecil." ucap Reyhan dengan tersenyum tipis, menatap tautan jari-jari tangan mereka.


Senja yang sadar kemudian langsung melepaskan pegangan tangan Reyhan, dan sedikit menggeser duduknya ke arah kiri.


"Sini, kenapa menjauh?" Reyhan menatap lekat Senja yang juga tengah menatapnya. Meminta Senja untuk duduk lebih dekat dengannya


"Gak apa Pak, saya di sini saja." tolak Senja.


Reyhan mengangkat salah satu alisnya, dengan menganggukkan kepala.


"Sudah kamu siapkan nama panggilan untuk saya?" tanya Reyhan.


"Setiap ketemu pasti Bapak nanyain itu terus." ucap Senja dengan helaan napas.


"Salah? Saya kan sudah jadi suami kamu, masa mau manggil Bapak terus." ucap Reyhan.


Senja menganggukkan kepala menyetujui ucapan Reyhan. Ada benarnya, posisi mereka kini bukan sebatas lagi Dosen dan mahasiswi, atau sebatas tamu rumah ketika buka puasa, melainkan sebagai pasangan suami istri.


"Mas, saya panggil Mas boleh?" tanya Senja dengan mengalihkan pandangannya menatap Reyhan.


Reyhan terdiam, menimbang panggilan yang diberikan Senja untuknya.


"Boleh, saya suka, kesannya lembut dan manis." ucap Reyhan dengan tersenyum. Ini kali pertama Senja melihat senyum tulus Reyhan.


"MasyaAllah." Senja masih setia menatap Reyhan.


"Sudah mulai jatuh cinta?" goda Reyhan dengan mendekatkan wajahnya pada Senja.


"Eh." Senja langsung mendorong pelan dada bidang Reyhan yang tertutupi. Wajahnya langsung bersemu merah, hingga membuat Senja menundukkan kepalanya, tak mau sampai di lihat Reyhan.


"Lucu." gumam Reyhan.


"Senja." panggil Reyhan.


"Iya Mas?" senyum tipis dari Reyhan kembali terbit, mendengar panggilan dari Senja yang katanya manis itu.


"Saya dan kamu kan menikah tanpa perkenalan lebih dalam, saya tahu ini begitu mendadak untuk kamu, juga untuk saya. Jadi, kalau kita buat perjanjian nikah bagaimana? Bukan maksud saya mengarah pada hal-hal perceraian atau yang aneh-aneh, hanya saja, saya ingin kamu dan saya terbiasa dulu, sampai timbul rasa nyaman untuk kita menjalani semuanya, bagaimana? Kamu mau?" tanya Reyhan dengan serius.


Senja terdiam sebentar, kemudian menganggukkan kepala setuju.


"Boleh Mas, isi perjanjiannya seperti apa tapi?" tanya Senja.


"Saya tidak membuatnya tertulis, tapi kalau kamu mau tertulis, dengan tanda tangan di atas materai nanti saya buatkan setelah acara pernikahan kita." Senja mengangguk mendengarkan penjelasan Reyhan.


"Isi perjanjian itu, pertama, saya tidak akan menyentuh kamu, sampai kamu siap, dan kamu sendiri yang memintanya." ucap Reyhan.


"Mas yakin?" tanya Senja.


"Kenapa? Kamu mau melayani saya nanti malam?" tanya Reyhan dengan nada menggoda.


"E-e maksud saya..."


"Senja, dengarkan saya, saya tidak ingin membuat kamu tidak nyaman atau tertekan, jadi saya tidak akan memaksakan hal itu, tapi... sebagai seorang laki-laki yang sudah menikah tentu saya menginginkan hal itu juga, jadi saya minta sama kamu, tolong jangan terlalu lama membuat saya menahannya, saya yakin kamu pasti paham Senja." ucap Reyhan dengan lembut, menatap manik coklat milik Senja. Sedang Senja menganggukkan kepala paham.


"Kita akan menjalani pernikahan sebagaimana mestinya, sebagaimana ceramah dari ustadz Malik tadi, saya berikan hak kamu sebagai istri, dan saya menjalankan kewajiban saya sebagai suami, begitu juga sebaliknya dengan kamu, kita sama-sama belajar yah, ingatkan saya jika saya salah." ucap Reyhan.


"Saya juga akan berusaha memberikan kasih sayang kepada kamu, walaupun di hati kita belum ada rasa, dan saya juga berharap, kamu adalah istri pertama dan terakhir saya Senja." Senja terharu mendengar ucapan Reyhan, laki-laki dingin di hadapannya kini menjelma menjadi suami hangat dengan tutur kata yang manis


"Kamu bersedia menjalani rumah tangga yang rumit bersama saya? Melewati masa-masa sulit untuk ke depannya. Saya tidak bisa menjanjikan kita selalu bahagia Senja, tapi saya akan mengusahakan untuk tidak membuatmu bersedih." lanjutnya kembali dengan wajah hangat nan serius menatap Senja.


"Mari kita jalani bersama, karena bagi saya pernikahan ini bukan main-main, sekalipun kita menikah dengan terpaksa." Reyhan memberikan jari kelingkingnya kepada Senja.


"Mari kita jalani bersama Mas, tolong bimbing saya menjadi istri yang shalehah." dengan tersenyum, Senja kemudian menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Reyhan.


"Jari kamu kecil yah, lucu." ucap Reyhan tak mau melepaskan tautan jari kelingking mereka.


"Ih... Mas, masa iya badan saya kecil tapi jarinya besar, kan gak lucu." cabik Senja dengan raut wajah kesal. Padahal suasana lagi haru, tapi Reyhan dengan mudahnya mencairkan suasana.


Reyhan hanya tersenyum melihat Senja. Selama mereka bertukar nomor telepon, selama itu pula Reyhan selalu menghubungi Senja, meskipun hanya lewat chattingan. Baginya cukup untuk memberikan kesan baik bagi Senja, apalagi setelah melihat tingkah Senja setelah akad menbuatnya semakin suka untuk menjahili Senja. Jadi kesenangan tersendiri mengganggu Senja. Dengan alasan lucu katanya.


"Istirahatlah, nanti 1 jam lagi akan ada pesta lanjutan, saya tidak mau kamu kelelahan." ucap Reyhan kemudian melepaskan tautan jari kelingkingnya. Senja mengangguk.


"Saya keluar dulu, tidurlah, nanti biar saya atau keluarga yang akan membangunkan kamu." Reyhan kemudian keluar dari ruang istirahat, meninggalkan Senja untuk beristirahat.


Melihat Reyhan yang sudah menghilang di balik pintu Senja langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Untung saja dia hanya menggunakan riasan sederhana, jadi tidak membuatnya kesusahan untuk tidur.


"Semoga sesuai dengan apa yang kamu ucapkan Mas." kemudian Senja menutup kedua matanya dan mulai tertidur.


***


"Wuih.. Ini dia nih pengantin baru kita, gila aura nya beda coy." ucap Riko disambut gelak tawa tamu undangan lainnya.


Reyhan memutar malas bola matanya mendengar ucapan Riko yang menggodanya.


"Dimana Senja?" tanya Geri.


"Lagi istirahat di dalam." jawab Reyhan.


"Kamu gak ikut istirahat juga Rey? Temenin istri gitu kek." goda Riko lagi.


"Sekali lagi ngomong yang aneh-aneh aku buang kau ke planet Mars Rik." ucap Reyhan dengan suara datar.


"Buset... jangan galak-galak dong pengantin baru." ucap Riko tak ada takutnya. Reyhan kembali menghela napas pasrah melihat tingkah sahabatnya itu.


Bintang dari kejauhan memperhatikan Reyhan yang kini sudah resmi menjadi Kakak iparnya.


"Kenapa Bin?" tanya Fara.


"Kelihatannya baik, dewasa, penyayang, tp kayaknya dingin yah Mbak. Apa Mbak Bila bisa tahan yah sama tipe suami kayak begitu." ucap Bintang, membuat Fara terkekeh mendengarnya.


"Masih kecil gak usah terlalu mikir yang berat-berat, kalau kata Mbak kamu, jalani aja yang di depan mata. Yang harus kita lakukan sekarang itu adalah mendoakan pernikahan Mbak kamu, dia perempuan hebat yang Mbak kenal selama ini, sosok yang selalu memotivasi Mbak." ucap Fara dengan tersenyum.


"Walaupun aku yakin banyak hal yang disembunyikan Mbak kamu Bin, dia masih tertutup tentang dirinya." Fara tersenyum perih ketika mengingat Senja yang menangis tanpa mau berbagi keluh kesahnya.


"Aamiin, Bintang berharap Mbak Bila dan Kak Reyhan bisa menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah." ucap Bintang.