
Reyhan memarkirkan mobilnya, di parkiran restauran. Keduanya berjalan beriringan masuk ke dalam restauran. Reyhan kembali menggandeng tangan Senja. Suasana restauran yang begitu ramai membuat Senja sedikit kurang nyaman, tapi ia paham, semua restauran pasti ramai karena ini adalah hari puasa. Banyak muda-mudi, atau keluarga yang memilih berbuka bersama di luar dari pada di rumah.
"Dengan Tuan Reyhan?" tebak pelayan restauran itu ketika Reyhan menunjukkan bukti reservasi ruangan VIP untuk berbuka antara ia dan Senja.
Reyhan yang selalu memperhatikan bagaimana kebiasaan Senja dari sejak awal dijodohkan memang sudah menebak bahwa Senja kurang menyukai keramaian. Bisa di lihat ketika hari libur, maka Senja akan memilih menghabiskan waktunya di ruang perpustakaan yang ada di rumah.
Membaca novel, buku-buku tentang agama, fikih, pendidikan, wawasan dunia dan lain sebagainya. Selain memasak, Senja memang sangat menyukai hobi membacanya itu. Hal itu akan membuatnya lebih tenang, dari pada harus menghabiskan waktu di luar rumah. Menurut Senja hangout atau menghabiskan waktu di luar akan membuat tenaga dan pikirannya terkuras, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan hobi, kesendiriannya atau keluarga.
"Mari Tuan." pelayan wanita itu mengarahkan Reyhan dan Senja menuju ruangan VIP yang telah di pesan sebelumnya.
Memang Reyhan sudah merencanakan acara buka bersama dengan Senja sejak jauh-jauh hari, dan baru terealisasikan hari ini, karena hari sebelumnya Senja sakit.
"Mas sudah booking?" tanya Senja.
Reyhan mengangguk dengan tersenyum, genggamannya tidak pernah ia lepas.
"Ini ruangannya Tuan." ucap pelayan tersebut.
Reyhan hanya menganggukkan kepala tanpa menatap pelayan tersebut. Ia membawa Senja masuk ke dalamnya, dan mempersilakan Senja duduk.
"Untuk pesanannya, mohon di tunggu sebentar lagi." pelayan wanita itu menunduk dan segera permisi keluar. Tak lupa ia menutup pintu ruangan tersebut.
"Suka?" Reyhan mengalihkan pandangannya pada Senja yang menatap takjub ke luar jendela.
Ruangan yang Reyhan booking memang terletak di lantai atas, mengarah langsung ke pantai yang berada tepat di belakang restauran. Restauran seafood ini merupakan restauran terkenal dengan pemandangan yang bagus, dan makanannya yang lezat, itulah kenapa Reyhan membawa Senja ke restauran ini.
"Suka, pemandangannya sangat indah." jawab Senja.
Sementara Senja tengah fokus dengan pemandangan senja di pantai yang begitu indah, Reyhan justru fokus menatap Senja yang terlihat begitu cantik menurutnya. Apalagi setelah ia berhasil membuat Senja membuka jilbabnya di hadapannya.
"Itu pulau Mas?" tunjuk Senja pada pulau yang berada du tengah-tengah lautan.
"Mungkin." jawab Reyhan. "Mau ke sana?" tanya Reyhan.
Senja menoleh ke samping, menatap Reyhan yang tengah menatapnya.
"Kayaknya horor, dan seru deh." ucap Senja. "Tapi gak mau ke sana, capek." lanjutnya dengan mengedikkan kedua bahunya.
"Liburan itu menyenangkan Senja." ucap Reyhan.
"Memang menyenangkan, tapi juga melelahkan, membayangkan perjalanannya saja sudah melelahkan, tapi kalau lagi libur panjang kayaknya gak masalah deh untuk pergi berlibur." ucap Senja.
"Tidak masalah, liburan atau tidak, yang penting kamu bahagia." ucap Reyhan tersenyum lembut.
Senja mengangguk setuju, ia tersenyum menatap Reyhan.
"Permisi." pelayan wanita itu kembali, dengan beberapa pelayan lainnya yang mengantar makanan yang telah di pesan Reyhan sebelumnya.
"Ini menu yang Tuan pesan." para pelayan restauran itu meletakkan satu per satu menu yang telah di pesan Reyhan.
Ada macam-macam olahan seafood, dari udang, cumi-cumi, lobster, kerang, dan kepiting. Senja menatap tidak percaya dengan berbagai menu di hadapannya.
"Permisi Tuan, Nona." para pelayan itu keluar dari ruangan.
Tepat setelahnya adzan maghrib berkumandang, Reyhan dan Senja segera berdoa, kemudian Reyhan minum air putih yang telah disiapkan.
"Saya shalat maghrib dulu, kamu makan duluan yah." ucap Reyhan.
"Senja tunggu Mas saja." ucap Senja.
"Saya tidak akan lama." ucap Reyhan kemudian keluar menuju mushollah yang disediakan restauran.
Senja membuka tasnya, mengambil handphone di dalamnya. Membuka aplikasi chat, di dalamnya banyak chat dari Fara semenjak 2 hari yang lalu sejak teror hari itu.
Fara💐 : Assalamu'alaikum Bila, Bila gimana keadaannya sekarang?
Fara💐 : Bila masih sakit?
Fara💐 : Bila butuh sesuatu?
Fara💐 : Bil?
Fara💐 : Kamu gak makin parah kan sakitnya?
Fara💐 : Bila jangan buat khawatir dong.... Bila...Bila...
Senja tersenyum membacanya. Ia mulai mengetik di papan keyboardnya, menjawab pesan chat dari Fara.
Fara menatap layar handphonenya, ia tersenyum senang Senja sudah menjawab pesan darinya.
Bila ku🌹 : Wa'alaikumsalam, alhamdulillah aku udah sehat Fara, makasih sudah menjaga Bila hari itu.
Bila ku🌹 : Fara jangan khawatir yah, aku baik-baik saja, Mas Reyhan menjagaku dengan baik 😁
Bila ku🌹 : Oh iya, selamat berbuka puasa (∩_∩)
Senja mematikan handphonenya setelah membalas pesan dari Fara.
"Mas Reyhan kayaknya masih lama, aku ke toilet dulu deh." Senja meletakkan tasnya, kemudian keluar menuju toilet.
"Permisi, mohon maaf, saya mau tanya, toilet arah mana yah Mbak?" tanya Senja sopan pada pelayan wanita yang tidak jauh dari ruangannya.
"Lurus ke depan, kemudian belok ke kanan, ujung lorong Nona." jawabnya dengan sopan pula.
"Terimakasih." ucapnya dengan tersenyum, kemudian berjalan menuju toilet sesuai arahan pelayan wanita tersebut.
DUK!
"Eh!" Senja terhuyung ke belakang beberapa langkah karena bertabrakan dengan seseorang.
Senja masih tertunduk, namun tubuhnya tak bergerak ketika mendengar suara pria di hadapannya.
"Suaranya."
"Nona tidak apa-apa?" tanyanya mencoba melihat wajah Senja yang tengah menundukkan kepala.
Senja tidak bersuara, ia hanya menggelangkan kepala dengan tangan yang terulur ke depan, melarang pria itu untuk mendekatinya.
"Perimisi." Senja langsung berjalan tanpa menatap pria itu, ia sama sekali tidak memperlihatkan wajahnya.
"Seperti tidak asing." pria itu menatap kepergian Senja.
Senja merasakan tubuhnya bergetar saat ini. Ia langsung menutup pintu toilet dan menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Tenang Senja, tenang." ucapnya dengan suara bergetar. Ia beristighfar di dalam hatinya, mencoba menenangkan ketakutannya.
***
"Dari mana saja kamu Senja." Reyhan yang khawatir langsung memeluk Senja ketika Senja sudah masuk ke ruangan VIP tersebut.
"Maaf Mas, tadi saya pergi ke toilet sebentar." ucap Senja.
"Jangan begitu lagi, beri kabar dulu oke." Reyhan melepaskan pelukannya, menatap wajah Senja yang sedikit pucat.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit? Kita pulang saja sekarang yah." ucap Reyhan dengan wajah khawatir.
"Mas, saya tidak sedang sakit, kita makan yah, mubadzir makanannya, lagian Mas juga belum makan seharian." ucap Senja, mengajak Reyhan duduk.
"Kamu sakit Senja." ucao Reyhan.
"Gak Mas." Senja tersenyum dengan bibir pucatnya. "Aaaa, Senja suapin." lanjutnya dengan mengarahkan sesendok makanan ke arah Reyhan.
Reyhan menerimanya tanpa bersuara. Ia memang melihat senyuman bibir Senja, tapi tidak dengan mata hitam itu. Reyhan tau ada yang tidak beres setelah Senja kembali dari toilet.
"Gantian, kita makan bersama." Reyhan mengambil alih Sendok yang berada di tangan Senja, menyuapi Senja dengan sup udang.
"Mas, ini kan ada beberapa menu yang belum tersentuh, gimana kalau kita berikan kepada mang Ujang sama pak Darmin, kasihan mereka pasti cuma makan nasi bungkus yang di depan komplek, biasanya Senja masak, tapi hari ini Senja gak masak, otomatis mereka gak makan di rumah." ucap Senja.
"Apapun yang kamu inginkan." ucap Reyhan dengan menganggukkan kepala. "Aaa, makan lagi " lanjutnya kembali menyuapi Senja.
"Mas Reyhan juga, kan Mas Reyhan yang habis puasa seharian." ucap Senja. Reyhan mengangguk dengan tersenyum.
Mereka makan sepiring berdua, dengan sendok yang sama hingga makanan tersebut habis. Tak ada kecanggungan seperti awal menikah, mereka sudah jauh lebih dekat, rasa nyaman terhadap Reyhan membuat Senja mampu mengendalikan dirinya saat bersama Reyhan.
***
"Wah... aduh Non baik pisan, nuhun Non makanannya." ucap Mang Ujang dengan tersenyum senang.
"Terimakasih Non." ucap Pak Darmin dengan tersenyum pula.
"Jangan lupa dihabiskan yah Mang, Pak, semoga suka dengan makanannya." ucap Senja.
"Siap Non, pasti kami habiskan." ucap Pak Darmin.
"Jelas atuh Non." ucap Mang Ujang begitu semangat.
"Kalau gitu Senja pamit ke dalam dulu Mang, Pak, permisi." ucap Senja, kemudian kembali ke dalam rumah.
"Iya Non." keduanya menjawab dengan menganggukkan. kepalanya.
Dengan tersenyum cerah Senja memasuki rumah, Reyhan yang melihatnya pun ikut tersenyum.
"Senang?" tanya Reyhan.
"Em, sangat senang bisa berbagi, apalagi melihat senyum bahagia Mang Ujang dan Pak Darmin." jawab Senja.
"Senja tuh suka sedih lihat orang-orang di luar sana, yang jauh lebih tidak beruntung ketimbang Senja. Pengan bisa berbagi lagi dengan orang yang jauh lebih banyak." ucap Senja dengan tersenyum bahagia.
Ia bercerita sambil perlahan melepaskan jilbabnya. Menampakkan rambut panjang yang tergerai sampai ke pinggul.
"Gimana kalau kita adakan buka bersama dengan para anak yatim piatu atau orang-orang yang membutuhkan." ucap Reyhan kembali memeluk Senja dari belakang.
Kali ini ia menyandarkan kepalanya di pundak Senja, dan mencium aroma tubuh Senja yang mulai menjadi candu baginya. Senja yang merinding mencoba menahan dirinya.
"Atau kamu mau kita adakan pengajian?" tanya Reyhan. Kini ia mencium ceruk leher Senja, meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
Senja diam tak menjawab, semua ucapan Reyhan seolah menghilang dan tak ia dengar. Ia lebih merasakan apa yang Reyhan lakukan saat ini.
"Ma-mas."
Reyhan menggendong Senja, dan membawanya menuju ranjang.
"Kamu istirahatlah." ucap Reyhan. Ia mencium kening Senja, dan mengecup sekilas bibir senja lalu menyelimutinya.
"Saya tidak memintanya sekarang." ucap Reyhan tersenyum jahil ketika melihat Senja yang diam dengan tubuh tegang.
"Em." Senja hanya berdehem dan langsung menutup wajahnya yang memerah dengan selimut.
Reyhan tertawa melihat tingkah lucu Senja.
*
*
*