Better Days

Better Days
Rencana Tante Mira



Setelah pertemuan yang tidak terduga itu Tante Mira semakin gencar untuk mendekatkan Reyhan dengan Senja. Apalagi setelah ia tahu bahwa Reyhan dan Senja sudah saling mengenal. Berbagai rencana sudah terlintas di pikiran Tante Mira dalam upaya mendekatkan Reyhan dengan Senja.


"Besok pas puasa pertama, Mama mau ngundang seseorang untuk buka bersama di rumah Pa." ucap Mama Mira pada suaminya yang tengah membaca majalah.


Papa Alex menoleh dengan mengerutkan keningnya. Tidak seperti biasanya sang istri mengundang orang untuk ikut berbuka bersama, apalagi saat puasa hari pertama.


"Pokoknya Papa harus bantuin Mama dalam mendapatkan jodoh terbaik untuk Reyhan Pa." ucap Mama Mira dengan penuh semangat.


"Emang siapa yang mau Mama ajak buka bersama?" tanya Papa Alex.


"Ada deh, besok Papa tahu, pokoknya Papa pastikan Reyhan buka pertama di rumah." ucap Mama Mira.


"Iya,." Papa Alex hanya tersenyum dengan menganggukkan kepala.


Apa sih yang tidak buat istrinya, Papa Alex terlalu mencintai Mama Mira, sampai hal-hal yang terkadang bertentangan dengan dirinya pun, akan ia lakukan demi sang istri tercinta.


"Halo Rey..., jangan lupa yah, puasa pertama kamu harus buka di rumah, nanti juga ada Kakak kamu yang ikut buka bersama di sini." ucap Mama Mira kepada Reyhan di seberang telepon.


"Iya Ma, kan sudah jadi kebiasaan tahunan kita Ma." jawab Reyhan.


"Oke besok Mama tunggu." ucap Mama Mira, kemudian langsung mematikan telepon.


Mama Mira tersenyum senang mendengar jawaban Reyhan. Kini ia berganti menelpon Senja untuk mengajaknya buka bersama di rumahnya.


"Wa'alaikumsalam sayang, apa Tante ganggu Senja sekarang?" tanya Tante Mira ketika mendengar suara Senja di seberang telepon.


"Tidak Tante, kebetulan Senja lagi santai." jawab Senja jujur, karena memang saat ini dia sedang duduk santai sambil membaca buku. " Ada apa Tante tiba-tiba menelepon Senja?" tanyanya.


"Begini Sayang, kamu besok ada acara gak seharian?" tanya Tante Mira dengan hati-hati.


"Tidak Tante, kebetulan besok free, Senja gak lagi bimbingan karena memang bukan jadwalnya, cuma banyak menghabiskan waktu santai di kosan." jawab Senja.


"Kalau begitu, gimana besok Senja temanu Tante belanja." ucapnya dengan semangat.


"Boleh Tante, kita ke pasar tempat pertama kali kita ketemu yuk Tante, sekalian Senja mau cari sayur untuk hari pertama berbuka." ucap Senja dengan bersemangat pula.


"Sip, besok Tante jemput Senja, tapi setelah belanja Senja ikut ke rumah Tante yah, bantuin Tante masak, sekalian Tante mau ajak Senja buka bersama di rumah, mau yah Sayang." pinta Tante Mira dengan suara memelas di akhir kalimat.


Senja terdiam di seberang telepon, ia menimbang-nimbang jawaban apa yang cocok untuk menolak ajakan Tante Mira. Bukan ia tidak mau, tapi rasanya ia masih takut untuk bertemu dengan Reyhan setelah pertemuan di Yayasan waktu itu. Wajah dingin dan datar Reyhan masih terbayang di pikirannya.


"Senja gak mau yah." Tante Mira berlagak sedih saat tidak mendengar jawaban 'iya' dari Senja. "Padahal Tante pengen banget bisa buka bersama di hari pertama dengan Senja, membayangkan masak bareng sama Senja pasti menyenangkan. Tapi kalau Senja gak bisa Tante gak apa-apa kok, mungkin memang Senja lagi ada kesibukan lain." ucap Tante Mira panjang lebar dengan suara dibuat sedih.


Papa Alex yang berada di sampingnya hanya tersenyum sinis dengan menggekengkan kepala. Melihat melakukan istrinya yang mempunyai seribu akal untuk memaksa gadis yang ia sebut dengan calon mantu idaman.


Senja semakin di buat bingung. Satu sisi ia tidak ingin mengecewakan Tante Mira yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri. Tapi membayangkan akan bertemu dengan Reyhan membuat nyalinya menciut. Reyhan tidak se-ramah kata orang.


"Yaudah Senja, mungkin memang Tante gak akan pernah bisa merasakan bagaimana rasanya buka bersama dengan Senja." ucapnya lagi dengan sesedih mungkin.


"Eh tunggu Tante, Senja mau ikut buka bersama dengan Tante besok." ucap Senja dengan cepat.


"Yes, akhirnya, rencanaku berhasil." Tante Mira tersenyum senang mendengarnya.


"Benarkah sayang? Kamu gak lagi mau nyenengin Tante aja kan? Kalau terpaksa mending jangan sayang, Tante gak mau kamu sedih karena menerima ajakan Tante." ucap Tante Mira.


"Manipulatif." gumam Papa Alex dengan menggelengkan kepala.


"Gak ada yang terpaksa Tante, lagian mana mungkin Senja buat Tante sedih, Senja mau buka bersama dan masak bareng Tante, pasti menyenangkan." ucap Senja.


"Terimakasih sayang, yaudah habis ini kamu langsung istirahat, tidur, karena besok Tante akan jemput Senja di kosan." ucap Tante Mira dengan penuh semangat.


"Iya Tante, Tante juga istirahat yah, tidak baik begadang untuk orang tua." ucap Senja.


Dan telepon pun berakhir dengan ucapan salam dari keduanya.


"Sudah berhasil membujuk calon mantu Mama?" tanya Papa Alex yang melihat perubahan ekspresi dari istrinya.


"Sudah dong Pa, besok Papa akan lihat seperti apa calon mantu idaman Mama itu, dia baik budi pekertinya, juga cara dia berpakaian membuat Mama semakin mengidamkan untuk memiliki menantu seperti dia." ucap Mama Mira.


"Apa Papa boleh menilainya juga?" tanya Papa Alex.


"Boleh menilainya, tapi tidak boleh menolaknya, Papa harus bantu Mama untuk membujuk Reyhan, atau minimal membuat keduanya dekat. Dari yang Mama lihat, sepertinya calon mantu Mama takut dengan Reyhan, dan cenderung menghindarinya, apalagi ekspresi Reyhan udah kayak kanebo kering Pa, kaku, dan datar." ucap Mama Mira.


"Lagian siapa yang akan menolak pilihan Mama, Papa yakin dia gadis baik-baik karena mampu meluluhkan calon mertua cerewet seperti Mama." ucap Papa Alex dengan sengaja menyematkan kata 'cerewet' untuk istri sendiri.


"Apa Papa bilang? Mama cerewet? Oh... udah siap tidur di sofa yah, atau sekalian tidur di ruang tamu aja, gak usah deket-deket Mama." ucap Mama Mira kemudian merajuk.


"Jangan gitu dong Ma, gini-gini, Mama itu istri terbaik yang Papa punya, dengan kecerewetan Mama itulah yang buat Papa makin jatuh cinta dari waktu ke waktu." ucapnya menggombali sang istri demi izin tidur di kamar.


Mama Mira tersenyum malu mendengar ucapan Papa Alex.


"Jangan marah yah Ma, mana bisa Papa lama-lama tanpa sentuhan kasih dan cinta dari Mama, Papa gak sekuat itu loh Ma." ucapnya lagi dengan bumbu-bumbu manis di dalam kalimatnya.


"Gak usah gombal deh Pa, kita gak lagi muda sekarang, udah bangkotan, berumur, malu sama yang muda-muda di luar sana." ucap Mama Mira.


"Ngapain malu Ma, itu tandanya cinta kita tidak akan pudar walaupun usia kita semakin menua." ucap Papa Alex.


"Dah ah, ngomong sama Papa kayak ngomong sama aki-aki genit, mengerikan." Mama Mira langsung berjalan cepat meninggalkan Papa Alex yang cemberut. Namun sesaat kemudian Papa Alex tetap mengikuti Mama mira dengan gombalannya yang lain.