Better Days

Better Days
Keputusan



Senja masih mengikuti langkah kaki Reyhan. Gandengan tangan keduanya pun masih tidak terlepaskan. Baik Reyhan maupun Senja masih belum menyadari hal itu. Namun satu yang kini mengganggu pikiran Senja, semuanya begitu sulit untuk diputuskan.


Keduanya kini sudah sampai di halaman rumah Senja. Reyhan sudah menghentikan langkahnya, begitupun Senja, namun masih dengan pikiran dan tatapan yang kosong. Ia bahkan tidak sadar, jika saat ini Reyhan tengah menatapnya.


"Ekhm." Reyhan berdehem agar Senja segera fokus dengan tujuan Reyhan yang mengajaknya keluar rumah.


Senja beralih menatap Reyhan, keduanya terlibat adu tatap yang tidak biasa, entah bagaimana isi pikiran masing-masing.


"Saya memang tampan." ucap Reyhan, membuat Senja mendengus sebal, kemudian mengalihkan pandangannya.


"Masih mau digandeng?" tanya Reyhan, ketika melihat Senja masih tidak melepaskan tautan tangannya, meskipun Reyhan sudah melepaskannya.


"Eh! Maaf Pak." Senja segera melepaskannya, dengan gugup ia memundurkan langkahnya.


"Mau kemana? Kita masih harus mendiskusikan masalah genting ini." ucap Reyhan kemudian berjalan mendekati Senja dan menarik ujung jilbab yang Senja kenakan, agar Senja tidak semakin menjauh.


"Pa-pak." suara Senja tercekat, ia tidak bisa melanjutkan ucapannya karena kini dia dan Reyhan begitu dekat.


"Makanya jangan kemana-mana, saya bukan pemakan sesama manusia, jadi tidak perlu takut." usai berkata seperti itu Reyhan masih tidak melepaskan ujung jilbab Senja, hanya saja kini ia sedikit menjauhkan dirinya dari Senja.


"Mari kita tolak gagasan aneh ini Pak." ucap Senja dengan suara pelan.


"Gagasan yang mana? Menurut saya, ide Mama saya dan Bunda kamu itu bagus, saya berniat menyetujuinya." ucap Reyhan, kemudian tersenyum miring menatap Senja.


"Eh! Bapak jangan main-main yah." ucap Senja tidak terima.


"Kenapa? Apa kamu takut? Saya tidak se-menyeramkan itu untuk dijadikan suami Senja, saya masih normal." ucap Reyhan.


"Bukan itu Pak, hanya saja, saya dan Bapak tidak saling mengenal, jadi tidak mungkin kita menikah." ucap Senja memberikan alasan.


"Mudah, tinggal saling mengenal satu sama lain, saya rasa waktu seminggu cukup, ah tidak 3 hari pun cukup, agar pernikahan kita dipercepat." ucap Reyhan. Entah kenapa ia jadi suka menganggu Senja. Apalagi melihat wajah khawatir Senja.


Senja diam tidak menanggapi ucapan Reyhan. Ia terlalu fokus untuk membatalkan ide pernikahan ini.


"Kenapa diam?" tanya Reyhan.


"Pak, kita benar-benar tidak bisa mengiyakan perjodohan atau pernikahan ini, saya bisa jamin ketika di masa depan, pernikahan kita tidak semulus itu." ucap Senja.


"Kamu Tuhan?" tanya Reyhan dengan suara datar, dia tidak suka ketika mendengar Senja menjamin pernikahan mereka akan gagal.


"Bu-bukan, maksud saya..."


"Kamu bukan Tuhan Senja! Kamu tidak bisa menetapkan sesuatu di luar batas kemampuan kamu." ucap Reyhan dengan suara datarnya.


Senja diam tidak merespon, karena ia tahu apa yang dikatakan Reyhan memanglah benar. Baik masa lalu, masa depan, jodoh, maut dan rezeki, semua sudah ditetapkan.


"Kenapa diam? Masih merasa menjadi Tuhan yang tahu semua hal?" Reyhan berbicara dengan nada dingin. "Saya yakin kamu tahu mana yang seharusnya kamu katakan dan apa yang tidak perlu kamu katakan Senja. Kamu terpelajar, bahkan dilihat dari cara berpakaianmu, tentu kamu lebih banyak tahu dari pada saya." lanjutnya dengan sinis.


"Maaf." cicitnya. "Dan masalah pakaian saya, ini adalah salah satu bentuk kewajiban saya dengan Tuhan saya." lanjut Senja.


"Jadi sudah diputuskan kan? Saya dan kamu akan menerima perjodohan ini, dan secepatnya kita menikah." ucap Reyhan kemudian.


"Pak, harus ada persetujuan kedua belah pihak kan? Dan saya menolaknya, pernikahan tidak semudah yang bapak pikirkan, tidak semudah ketika Bapak memecahkan teori-teori materi perkuliahan Bapak, ataupun memecahkan rumusan masalah skripsi saya. Jadi tolong Bapak pikirkan sekali lagi." ucap Senja, mencoba membujuk Reyhan.


"Sebenarnya apa sih yang membuatmu tidak ingin menikah dengan saya Senja? Coba kamu berikan alasan yang bisa saya terima. Kamu belum siap? Atau kamu benci dengan saya? Hm?" tanya Reyhan. "Saya hanya akan menikah sekali seumur hidup, jika kamu ditakdirkan menjadi istri saya, maka saya akan mengusahakan agar pernikahan kita tetap langgeng sampai maut memisahkan, saya tahu kamu tipe orang yang memegang komitmen kan..." lanjutnya.


"Tidak ada cinta Pak, kita baru mengenal, saya yakin Bapak punya seseorang yang Bapak cintai, menikah dengan orang itu saja Pak." ucap Senja.


"Cinta datang karena terbiasa, jika kita terbiasa bersama, saya yakin cinta itu bisa datang Senja. Dan untuk masalah orang yang saya cintai, jika dia jodoh saya, harusnya sekarang kami sudah menikah, nyatanya, Allah tidak memberikan izin untuk saya bisa memilikinya." ucap Reyhan.l dengan nada sendu di akhir kalimat.


"Masih ada yang mau kamu katakan? Saya akan menjawab semua keraguan kamu Senja." ucap Reyhan dengan pasti, tatapannya terkunci pada Senja yang tengah menunduk.


"Apa yang membuat Bapak yakin untuk menikahi saya?" tanya Senja dengan suara pelan.


"Berbicara dengan kamu saat ini, satu yang saya tangkap, kamu tipe orang yang tidak percaya diri." ucap Reyhan membuat kening Senja berkerut, kemudian mengangkat kepalanya ingin memprotes ucapan Reyhan.


"Mau protes? Saya punya bukti loh, kamu sering menundukkan kepala, emangnya saya lagi ngehukum kamu." Senja kalah telak sebelum memulai, kini ia hanya bisa menatap kesal Reyhan, sedangkan Reyhan tersenyum tipis meihat kekesalan Senja.


"Mending Bapak jawab pertanyaan saya, dari pada sibuk mengomentari." ucap Senja dengan nada tidak suka.


Reyhan tersenyum melirik Senja, bisa-bisanya dia jadi suka menjahili Senja, entah sejak kapan melihat wajah kesal Senja menjadi pembalik moodnya yang buruk.


"Alasan pertama, tentu saya mau berbakti pada Mama saya, surga saya masih ada di bawah telapak kaki Mama saya. Kedua, saya yakin jodoh pilihan Mama saya tidak pernah salah." jawab Reyhan dengan jujur. Untuk sekarang masih itu alasan Reyhan, karena ia memang belum mengenal Senja, tapi satu yang Reyhan yakini, Mama Mira tidak akan sembarangan memilih jodoh untuknya.


"Mudah, saya bisa yakini Tante Mira untuk membatalkan perjodohan ini, nanti saya bantu Tante Mira cari calon menantu yang lebih baik dari saya." ucap Senja setelah mendengar jawaban kedua dari Reyhan. Ia merasa bisa membuat Mama Mira membatalkan perjodohan ini.


"Selain kurang percaya diri, kamu itu keras kepala yah." cibir Reyhan. "Sudahlah, saya tidak mau berdebat dengan kamu Senja, sudah saya putuskan kita akan menikah." Reyhan langsung berjalan meninggalkan Senja yang masih terkejut melihat pendirian Reyhan.


"Pak, Pak Reyhan, Pak." panggilan Senja tidak digubris Reyhan, bahkan kini Reyhan sudah memasuki rumah lagi, disusul Senja di belakangnya.


Reyhan dan Senja kembali duduk di tempat masing-masing, saling berhadapan dengan raut wajah berbeda-beda. Reyhan dengan wajah santainya, sedangkan Senja dengan wajah tegangnya.


"Semoga Pak Reyhan tidak benar-benar dengan ucapannya."


"Jadi sudah kalian putuskan?" tanya Mama Mira.


"Sudah Ma." jawab Reyhan.


"Apa jawaban kalian atas perjodohan ini, kalian berdua menyetujuinya atau tidak?" tanya Mama Mira.


Senja menatap Reyhan dengan melebarkan matanya, sambil menggeleng-gelengkan kepala pelan tanda agar Reyhan ikut mengatakan tidak.


"Setuju!"


"Tidak!"


Jawaban keduanya berbeda, membuat Mama Mira dan Bunda Lusi menatap tersenyum ke Reyhan maupun Senja.


"Senja sayang, kenapa menolak perjodohan dari Tante?" tanya Mama Mira.


"Kami setuju Ma, tadi Senja hanya ingin ngeprank Mama." ucap Reyhan dan mendapat tatapan tajam dari Senja.


"Benarkah begitu sayang?" Mama Mira tersenyum lembut menatap Senja.


"Kalau Mbak memang setuju, Bunda juga akan setuju." ucap Bunda tersenyum lembut dan mengusap tangan Senja.


"Ini kesempatan ke dua yang Allah berikan, bagaimana ini, apa aku harus menerimanya?" Senja menatap bingung pada dua sosok wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Yang memiliki tempat masing-masing di dalam hatinya.


Setelah menimbangnya dengan pasti. "Bismillah, Senja setuju Tante, Bunda, Senja terima perjodohan ini." ucapnya dengan tersenyum.


"Alhamdulillah." ucapan syukur terdengar dari Mama Mira dan Bunda Lusi. Reyhan tersenyum tipis mendengarnya.


"Maura, maafkan saya, jika kita berjodoh, kita pasti bisa bertemu dalam sebuah ikatan pernikahan, tapi sepertinya Allah inginkan jodoh terbaik untukmu selain aku." batin Reyhan sambil memandang wajah Senja yang tengah tersenyum bersama Mama Mira dan Bunda Lusi.


"Kenapa melihat, dan mendengar suaranya seperti mengingatkanku denganmu Maura." Reyhan masih menatap intens Senja.


Kini keduanya keluarga itu telah sepakat untuk menjalin silaturahim yang lebih, semoga menjadi awal yang baik untuk keduanya.


"Em, Tante, kita harus menemui ayah Senja, rumahnya tidak jauh dari sini, walaupun Senja menyetujuinya, tapi Senja tetaplah anak perempuan yang butuh izin dan ridho dari ayahnya." ucap Senja.


"Kita akan ke sana sayang, apapun yang terjadi, Tante pastikan semuanya tetap berjalan lancar." ucap Tante Mira. Senja hanya menganggukkan kepala dengan tersenyum.


***


"Hampir 2 tahun setelah kejadian malam itu Her, gimana kabar cewek itu yah, sebenarnya gue kasihan sama dia, bukan dia yang salah, tapi malah dia yang jadi korban." ucap seorang pria bertato kepada temannya, namanya Joni.


"Walaupun bukan kita yang ngerenggutnya, tapi rasa bersalah itu ngehantuin gue juga Jon." ucapnya dengan wajah serius.


"Sama, gue juga, teriakan dia, tangisan dia, terus permohonan dia ngebuat gue gak bisa tidur nyenyak selama ini." ucap Joni menyetujui ucapan Heru.


Flashback On


"Bawa dia masuk, ikat tangan dan kakinya." ucap seorang pria kepada dua anak buahnya.


"Siap Bos, ayo Jon."


Mereka kemudian segera mengikat kedua tangan gadis itu, tepat ke atas. Kemudian mengikat kakinya di kedua sisi tempat tidur lantai itu.


"Beres Bos." ucapnya keduanya setelah menyelesaikan tugas dari bosnya itu.


"Kamera sudah kalian siapkan?" tanya bos itu lagi.


"Sudah siap bos, itu di sana." ucapnya sambil menunjuk pada kamera pojok ruangan, yang mengarah tepat pada gadis yang tengah tertidur itu.


"Hahaha, bagus, sekarang tinggalin ruangan ini, kalian tunggu di depan." ucap pria itu pada Joni dan Heru selaku anak buahnya.


"Baik Bos."


Pintu di tutup, bersamaan dengan lenguhan gadis yang tengah mencoba untuk membuat kesadarannya kembali karena obat bius. Dan setelah itu tak ada yang diketahui oleh Joni dan Heru selain suara tangisan, teriakan dan permohonan gadis belia itu. Keduanya seolah tuli dan tak peduli bagaimana nasib gadis itu. Mereka sibuk bermain catur dengan berbagai minuman keras di kedua sisi mereka. Mereka berpesta dan bersenang-senang, sementara gadis itu direnggut paksa apa yang menjadi miliknya.


"Gila, Bos kayaknya nafsu banget deh, dua jam kita nunggu mereka belum selesai juga." ucap Heru.


"Kita tinggal tidur aja, gue yakin Bos juga belum selesai, tidur setengah jam cukup lah." ucap Joni yang mendapat anggukan dari Heru. Keduanya pun tertidur setelah puasa berpesta miras.


Flashback Off