Better Days

Better Days
Aib?



Fara masih mencoba mendekati Senja yang menangis dengan tubuh yang bergetar.


"Bil... tenang Bila." suara halus Fara membuat Senja menatap Fara dengan tatapan sayu.


"Fara." gumam Senja.


Kemudian kesadaran Senja mulai terenggut, Senja pingsan.


"Astaghfirullah Bila." teriak Fara. "Bil, Bila bangun Bil." Fara mencoba membangunkan Senja.


Tak ada balasan dari Senja. Fara menangis sambil mencoba mengangkat tubuh Senja, untung tubuh Senja jauh lebih kecil dari dirinya, jadi Fara mampu memindahkannya ke atas kasur.


"Apa yang sudah terjadi Bil, bangun Bil." Fara mengusap tangan Senja.


Beberapa menit telah berlalu, Fara masih tetap menjaga Senja. Matanya pun sembab karena menangisi Senja.


"Eugh." Senja mulai tersadar. Ia mengerjapkan matanya perlahan.


"Syukurlah kamu sudah sadar Bil, ini minumlah dulu " Senja menerima air putih yang diberikan Fara.


"Istirahat dulu, jangan terlalu dipikirkan." Senja menatap Fara yang menyuruhnya untuk beristirahat.


"Ada banyak yang ingin aku tanyakan, tapi kalau kamu gak mau cerita atau belum siap untuk membagi masalah kamu aku gak apa-apa Bil." ucap Fara seolah paham dengan tatapan Senja.


"Biar aku cerita, tapi aku istirahat sebentar yah." ucap Senja dengan pelan.


Ia berpikir mungkin inilah saatnya membagi masalahnya pada orang lain. Memendam sendiri telah menyiksanya selama ini. Lagipula Fara sudah melihat foto teror tadi, dari pada Fara berpikiran buruk, lebih baik menceritakannya.


"Aku gak akan memaksamu, jadi jangan terlalu di pikirkan oke." ucap Fara. Senja menganggukkan kepala, kemudian memejamkan matanya, ia ingin beristirahat sebentar sebelum menceritakan sesuatu pada Fara.


***


Pukul 18.15 WIB


"Assalamu'alaikum." ucap Reyhan dengan mengetuk pintu kamar kosan Senja.


Sebelumnya Reyhan sudah menghubungi Senja, namun tidak ada jawaban dari Senja, yang membuat Reyhan memutuskan untuk langsung pergi menjemput Senja di kosannya. Tadi ia juga sudah bertanya pada pemilik kosan, dan memberikan surat nikah mereka sebagai bukti kalau memang mereka sepasang suami istri.


"Wa'alaikumsalam." Fara langsung bangkit untuk membuka pintu.


"Pak Reyhan." Fara terdiam menatap Reyhan yang sedang memicingkan matanya seperti mengintimidasi Fara. "Masuk Pak, Senja lagi tidur, dia kurang enak badan." ucap Fara, kemudian sedikit menyingkir, mempersilakan Reyhan untuk masuk.


"Kenapa istri saya sakit? Pagi tadi dia masih baik-baik saja." Reyhan mengusap kening Senja yang berkeringat dan terasa panas.


Pertanyaan Reyhan lebih terdengar seperti sedang menyalahi Fara.


"Namanya juga penyakit Pak, mana saya tahu kapan penyakit datang menyerang tubuh." jawab Fara.


Reyhan tidak menanggapi, ia cenderung fokus menatap Senja yang tengah tertidur. Terlihat ketidaknyamanan Senja saat ini, kening Senja berkerut dengan keringat yang semakin banyak.


"Terimakasih sudah menjaga istri saya." ucap Reyhan, ia kemudian menggendong tubuh Senja, membawanya ke mobil untuk di bawa pulang.


Fara menatap kepergian mobil Reyhan dengan tatapan sendu.


Reyhan terus mamandangi wajah Senja yang tengah tertidur di sampingnya. Tangan kirinya mengelus lembut kepala Senja, dan mengusap keringat yang mengucur di kening Senja.


Sampai di rumah Reyhan kembali menggendong Senja. Membawanya menuju kamar mereka yang berada di lantai atas. Terlihat raut wajah khawatir Reyhan memandangi wajah gusar Senja ketika tidur.


Ia letakkan dengan perlahan Senja di atas ranjang, kemudian menyelimutinya dan mengecup kening Senja dengan lembut. Ia langsung ke dapur membuatkan bubur untuk Senja, dan teh hangat. Ia kembali ke kamar dengan semangkuk bubur dan segelas teh hangat, meletakkannya di nakas dan ia tinggal sebentar untuk membersihkan dirinya sembari menunggu Senja bangun.


Senja mengerjapkan matanya, tubuhnya begitu lemas, padahal ia tidak melakukan pekerjaan berat seharian. Matanya memandang sekeliling, dan menyadari bahwa kini ia tidak lagi berada di kosan.


"Alhamdulillah kamus sudah sadar." ucap Reyhan, ia duduk di samping Senja, membantu Senja untuk duduk.


"Sudah Mas." ucap Senja pelan.


"Makan bubur yah." tawar Reyhan.


Senja mengangguk lemah. Dengan telaten dan penuh kelembutan Reyhan menyuapi Senja.


"Sudah Mas." ucap Senja.


Reyhan tidak memaksa Senja untuk menghabiskan semangkuk bubur tersebut


"Istirahatlah, sini, tidurlah." Reyhan membawa Senja ke dalam pelukannya. Mengusap punggung Senja, dengan sesekali mengecup pucuk kepala Senja yang terhalang jilbab.


Senja yang nyaman dengan pelukan hangat dari Reyhan mulai memejamkan matanya kembali, mengistirahatkan pikirannya dan tubuhnya. Ada kelegaan ketika sudah membagi sesuatu dengan orang lain. Entah bagaimana kedepannya, Senja akan menghadapinya, terutama tentang pernikahannya.


***


Fara masih berada di dalam kamar kosan Senja. Ia mengambil foto yang di sembunyikan Senja di bawah kasur sesuai dengan arahan Senja. Memandang foto-foto tersebut dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya. Mengingat bagaimana Senja yang begitu tertekan, takut, dan terpukul saat menceritakan apa yang telah ia lalui selama ini.


2 jam yang lalu


Senja yang sudah mulai tenang, walaupun tenaga dan tubuhnya begitu lemah mencoba memaksakan dirinya untuk duduk dan menceritakan semuanya kepada Fara.


"Jangan diceritakan jika Bila tidak siap, Fara tidak memaksanya, tapi satu yang Bila perlu tahu, Fara yakin Bila yang Fara kenal tidak mungkin melakukan hal yang dilarang atau diharamkan oleh Agama kita." ucap Fara dengan lembut, ia mengusap tangan Senja.


"Aku mau berbagi cerita sama kamu Far, tapi Fara janji yah jangan memberitahukan hal ini pada siapapun, siapapun Far termasuk keluargaku." ucap Senja dengan tersenyum.


"Tapi Fara gak apa-apa kok Bil kalau Bila gak mau cerita, jangan karena Fara lihat foto tadi Bila jadi takut sama Fara. Fara gak memaksa Bila, lagipula mau bagaimana pun Bila, Bila tetap sahabat terbaik Fara, gak ada yang bisa mengubah itu." ucap Fara.


"Makanya aku mau cerita sama kamu Far, karena aku yakin kamu akan menjaga aib aku ini." ucap Senja dengan menangis.


"Aku cerita yah." Senja menghapus air matanya, ia menarik napas dalam-dalam sebelum menceritakan kejadian kelam itu.


"Malam itu, ketika aku pulang dari mengantar kue pesanan pelanggan Bunda, firasat aku sebenarnya sudah tidak baik, melihat jalan yang harus aku tempuh itu harus melewati hutan. Aku udah pesan goes car di aplikasi, tapi kata supirnya dia gak bisa masuk ke dalam jalan sempit gang itu, yaudah aku bilang tunggu di depan gang."


"Awalnya aku jalan biasa aja Far, aku gak ada curiga, sampai melewati perbatasan desa ada 3 orang laki-laki yang gangguin aku. Aku udah coba ngehindar Far, aku lari, aku berteriak meminta tolong tapi gak ada yang peduli. Entah gak dengar atau mereka gak mau peduli aku gak tau. Desa itu seperti desa mati, kayak gak ada penghuninya, aku lari terus Far, sampe aku masuk ke dalam hutan." Senja menjeda ceritanya, ia mengusap air matanya yang mulai kembali mengalir. Tubuhnya sedikit bergetar.


"Jangan di lanjutin yah, Fara gak mau Bila mengingat kejadian mengerikan itu." Fara yang sudah tahu kemana arah cerita Senja meminta Senja untuk berhenti bercerita.


Senja menggelangkan kepala, dengan terisak.


"Gak Far, aku mau lanjutin cerita aku, aku mau mengurangi rasa sesak di sini Far, hiks." ucap Senja sembari menunjuk ke dadanya. "Tiap kali aku mengingat hal itu aku sakit Far." isak Senja. Fara memeluk Senja dengan menangis pula. Ia diam mengusap lembut punggung Senja.


"Mereka mengejar aku Far, membius aku, membawa aku entah kemana aku gak tahu, yang aku ingat di tempat itu kehormatan aku hilang. satu orang bertugas mengambil kehormatanku, dua lainnya menjaga di depan kamar itu. Aku kotor Far, dia menjamah seluruh tubuhku, aku benci Far, aku benci!" teriak Senja dengan menangis.


"Aku benci ketika aku tidak berdaya, tangan dan kakiku diikat Far, cuma mulut tak berguna ini yang terus berteriak, tapi nyatanya teriakan aku tetap tidak bisa menyadarkan telinga mereka yang tuli. Aku benci mulut kotornya menyentuh dan menyebut namaku Far, aku membenci semuanya, bahkan aku benci diriku sendiri." ucap Fara menangis sesenggukan dalam pelukan Fara. Fara pun ikut menangis sesenggukam mendengar cerita Senja.


"Aku, aku..."


"Cukup Bil, cukup! Aku gak mau kamu cerita lagi, cukup Bil, maafkan aku yang membuat kamu harus menceritakan semuanya." ucap Fara menangis.


"Janji sama aku Far, jangan menceritakan ini pada siapapun, orang tuaku, mertuaku, suamiku, keluargaku, siapapun itu, tolong jaga aibku ini Far." ucap Senja memohon disela tangisnya. Ia memberikan jari kelingkingnya pada Fara.


Fara mengangguk dengan menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking milik Senja. "Fara janji, bahkan jika harus menukarnya dengan nyawa Fara sendiri, Fara akan tetap menjaga rahasia ini." ucap Fara.


"Terimakasih Far."


Kembali ke masa sekarang. Fara menatap langit-langit kamar kosan milik Senja. Ia kini menangis membayangkan bagaimana sakitnya Senja selama ini.


"Kamu hebat Bil, kamu perempuan hebat, kamu wanita hebat." gumam Fara.