
Semakin mendekati hari pernikahan entah kenapa semakin membuat Senja tak tenang. Pikirannya berkecamuk antara memikirkan kebahagian orang lain, kebahagian dirinya atau memikirkan masalah yang akan ditimbukan di kemudian hari.
"Apa keputusanku benar-benar tepat?" tanyanya pada dirinya sendiri. Senja menatap pantulan dirinya di cermin.
"Apakah bohongku ini dosa? Apakah bohongku tak berdampak negatif di kemudian hari?" kembali ia mengeluarkan segala apa yang ia pikirkan.
"Ya Allah, jujur hambamu ini penuh dengan kegundahan, kegelisahan, dan ketakutan. Pantaskah hambamu ini mendapatkan kasih sayang dari keluarga Tante Mira? Pantaskah hambamu ini mendapatkan lelaki sempurna seperti Pak Reyhan. Hamba sangat tidak percaya diri, tubuh yang penuh luka dan dosa ini bisa bersanding bersama mereka yang sempurna." monolognya dengan wajah sendu.
"Mau Kemana manis, sini aja sama kita-kita."
"Dari pada jalan sendirian, mending kami temani."
"Ayo sini manis."
Senja menggelangkan kepala dengan memejamkan matanya, tangannya meremas piyama panjang yang ia kenakan.
"Pergi!"
"Tolong jauhi saya!"
"Tolong pergi! Jangan ganggu saya!"
"HAHAHAHA."
Suara-suara itu bersahut-sahutan di kepala Senja. Senja semakin memundurkan langkahnya, ia bergerak menuju sisi ranjang. Kembali meringkuk, memeluk kedua lututnya dengan isakan yang terdengar semakin jelas.
"Tolong hilangkan ingatan ini Ya Allah, hamba gak sanggup." monolognya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Mengapa sulit sekali menghilangkan ingatan ini." Senja masih meringkuk di sisi ranjang. Menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya dengan menahan isakannya agar tidak terdengar sampai ke kamar Bunda.
***
"Halo Tante." Bella tersenyum ramah menyapa Mama Mira yang tengah menyiram bunga-bunga mawar yang mulai mekar.
"Ucapkan salam Bella." Mama Mira menggelangkan kepala sambil tetap menyiram bunga-bunga mawar.
"Hehe iya Tante, assalamu'alaikum Tante." ucap Bella lagi dengan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam, ada perlu apa kamu main ke sini Bel?" tanya Mama Mira. Ia berjalan menuju keran air, kemudian mematikan keran karena sudah selesai menyiram bunga-bunga mawar miliknya.
Bella berjalan mengikuti Mama Mira menuju kursi taman, kemudian ikut mendudukkan diri di samping Tante Mira.
"Apa gak boleh kalau Bella main ke sini Tante? Lagian Bella kan ingin bisa dekat dengan keluarga Tante, terutama Kak Reyhan." jawab Bella. Ia mengucapkan nama Reyhan dengan malu-malu pada Mama Mira.
Mama Mira tersenyum menatap Bella, dengan lembut ia raih tangan Bella dan menggenggamnya. "Bella memang sudah dekat dengan keluarga Tante, kita sudah seperti keluarga sejak dulu." Mama Mira memberi jeda pada ucapannya. Sedangkan Bella tersenyum cerah mendengar ucapan Mama Mira yang seperti lampu hijau padanya.
"Tapi Nak." Senyum Bella mendadak memudar, mendengar kata tapi dari Mama Mira dan kalimat berikutnya yang diucapkan Mama Mira mampu membuatnya terkejut. "Maafkan Tante, bukannya Tante tidak mengizinkan Bella memiliki hubungan lebih dengan Reyhan anak Tante. Hanya saja, kedekatan kita sudah seperti keluarga, Bella sudah Tante anggap seperti anak Tante sendiri." ucap lanjut Mama Mira.
"Maksud Tante?" Bella bertanya dengan raut wajah sendu.
"Maaf Bella, tapi Reyhan sudah Tante jodohkan dengan seseorang, dan akan menikah sebentar lagi." ucap Mama Mira dengan tak enak hati harus berkata jujur pada Bella.
Yang di pikirkan Mama Mira saat ini adalah bagaimana caranya untuk menghentikan perasaan Bella sebelum semakin membesar,itulah kenapa ia harus mengatakan kejujuran yang tentu akan membuat hati Bella menjadi sakit.
"Tante bohong kan?" tanya Bella dengan perlahan melepaskan pegangan tangan Mama Mira, ia kemudian berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maafkan Tante Bel." Mama Mira ikut mensejajarkan dirinya di hadapan Bella. mencoba untuk menenangkan Bella.
"Selamat Tante, tolong titipkan salam Bella untuk Kak Reyhan dan ucapan selamat untuk Kak Reyhan." setelah mengucapkan itu Bella langsung berlari keluar dari halaman rumah Mama Mira.
"Maaf Bella, Tante hanya tidak ingin kamu terluka lebih dari ini, mungkin ini lebih baik dari pada membiarkan kamu mendekati Reyhan, yang akan menikah dengan Senja sebentar lagi." gumam Mama Mira menatap punggung Bella yang Mukai menjauh.
***
ARGH!!
Hiks, Hiks....
"Kenapa, kenapa takdir gak pernah berpihak ke gue!" Bella kembali meraung keras di kamarnya, membuat seisi rumah menjadi khawatir, karena saat ini kemarahannya mencapai level yang tinggi tak seperti biasa.
Bella Arkana Putri, gadis berusia 21 tahun, ia seumuran dengan Senja, dan saat ini sedang menjalani kuliah di kampus yang berbeda dengan Reyhan dan Senja. Hubungannya dengan keluarga Tante Mira sudah sangat dekat, karena memang Tante Mira dan Mamanya Bella adalah seorang sahabat di masa lalu, dan masih terjalin sampai sekarang.
Bella kecil merupakan gadis yang periang, penuh senyuman, dan tawa. Hingga ketika ia sudah menginjak remaja, ketika ia berusia 17 tahun, semuanya berubah. Hubungan Papa dan Mamanya kian memburuk dan tak ada kepastian untuk membaik. Ia tahu kedua orang tuanya memang tidak pernah harmonis sejak ia kecil, namun ketika ia genap berusia 17 tahun, di sini lah ia tahu, bahwa Papanya tengah berselingkuh dari Mamanya.
Kebencian kian memupuk di dalam diri Bella, apalagi setelah ia mengetahui bahwa Mamanya sama sekali tidak peduli dengan rumah tangganya sendiri. Setiap kali Papanya berselingkuh, di situ pula sang Mama menyibukkan dirinya di luar rumah, entah apa yang dilakukan, Bella tidak tahu.
"Kak Bella marah lagi yah Ma?" tanya gadis kecil itu, dan mendapat anggukan dari sang Mama.
"Kak Bella kenapa berubah Ma, kenapa Kak Bella tidak seperti dulu lagi, Papa juga jarang di rumah, kenapa semuanya berubah?" ia kembali bertanya dengan raut wajah sendu.
"Tilla jangan banyak berpikir, ini urusan orang dewasa sayang, Tilla cukup belajar dan menjadi anak yang pintar." sang Mama mencoba mengalihkan arah pertanyaan anaknya yang bernama Tilla itu.
Tilla mengangguk pelan, ia tahu jika Mamanya sudah mengalihkan suatu pembicaraan, maka ia tidak boleh bertanya lagi.